Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 36 Andri Resah.


__ADS_3

Andri mondar mandir diruang tengah, bak tengah memikirkan sesuatu, wajahnya kusut, sambil sesekali ia mengacak rambutnya. Hampir setengah jam Andri mondar mandir seperti itu.


Adam yang sudah sejak tadi memperhatikan kakaknya hanya geleng-geleng kepala.


Ayahnya yang baru saja masuk, merasa heran dengan sikap Andri, iapun berhenti tepat dihadapan Andri, otomatis Andri berhenti dengan sangat terkejut.


"Ada apa, aku perhatikan kamu seperti tidak fokus, kamu ada masalah?"


"Ayah ...." Andri bukannya menjawab malah pergi, ngeloyor ke ruang tamu, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Ayahnya geleng geleng kepala.


"Kamu tahu ada apa dengan Kakakmu itu, Dam?"


"Sepertinya sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya, aku sendiri tidak bisa menebak, tapi yang jelas, kakak seperti itu, sejak dia pulang semalam!"


"Semalam ...." Ulang pak Wisnu.


"Orang kalau tunangan itu akan bahagia, tapi kok malah kayak orang bingung gitu?" tambahnya.


"Atau jangan-jangan ...."


"Jangan jangan apa?"


"Apa mungkin, Mas Andri ada masalah, ingat Hana barangkali!"


"Tapi bukankah ... ia sudah memutuskan untuk melupakan Hana?"


"Ayah ... yang namanya cinta, itu tidak mudah untuk di paksakan, aku takut mas Andri justru akan terjebak dalam pernikahannya."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?, mereka sudah bertunangan, apa mungkin mereka akan mengakhiri hubungan mereka begitu saja?"


"Mungkin itulah saat ini yang sedang di pikirkan oleh Mas Andri!"


Pak Wisnu ke kamar, menemui istrinya, mencoba mendiskusikan masalah yang baru saja di bicarakan nya dengan Adam barusan.


"Cobalah, bicara pada Andri, aku takut dia akan hancur!"


"Ya, nanti aku akan coba untuk bicara padanya."


"Jangan nanti Bu, lebih cepat lebih baik!"


"Ya, baiklah." Bu Wisnu keluar menemui Andri yang saat ini sudah berada dikamar nya, masih seperti tadi, mondar mandir tak karuan.


Melihat ibunya masuk, iapun duduk di atas sofa yang ada di kamarnya itu.


"Ada apa, nak?"


"Aku bingung, Bu ...."


"Bingung kenapa?"


"Aku kembali ingat akan Hana!"


"Kamu ... ada apa?, bukankah kamu sudah bertekad melupakan dia!"


"Aku ... menemukan gelang ini Bu, pemberian Hana!" Bu Wisnu mengambil gelang itu.


"Apakah aku tidak boleh melupakan Hana, Bu?" ucap Andri berkaca kaca.

__ADS_1


"Kenapa bicara seperti itu?"


"Dulu ... saat aku mencari gelang itu, aku tidak menemukan nya, tapi saat aku bertunangan dengan Shela, gelang itu jatuh dihadapan ku."


"Itu suatu kebetulan, nak ...."


"Ya, kebetulan yang sangat membuat aku tak berdaya, Ibu ...."


"Pasrahkan saja semua itu pada Tuhan, anggap dia bukanlah jodoh yang di berikan padamu."


"Tapi, Bu ...."


"Andri, ada kalanya yang kita anggap baik itu, tidak baik untuk kita, yang tidak kita anggap baik, justru itulah yang sesungguhnya adalah yang terbaik untuk kita."


"Aku benar benar tidak bisa melupakan Hana, Bu ...."


"Andri ... jangan menyalahi aturan Tuhan ...."


"Aku bukannya menolak takdir, tapi aku hanya tak sanggup membohongi hatiku, aku takut ... aku akan menyakiti Shela, Bu!"


"Makanya lupakan Hana, bukankah kau sendiri yang bilang, kalau Hana sudah menikah dengan Defta?"


"Ya ... tapi aku tidak tahu, ada apa dengan hatiku ini."


"Tak ada sesuatu pun yang ada di dunia ini, yang tidak berpulang pada pemiliknya, begitupun cintamu pada Hana, kalau kau punya niat untuk menikah, untuk menghindarkan diri kamu dari perbuatan yang tidak baik, maka ibu yakin, Tuhan pasti membantumu."


"Aku paham, Bu!"


"Kalau kau paham, maka berniat lah, apapun yang kau lakukan saat ini, adalah kehendak yang Maha Kuasa."


"Bu ...."


"Aku takut, aku tak bisa membuat Shela bahagia!"


