
Sejak kemarin, Andri bungkam seribu bahasa, hatinya benar-benar hancur, harapannya kandas, tak bersisa. Dulu, bayangan wajah Hana, di anggapnya sebagai pengobat rasa rindu, yang di rasakan nya. Tapi saat ini, Andri menepisnya bayangan yang hadir dalam pandangan jiwa kerinduan nya.
Betapa tidak, Hana wanita yang di dicintainya, kini telah menjadi istri orang lain, remuk redam, gundah gulana, hancur lebur, dan entah apa lagi, ibarat yang di pakai untuk menggambarkan perasaan nya, saat ini.
Andri melangkah gontai, menuju taman samping rumah mereka. Pak Wisnu, yang baru saja pulang dari kantor, menghampiri putranya yang tampak sedih dan frustasi.
"Ada apa, An?" sapa nya.
"Ti_ tidak ada, Yah!"
"Kok kamu, bengong, kayak kalut gitu."
Pak Wisnu duduk di samping anaknya.
"Cerita kan saja, mungkin Ayah bisa membantu."
Andri terdiam, seakan tidak ingin membagi kesedihannya, tapi pak Wisnu terus mendesak.
"Aku kemaren, bertemu dengan Hana dan Defta ...." Kalimat Andri menggantung, seakan ragu untuk menceritakan semuanya pada ayahnya.
"Oh ya, di mana?"
"Di bandara, Yah."
"Di bandara?" ulang pak Wisnu, agak terkejut.
"Ya, saat aku menjemput Shela kemarin, mereka tampak sangat begitu mesra, seperti sudah menikah?"
"Kau tidak memanggilnya?"
"Tidak, untuk apa aku memanggilnya?"
" Ya, memastikan, apakah mereka sudah benar-benar menikah atau belum!" Andri terhenyak, baru menyadari akan kata-kata ayahnya.
"Tapi untuk apa?, kalau mereka ternyata sudah menikah, aku akan tambah sakit saja!" batin Andri.
"Kalau ternyata, mereka benar-benar sudah menikah, bagaimana?" tanya Andri.
" Ya, kita bisa menentukan langkah kita selanjutnya, tanpa menanti sesuatu yang bukan milik kita!"
"Ayah benar, tapi aku yakin, mereka sudah menikah, dari pelukan mereka, dari semua, perlakuan Defta, padanya."
" Kalau begitu, lupakan Hana, tatap lah masa depan mu, melangkah lah ke depan."
"Ya, Ayah, aku akan melupakan Hana, aku akan mencoba mencari cintaku yang hilang."
"Cobalah untuk mencintai Shela!"
"Apakah menurut Ayah, Shela akan bahagia?"
"Ya, aku sangat yakin, dia sangat mencintaimu!"
"Bagaimana seandainya, aku tak bisa mencintainya?"
"Cinta itu pasti akan datang, setelah kau bersamanya, sebab rasa itu ada, kalau kau mencoba mengenalnya lebih jauh, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak rindu, tak rindu maka tak cinta." Andri tersenyum.
" Ayah ... Kau puitis sekali, memang benar kata ibu, Ayah adalah pasangan yang romantis!"
"Harus itu!"
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya saja, An."
"Bebas, tanya apapun?"
"Ya, terserah kamu!"
"Walaupun itu, termasuk masa lalu, Ayah?"
Pak Wisnu memandang Andri sekejap, dan akhirnya mengangguk.
"Apakah cinta Ayah pada Ibu, bersemi begitu saja setelah ibuku pergi?" Pak Wisnu terkejut mendengar pertanyaan Andri, ia terdiam beberapa saat, kemudian menghela nafas, panjang.
__ADS_1
"Kau benar Andri, melupakan orang yang paling kita cintai, tidak lah semudah membalikkan telapak tangan."
"Maksud Ayah?"
"Sangat membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk bisa melupakan ibumu."
"Mungkin aku, bahkan, tidak sedikit pun mampu melupakan Hana."
"Kau harus bisa, An!"
"Katakan padaku Ayah, bagaimana caranya, agar aku bisa melupakannya?"
"Mendekat kan diri dengan gadis lain!"
"Baiklah, aku akan mencari!"
"Ini, baru anak Ayah!"
"Tapi Ayah, bolehkah aku melihat wajah ibuku?"
"Untuk apa?"
"Setidaknya, aku tahu, bagaimana wajah ibu yang telah melahirkan aku ke dunia ini."
"Aku akan memikirkan, nanti kalau menemukan fotonya."
"Apakah Ayah, masih menyimpan foto nya?"
