Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 57 Shela Pergi


__ADS_3

Andri masuk kedalam rumah ibunya dengan gontai, wajahnya masih sembab karena tangisnya yang lumayan lama.


Bu Wisnu yang memperhatikannya sejak tadi merasa heran, karena menurut pengamatan nya, tadi pagi ia berangkat bersama Shela, Andri sangat semangat dan berambisi, tapi ketika pulang, Andri malah bersikap sebaliknya.


Bu Wisnu segera menyambut Andri di pintu, karena ia tak mau melewatkan kesempatan nya untuk mengetahui apa masalah yang sedang dialami oleh anak kesayangannya itu.


"Sudah pulang, An?"


"Sudah, Bu ...." Jawaban itu terkesan sangat dingin, tanpa mempedulikan ibunya Andri langsung masuk kedalam kamarnya. Tak lama iapun keluar lagi, sedang Bu Wisnu masih mematung heran ditempatnya berdiri semula.


"Mana Shela, Bu?"


"Loh, tadi kan perginya sama kamu, dia belum pulang, apa kalian bertengkar?"


"Tidak ...."


"Lalu, ada apa?" Andri tak menjawab pertanyaan ibunya, ia menghempaskan dirinya diatas sofa, memandang ibunya dengan tatapan mata kosong.


"Ada apa, An?"


"Aku bingung, Bu!"


"Bingung kenapa?"


"Hana Bu, Hana masih belum menikah!"


"Lalu, kenapa kalau Hana belum menikah?"


"Aku ingin menceraikan Shela saja!" sungguh pernyataan yang sangat membuat Bu Wisnu terbelalak, sangat terkejut.


"Apa kamu sudah gila?"


"Aku ...."


"Apa menurutmu pernikahan itu sebuah permainan?" Andri hanya bisa diam, ia tahu saat ini ibunya sangat marah, ia tak berani bicara lagi.


"Aku tak pernah mengajarkan kamu menjadi cowok pengecut."


"Aku tidak pengecut, Bu!"


"Lalu apa namanya kalau setelah mengambil keputusan ia akan mengabaikan nya setelah nya?"


"Apa maksudmu, Bu?"


"Setelah kau menikahi Shela, kau akan begitu saja menceraikan Shela, kau sungguh kejam, apa kamu kira Shela tak punya hati dan perasaan, ha?"


"Tapi aku tak mau semakin membuat Shela tersiksa, Bu ...."


"Siapa yang menyuruhmu membuat nya semakin menderita, kebahagiaan dan penderitaan semua bersumber darimu, kalau kau memang menghargai seorang wanita, kau tak akan tetap mengenang masa lalu mu, kau akan melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan kalian, tapi kau ....kau selalu mengutamakan perasaan, kau selalu mengharapkan orang lain, sedangkan kau tahu, sudah punya istri." Andri terdiam.


"Sekarang, pulang!, aku tak mau dengar apapun itu, apalagi perceraian, sebuah pernikahan adalah ikatan yang melibatkan seorang hamba dengan Tuhannya, lalu kau akan semudah itu mempermainkan pernikahan mu?, makanya sadar, cinta itu tak harus memiliki."


Andri masih terdiam ditempatnya duduk.


"Pulang, temui istrimu." Andri memandang ibunya, sungguh ia tidak pernah melihat kemarahan ibunya seperti saat ini, iapun bangkit, mengambil tas kerjanya dan berpamitan untuk pulang ke rumah mertuanya.


Dalam perjalanan pulang, Andri hanya bisa mengabaikan perasaannya, ia tak bisa berbuat apa-apa, hatinya begitu bimbang, di satu sisi ia sangat mencintai Hana, tapi disisi lain, ia membenarkan perkataan ibunya. Andri memegangi kepalanya yang terasa semakin pusing, dan dengan malas ia kembali turun dari mobilnya, masuk kerumah dengan tidak bersemangat, apalagi saat sampai di dalam kamar mereka.


Andri terkejut melihat sebuah koper yang tergeletak di atas ranjang, ia mendekati Shela.


"Kau mau kemana?"


"Itu bukan urusanmu, aku mau pergi."


"Shela ... kau mau kemana?" terbawa emosi.


"Apa peduli mu?"

__ADS_1


"Kenapa kau begitu ketus, bisakah kau bicara baik baik padaku?"


"Apa, apakah aku tak salah dengar?"


"Ayo lah, Shel ... aku tak ingin kau pergi, bukankah kau bilang kita akan menjadi teman?, kenapa kau berubah?"


