Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 7. Perhatian Defta


__ADS_3

Hari ini Defta sangat gelisah, ingatannya terus tertuju pada Hana, entah mengapa gadis itu terus menyita perhatiannya. Apapun yang di kerjakan nya serba salah, kerinduan hadir menyeruak dalam hatinya. Mungkinkah aku harus menemui gadis itu?, batinnya.


Sore harinya, Defta menemui ibu Fatmi, mengabarkan kalau dia akan pergi ke kota, padahal ia tahu kalau Hana baru pulang beberapa minggu yang lalu.


"Ibu mau pesan atau nitip apa?"


"Kebetulan ibu lagi masak rendang jengkol, dia pasti suka, ibu nitip itu aja, ya?" Defta mengangguk dan pamit pulang. Pada malam harinya Defta pun berangkat, perjalanan nya kali ini terasa begitu lama, apakah perasaan itu karena saking rindunya teramat sangat atau karena hal lain. Dalam keresahannya akhirnya iapun sampai juga.


"Assalamu'alaikum," terdengar suara pintu diketuk dan tersembul seseorang dari balik pintu.


"Hana mana, ya?" tanya nya.


"Mbak Hana lagi sakit, Mas!" Defta terkejut, dan tanpa disuruh masuk, Defta langsung masuk begitu saja, tanpa menghiraukan gadis kecil di hadapannya.


"Hana sakit?" tanyanya mendekati Hana, gadis itu hanya mengangguk sayu.


"Sejak kapan, sudah berobat?" Hana menggeleng.


"Mari kita ke rumah sakit!"


"Nggak usah Mas."


"Tunggu sebentar!" Defta agak berlari keluar menemui ibu kost untuk menghubungi dokter pribadinya, dan tak lama kemudian dokter itu pun datang.


"Bagaimana, dok?" tanya Defta terlihat sangat cemas.


"nggak apa-apa, cuma agak kecapekan, sedikit istirahat pasti akan segera pulih."


"Terimakasih kasih, dok." Dokter itu pun tersenyum mengangguk kemudian pergi dari rumah kos-kosan itu.


"Apakah kau banyak pikiran?" Hana hanya diam.


"Cerita saja padaku, kamu ada masalah apa?" Hana masih diam.

__ADS_1


"Bukankah aku adalah kakakmu, lalu mengapa kau ragu untuk menceritakannya padaku, sudahlah jangan sungkan-sungkan."


"Oke ... masih diam, Ng ...." Kata Defta sambil mencari-cari sesuatu dalam tas ranselnya dan ia menemukan kotak sambal dan baru ingat kalau ibu Fatmi menitipkan kan itu untuk Hana.


"Oh ya, kamu harus makan, sudah itu kamu harus minum obatnya, ini Ibu mengirimkan rendang jengkol kesukaan mu."


"Ibu?"


"Ya ibu, aku menemui ibumu, sebelum datang kesini "


"Ngapain Mas kemari?"


"Entahlah, yang jelas aku sangat khawatir padamu tanpa alasan."


"Mas ada pekerjaan?"


"Tidak, aku khusus untuk menemui mu." Ucap Defta sambil mengambil nasi untuk Hana.


"Sini aku suapi!" Hana menggeleng.


" Hai ... kamu kenapa, dek?" tanya Defta heran. Bagaimana tidak, ketika kerinduan datang menyiksanya yang datang bahkan orang lain, yang ada didekatnya. Tangisnya kian pecah.


"Apakah kau tak mengharapkan kehadiranku?" Defta kian bingung, tak tahu bagaimana caranya menghentikan tangisan gadis yang begitu dicintai nya, ia sedih menyaksikan air mata yang mengalir itu.


"Bersandar lah di bahuku kalau kau mau, aku siap menjadi obat penawar bagi lukamu, aku tak suka dan tak ingin melihat mu menderita!"


"Pukul lah aku untuk melampiaskan rasa sakit dalam hatimu, menjerit lah supaya semua beban hatimu hilang." Tak mendengar kata-kata Defta malah berlari kedalam kamarnya. Defta kelimpungan, bagaimana aku akan menyusulnya dalam kamar, aku tak mau dibilang mengambil kesempatan dalam kesempitan.Tapi kalau aku tak masuk bagaimana aku bisa menenangkannya.


