
Defta berjalan mengiringi Shela, yang masih berderai air mata, Shela pasrah, menerima kenyataan yang begitu menyakitkan, hatinya hancur berkeping, tapi ia tak tahu, kenapa ia percaya begitu saja pada Defta, padahal baru hari ini, ia bertemu dengannya.
"Maaf, kita mau kemana?"
"Kemana saja, terserah dirimu, aku akan ikut kemanapun kau pergi."
"Bagaimana kalau aku bawa kau ke hotel tempat aku menginap, apa kau keberatan?"
Shela menoleh, menatap Defta dengan perasaan bingung.
"Aku memang mau ikut, tapi tidak kehotel juga kali!" batin shela.
Melihat bagaimana reaksi Shela, Defta mengetahui bahwa Shela merasa keberatan.
"Baiklah, aku akan membawamu ketempat lain, aku antar kamu pulang, barangkali?"
"Aku tidak mau pulang, aku mau pergi saja, aku mau menenangkan diri."
"Tapi kenapa kau percaya padaku, bukankah kita baru bertemu?"
"Menurut ku, kau orang yang jujur, makanya aku percaya padamu."
"Bagaimana seandainya aku justru memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan perbuatan yang tidak baik padamu?"
"Aku pasrah." Jawab Shela terus melanjutkan langkahnya.
"Seharusnya, kau berfikir dua kali untuk pergi denganku."
"Sejak tadi kau bicara seperti itu, bilang saja kalau kau keberatan jika aku pergi bersamamu."
"Tidak, sama sekali tidak, baiklah ... kita pergi saja kehotel, kalau kau percaya padaku."
Keduanya masuk dalam mobil Defta, perlahan mobil itu meninggalkan kantor megah milik keluarga Andri. Menuju hotel tempat Defta menginap.
Setelah mereka berada dalam kamar hotel tersebut, Defta membiarkan Shela membaringkan dirinya di kasur empuk berukuran besar itu.
Terlihat sekali, wajahnya yang menggambarkan sejuta kesedihan yang dideritanya.
Defta menyibukkan dirinya, membuka laptopnya, menganalisis kembali hasil kerja sama nya dengan perusahaan milik Andri barusan.
Entah kapan, Defta tak tahu pasti, Shela memejamkan matanya, yang jelas saat ini, wanita itu telah tertidur, setelah lelah menumpahkan air mata nya.
Defta menghela nafasnya berat, ia tak menyangka sama sekali akan bertemu dengan Andri, bahkan dengan sahabat kampungnya sendiri ia akan bekerja sama.
Mengingat semua kejadian tadi, ia sadar kalau ia sudah lama tidak menghubungi Hana, karena terlanjur kecewa sebab tak jua mendapatkan balasan cinta dari gadis itu.
"Aku akan menghubungimu Han ... apa kamu tahu, Andri sudah mengkhianati cinta kalian, dan pasti kau akan menerima cintaku." Kata Defta dalam hati.
Dengan semangat ia mengambil ponselnya, dan dihubungi nya nomor Hana dengan segera.
Sungguh diluar dugaannya, nomor itu sudah tidak aktif, ia mengerutkan dahinya, mungkinkah Hana sengaja mengganti nomor ponsel nya?
Tanpa pikir panjang, ia segera pula menghubungi nomor Rega, tapi alhasil sia sia belaka, sama nomor itu pun sudah tak bisa untuk dihubungi.
Kekecewaan berlabuh untuk kesekian kalinya, ia ingin menjerit, menahan sejuta rasa sakit yang demikian teramat sangat. Tapi ia malu, dikarenakan ia seorang lelaki.
Apa mungkin ini semua karena dirinya tidak pernah menjawab panggilan Hana, dan tidak membalas pesan yang dikirimkan untuknya ?
Defta mengotak atik ponsel nya, tiba tiba ia melihat ada sebuah e-mail masuk yang belum sempat di bacanya.
Segera dibukanya dan ia menemukan ternyata e-mail itu berasal dari Hana.
Dengan segenap perasaan ia membaca isinya.
Mas Defta ....
Maaf ... mungkin itu adalah kalimat terbaik untuk memulai isi pesan ini, sebab tiada kata yang pantas mewakili segala perasaan, ego maupun hati kita selain kata itu.