"Aku ingin menenangkan diriku, aku tak sanggup tetap melihatmu, aku semakin sakit."


"Shel ... aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakiti hati dan perasaan mu."


"Aduuuhhh Mas, manis sekali perkataan mu itu, seperti sudah bercampur dengan gula, mudah sekali kau mengatakan nya, sehingga selalu terucap saat kita bertengkar, aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh naif!"


"Aku tahu kau sakit hati, tapi ...."


"Aku tak sengaja melakukannya, itu yang akan kau katakan bukan?, aku bosan Mas ... aku muak, ya!, aku pernah mengatakan untuk menjadi seorang sahabat walaupun masih ada ikatan antara kita, tapi aku tak sanggup, karena pada kenyataannya, sangat sulit untuk menerima kenyataan pahit ini."


"Tapi kemana kau akan pergi, beri tahu aku!"


"Aku pergi kemana, itu bukan urusanmu, aku akan memastikan bahwa aku akan lebih baik jika aku menjauh darimu."


"Tak bisakah aku meminta padamu?"


"Meminta apa, apa menurutmu aku kurang sabar menghadapi dirimu?"


"Shela ...."


"Aku heran, kenapa Hana jatuh cinta sama orang yang pin plan kayak kamu."


"Aku sungguh tak ingin kau pergi, mari kita mulai dari awal."


"Baik, tapi bisakah kau membiarkan aku pergi, aku ingin menenangkan diriku, aku masih belum sanggup menatap wajah yang sangat kejam yang tega menangisi wanita lain dimuka istrinya sendiri."


Shela berniat untuk pergi pagi, tapi karena ia sudah tak tahan, menyaksikan suaminya, terpaksa sebelum ia mandi, ia kembali bergegas keluar lagi, dan pergi meninggalkan rumah megah itu, untung saja, kedua orangtuanya sedang pergi keluar kota, sehingga tak melihat kejadian itu. Yang menyaksikannya hanya lah pembantu mereka.


Andri hanya bisa pasrah melihat kepergian Shela, ia tahu ia tak bisa menghentikan nya, karena iapun sadar betapa sakit nya hati Shela, menerima kenyataan bahwa dirinya masih mencintai orang lain.


Semua itu membuat ayah ibunya merasa terkejut, dan tak bisa berbuat banyak, karena semua kesalahan memang berasal dari Andri, mereka memang belum tahu apa yang sudah terjadi, karena belum sempat Bu Wisnu berbicara, Andri sudah masuk dalam kamarnya, dan menutup pintu dan menguncinya.


\*\*\*\*


Sementara itu, Shela kembali ke hotel dimana Defta menginap, karena ia tidak punya pilihan lain, entah mengapa, ia merasa aman bersama pemuda yang baru bertemu dengan nya itu, meski ia tak tahu banyak, tapi menurut nya Defta adalah sosok yang mampu membuat dirinya lebih tenang.


Defta yang sore ini keluar ingin mencari makanan, merasa sangat terkejut melihat kedatangan Shela kembali, bahkan dengan membawa sebuah koper, ia akhirnya tak jadi meninggalkan kamarnya, asyik terbengong melihat kearah Shela yang semakin mendekatinya.


Belum sempat Defta berkata, Shela yang menggunakan high heels, terpeleset dan iapun tergelincir, seperti di adegan film, Defta berlari refleks, menangkap tubuh Shela, menahan nya agar tidak terjatuh. Mata bertaut, saling menatap, memberikan sejuta harapan baru bagi Shela.


Defta segera membantu Shela untuk berdiri, dan menatap wajah Shela dengan sangat lembut.


"Katamu akan berpikir dulu akan ikut denganku, tapi kok sudah membawa koper segede gini, apa aura ketampanan ku, sungguh membuat mu tak bisa jauh jauh dariku?" goda Defta.


Baru saja Shela menangis, tapi ia sudah kembali bisa tersenyum mendengar perkataan Defta padanya.


"Ya, mungkin memang seperti itu adanya."


"Apa kau mau ku antar ke depan?"


"Ngapain kedepan?"


"Pesan kamar!"


"Apa kau tak mengizinkan aku sekamar denganmu?"


"Sungguh, anak kota Jakarta, kita tidak muhrim, tidak boleh sekamar, dosa tahu!"


"Aku tak akan ngapa ngapain kamu, janji!"


