Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 66 Shela menemui Rega


__ADS_3

Andri dan Defta memutuskan untuk melihat kembali keadaan Shela, karena seluruh keluarga pulang, untuk mengurus keperluan yang lain. Mereka berdua duduk disisi sisi Shela, seperti seorang sahabat yang setia menunggui sahabatnya.


Perlahan, shela membuka matanya, ia melihat ke kiri dan ke kanan, ia menemukan Andri dan kemudian Defta, Shela tersenyum menatap keduanya. Andri menatap Defta, ia merasakan kebahagiaan Defta, terutama dari raut wajahnya.


"Kamu sudah sadar Shel, apa kau baik-baik saja?"


"Alhamdulillah, aku baik!"


"Syukurlah, aku sangat lega mendengarnya."


"Mas Defta ...." Panggil Shela.


"Ya ... aku disini, apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Bisakah kau mengambilkan air untuk ku?"


"Untuk apa?"


Untuk membasuh muka, rasanya panas sekali."


"Pakai tisu basah saja, ya ...." Shela mengangguk. Defta pun mengambilnya.


"Kan ada aku ... kenapa kau menyuruh Mas Defta?"


"Tidak ada apa apa."


"Apakah kau menyukainya?"


"Apa sih Mas ... itu tidak benar."


"Tapi ... jika itu benar, aku tidak marah Shela, kau pantas menemukan kebahagiaan mu, aku juga akan bahagia melihat mu bahagia, terlebih aku tak bisa membuatmu bahagia."


Shela hanya tersenyum, tanpa menjawab sepatah katapun.


Defta masuk dengan membawa tisu, ia kembali ke sisi shela, kemudian memberikan tisu itu pada Andri, Andri menggeleng.


"Lakukanlah, dia akan segera sembuh jika kau yang melakukannya." Ucap Andri sambil tersenyum menatap Defta.


Defta menghapus seluruh wajah Shela dengan menggunakan tisu, entah kenapa kali ini, tangannya terasa bergetar, ia begitu bahagia bisa melakukan nya untuk Shela. Begitu juga dengan Shela, wajahnya kelihatan berbinar, menatap Defta, sungguh keduanya sebenarnya saling mencintai, tapi karena terhalang sebuah ikatan pernikahan, akhirnya keduanya sama-sama diam, seolah tak menyadari semua itu.


"Mas ... aku ingin keluar sebentar, saya titip Shela."


Defta yang terpaku menatap wajah Shela, akhirnya tergagap.


"I_ iya!"


Andri sengaja meninggalkan mereka berdua, sengaja memberikan waktu untuk bersama. Ia tahu, jika Shela juga menaruh perhatian lebih pada Defta.


Sepeninggal Andri, Defta terus saja mengelap pipi Shela dengan tisu yang diambilnya tadi. Ia semakin berani, dalam diam Defta meraba bibir sensual milik Shela. Shela tersenyum, menatap Defta penuh arti.


"Ada apa dengan bibir ku, Mas?"


"Terlihat merekah, bibirmu tampak seksi." Shela tersipu.


"Oh ya, apa Mas tahu siapa yang telah mendonorkan ginjal untuk ku?"


Defta diam, tertunduk, ia seakan begitu berat untuk mengatakan semuanya.


"Mas ...."

__ADS_1


Defta mendongakkan kepalanya, ia menatap Shela, tampak kilauan airmata yang akan terjatuh di pelupuk matanya.


"Mas Defta ... bisakah kau menjawab aku?"


"Pasti kau akan terkejut mendengar siapa yang telah mendonorkan ginjalnya untuk mu."


Shela semakin penasaran, sampai ia hendak duduk, dan Defta mencegahnya.


"Jangan banyak gerak dulu, kamu baru selesai operasi." Shela pun berbaring kembali.


"Siapakah yang berhati malaikat itu, katakan padaku, Mas!"


"Hana, dialah yang telah mendonor ginjalnya untuk mu."


Shela terperangah tak percaya. Airmata nya jatuh mengalir seketika, hari bercampur rasa terimakasih, menjadi satu, yang membuatnya tidak percaya adalah, dirinya tak pernah dekat sedikitpun dengan Hana. Tapi kenapa ia telah memberikan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.


"Bagaimana keadaannya, Mas?"


"Dia saat ini dalam keadaan kritis, ia belum sadar."


"Barulah aku menyadari, kenapa Mas Andri sangat mencintai Hana, selain cantik dia ternyata sangat baik."


"Ya, aku pun tak bisa memungkiri jika Hana memang gadis baik."


"Shela ... kenapa kau terdiam?"


"Aku berpikir, apakah Hana melakukan semua ini semata-mata ingin melihat Andri bahagia?"


"Maksudnya?"


"Apakah Hana mengira, jika ia mendonorkan darahnya untukku, maka aku akan selamat, dan Andri tak akan kehilangan istrinya, dengan begitu, maka mas Andri akan bahagia."


"Apa yang terjadi jika ia tahu, bahwa Mas Andri sangat mencintai nya."


"Entahlah, Hana tak pernah mau bertemu dengan Andri sekalipun, ia sama sekali tak mau mendengarkan penjelasan Andri, ia tak mau berhubungan dengan suami orang, karena ia tak mau dikatakan sebagai pelakor."