"Bukankah segala sesuatu tergantung pada niat?, kalau kamu berniat membuat Shela bahagia, maka kamu pasti akan berpikir, bagaimana cara membuatnya bahagia, saat ini, seandainya Shela tahu, kalau kamu sedang memikirkan wanita lain, justru itulah yang membuatnya tidak bahagia, bahagia atau tidaknya Shela, itu tergantung dengan niat kamu."


"Ya, memang aku berniat untuk melupakan Hana, dan fokus pada hubunganku dengan Shela, tapi ... aku tidak bisa pungkiri, hati ini Bu, hati ini sedikitpun tak bisa menghapus nama Hana!"


"Ibu mengerti, kalau kau tidak bisa melupakan Hana, ya sudah, tidak usah kau lupakan dia, yang penting, kamu tidak selalu menggantungkan harapan kamu padanya, semua orang tidak akan mungkin, bisa melupakan secara totalitas, mana mungkin buku kosong yang sudah ditulis, akan bisa hilang, bersih tanpa noda, jika dihapus, nah seperti itulah hati kita, namanya kita manusia normal, ya tentu saja kita punya kenangan." Andri hanya diam.


"Orang yang bisa melupakan sesuatu secara totalitas, itu hanya orang amnesia, An ... sedang kau ... waras!" tambah Bu Wisnu.


Tiba-tiba Adam datang menyelinap, masuk dan ikut nimbrung, merasa tidak ada apa-apa tanpa pikir panjang, iapun berceloteh dengan sekenanya.


"menurut Lo, apa Mbak Shela itu, tidak cantik?"


"Kamu itu bicara apa sih, Dam?" jawab Andri sambil melempar Adam dengan menggunakan korek api yang ada dimeja didekatnya.


"Habis ... hanya Hana saja, Hana ... terooos!"


"Mungkin dia adalah cinta sejati untuk aku, Dam!"


"Makan tu ... cinta sejati!"


"Makanya, jadi orang, jangan hanya megang senjata, Dam ... rasanya cinta lu gak tahu kan?"


"Mending nggak tahu, dari pada kayak Mas ... banyak cinta, tapi merana!"

__ADS_1


"Kamu bisa aja!"


"La ... iyakan, Mbak Shela cinta, Mas cintanya sama Mbak Hana, rumit bin ribet, mending jomblo kayak aku, tidak ada yang dipikirkan."


"Aku sumpahin kamu Dam, moga moga kamu akan bucin kayak aku!"


"Ya, aku mintanya bucin, tapi tidak terpisahkan, kayak, Mas!"


Bu Wisnu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala, mereka selalu begitu kalau bertemu.


"Sekarang Ibu keluar dulu, seng semangat ya cah bagus ... kamu pasti dapat yang terbaik."


"Terimakasih, Ibu!" kata Bu Wisnu sambil mencolek dagu Andri.


"Aku juga mau, Bu ...." Kata Adam. Bu Wisnu tersenyum, kemudian mencubit Adam, gemas.


"Wadau ... sakit Ibu ...."


"Makanya, jadi orang jangan jahil, dan menggoda terus, nanti kalau kamu sendiri yang ngerasain, baru tahu rasa."


"Ibu, nyumpahin!"


"Mana mungkin ibu nyumpahin kamu, cuma jadi orang jangan resek!"


"Aku cuma ingin, lihat Mas Andri nggak loyo kayak tadi, kayak kangkung di tumis aja!" mendengar Adam bicara kangkung tumis, Andri langsung melotot kan matanya.


"Ngapain lagi?, jangan aneh-aneh!"


"Kamu bilang kangkung tumis kan?"


"Iya, kayak kamu ... loyo!"


"Bukan ... maksudku ...."


"Apa An?" tanya Bu Wisnu yang masih berdiri di dekat mereka.


"Kangkung tumis ...." kata Andri.


"Ya ...." sahut Adam.


"Sambal terasi ...." kata Andri lagi.


"Ya ...." jawab Adam lagi.


"Enak tuh!" Adam sama Ibunya masih melongo, belum memahami maksud Andri.


"Kenapa kalian masih bengong?"


"Apa sih?" tanya Adam.


"Iya, apa sih?"


"Aku pengen, kangkung tumis sambal terasi, Bu!"


"Oalah ... jadi kamu masih ingat, sambal terasi, tumis kangkung, oke aku akan buatkan, kita makan itu siang ini."


Andri seakan melupakan seluruh masalahnya, iapun ikut ke dapur menyiapkan masakan "Sambal terasi tumis kangkung " mereka.

__ADS_1


🌻 Tinggalkan jejak, like vote dan komentar sesudah baca ya, teman teman, sebelumnya author ucapkan terima kasih.🙏🙏🙏🌻


__ADS_2