"Kalau yang ngapa ngapain itu aku, bukan kamu ... masak iya kamu bisa, dimana mana cewek tak akan bisa kalau cowok nya tak bereaksi." Shela mencubit Defta manja.

__ADS_1


"Apa nggak bener apa yang aku bilang?"


"Iya ... bener!"


Mereka akhirnya masuk, meletakkan koper milk Shela, sebelum akhirnya mereka berdua keluar mencari makan.


"Kamu tadi belum mandi?"


"Bau ya?"


"Tiiidaaak, cuma aku perhatikan baju kamu belum ganti, atau kamu tidak punya baju?"


"Enak aja!" Shela kembali tersenyum.


"Apa kamu sudah selesai makannya, kalau sudah kita kembali saja, kasihan kamu ... sudah sore, nanti mandi nya keburu malam."


"Ya, aku sudah siap, ayo ... akupun sudah merasa sangat tidak enak, badanku rasanya tidak nyaman."


"Aku antar kamu, aku tak ikut masuk, aku harus pergi sebentar."


"Kemana?"


"Sudahlah, jangan banyak tanya, kamu mandi aja dulu."


Shela akhirnya mengangguk, dan membiarkan Defta pergi setelah mengantar nya sampai pintu kamar hotel itu.


Defta sengaja tidak ikut masuk, karena ia sama sekali tidak nyaman melihat Shela dalam satu kamar mandi sementara dirinya menantinya, meski dalam ruangan yang lain, sehingga ia berpura-pura mencari alasan untuk membeli sesuatu hanya untuk sekedar alasan.


Setelah kira-kira Shela sudah selesai mandi, Defta memasuki kamar itu, ia menyaksikan Shela memakai baju santai berwarna ungu, agak ketat memang, dan semua itu mampu membuat jiwa kejantanan Defta menggelora, apalagi Defta jauh lebih dewasa dibandingkan Andri dan Shela, lipstik merah jambu menambah kecantikan diwajahnya, Defta pun terpana melihat seulas senyum terukir di bibirnya, Defta membalas senyuman dengan senyuman yang tak kalah manis nya.


"Mas Defta beli apa?"


"Nih, cemilan, apa kamu mau?"


"Kok tahu seleraku?"


"Nggak ... aku tak tahu, aku cuma beli apa yang aku pengen!"


"Maasaaak."


"Iya, aku serius!" jawab Defta kemudian duduk begitu saja diatas sofa.


Shela pun mendekati Defta, tapi tanpa sadar menginjak kaki Defta dan membuat Defta menukik kesakitan.


"Aaawww, sakit!"


"Ada apa, Mas?"


"Kakiku kau injak!"


"Mana, sini aku lihat!" Shela menarik kaki Defta, tapi Defta menolaknya, Shela tetap saja menariknya sehingga Defta membiarkan tangan halusnya memegangi kakinya.


Jangankan memegang, melihat kaki Andri saja, Shela tak pernah, itu karena Andri selalu menjaga jarak dengannya, tapi entah mengapa, bersama Defta, Shela bisa untuk memaksa.


Shela mengelus lembut kaki yang nampak memerah itu, kemudian meniupkan niupnya.


"Sakit, Mas?" Defta tersenyum.


"Sedikit!" Defta menarik tangan Shela, agar berhenti dan segera duduk didekatnya, tapi malah Shela, terjatuh dan tepat dipangkuan Defta, wajah mereka begitu dekat, sehingga mata mereka saling memandang, getaran demi getaran mereka rasakan, dan Defta yang sama sekali tidak pernah melakukan apapun pada gadis lain, kali ini dengan begitu berani mendekatkan wajahnya, begitu juga dengan Shela, ia memejamkan matanya, perlahan, tangan Defta mengarah ke bibir shela.


"Ada kue yang terjatuh di sudut bibirmu, ini kena tanganmu ketika akan jatuh tadi." Ucap Defta sambil mengambil potongan kue sebesar biji jagung itu, disudut bibir shela.


Shela segera berdiri, ia sangat malu, bisa bisanya ia beranggapan Defta akan mencium nya.


"Ah, kenapa sih, aku berharap dia akan mencium aku, aku ini masih istri orang, dan aku baru bertemu dengannya hari ini, sialan!" gerutu shela dalam hati.


Mereka akhirnya bercengkrama dengan asyiknya, sampai malam dan akhirnya keduanya tidur, Shela diatas kasur, sedang Defta diatas sofa.

__ADS_1


__ADS_2