Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 58 Kembalinya Hana


__ADS_3

Tak terasa sudah tujuh tahun Hana meninggalkan tanah air, Hana sudah menyelesaikan kuliahnya, hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Hana, ia telah menyandang gelar seorang dokter, seorang dokter bedah, seperti yang di inginkan oleh ayahnya, hari ini ia diwisuda.


Dengan didampingi oleh pak Kimura, Hana tampak kelihatan bahagia sekali, seolah kebahagiaan nya hari ini tidak bisa mengalahkan sejuta kesedihan yang selama ini ia hadapi, mungkin ini adalah buah dari kesabaran dan keikhlasannya.


Pak Kimura membawa Hana kesebuah tempat, setelah pulang dari kampusnya, kelihatan sekali perhatian bos nya itu, senyum manis selalu ia persembahkan untuk Hana, ia adalah sosok yang berada dibelakang Hana, yang menjadi pendukung untuk Hana dalam meraih cita-cita nya.


"Pak, kita kemana?"


"Ke suatu tempat, aku akan menciptakan kenangan sebelum kau pergi."


"Kenangan seperti apa?"


"Yang akan selalu kau ingat."


"Kemana sih ... aku jadi penasaran?" Pak Kimura tak menyahut, ia hanya tersenyum.


Akhirnya mobil yang dikendarai mereka, berhenti disebuah toko perhiasan, Hana menarik tangan Pak Kimura, menggeleng kan kepalanya, memberi isyarat bahwa dirinya, tak ingin sesuatu apapun juga dari Pak Kimura.


"Ayo lah ...."


"Tapi ...."


"Kau tidak boleh menolak, kamu tahu kan, kalau aku tidak suka ditolak!" akhirnya Hana turun mengikuti pak Kimura, memasuki toko perhiasan itu.


"Kamu pilih saja, mana perhiasan yang kamu sukai!"


"Tidak, Pak ...."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau perhiasan apapun."


"Aku ingin membelikannya untuk mu."


"Kalau begitu, terserah Bapak aja."


"Oke, aku akan memilihkan nya untukmu."


"Baiklah, kalau Bapak memaksa!"


Pak Kimura memilih kalung berlian untuk Hana, dan Hana sempat melongo melihat kalung pilihan pak Kimura, kalung itu begitu indah, bahkan sangat indah.


"Itu terlalu mahal, Pak!"


"Kan tidak uang kamu untuk membelinya, ya terserah aku dong ...."


"Ya, terserah Bapak!"


Setelah menyelesaikan transaksi, mereka akhirnya meninggalkan tempat itu.


Pak Kimura mengantarkan Hana ke asrama, dan masuk begitu saja, mengikuti Hana.


"Lo ... Bapak kok ikut masuk?"


"Kenapa, apa tidak boleh?"


"Kan ... di dalam asrama ini, hanya ada aku!" Hana saat ini hanya seorang diri, karena Dewi sudah pulang ke Indonesia sejak beberapa bulan yang lalu.


"Kalau hanya ada kamu, memangnya kenapa?"


"Nanti ada orang beranggapan yang tidak tidak."


"Terserah, aku tak peduli."


Pak Kimura tersenyum dan duduk di atas sofa.


"Kok malah duduk?"


"Aku mau bicara padamu."


"Bicara apa?"


"Tentang masalah pernikahan."


"Bapak mau menikah?"


"Ya, aku ingin menikah, tapi tidak dengan pilihan orang tua saya."


"Pilihan orang tua, what?"


"Bukan menjodohkan, tapi ... mantan saya dulu."


"Ooo, begitu!"


"Apa kamu tidak cemburu?"


"Aku, cemburu?, tidak ah!, ngapain aku cemburu?"


"Jadi kamu tidak punya perasaan apapun padaku?"


"Aku ...." Hana terjebak oleh pertanyaan Pak Kimura.


"Ba _ Bapak bilang apa?"


Pak Kimura mendekati Hana, memegang tangan nya.

__ADS_1


"Apakah selama ini kau tak tahu kalau aku sangat mencintaimu?"


"Bapak bilang apa?"


"Aku suka padamu, Han ...."


"A_aku ti_tidak bisa mencintaimu."


"Kenapa?" Hana menunduk.


"Sudah bertahun-tahun kita lalui hari hari kita bersama, apakah kau tidak merasakan apapun jika bersamaku?" Hana menggeleng.


"Aku tahu, kau pasti takut, tapi kau harus tahu, aku serius padamu, Han ...."


"Maksud, Bapak?"


"Aku tidak main-main, aku ingin kita menikah!"


"Mungkin ini sangat mendadak bagiku, jadi aku tidak bisa memutuskan."


" Mendadak, bukankah kita sudah lama saling mengenal?, apakah kau tidak mau aku menikahimu, Bu dokter?"


"Yang kata Bapak Bos, mantannya itu, gimana?"


"Aku terlanjur jatuh cinta padamu, Han ...."


"Oh ya, barang barang kamu, sudah rapi ... apakah secepat itu kamu akan meninggalkan negara ini?"


