
Kembali pada Hana, di atas pembaringan, Hana masih tampak lemah, kondisi badannya belum stabil, pak Kimura sudah pergi dari asrama mereka. Selang beberapa menit kemudian, Verona masuk tanpa mengetuk pintu, mendorong pintu yang tertutup begitu saja.
Braaak ... terdengar suara pintu yang di buka secara paksa, dengan wajah yang seram, dengan mata yang sedikit memerah, ia meng hampiri Hana, menarik kerah baju Hana, sehingga Hana merasa tercekik. Hana mencoba melawan dengan kedua tangannya, tapi karena badannya yang lemah saat ini, ia tak mampu berbuat banyak. Verona menampar wajah Hana dengan menggunakan tangan kirinya.
Aauu ... terdengar suara keluar dari mulut Hana, walaupun dengan tangan kiri, kiranya tamparan itu sakit juga.
"Ada apa Mbak Vero?, apa salahku, hingga kau perlakukan aku seperti ini!"
"Sudah ku bilang padamu, jangan main main denganku, kenapa kau terus saja memancing emosiku."
"Aku tidak bermaksud memancing emosimu, apa yang telah kulakukan, aku tidak merasa mempermainkan dirimu."
"Jangan pura pura bodoh!"
"Sungguh aku tak mengerti, katakan saja terus terang, agar aku tahu, apa yang membuatmu marah?"
Belum sempat Verona bicara lagi, Dewi masuk, ia terkejut melihat Hana hampir tercekik akibat kerah baju Hana ditarik dari arah belakang, Dewi menarik tangan Verona dengan kuat, sehingga tubuh Vero pun terlepas dari Hana.
Vero yang hampir jatuh pun dengan sekuat tenaga berusaha cepat untuk berdiri kembali. Dewi dengan segera mendorong tubuh Vero kearah dinding, mengunci pergerakan tubuh Vero, menahannya sampai akhirnya Vero tak bisa berbuat banyak, hanya berusaha lepas.
"Lepaskan aku, kau jangan ikut campur urusanku dengan dia!"
"Semua yang terjadi di ruang ini adalah urusanku, termasuk memberikan pelajaran padamu."
"Kau harus bilang pada Hana, jangan membuat aku emosi, aku tidak suka dia dekat dekat dengan pak Kimura."
"Ha ... ha ... ha ... apa kamu sadar, siapa dirimu itu?, kau ... bagi pak Kimura adalah seonggok sampah, lalu apa kau tahu apa guna sampah?, dibuang!"
Cuih ... Dewi meludah ke lantai, menghina Vero, sudah lama Dewi merasa muak dengan sikap Vero, yang selalu beranggapan dirinya adalah seorang gadis yang paling cantik dan mempunyai kekuasaan di antara penghuni asrama lainnya.
Selama ini, Dewi hanya diam, bukannya takut, tapi tak ingin membuat masalah, karena Dewi tak punya urusan sedikit pun pada Vero, sekarang karena Vero menyerang Hana, teman sekamarnya, ia harus turun tangan.
Dewi adalah alumni pencak silat di kampungnya, sikapnya memang seperti laki-laki, gaya berjalan dan ketegasannya tidak dapat di sembunyikan, tak ubah seperti seorang pria. Tapi walaupun demikian, hatinya begitu baik, ia sangat lembut pada sahabat dan orang-orang terdekatnya. Entah mengapa, iapun sangat menyayangi Hana, walaupun baru beberapa bulan bertemu. Karena rasa sayang itulah, ia mau melakukan apapun untuk Hana. Bagai menemukan seorang saudara, Dewi sedikitpun tak ingin Hana bersedih ataupun terluka.
Vero mencoba melepaskan tangan Dewi, tapi sia sia belaka, Dewi telah mengunci mati tubuh Vero.
"Lepaskan aku!"
__ADS_1
"Mengapa, apa kau tak bisa melepaskan dirimu, bukankah kau adalah orang terkuat di kompleks asrama ini, lalu kenapa kau tidak bisa berkutik, ha?" Hana mendekati Dewi, ia menggelengkan kepalanya pada Dewi, menatap kearah Vero.
"Sudahlah Mbak, kalau kita menyelesaikan masalah dengan kekerasan seperti ini, kita sama saja seperti dia, hanya orang picik saja yang punya sifat seperti itu." Dewi melepaskan Vero. Vero mengibaskan bajunya dengan tangannya. Hana mencoba membicarakan masalah mereka dengan baik-baik.
"Sekarang, tolong Mbak Vero jelaskan padaku, ada masalah apa sampai Mbak meledak-ledak seperti ini padaku?"
"Itu tu, itu yang membuat aku tidak suka sama kamu, kamu pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak mengerti, sudah kubilang jangan dekati pak Kimura, kau tetap saja!"
