
Sejak Andri menanda tangani surat gugatan cerai, ia tak lagi tinggal di rumah Shela, ia sudah kembali kerumahnya. Seperti pagi ini, Shela dikejutkan oleh kedatangan Defta.
Sudah sekian lama lelaki tampan itu tak datang menemuinya.
Shela tersenyum ketika mukanya ditutup dengan kedua tangan Defta, ia tak tahu kenapa, dirinya merasa bahagia bersama dengan laki-laki itu.
"Mas Defta, buka ... buka tangannya!" kata Shela yang sedang menyiram bunga.
Bukannya melepaskan, Defta justru semakin usil.
"Ayolah ... nanti aku siram pakai air, lho ...." Defta mengalah, ia melepaskan tangannya.
Tampak Defta tersenyum, betapa manis sekali, Shela baru merasakan indahnya senyum Defta kali ini.
"Kok tahu aku yang menutupi wajah kamu?"
"Ah, aku akan tahu dimana pun dirimu."
"Kau bisa aja, serius kau kok tahu?"
"Aku sudah hafal wangi parfum kamu, dan aku juga sudah hafal cara kamu memperlakukan aku."
"Benarkah, sampai segitunya perlakuanku padamu, sehingga kau begitu mengenaliku?"
"Ya, aku tak bisa lagi untuk kau tipu!"
"Aku senang kalau kau bisa mengenaliku, andai aku hilang maka kau akan mudah untuk menemukan aku."
Perkataan Defta tanpa sengaja membuat Shela merasa sedih, ia seakan membayangkan jika Defta menjauh darinya, rasanya entah mengapa, Shela seakan tak rela.
Melihat Shela terdiam dan menunduk, Defta merasa heran.
Perlahan Defta mengangkat wajah Shela, terlihat air bening mengalir membasahi pipinya.
"Hai ... kenapa kau menangis?" tanya Defta heran.
"Aku tak ingin kau menghilang, aku takut kau menjauh dariku."
"Aku cuma bercanda, Shela!"
"Aku benar-benar takut, Mas Defta ...."
"Benarkah?" Shela mengangguk.
Defta tersenyum, apakah ia mendapatkan balasan cinta dari Shela, sehingga wanita dihadapannya itu, kini begitu terasa demikian dekat dengannya?
"Shela ... sudahlah jangan sedih, aku akan selalu ada untukmu!"
"Benarkah?"
"Hmmm, aku akan selalu bersamamu, apalagi jika kau mengijinkan aku untuk menjagamu, aku akan di sampingmu selamanya." Ucap Defta sambil memeluk Shela dari belakang.
Hembusan nafas Defta ketika berada didekat telinganya, membuat Shela merinding, ia baru kali ini merasakan betapa Defta berani memeluknya, biasanya hanya sekedar menenangkannya saja, tapi Shela merasa sangat bahagia.
"Apakah kau tak ingin melepaskan pelukanmu?"
"Tidak, apa kau keberatan jika aku memelukmu?"
"Aku sama sekali tidak merasa keberatan, aku bahagia dalam pelukanmu, mungkin karena aku tak pernah merasakan hangatnya pelukan seseorang, apalagi pelukan orang yang aku cintai."
"Sebelum aku tahu siapa orang yang kau cintai saat ini, bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?"
"Ya, kau mau mengatakan apa?"
"Aku telah jatuh cinta padamu, Marshela Ayuningtyas!"
__ADS_1
Shela memutar badannya menghadap ke Defta, memandangnya, wajahnya penuh binar kebahagiaan.
"Benarkah?"
"Ya, aku mencintaimu jauh sebelum kau bercerai dari Defta, bahkan aku telah mengatakan padanya."
"Kau mengatakan pada mas Andri?"
"Ya, aku bilang kalau aku sangat mencintaimu."
"Lalu apa reaksinya?"
"Dia memahami ku, dan karena itulah dia mengijinkan aku bersamamu ketika kau sadarkan diri setelah pasca operasi itu."
"Oh, pantas saja, dia pergi dan membiarkan dirimu bersamaku."
"Nah sekarang bisakah kau memberi tahuku siapa orang yang telah mampu membuat mu jatuh cinta!"
"Aku tak perlu mengatakan, seharusnya kau sudah mengetahuinya."
"Maksudnya?"
"Aku tak pernah mencintai seorang lelaki seperti aku mencintai mas Andri, kecuali padamu."
"Jadi ... maksudnya kau ...." Ucap Defta sambil menunjuk Shela dan kemudian menunjuk dirinya.
Shela mengangguk.
Sontak, Defta mengangkat tubuh Shela dan membawanya berputar, sehingga Shela tertawa berderai, mereka terlihat bahagia.
Dua pasang mata, tanpa mereka sadari telah memperhatikan mereka dengan seksama, melihat kebahagiaan antara Shela dan Defta, membuat mereka tersenyum. Kedua orang itu adalah orang tua Shela.
Telah lama mereka tak menyaksikan putri mereka bahagia, tertawa lepas bahagia tanpa derita.
Defta menurunkan Shela, ia menghadapkan wajah Shela kewajahnya, Defta mengangkat sedikit dagu shela, sehingga semakin mendekat.
