
Shela mendorong tubuh Defta yang memeluk dan menenangkan nya, Defta sempat terkejut melihat reaksi Shela, Defta menatap Hana, ia seakan meminta kepastian untuk melakukan apa.
"Susul lah mbak Shela, tenangkan dia, dia membutuhkan dukungan orang terdekatnya."
Tanpa berpikir panjang lagi, Defta berlari keluar menyusul Shela yang berlari meninggalkan mereka.
Shela terus berlari menuju mobil yang diparkir, ia masuk dan mengemudikan mobil itu tanpa mempedulikan Defta yang berteriak memanggilnya, ia meninggalkan rumah sakit itu dengan perasaannya yang kalut.
Defta menghentikan sebuah taksi yang baru saja melintas dihadapannya.
"Kejar mobil didepan, Pak!"
"Baik, Pak!"
Defta tak sabar melihat sopir taksi itu mengemudikan taksi yang tumpangi nya.
"Sini biar aku yang mengemudikan, Bapak minggir!"
"Tapi Pak ... saya tak mau terjadi sesuatu yang tak diinginkan."
"Aku akan bertanggung jawab atas sesuatu yang terjadi, nyawa pengemudi di mobil itu jauh lebih berharga dari taksi ini, minggir lah."
Sopir taksi itu, akhirnya mau mengalah, Defta menginjak gas, mempercepat laju mobil taksi itu, dengan kecepatan lumayan tinggi, dijalan lengang, Defta berhasil menyalip mobil yang kendarai oleh Shela. Mobil Shela pun berhenti dengan mendadak, sehingga menimbulkan suara derit yang begitu menegangkan.
Defta segera turun dan menyaksikan Shela yang sedang tegang duduk di dekat kemudi.
"Shel ... kamu tak apa apa?"
"Kenapa kau menghentikan aku, aku benci ... aku benci!"
Defta menemui sopir taksi itu, dan memberikan ongkos taksi kemudian menyuruh supir itu pergi.
Defta menepikan mobil Shela, di sebuah tempat yang agak sepi.
"Ayolah Shel ... Kita bicarakan hal ini baik baik!"
"Aku tak mau, Mas ...."
"Kamu maunya bagaimana?"
"Aku maunya mati saja, untuk apa aku hidup, sedangkan tak ada orang yang bisa aku harapkan, aku tidak bisa mendapatkan cinta dari laki laki, padahal dia adalah suami aku sendiri, jadi biarkan saja aku membiarkan diriku penyakitan dan akhirnya aku pergi."
"Stop, stop ... cukup kau terus memikirkan dia, pikirkan orang lain yang sayang sama kamu, pikir kan dirimu sendiri, masih banyak orang yang mencintai dan menyayangimu."
"Siapa, siapa yang mau peduli lagi akan kebahagiaan ku?"
"Aku ... aku yang peduli padamu, apa kau tak tahu betapa aku mengkuatirkan dirimu?" Shela terdiam, ia menatap Defta dengan tatapan penuh harap.
"Shel ... kita hidup adalah ujian, begitu pula dengan cinta, cinta adalah sesuatu yang tidak harus kita miliki, bukankah kau bilang, seandainya kau tidak bisa memiliki cinta Andri, kau akan mencari cinta yang lain?"
"Aku tak sanggup lagi, aku tak kuat lagi menghadapi semua ini?"
"Please ... Shel, aku tak tahu apa tujuan mu mengatakan bahwa aku adalah suamimu, namun apakah kamu tahu ... walaupun aku heran apa maksudmu, tapi aku tak keberatan, aku rela melakukan apa saja untuk mu, termasuk melewati semua masalah mu, aku akan mendukungmu." Defta memegang kedua bahu Shela sambil berlinangan air mata.
"Benarkah?" Defta mengangguk kan kepalanya, ia tersenyum menatap Shela.
"Benarkah kau tak keberatan aku mengatakan sebagai suamiku?"
"Aku sama sekali tak keberatan, aku bahagia malah!"
"Kau bahagia?"
"Ya ... aku bahagia, seandainya saja ... Aku bertemu denganmu sebelum kau menikah dengan Andri, mungkin kau akan ku jadikan istri ku."