"Apa pak Kimura pacar, Mbak?"
"Dia aja ... yang berambisi Han, dasar tak tahu malu!" Vero kembali naik darah.
"Apa kau bilang?"
"Kamu_ tak ... tahu ... malu!" Vero menyambar baju Dewi, tapi tak berhasil, Dewi tertawa terpingkal-pingkal, membuat Vero semakin bertambah emosi. Vero mengejar Dewi, dan suasana berubah seperti petak umpet, salah satu diantaranya tidak ada yang mau mengalah.
"Hana ... kamu tahu ... Vero itu adalah cewek yang rinpukahiyang."
"Apa tu ...." Jawab Hana ikut meledek Vero.
"Rindu pelukan, haus akan kasih sayang!"
Dewi terus berlari, kesana kemari mempermainkan Vero. Hana hanya tersenyum dan kadang tertawa, sambil memegangi perutnya yang terasa kaku, menahan kelucuan mereka.
"Emangnya, aku kutu, kau cites!"
"Kau Wi, tak ada yang berani melawan aku kecuali kau, kau jangan main main padaku."
Verona benar benar merasa kecapekan, ia berhenti sambil menarik napas dalam-dalam, iapun duduk dan membiarkan Dewi, tidak mengejarnya lagi.
"Kita buat perhitungan besok, sekarang aku capek!"
"Dasar kau ver ... peak!
Verona berlalu begitu saja, meninggalkan Hana dan Dewi, tanpa sepatah kata pun. Vero merasa posisinya telah di rebut oleh Hana, dulu sebelum Hana bekerja di perusahaan itu, perhatian pak Kimura lebih padanya, sekarang saat Hana sudah bekerja di perusahaan itu, pak Kimura hanya lewat, tanpa masuk, seperti biasanya, tanpa menanyakan bagaimana kabarnya. Vero merasa sakit hati, ia jatuh cinta pada bos mereka itu, ia tidak ingin siapapun dekat dengan bos besar nya itu. Yang parahnya, siapapun yang dekat dengan pak Kimura akan mendapatkan perlakuan yang sama dari Vero. Selama ini tak ada yang berani melawan kecuali kali ini. Hana memang tidak melawannya, tapi Dewi yang ada di belakang Hana, yang selalu membela Hana, sehingga Vero tidak mampu berbuat banyak.
Sesampainya Vero di kamarnya sendiri, ia menggerutu tidak jelas, ia berjanji dalam hati, akan melakukan sesuatu yang membuat Hana jera dan tidak berani lagi mendekati pak Kimura lagi.
__ADS_1
Sepeninggal Vero, Hana dan Dewi tertawa terpingkal-pingkal, mereka teringat wajah Vero yang kesal, akibat kelakuan Dewi padanya.
"Mbak Dewi, Mbak ada ada aja!"
"Biarin, kalau dia berani macam-macam, aku juga akan bikin perhitungan dengannya."
"Diakan berurusan denganku, bukan Mbak!"
"Semua yang berurusan denganmu, akan berurusan dengan aku, aku tak aka membiarkan siapapun menyakiti dan mengancam mu."
"Terimakasih, Mbak!"
"Bagiku, kau adalah saudaraku, apapun yang membuatmu menderita, akan membuat aku menderita juga, kadang aku heran mengapa aku sangat menyayangimu!"
"Mbak, dulu sebelum aku datang kesini, aku berpikir tak akan mendapatkan teman sebaik dirimu, tapi justru aku mendapatkan lebih dari apa yang aku inginkan."
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku sudah lebih baik, oh ya, Mbak, kok ada pak Kimura ya kemarin?"
"Saat kau pingsan, aku mencari bantuan, aku melihat seseorang lewat gang, dan pas aku panggil, ternyata pak Kimura."
"Dia memegang ku?"
"Bukan hanya memegang, ia membopongmu!" kata Dewi berbisik pada Hana. Hana melongo.
"Membopong aku?"
"Iya, mengangkat mu keatas ranjang, tahu nggak, dia kelihatan sangat khawatir, melihat mu pingsan kemarin."
"Ah, Mbak Dewi, berlebihan!"
"Aku serius, makanya, Vero cemburu, kamu aja yang tidak sadar kalau pak Kimura suka sama kamu."
"Aku tak ingin berpikir terlalu jauh, Mbak, aku tidak ingin dekat dengan cowok, aku takut!"
"Bagaimana kalau pak Kimura menembak mu!"
__ADS_1
"Sudahlah Mbak, aku tak ingin membicarakan dia lagi, aku capek, aku mau mandi dulu."
Dewi mengangkat bahunya, membiarkan Hana berlalu dari hadapannya.