Shela memejamkan matanya, ia seakan menikmati sentuhan Defta, mereka tak perduli, jika saat ini berada diruang terbuka, yang ada hanya ingin mengungkapkan perasaan mereka berdua.
"Aku bahagia sekali, Shela ... aku bahagia sekali."
"Ya, aku bahagia!"
"Seandainya Hana tidak mendonorkan ginjal nya padamu, mungkin aku adalah orang yang paling tidak beruntung, karena kau belum tahu betapa aku sangat mencintaimu."
"Tapi yang membuat aku sedih, aku adalah seorang wanita yang menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka, pertama aku mengambil kekasihnya, sekarang aku mau mengambil nyawanya, aku adalah penyebab penderitaan bagi mas Andri, hanya karena aku, dia tak pernah mendapatkan kebahagiaan nya."
"Bukan tidak mendapatkan, tapi belum."
"Ya, semoga Hana cepat sadar, aku tak sabar rasanya ingin mengucapkan rasa terimakasih ku padanya, berkat dia aku mendapatkan orang yang aku cintai."
"Ya, sama seperti yang kau katakan, aku bertemu denganmu karena Hana, dia berhasil telah membuat aku menemukan dirimu, seandainya aku tidak bisa melupakannya cintaku pada Hana, maka tak akan pernah aku menemukan cintaku padamu."
"Ya, andai aku tak bertemu dengan Mas Andri, maka aku tak akan pernah menemukan cintaku yang sesungguhnya."
"Jadi ...."
"Jadi apa, Mas?"
"Maukah kau menikah denganku?"
"Apa, coba katakan sekali lagi, aku ingin mendengar nya lagi."
"Apakah kau mau menjadi istriku?"
"Aku bersedia, aku akan menantimu memintaku pada orang tuaku."
__ADS_1
"Aku akan datang, semoga ikatan kita mendapatkan restu dari kedua orang tua kita."
Shela mengajak Defta untuk masuk, Defta mengiyakan.
" Mas, kita kerumah sakit, yuk!"
"Oke, aku juga sudah beberapa hari belum kesana!"
"Baiklah, aku siap siap dulu.
Shela meninggalkan Defta sendirian di ruang tamu.
***
Andri kembali menatap ke arah jari jari tangan Hana, sebab ia merasakan ada sebuah gerakan saat ia sedang membersihkan tangan Hana, yang agak berkeringat.
Kembali harus merasa kecewa, tapi lima menit berikutnya, saat Andri memegang jemari tangan Hana, Andri benar benar melihat jari itu bergerak.
semula sekali, tapi semakin ia perhatikan, jari itu melakukan pergerakan lagi.
"Han, kau menggerakkan jarimu, apakah kau bisa mendengar aku, aku disini, bangun lah, aku bersamamu, ayo sadarlah!"
Andri melihat wajah Hana, ia mendapatkan alis Hana yang seakan bergerak dan berusaha membuka matanya.
Andri mencium kening Hana, berikut matanya, dan ketika bibir Andri menempel di mata Hana,
airmata Andri menetes, jatuh mengenai mata Hana, saat itulah mata Hana perlahan membuka.
Mata indah itu menunjukkan cahaya kehidupannya kembali.
"Sayang ... kau bangun, Alhamdulillah kau bangun sayang ...." Andri memencet tombol untuk memanggil dokter, dan tak memerlukan waktu lama, dokter pun datang. Memeriksa keadaan Hana.
Dokter itu akhirnya menghela nafas lega, setelah melihat keadaan Hana.
"Alhamdulillah, dokter Hana, telah melewati masa kritisnya, ginjalnya pun kembali berfungsi dengan baik, sungguh suatu mukjizat."
Hana yang merasa heran dengan adanya Andri disisinya, bukankah dirinya ingin semua dokter merahasiakan akan semua itu.
"Dok?" kata Hana pada dokter Harlan yang saat ini ada di dekatnya.
Dokter Harlan pun seakan tahu apa maksud Hana.
"Maaf, semua tak seperti yang kita harapkan, semua sudah tahu, kau tidak sadarkan diri selama satu bulan lebih, jadi aku terpaksa memberitahu mereka semua."
"Hana, kenapa kau senekat ini?"
"Aku ...." Hana memalingkan wajahnya, Hana tidak nyaman dengan keberadaannya disitu.
Andri menghubungi Rega dan ibunya, setelah itu ia kembali mendekati hana.
"Apakah aku boleh duduk disini?"
Hana tak menjawab, tapi sebuah suara menyahut dengan santai.
"Wah, dokter Hana sudah sadar, aku sangat bahagia melihatnya, apakah kau tahu, kau telah berhasil membuat kami cemas."
"Rega ...." Hana tersenyum melihat Rega dan ibunya datang.
Andri tak kuasa melakukan apapun, ia tak berani menyentuh Hana, ia takut, jika ia nekat maka akan berakibat kurang baik bagi Hana.
"Kakak, selama ini aku di jaga oleh suami mu!"
"Suami?"
"Ya, suami, Mas Andri ... aku telah menikah kan kalian, kalian adalah suami istri."
__ADS_1
Hana melihat wajah Andri yang masih tertunduk, ia merasa tak kuasa menatap wajah Hana yang seakan meminta jawaban.