
Suasana hotel berbintang tempat pesta pernikahan yang telah disewa oleh Andri dan Shela terlihat sangat ramai, begitu banyak kolega kolega yang datang dari berbagai kota, semua demi untuk menghadiri pesta itu.
Karpet merah terlihat megah menghiasi lantai yang diatasnya terlihat sang pangeran dan permaisuri dengan baju pengantin yang begitu tampan dan cantik jelita, sedang berjalan bergandengan tangan seakan memamerkan betapa dunia ini hanya milik mereka berdua.
Kita bisa bayangkan, betapa indahnya dekorasi hotel berbintang lima tersebut, semua ditata dengan sangat epic, dimana kita memandang, disitu mata kita terpana, hanya decak kagum, itulah yang keluar dari setiap tamu yang hadir di pesta itu.
Senyum terus menghiasi sudut bibir milik shela, setiap kali menjabat tangan para tamu yang memberi selamat padanya, begitu pula dengan Andri.
Pesta itu begitu mewah, tidak sebanding dengan perasaan mereka, yang tidak seperti yang tampak dari luar, Andri tersenyum hanya untuk menutupi hatinya yang begitu kalut saat ini, bagaimana tidak, disaat para tamu hadir, justru ia semakin tersiksa dengan bayang-bayang Hana, ia tidak bisa membohongi hatinya, iapun terduduk ditengah aktivitas pestanya, diam membisu diatas singgasana sofa pengantin yang kini menjadi saksi bisu untuk semua kesedihannya.
Shela ikut duduk, menatap wajah suaminya, ia tahu apa yang sedang di rasakan oleh orang yang teramat sangat di cintai nya itu, ia menggenggam tangannya lembut, mencoba tersenyum walau hatinya terasa bagai di sayat sayat, sangat perih dan menyakitkan, ia mencoba memberikan dukungan untuk suaminya, walaupun ia tahu sampai detik ini hati suaminya belum menjadi miliknya. Mereka seakan tidak mengacuhkan bagaimana meriahnya acara pernikahan mereka, beberapa teman menggoda Andri dan Shela, tapi tak ada reaksi dari keduanya, hanya senyum dan tolakan lembut agar tamunya tidak merasa kecewa.
Pesta terus berjalan, keluarga dari kedua pihak datang mendekati kedua pengantin, seakan tidak mau tahu, mereka mengacau kebisuan antara Andri dan shela.
"Heiii, jadi pengantin kok melongo sendiri sendiri?" celetuk Adam.
Seketika lamunan Andri buyar, ia terkejut menyaksikan Adam dan kedua orang tuanya serta kedua mertuanya sudah berada di dekatnya, ia mencoba tersenyum, menutupi perasaannya.
"Mas, aku lihat Hana," bisik Adam. Andri terbelalak menatap Adam, kemudian matanya menatap pada Adam, mengetahui bahwa dirinya telah di kerjain adiknya.
"Kamu ...."
"Ya, aku serius, aku melihat Hana, di kediaman dan tatapanmu." Suara Adam agak keras dan tidak berbisik lagi, andaikan suasana pesta itu tidak ramai, maka orang pasti akan mendengarnya. Shela yang agak mendengar perkataan Adam membungkuk kan badan mendekati mereka berdua yang saat ini berada dalam satu tempat duduk. Karena Shela berdiri dengan kedua orangtuanya dan mertuanya itu.
"Kalian memanggil aku?"
Adam tersenyum, mengangguk, mengiyakan begitu saja pertanyaan kakak iparnya itu, kemudian mempersilahkan Shela untuk duduk kembali, namun Shela menolak, ia memilih untuk berdiri saja.
Adam dan Andri kembali berbisik, tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya, menatap dan mengabaikan segalanya.
__ADS_1
Sang fotografer kembali mendekati mereka, Andri terpaksa berdiri, mengambil pose terindah untuk mengambil gambar pernikahan yang demikian membosankan itu. Semuanya terlihat sempurna, yang tidak sempurna adalah hati Andri yang selalu berada di tempat lain.
Tanpa terasa, hari sudah sore, acara pesta pun sudah berakhir, semua tamu sudah meninggalkan tempat itu, kecuali Andri dan Shela, yang mendapatkan jatah gratis dua malam untuk menginap di hotel itu. Mereka berdua masuk kekamar hotel yang sudah disiapkan. Untuk malam pertama mereka.
Andri melihat betapa sebenarnya Shela teramat cantik, jika dibandingkan bahkan lebih cantik dari Hana. Matanya menatap begitu dalam, memandang seluruh gerak Shela, kemanapun Shela berjalan.
Shela yang menyadari itu, akhirnya tersenyum, mendekati suaminya, duduk disisi nya, membalas tatapan suaminya, yang perlahan mendekat kan wajahnya, Shela memejamkan matanya, mengira Andri akan mencumbunya.
"Ada apa di pipimu, ini ada noda!"
kata Andri sambil menghilangkan noda hitam, seperti tinta yang menempel, mungkin noda dari riasannya. Shela membuka matanya, menatap suaminya, ia merasa sangat kecewa, ia berpikir bahwa suaminya akan memberikan kesan romantis padanya, tapi ... semua diluar ekspektasi nya.