Shela terisak, menutup wajahnya, ia tak kuasa menahan semua beban yang ada, ia menjerit histeris.
"Hu hu hu ...." Defta membiarkan Shela menangis, meluapkan segala emosi yang selama ini tertahan di di hatinya.
Defta tak berani mengusiknya, entah kenapa ia tak tahan melihat penderitaan Shela, yang jelas ia nyaman bersama perempuan itu.
Ketika Shela sudah agak tenang, Defta membawa Shela dalam pelukannya, ia begitu ingin menunjukkan bahwa dirinya begitu menyayanginya, Shela hanya pasrah, ia seakan mengharap, Defta adalah laki laki yang bisa menjadi tumpuan hidupnya.
__ADS_1
"Mas ... aku takut menghadapi semua ini."
"Kenapa kau takut, ada aku ... Shel ...."
"Aku tak bisa membayangkan, harus cuci darah."
"Aku akan memberi tahu, Andri!"
"Tidak ... jangan Mas ...."
"Apa maksudmu, dia adalah suami kamu, kenapa kau tak mengizinkan aku memberi tahukan padanya?"
"Kalau memang kau sayang padaku, maka jangan beri tahu dia!"
"Ini adalah hal yang besar, mana mungkin?"
"Tidak ada yang tak mungkin, aku tak mau kau memberi tahu dia kalau aku menderita gagal ginjal, atau yang lainnya, atau kalau kau memberi tahu orang lain, maka aku tak mau cuci darah."
Bagai sebuah dilema, Defta hanya bisa menelan ludahnya, ia akhirnya mengangguk.
"Kalau kau mau berobat, baiklah ... Aku tak akan memberi tahu orang lain, tapi apapun yang kau rasakan kau harus mengatakan padaku."
"Berjanjilah, kau selalu ada untukku." Lagi lagi Defta hanya bisa mengangguk.
Defta heran pada dirinya sendiri, saat bertemu dengan Hana tadi, rasa yang dulu demikian ingin bertemu dengan Hana, tapi saat mengetahui Shela yang menderita, tak ada rasa itu dihatinya, ia lebih mengkhawatirkan Shela.
Saat ini ia berpikir, apakah ia mencintai Shela.
"Ah ... mungkin itu hanya kebetulan, karena tak akan ada yang tega, menyaksikan orang tertekan seperti Shela." Pikirnya.
"Tahukah kau Mas Defta ... Aku damai bersamamu." Bisik Shela ditelinga Defta. Defta semakin mempererat pelukannya.
****
Hana sengaja pulang dengan terlambat, ia jalan jalan disekitar rumah sakit, untuk sekedar menghilangkan penat.
Hana singgah disebuah restoran, ia sengaja memakai masker karena ia sedang tak enak badan, sedikit flu, oleh sebab itu ia tak ingin orang lain tertular flu nya itu.
Saat sedang asyik menikmati hidangan dihadapan nya, tiba-tiba ia dikagetkan dengan rasa dingin dipunggung nya.
Hana menatap Andri tak berkedip, ia mencubit lengannya, ia merasakan sakit, itu berarti ia tak sedang bermimpi, ia berdiri tak mengacuhkan Andri yang terus meminta maaf padanya.
"Maaf, aku tak sengaja menumpahkan minuman itu, aku benar-benar minta maaf."
Hana menarik tangan Andri, terus menarik menuju mobilnya yang terparkir. Memaksa Andri masuk kedalam mobil.
Hana masuk kedalam mobil dan mengendarai mobilnya, membawa Andri ke suatu tempat.
"Hei ... Kau mau membawaku kemana, aku hanya menumpahkan air di bajumu!"
"Diamlah, aku akan menuntut mu."
Andri terkesiap melihat tatapan mata wanita disamping nya, dia belum mengetahui itu adalah Hana.
Andri merasa khawatir, atas sikap wanita itu yang menurutnya cukup berlebihan.
"Jangan jangan ... perempuan ini adalah seorang psikopat."