Defta membiarkan Hana , itu keputusannya akhirnya, tidak menyusul ke dalam kamar, ia duduk didekat meja belajar Hana, meletakkan kepalanya di atas meja begitu saja, namun tangannya menyentuh sesuatu, iapun mengangkat kepalanya menatap pada benda itu. Hatinya terkesiap, bedesir, terasa sakit. "Andri, apa karena laki-laki inikah Hana menangis, apakah Andri adalah kekasih Hana?, banyak lagi pertanyaan yang singgah dalam hati nya. Ia beranjak seakan mau pergi begitu saja dari tempat itu, tetapi sesampainya di pintu iapun kembali lagi. "Apakah Hana salah?, Hana tidak salah, dari dulu aku yang mencintainya, dan dia punya hak penuh untuk mencintai orang lain selain dirinya, kenapa aku harus marah, bukankah aku sudah berjanji untuk menjadi seorang teman, dan pantaskah aku meninggalkan nya di saat seperti ini?" Defta kembali duduk namun lama dinantikannya, tapi Hana tak kunjung keluar dari kamar nya. Iapun memeriksanya dari pintu, nampak oleh nya Hana tertidur dalam posisi duduk. Iapun memberanikan diri untuk mengangkat gadis itu dan membaringkannya serta memberinya selimut, kemudian ia pun keluar dan beristirahat, tak lama kemudian ia pun segera tertidur.


Disisi lain, Andri makan makanan ringan di kamarnya sambil mengerjakan tugas, sedang asyik menyantap tanpa ampun iapun tersedak, pas makanannya pedas lagi, Andri segera mengambil air minum dan meminumnya, lagi-lagi Andri tersedak kembali, sampai keluar air matanya. Dalam rasa tersedak yang sakit itu Andri kembali teringat akan Hana, kata orang bila tersedak itu tandanya lagi di bicarakan atau dirindukan sama orang.


Tapi bagaimana Hana akan rindu, bukankah dia sudah akan menikah dengan mas Defta?, bagaimana aku membuktikan kebenaran berita itu, saat ini saja ayah sudah mewanti-wanti untuk serius pada kuliahnya, apalagi saat ini ia sedang menyusun skripsi. Ia tak mau bertengkar lagi dengan ayahnya. Ia kasihan pada ibunya. "Ya Tuhan, berikanlah aku kesabaran dan kekuatan bila memang dia adalah jodoh ku!" doanya dalam hati.

__ADS_1


Kembali pada Hana dan Defta, Defta terjaga dari tidurnya, iapun ingin memeriksa Hana apakah masih tidur atau tidak, tapi saat mau masuk tepat pula Hana akan keluar dari kamar, akhirnya merekapun bertubrukan yang menyebabkan Hana tak seimbang dan akan jatuh , tapi dengan spontan Defta menangkap badan Hana dan Hana berada dalam pelukannya, mata mereka saling menatap, perlahan namun pasti wajah Defta mendekat dan akan menyentuh bibir Hana, jantung kian berdetak kencang, namun akhirnya Defta tersadar dan melepaskan pelukannya dan membiarkan Hana berdiri dan melangkah keruang tamu.


"Han, kamu tadi belum jadi makan obat lo, dek!" Defta pun mengambil obatnya, lalu mengambil air minum dan menyerahkan pada Hana. Hana pun meminumnya.


Kali ini Hana yang memulai pembicaraan.


"Mas, ngapain sih mas perhatian banget sama aku?"


"Sudah seharusnya, dek!"


"Tidak kah mas ingin mencari wanita lain?" Defta menggeleng.


"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah dari Tuhan, walaupun tanpa mendapat balasan cintamu."


"Mas, maafkan aku!"


"Tidak apa-apa, kau tidak bersalah dalam hal ini."


"Mas, carilah wanita lain, mungkin sampai kapanpun aku tak bisa mencintaimu."


"Tapi sampai kapanpun aku ingin dan akan mencintaimu, aku akan tetap ada untukmu."


"Walaupun sakit?"


"Ya walaupun sangat sakit, aku akan menjaga mu selalu, selamanya."


Hana menunduk merasa haru akan kebesaran cinta Defta padanya, cinta yang tak menuntut harus memiliki. Seharusnya ia harus bisa tegar mencintai Andri, seperti cinta Defta padanya, biarlah dia mencintai Andri walaupun jarak memisahkan mereka. Mencoba ikhlas dengan keadaan, berharap suatu saat nanti akan kembali bertemu dengan tambatan hatinya.


Defta ingin menanyakan tentang Andri tapi ia tak mau kalau Hana akan kembali ingat akan kesedihannya, namun demikian Defta berpikir harus menanyakan nya tapi mungkin lain waktu.


"Mulai sekarang, jangan canggung padaku, ceritakan apa yang ingin kau ceritakan, anggap aku adalah buku diary mu, luapkan semua agar kau tak tersiksa dengan apa yang tersimpan dalam hatimu yang membuatmu menderita."


"Terimakasih, mas."

__ADS_1


"Boleh kah aku tetap disini sampai kau baik-baik saja?" Hana pun mengangguk pasrah.


__ADS_2