Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 54 Lukisan


__ADS_3

Kelihatan perbedaan hubungan antara Shela dan Andri, mereka kelihatan lebih akrab, tidak kaku seperti biasanya, bedanya Shela lebih memilih untuk tidak memperdulikan lagi bagaimana perasaannya.


Ia mencoba mengalah, walaupun sakit, mencoba bertahan walaupun tidak semudah yang ia bayangkan.


"Shela ... bagaimana kalau kita pergi kerumah Ayah?"


"Besok kan Mas kekantor, apakah bukannya lebih baik kita tidak usah kesana?"


"Sudah lama kita tidak kesana, besok kita pergi kekantor nya dari sana saja."


Shela malas sebenarnya untuk pergi, karena keluarga Andri selalu meledek dirinya, apakah mereka berdua akan memiliki cucu atau belum.


Shela tak mau mendengarkan semua itu, apalagi saat ini, dirinya dan suaminya lagi tak baik baik saja.


"Kamu takut akan ditanya Ibu lagi?" Shela mengangguk.


"Apakah lebih baik kita punya rumah sendiri?"


"Maksudnya, kita pindah?"


"Shela ... mungkin dengan berumah sendiri, kamu bertambah kesepian, tapi kalau memang kau menginginkan nya aku akan mencoba mencari rumah untuk kita."


"Benar, mungkin aku cuma terbawa perasaan, aku cuma risih ditanyai terus, kapan kita akan program hamil, padahal ...."


"Maaf Shel ... aku membawa mu kedalam masalah ini, seharusnya aku menjadi orang yang bisa membuatmu bahagia." Andri membelai rambut Shela.


"Sudahlah, aku tak mau membahas masalah ini lagi, lebih baik kita kemasi apa yang akan kita bawa." Jawab Shela sambil menjauh dari tangan Andri.


"Ya, baiklah."


Setengah jam berlalu, Shela dan Andri siap berangkat kerumah keluarga Andri, mereka keluar dari kamar dengan berjalan sendiri sendiri, Shela berada didepan, sedangkan Andri berada di belakangnya. Benar benar tak tampak lagi kemesraan antara mereka, tidak ada lagi yang ditutup tutupi, seperti biasanya.


"Kalian mau kemana?"


"Kami mau kerumah Ayah, Ma ...."


"Tidur disana?"


"Ya, kami tidur disana, Mama tak usah menanti kami, mungkin kami pulang besok."


Setelah berpamitan, keduanya meninggalkan rumah mewah itu.


Dalam perjalanan, Shela lebih banyak diam, menatap lurus ke depan, mewakili perasaan nya yang kosong.


Andri menatap penuh dengan rasa bersalah yang kian lama mengusik hatinya, ia tahu, istrinya itu sangat menderita karena dirinya.

__ADS_1


"Shel ...."


"Ya, ada apa?"


"Apa kamu tahu, besok aku akan meeting dengan vendor kita yang baru, aku merasa penasaran, katanya vendor baru kita ini adalah pengusaha baru yang sukses, siapa ya ... kira-kira?"


"Benarkah, apa aku boleh ikutan?"


"Kamu?, tumben mau ikut, biasanya kamu lebih betah dirumah."


"Aku ingin masuk kerja lagi, Mas ... apa boleh?"


"Boleh dong ... aku senang kalau kamu ikut kerja lagi, dengan kita selalu bersama, mungkin akan membuat kita semakin dekat." Shela tersenyum.


Andri memarkirkan mobilnya di garasi seperti biasanya. Tampak Bu Wisnu tersenyum keluar menyambut kehadiran mereka, Shela menghampiri perempuan yang berumur sekitar lima puluhan tahun itu, dengan hormat Shela pun menyalaminya.


"Kalian udah lama tidak main kesini, kalian sehat?" tanya Bu Wisnu sambil membawa mereka berdua masuk kedalam rumah.


"Alhamdulillah, kami semua sehat, bagaimana dengan Ibu dan Ayah?"


"Kami juga sehat."


Mereka bercengkrama sebentar diruang tamu, sebelum keduanya pergi kekamar Andri, sejak mereka menikah, baru kali ini Shela bermalam di rumah itu, biasanya dia hanya masuk sebentar dan keluar lagi.


Akhirnya, Andri sudah tertidur, sementara Shela masih belum bisa memejamkan matanya, hatinya begitu resah, apalagi saat ini terdengar suara rintik hujan gerimis, membawa hembusan angin semilir, menimbulkan sedikit sensasi dingin.


Tanpa sengaja, mata Shela tertuju pada sebuah ruangan kecil, ia sangat penasaran dengan ruangan itu. ruangannya yang kalau diperhatikan, seperti tidak ada, perlahan ia turun dari ranjang tempat tidurnya. Ia meraba raba ruangan yang tertutup tirai itu.


"Ada pintu," batinnya. Dilihatnya pintu itu, dikunci. Shela kembali mendekati Andri, ia kembali membaringkan tubuhnya, tapi ia masih sama penasaran nya dengan tadi.


"Ruangan apa itu gerangan," tanya hati nya lagi. Shela kembali turun, ia mendekati nakas, mencari kunci, tapi tak ditemukan nya.Terus matanya menyapu seluruh ruangan, dan akhirnya terhenti pada sebuah paku, ia melihat ada sepasang kunci, ia meraih kunci yang letaknya agak tinggi itu. Tak membutuhkan waktu lama, kunci itu pun berhasil diambilnya.


Dengan sangat hati-hati dan pelan pelan sekali, Shela mencoba memasukkan kunci itu dan ....