__ADS_1
Mungkin memang ada baiknya kau mengabaikan diriku, entah karena aku agar tak terlalu candu dengan segala kebaikanmu atau aku tak terlalu takut untuk menjauh darimu.
Dari dulu sampai saat ini, kau adalah sahabat terbaikku, atau bahkan sampai maut memanggil kita, tapi ....
Aku ingin kau bahagia, tanpa diriku, tanpa mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.
Selamat tinggal, mungkin itu adalah kata yang pantas aku ucapkan, semoga kau menemukan jalan lain, semoga kau mendapatkan pengganti ku yang bisa kau cintai dan bisa pula mencintai dirimu.
Selamat jalan, aku akan berlalu dari hidupmu, tapi bukan berarti pergi untuk melupakan dirimu, aku akan tetap menjadi pendukung yang paling berada didepan, untuk kesuksesan mu.
Terima kasih telah memberi kepercayaan padaku, telah menjadikan aku sahabatmu, aku bangga pernah menjadi bagian dari hidupmu.
Mulai saat ini, aku memang memutuskan hubungan kita, agar kau bisa melangkah kedepan, menata hidup baru dengan wanita lain, jangan kau sia-siakan harapan mu, hanya karena ketidakpastian dariku.
Terimakasih, telah menjadi inspirasi bagi kami, bahkan panutan.
Aku bersyukur pernah mengenalmu, aku tak akan lupa pada semua tentang kita, dan aku akan tetap ingat padamu, sampai ajal menjelang, semoga kita bisa bertemu kembali dilain waktu, disaat dirimu, bersama pasangan hidupmu.
Selamat berpisah dan sampai jumpa lagi dilain waktu.
Sekian dariku,
Hana.
Defta terduduk dilantai sehabis membaca pesan itu, badannya terasa lunglai, baru saja ia akan mengabarkan pada Hana, jika Andri sudah beristri, tapi ia yang mendapatkan kabar, bahwa Hana telah mengakhiri hubungan mereka, sampai menghapus semua akses untuk dihubungi.
Harapan Defta benar benar telah pupus, hancur berkeping dan tak mungkin bisa untuk dibentuk lagi, menjadi kepingan yang baru.
Shela terjaga dari tidurnya, ia menatap Defta yang duduk tak berdaya di atas lantai, sambil memeluk kedua betisnya, dan meletakkan kepalanya diatas lutut. Memandang ke depan dengan tatapan mata kosong.
Shela turun dari ranjang, menghampiri Defta yang sama sekali tak bergeming melihatnya mendekati nya.
"Hai ... ada apa?" Defta masih termangu, menggeleng pasrah.
"Ada apa, kenapa seolah-olah ada sesuatu yang telah merenggut kebahagiaanmu, apakah kau juga kehilangan cintamu?, kau kehilangan Hana?"
Defta menatap Shela, kini mata itu kelihatan memerah, menahan tangisnya, mencoba menutupi seluruh deritanya.
"Kau bilang apa?"
"Aku ingin menangis, aku ingin menjerit, aku merasa hari ini adalah hari yang demikian menyakitkan, aku terluka, aku kecewa."
"Sini, kemari lah, mari kita saling berpelukan, ayo kita menangis bersama." Shela meraih tubuh Defta, dan Defta hanya menurut saja, walaupun umurnya dikatakan sudah tak muda lagi, tapi ia tak pernah melakukan yang macam macam pada seorang gadis, ia hanya pernah memeluk satu orang wanita, tak lain adalah Hana. Itu pun hanya sekali.
Shela melakukan itu pun dengan sangat memberanikan dirinya, karena ia tidak tahu lagi bagaimana menenangkan Defta dan juga dirinya yang masih sangat terluka akibat ketidak tegasan suaminya.
Terasa kehangatan mulai menenangkan keduanya, mereka saling membiarkan airmata keluar begitu saja di wajah mereka, yang jelas mereka merasakan ketenangan dalam pelukan mereka. Defta yang merasa dirinya lebih tenang, melepaskan Shela.
"Bukankah kita baru saling mengenal, lalu apakah kau tak tersinggung aku memelukmu seperti ini?"