"Kurasa tidak, tapi kalau kau mau melihatnya, aku akan mencari nya, bagaimana pun juga, dia adalah ibumu, kalau kau mau melihat wajah nya, itu adalah hak mu."
"Terimakasih, Ayah!" pak Wisnu bangkit dari tempatnya duduk. Menepuk bahu Andri, sambil tersenyum, masih tampak ketampanan di wajah tengah baya itu.
"Kamu pasti bisa melupakan, Hana!"
"Semoga, Ayah!"
Pak Wisnu meninggalkan Andri, menuju rumah, tak terasa, sudah lebih dari satu jam, Andri bercengkrama, dengan ayah nya.
"Mungkin, saat nya aku melupakanmu, Hana!"
Defta pun bangkit dari duduknya, masuk dalam rumah, mengikuti ayahnya.
Belum sampai Andri melangkah kedalam rumah, ponselnya berdering, diambilnya dari dalam saku celananya.
"Ya, ada apa, Shela?"
"An, kamu di mana?"
"Aku di rumah, ada apa?"
"Tolong aku dong ...."
"Tolong, ngapain?"
"Mobil ku mogok, aku di perjalanan menuju rumahmu, jemput aku di simpang gang, dekat rumah."
"Sudah dekat, Shel ... kamu jalan kaki aja!"
"Kok kamu tega ... jemput aku!" jawab Shela manja.
"Kamu, tunggu disitu, aku menjemputmu!"
Andri masuk kedalam rumah, mengeluarkan sepeda motor model Scoopy, dan menuju tempat yang telah di instruksi kan Shela.
Tampak dari kejauhan, wajah ayu Shela cengar-cengir, kepanasan.
"Kok kamu nggak berteduh dulu?"
"Nggak, aku cuma nggak sabar, di jemput kamu!"
"Naiklah, nanti kamu kepanasan, jelek' "
"Kita kemana?"
__ADS_1
"Tadi katanya mau ke rumah ...."
"Sekarang sudah nggak, kita jalan-jalan yuk!"
"Panas-panas begini?"
"Ayo dong , An ...."
"Kita ke rumah aja!"
"Nggak, aku pengen nya jalan-jalan titik!"
"Shel ...."
"An ... "
"Mau mu, apa?"
"Aku mau kamu, An ...."
"Oke!, jalan-jalan kemana?"
"Kita ke taman yuk!"
Akhirnya, Andri menuruti kemauan Shela.
" Kenapa kok tumben, mau jalan-jalan?"
"Apa nggak boleh, sih ...."
"Boleh, aku hanya berharap, setelah kita sering bersama, kamu akan menerima aku."
Mereka berdua akhirnya , sudah sampai.
"Mau minum apa, Shela?"
"Minum Fanta dingin aja!" mereka akhirnya memanggil pedagang asongan dan memesan apa yang mereka inginkan.
"Shela ... seandainya aku membuka hatiku, apakah kau, mau bersabar menghadapi aku?"
"Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, Shel!"
"Apakah ... kau sudah melupakan, Hana?" tanya Shela, terdengar sangat hati-hati.
"Apakah ... aku tampak sedang bercanda?"
"Jadi kau serius?" tanya Shela, sambil menatap Andri, wajah pemuda tampan yang begitu dicintai nya. Andri meraih tangan Shela, bibinya terurai senyum, begitu tulus.
"Aku akan segera melamar dirimu!"
"Be_ benarkah?"
"Aku pikir, sudah cukup lama, aku mengabaikan mu, maafkan aku ...."
"Andri ... sudah cukup lama, aku menunggu waktu seindah ini."
"Tapi, sebelum kita melangkah lebih jauh, aku harus jujur, mungkin aku, tidak bisa dengan cepat mencintaimu, tapi aku akan berusaha."
"Aku paham!, kau masih mencintainya, tapi ... aku akan menunggumu, cinta ini, akan menjadi pengobat kerinduan untuk mu."
"Aku tahu, akan sangat sakit membiarkan diri mu, tanpa cinta ini!"
"Andri ... mungkin, kesabaran ku akan membuahkan hasil, tapi andai nanti kau tak jua berhasil untuk mencintaiku, aku berjanji, akan jadi jembatan cinta, antara engkau dengan dirinya."
"Kau tak perlu melakukan itu, karena itu, pasti sangat membuatmu menderita!"
"Tiada kebahagiaan, melebihi kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang kita cintai."
"Kau, begitu manis, Shela!, mudah-mudahan aku adalah orang yang bisa menjaga mu, sampai kita tua nanti."
Shela tersenyum penuh arti, Andri pun berjanji, melepaskan semua kenangan bersama Hana.
__ADS_1