Tag, kunci itu berhasil masuk, pintu pun terbuka, Shela memberanikan diri memasuki ruangan kecil itu, gelap!, ia menghidupkan senter pada ponselnya, dan menemukan tombol lampu untuk ruangan itu.


Setelah lampu hidup, Shela melihat sesuatu yang tertutupi kain putih bersih, yang sedikit berdebu, karena sudah lama tidak dibersihkan. Shela penasaran, gerangan apa yang tertutup itu, di bukanya perlahan, ia sempat terkejut melihat apa yang kini terpampang dihadapannya. Sebuah lukisan yang berukuran lumayan besar, terpampang begitu jelas.


Tanpa berkata apapun, ia menelan air liurnya, hatinya terasa begitu sakit, airmata nya pun tak bisa ia tahan kan,


semakin lama, badannya terlihat terguncang, ia semakin terisak, menahan penderitaan nya yang terasa kembali menyerang dirinya.


"Mengapa aku masih merasa sakit seperti ini, bukankah aku akan merelakan dirinya?" ucap Shela bergetar.


Sedangkan Andri, membuka matanya, menelisik seluruh ruangan, tak menemukan Shela, dan pandangan nya berhenti diruang rahasia miliknya. Dengan bergegas, Andri memasuki tahun itu, ia menyaksikan Shela yang terisak pilu, dihampirinya, kemudian dipeluknya.

__ADS_1


"Kenapa kau kemari, seharusnya kau bertanya dulu padaku, sebelum kau memasuki ruangan ini, agar hatimu tak merasa lebih sakit." Shela hanya diam, justru tangisnya kian pecah.


"Aku saja ... tak pernah masuk kekamar ini lagi, karena aku tidak ingin melihat lukisan ini, tapi kau begitu lancangnya, membukanya, jadi jangan salahkan aku, aku tak bermaksud menyakiti hati mu lagi."


Andri memeluk Shela, ia sadar bagaimana perasaan Shela saat ini, semakin bertambah hancur, semakin tersiksa dan menderita.


"Mas ... betapa beruntungnya menjadi Hana, sampai sampai kau melukis dirinya, semakin kesini aku semakin menyadari, betapa berartinya dirinya untuk mu."


"Sudahlah, mari kita keluar dari sini, aku tak mau kita berlama-lama disini, biar besok aku akan membuang lukisan itu, aku akan mengosongkan nya."


"Tidak perlu, Mas, apalah arti sebuah lukisan, meskipun kau membuangnya, atau membakar nya sekalipun, sementara hatimu masih milik dia ... dia akan terus mendiami hatimu, walaupun kau tahu dia milik orang lain sekalipun."


Lagi lagi, Andri terdiam mendengar jawaban Shela, ia menundukkan kepalanya, tak bisa mengelakkan tamparan melalui kata kata yang di ucapkan Shela.


"Seharusnya ...." Shela terdiam.


Andri menatap wajah Shela, menyaksikan airmata yang masih saja mengalir, membasahi pipinya yang putih mulus.


"Seharusnya aku tidak merasa sakit dan menangis lagi, kita adalah sahabat, bukan?, tapi aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini ...."


Andri mendongakkan wajah Shela, sehingga mata mereka saling beradu, perlahan Andri mengecup air mata yang bersimbah itu, mencoba untuk menghapus segala duka.


"Jangan lagi kau keluarkan air mata mu, demi aku yang telah menyakiti hatimu, aku tak pantas kau tangisi."


Mereka saling berpelukan.


"Hari sudah begitu larut, lebih baik kita tidur, bukankah kau akan ikut kekantor besok?" Shela mengangguk.


Tanpa diduga oleh Shela, Andri mengangkat tubuhnya, membopongnya menuju tempat tidur, membaringkannya, dengan begitu lembut, dan dengan kesadaran penuh Andri mendekatkan wajahnya ke wajah Shela. Semenit dua menit, keduanya saling beradu pandang, Shela melingkarkan tangannya dileher Andri, dan lama ... akhirnya pasti, sebuah kecupan lembut mendarat juga di bibir sensual milik Shela.


"Selamat tidur, semoga mimpi indah ...." Bisik Andri, menyudahi kecupannya.


Andri duduk ditepi ranjang, mengelus elus bahu Shela, yang kadang masih sesenggukan karena tangisnya tadi. Andri mencoba menenangkan nya, sampai akhirnya Shela tertidur.


Tak terdengar lagi, suara Isak tangis, Andri berdiri, berpindah ke sisi Shela, disamping sebelah kirinya.


Saat ini Andri yang malah tidak bisa memejamkan matanya, ia resah, sangat resah sampai pagi menjelang.


Terdengar suara jangkrik diluar sana, membawa perasaan Andri, sangat jauh berkelana ... menatap sang istri yang kian merasa menderita, karenanya.


"Aku akan mencoba untuk membahagiakan mu, aku akan lupakan Hana, aku yakin kau adalah pendamping yang memang dikirim Tuhan untuk ku." Ucapnya setengah berbisik. Kemudian mendekatkan dirinya kepada Shela, yang sedang tertidur pulas, memeluknya dari belakang, yang selama ini belum pernah dilakukannya.


Shela yang terusik dengan pelukan itu, membuka matanya, ia tersenyum, menyadari dirinya saat ini berada dalam pelukan suaminya. Ya harapan baru akhirnya hadir di hati Andri, untuk memulai hidup baru bersama dengan Shela.


Bukankah memang Tuhan adalah pem bolak-balik hati, apa yang akan terjadi selanjutnya, benarkah Andri benar benar bisa memulai kisah barunya?

__ADS_1


__ADS_2