" Aku yang memelukmu lebih dulu, lagi pula aku tak peduli lagi mau kau apakan diriku, atau akan kau jadikan aku pelampiasan pun aku tak apa, aku sudah tak tahu lagi apa tujuan hidupku."
"Shela, kenapa kita sama sama merasakan rasa yang demikian pedih ini, kita saling kehilangan orang yang demikian kita cintai, apakah kau mau menjadi sahabat ku?"
"Ya, mungkin ada baiknya kita menjadi sahabat, semoga masih ada harapan kita yang masih tersisa, semoga seiring berjalannya waktu, kita bisa menemukan orang yang bisa kita cintai dan bisa pula mencintai kita." Defta menghapus airmata Shela, dan kemudian tersenyum.
"Kau begitu baik, tapi kenapa Andri tidak bisa menerima dirimu?"
"Memang benar, cinta memang tidak dapat dipaksakan, itulah kenapa Andri tidak bisa menerima diriku, sebabnya tak lain adalah karena dia hanya mencintai Hana. Sama seperti dirimu, iya, kan?"
Shella kini memundurkan tubuhnya, sejajar dengan Defta, sama sama bersandar di sofa, duduk begitu saja diatas lantai, meluruskan kakinya.
"Sejak tadi, aku belum sempat menjabat tanganmu, tanda kita berkenalan, tapi aku telah memelukmu, apakah perkenalan ini begitu istimewa, sampai sampai aku telah memelukmu sebelum aku menyentuh tanganmu."
"Kau bisa aja!"
"Iya, coba saja kau pikir, begitu cepat kita saling dekat, padahal baru hari ini kita bertemu."
__ADS_1
"Kau yang sok dekat denganku."
"Apa kamu bilang?"
"Dasar tak tahu malu!" Defta mengolok Shela sambil tersenyum.
"Sejak dulu, aku penasaran, sebenarnya sebaik apa sih Hana itu?, sampai sampai Andri dan dirimu, begitu mencintainya?"
"Sudahlah, aku tak mau lagi membahas tentang Hana, aku akan melupakan dia," Jawab Defta.
"Apakah aku juga harus begitu?"
"Maksudmu?"
"Apakah aku juga harus melupakan Andri?"
"Ya, berusahalah, untuk apa mengharapkan seseorang yang sama sekali tidak bisa mencintai kita."
"Aku sudah sering mencoba, tapi aku tak bisa melupakannya, aku begitu mencintainya."
"Aku ingin melepaskan semua perasaan duka ini, apa kau punya usul?" ucap Defta.
Shela menggeleng.
"Besok aku mau pulang, apa kau mau ikut?"
"ikut?, seperti nya asyik tuh."
"Beneran?"
"Aku akan memikirkannya, keputusan nya besok, okey?"
Defta mengangguk mengiyakan.
"Mungkin ada baiknya aku pulang, nanti mama mencari ku, aku pamit dulu."
"Beneran sudah mau pulang, apa kau sudah merasa tenang?"
"Aku tak pernah merasakan ketenangan, aku selalu sedih ... jadi jangan khawatir, aku sudah terbiasa."
"Baiklah kalau begitu."
"Oh ya, aku minta nomor ponselnya, mas Defta, iyakan namamu Mas Defta?"
"Ya elah, dia ngajak kenalan, bukan, bukan mas Defta ...."
"Lalu siapa?"
"Mas peluk, kan kenalannya pake peluk ...."
"Ah udah ah, mas Defta kan?"
"Ya Shel ... mas Defta, apa perlu kita jabat tangan sekarang?"
"Nggak, nggak perlu."
"Peluk aja?"
"Mas ...."
"Hmmm."
"Jangan menggodaku, aku tak biasa digoda."
"Yaaa, baiklah, pulanglah aku akan mengabari mu besok."
Akhirnya Shela meninggalkan Defta di hotel itu setelah merasa sedikit tenang.
__ADS_1
Haaaiii ... hai hai, terimakasih kasih pada pembaca karyaku, dukungan kalian sangat berarti, yuk tinggalkan komentar kalian di kolom komentar, jangan lupa like nya juga yaaa.
Thank you very much.