"Mandilah, aku nanti, kamu duluan!" Shela diam, ia hanya berdiri, berlalu meninggalkan Andri.
"Kita mandi aja berdua, ngapain harus nanti." Gerutu shela, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ti_ tidak, aku tidak berbicara apapun." Jawab Shela terus berlalu menuju kamar mandi.
Didalam kamar mandi, Shela hanya berdiri membiarkan dirinya disirami air shower yang menyala, ia menangis dalam diam, "ternyata tak semudah yang aku bayangkan, sangat sakit dan menyesakkan."
Tak terasa Shela sudah sangat lama berada didalam kamar mandi itu, sebuah ketukan pintu menyadarkan dirinya.
"Iya Mas ... sebentar!" Shela akhirnya keluar, dengan menggunakan piyama berwarna pink, yang terlihat sedikit transparan, Andri terkesiap melihat pemandangan yang indah itu, dibalik piyama berwarna pink itu, tergambar dalaman Shela yang berwarna hitam, sungguh mampu menaikkan hasrat nya sebagai seorang lelaki.
Andri menyambar tangan Shela, mencium nya, dengan binar mata yang sendu, menatap Shela yang sangat menginginkan Andri menyentuh dirinya. Perlahan-lahan Andri mendekatkan dirinya, memeluk Shela dengan sangat hangat, mengangkat wajah yang demikian cantik itu, kemudian menunduk kan kepalanya, siap memagut bibir Shela yang begitu sensual dan menggairahkan.
Bibir bertemu dengan bibir, kehangatan terasa mengalir di seluruh tubuh, Andri mulai nakal, ia meraba bagian dua bukit yang mengganjal dadanya, menyusupkan satu tangannya, membelai dan meremas lembut, membuat Shela mendesah lirih namun mampu membuat Andri semakin terhanyut.
Tok tok tok, terdengar pintu di ketuk, Andri tersentak, menatap ke pintu, ia menatap Shela, kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Sebentar!" ucapnya, kemudian menuju pintu, membuka nya.
Tampak seorang laki-laki membawa dua porsi makanan, sambil menyodorkan nya pada Andri.
"Ini pesanannya Pak!" katanya sambil menyerahkan makanan itu. Andri pun menerima nya. Ia membawa nampan itu dan meletakkannya diatas nakas, kemudian menghampiri Shela kembali, serta memegang bahu Shela.
"Aku mandi dulu, panas!" ucap Andri berlalu begitu saja, menuju kamar mandi, sedang Shela masih diam terpaku di tempatnya berdiri sejak tadi, tanpa bergeming sedikitpun.
Sesampainya didalam kamar mandi, Andri memejamkan matanya, meredakan nafasnya yang tidak stabil, mencoba membayangkan kembali apa yang baru terjadi, tapi semakin ia berusaha, semakin bayangan Hana tersenyum menggoda.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menjaga perasaan Shela, aku tahu aku salah, tapi aku tak mampu melakukan itu, aku tak kuasa melawan perasaan ini, aku tak bisa menyentuh Shela dengan membayangkan wajah Hana, tapi kalau tidak, aku tak sedikit pun mampu membangkitkan gairahku, dengan wajah Shela, aku tak bisa berbuat apa-apa, apa yang harus aku lakukan?" kata Andri nyaris tak terdengar. Ia menarik rambutnya kebelakang, dari keningnya yang berkeringat, menampakkan otot tangannya yang semakin tampak gagah. Menyandarkan tubuhnya di sebalik pintu kamar mandi.
Sedangkan Shela duduk ditepi ranjang, menanti suaminya yang terasa sangat lama.
Setelah Andri selesai mengganti pakaiannya, iapun keluar menemui Shela, mendekati Shela, dan mengajak nya makan.
"Ayo kita makan, keburu dingin, nanti nggak enak, lagi pula, kita sudah sejak tadi belum makan, nanti kita masuk angin."
Shela mengangguk, menggelayut kan tangannya ke tangan Andri manja.
Tak lama mereka menikmati makan malam mereka, akhirnya mereka duduk di sofa dan menyaksikan siaran TV dan Shela sesekali terlihat bete dengan sikap Andri yang kembali dingin itu.
"Mas, tidur yuk!"
"Kamu duluan aja, aku masih belum ngantuk!"
"Belum ngantuk, ini sudah malam, Mas ...."
" Ya, duluan aja!" Shela berlalu meninggalkan Andri yang masih asyik dengan tatapan nya ke acara TV, padahal itu hanya sebatas alasan karena ia tidak mau mengecewakan Shela. Sekali lagi, Andri tak mampu melakukannya bersama dengan Shela,. sedang bayangan Hana terus mengintai di setiap sudut hati Andri. Dengan membiarkan istrinya yang merajuk Andri tetap berpura-pura tidak menyadarinya, padahal ia tahu semua itu. Hingga akhirnya Shela tertidur, kemudian Andri membaringkan dirinya, menyusul untuk tidur.
__ADS_1