"Belum aku mengenalnya terlalu jauh, tapi aku sudah kagum padanya, apalagi jika aku berteman dengannya, pastilah aku akan semakin terpesona akan kebaikannya."


"Yang menyedihkan, Rega tak sekalipun mengijinkan Andri untuk sekedar melihat Hana, apalagi berbicara, ia hanya bisa melihat Hana lewat kaca, itupun harus tanpa sepengetahuan Rega.


"Memang, pasti Rega merasakan sakit kakaknya."


"Mungkin."


"Rasanya aku ingin segera sembuh, aku ingin bicara pada Rega, aku akan menceritakan semuanya, agar ia tahu, betapa cinta mereka tak akan mudah untuk terpisah, mereka saling mencintai, dan seperti nya tak akan mudah lekang karena panas, dan tak akan luntur pula karena hujan, waktu yang lama, bukanlah penghalang bagi mereka, meski mereka masih saling mencintai dalam diam."


"Kau begitu seakan mengenal mereka."


"Aku tidak mengenal Hana, tapi aku hidup bertahun-tahun dengan Mas Andri, apakah itu waktu yang tidak cukup lama, untuk mengetahui semua tentang dia?"


"Ya, itu benar."


"Jika aku menceritakan semuanya, kau pasti tak akan percaya, tapi apa gunanya aku bercerita, yang ada aku akan bertambah sakit."


"Yang lalu biarlah berlalu, sekarang lepaskan lah semua yang membuat mu menderita, untuk apa bertahan jika memang kau tak kuasa untuk menghadapi nya."


"Akupun berpikir seperti itu, aku sudah bicara pada Papa, dengan sangat hati-hati, dan Alhamdulillah, Papa mau mengerti."


Andri masuk, ia masih saja diam, tak bicara sedikitpun, hanya sekali menoleh kearah Shela, kemudian tersenyum getir.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan, Hana ... Mas?"


"Aku tidak bisa melihatnya, Rega tetap saja melarang aku untuk melihatnya."


"Kasihan kamu, Mas!"


Shela berkata sambil memegang jemari tangan Andri, dan diletakkan tangan itu diatas perutnya.


"Aku hanya bisa berharap, semoga Tuhan memudahkan kalian untuk bersatu."


"Lalu bagaimana dengan kita."


"Sudahlah, aku tak apa apa."


Mereka bertiga tersenyum, dalam hati mereka terbesit pikiran mereka masing-masing.


****


Shela sudah mulai pulih, tapi Hana belum juga menunjukkan akan sadar, Rega masih aja kekeh untuk tidak mengijinkan Andri menemui kakaknya.


Andri terduduk lesu, sedang Defta tak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa menghibur Andri, karena sejak ia mengakui mencintai Shela, Andri dan Defta kelihatan akur, meski Andri dan Shela belum resmi berpisah.


Shela menemui Rega, ia sengaja masuk begitu saja, tanpa permisi lebih dahulu.


"Siapa kau?" tanya Rega, agak kasar.


"Aku Shela, aku ingin melihat Hana."


"Kau Shela istri Andri?"


"Ya, aku istri Andri, aku mau menjenguk Hana, tepatnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Setelah kau merampas hidup kakakku, apa lagi yang aku harapkan?" Shela menelan ludahnya, kalimat yang dikatakan oleh Rega, cukup membuat Shela sakit. Tapi ia mencoba untuk bertahan.


"Ya, aku sangat berterimakasih karena kakakmu telah menolong hidupku, hidup yang seharusnya sudah tak perlu diselamatkan lagi."


Rega menatap aneh kearah Shela.


"Aku yang tak mau hidup, telah dipaksa kakakmu untuk tetap hidup, aku yang bosan hidup, dipaksa kakakmu untuk tetap bertahan. Sedangkan dia ... dia menyerahkan beban ini padaku, dia tak tahu jika aku hidup, maka aku akan lebih menderita, dia tak tahu jika aku hidup aku akan lebih terluka, jadi jika memang aku harus mengembalikan ginjal ini, aku tak takut, saat ini juga, aku siap operasi kembali, agar kakakmu selamat."


Rega mendekati Shela, kemudian membungkam mulutnya. Shela mendorong Rega. Ia tak peduli dengan keadaan nya, yang baru operasi.


"Apa kau tak bisa diam, sesungguhnya kau sangat berisik, aku ingin kakakku tenang."


"Aku ingin bicara denganmu, jika kau tak mau, aku akan tetap bicara disini, aku tak takut jika kau marah padaku."


"Apa maumu?"


"Membuatmu sadar, jika kakakmu sangat membutuhkan Andri, percayalah hanya Andri yang bisa mengembalikan semangat hidup kakakmu, dengan melarangnya untuk bertemu kakakmu, kau berarti telah membunuh kakakmu!"


"Kau tahu apa?"


"Aku tahu banyak, lebih dari yang kamu tahu!"


"Aku tak percaya."


"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu, mari ikut aku!"


Rega semakin kasar, dan Shela menyadari jika Rega yang emosi, tak bisa di lunakkan dengan kekerasan pula. Shela menghela nafas, kemudian menarik tangan Rega. Rega yang semula menolak, akhirnya mengikuti saja kemana Shela membawanya.

__ADS_1


__ADS_2