Andri merinding, membayangkan yang bukan-bukan, akhirnya ia hanya bisa menatap lurus ke depan, tak berani menatap kesamping.
Ditempat yang sepi, Hana menghentikan mobilnya, ia keluar dan membuka pintu mobil, disisi sebelah Andri, dan menarik kerah baju Andri, yang semakin membuat Andri berpikir yang aneh-aneh.
"Tolong ... maafkan aku, aku akan melakukan apapun, asal kau tak membunuhku!"
"Apa kau tahu ... aku yang telah kau bunuh!"
"Apa maksudmu?"
"Kau telah meninggalkan aku, kau tak memberi kabar padaku, kau hancurkan semua harapan ku, kau jahat!"
Hana melepaskan tangannya, Andri masih tak habis pikir, ada apa dengan kata kata wanita dihadapannya ini.
__ADS_1
"Hei ... Kenapa kau heran?"
"Aku tak mengerti apa maksudmu!"
"Kamu memang seorang pengecut, kau mudah melupakan segalanya, kau ternyata laki laki bajingan."
"Aku semakin tidak mengerti kemana arah bicara mu, kau yang ngelantur, Nona!"
"Aku ngelantur ... aku tidak pernah ngelantur, bahkan dalam mimpi sekalipun, bung Adrian Maulana."
Deg, Andri menelan air ludahnya, ia semakin penasaran, siapa gerangan wanita yang ada di hadapannya, ia mendekat, Hana mundur beberapa langkah.
"Bahkan, suaraku pun kau sudah tak mengenalinya, lalu kenapa aku masih mengharapkan dirimu."
Andri berhasil meraih tangan Hana. dengan sekali hentakan, ia telah membawa Hana ke dekat nya. Tangan kiri Andri memegang wajah Hana, menarik dengan pelan masker yang menutupi wajah gadis itu. Dan ...
"HANA!"
Hana tersenyum, merasa menang, ia kemudian memegang tangan Andri.
"Dimana kau selama ini?"
"Aku ...."
Andri memeluk Hana seketika, tak merasa canggung sedikitpun, rasa rindu yang telah menggunung, membuat Andri lupa, kalau mereka berdua berada ditempat umum.
Hana melepaskan Andri, ia menatap dengan tatapan penuh selidik.
"Menjauh lah dariku, aku tak mau kau peluk!"
"Kenapa, apakah kau tak rindu padaku?"
"Rasa rinduku ... telah mengikis habis segalanya, kepergian mu dariku, telah membuat aku ragu pada cintamu."
"Tapi aku masih sangat mencintaimu, Han ...."
"Mencintaiku, belum tentu kau bisa menjaga kesetiaan mu padaku."
Andri tercekat mendengar perkataan Hana, ia seakan teringat bahwa dirinya telah mengkhianati cinta mereka.
"Kau terdiam ... kau telah mengkhianati aku bukan?"
"Han ...."
"Sungguh, aku kecewa padamu."
"Dengarlah, aku tak pernah mengkhianati cinta kita, aku masih menantimu, aku masih mencintaimu, sama seperti yang dulu."
"Benarkah?"
"Apa kau bisa membuktikan?"
"Ya, aku akan membuktikan padamu."
Hana seakan luluh, ia menatap Andri dalam, seakan menyelami seberapa kejujuran Andri padanya.
"Kau tadi membawa jas putih, apa kau seorang dokter?"
Hana mengangguk, ia tersenyum.
"Aku mencari mu ke desa, tapi kau sudah pindah ke kota, bertahun-tahun aku berharap akan bertemu dengan mu, tapi kau entah dimana."
"Kenapa kau tak bisa aku hubungi?"
"Ponselku hancur digilas mobil, dan kartunya yang tersimpan nomormu didalamnya, hilang ... makanya aku tak bisa dihubungi dan menghubungi mu."
"Aku merindukanmu, Kak Andri ...."
"Aku juga!"
Mereka akhirnya saling berpelukan, tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.
__ADS_1
Hana membawa Andri, naik mobil kembali, saat ini Andri yang mengemudikan mobil itu.
Keduanya kembali ke restoran, karena pesanan mereka tadi belum di bayar.