"Sudah tujuh tahun, aku meninggalkan negaraku, dan ... aku sangat rindu pada keluargaku."


"Aku paham ... tapi apakah tidak beberapa bulan lagi, kamu kerja aja dulu di sini." Hana menggeleng.


"Tidak, Pak ... aku akan kerja saja di negaraku."


"Aku sangat berat melepaskan mu, rasanya begitu hampa hari hariku tanpa adanya dirimu di sisiku."


"Iiihhh, Pak Kimura merayu!"


"Aku tidak merayu, aku berkata apa adanya."


Tiba-tiba Pak Kimura memeluk Hana, sangat erat, bahkan tak ada jarak lagi di antara mereka.


Degup jantung Hana mulai tak beraturan, Hana mengakui, Pak Kimura adalah sosok yang bisa membuat Hana lupa akan hari harinya bersama Andri. Kalau dikatakan Hana jatuh cinta, mungkin itu ada benarnya.


"Sekali lagi, aku katakan padamu, aku sangat mencintaimu, han ..., apakah kau meragukan cintaku?"


"Aku percaya, Pak!"


"Syukurlah, kalau kau percaya, aku akan datang ke Indonesia untuk memintamu pada orang tuamu." Kata Pak Kimura melepaskan pelukannya.


"Semua itu hal yang mudah, Han ...."


"Maksud Bapak?"


"Yang penting, kamu percaya padaku."


"Apakah Pak Kimura menyangka, perbedaan kami itu adalah karena status kami?" tanya Hana dalam hati.


Hana tak bisa menjalin hubungan dengan pak Kimura karena bosnya itu memeluk keyakinan yang berbeda dengannya. Tapi ia tak pernah sekalipun menyinggung perasaan bos nya itu.


Pak Kimura mengambil kotak perhiasan yang mereka beli tadi, dan membukanya, kemudian memasangkan ke leher Hana.


"Kamu kelihatan sangat cantik dengan kalung ini."


"Terimakasih, aku tak pantas menerima ini darimu."


"Kenapa tak pantas?"


"Karena aku hanya seorang biasa yang telah hadir dalam hidup mu."


"Justru aku sangat bahagia, bisa mencintaimu."


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, sebelum aku pergi?"


"Apa?"


"Aku ingin kita akhiri saja semua, aku takut kau akan kecewa."


"Tega sekali kau mengatakan itu padaku, apakah kau wanita yang tak punya perasaan?"


"Kita akan berpisah, entah kapan akan berjumpa lagi, aku tak mau kau berharap banyak padaku."


"Aku ... kalau boleh akan mengantarkan kamu?"


"Tidak perlu, Pak!"


"Apakah ini pertanda, bahwa kau menolak cintaku?" Hana menelan air liurnya.


"Aku hanya tak ingin memberi harapan yang muluk padamu, Bapak tahu aku punya masa lalu, dan ...."


"Dan ... kau belum bisa melupakan dia?, kau masih mencintainya, begitu?"


"Aku sudah bisa menerima kenyataan, mungkin dia sudah punya pengganti, aku hanya seorang diri, yang takut memberi harapan kosong padamu."


"Mengapa kosong, Han ...."

__ADS_1


"Aku sendiri tak tahu!"


"Jujur, aku bahagia melewati hari-hari ku bersamamu." Pak Kimura menunduk.


"Tapi apakah kau tahu, aku sangat sedih mengingat kau akan pergi meninggalkan diriku."


"Pak ...."


"Han ...." Keduanya akhirnya duduk kembali disebuah bangku panjang di ruangan itu setelah sempat berdiri beberapa saat, ketika memasang kalung pada Hana.


"Apakah kau akan benar benar pergi?"


"Apakah Bapak akan menahan ku?"


"Aku tidak akan menahan mu, cuma aku khawatir, setelah sampai di negara mu, kau akan melupakan aku."


"Tidak akan, aku tidak akan pernah melupakan kamu."


"Benarkah?" Hana mengangguk.


Pak Kimura pamit, meninggalkan Hana diasrama nya, tak tahu kenapa, Hana merasa gelisah setelah kepergian Pak Kimura.


Iya pun merasakan ada sesuatu yang hilang, ia merasakan kesepiannya kembali mendera perasaan nya, perhatian dan pernyataan pak Kimura kembali mengingatkan dirinya pada sosok Andri.


Sekian lamanya, ia telah terhanyut oleh kebersamaan bersama bosnya itu, ia tak merasa sendiri, karena hampir setiap saat laki laki itu selalu bersamanya. Tapi esok ia akan pergi meninggalkan dirinya, apakah memang benar, sosok Andri telah tergantikan oleh pak Kimura?


Hana mendesah, ia menghubungi pak Kimura, padahal laki laki laki itu belum sampai dirumahnya.


"Ada apa, Han?"


"Aku mau nanya, apakah Bapak besok ... akan mengantarkan aku?"


"Itu pasti, Han ...."


"Apakah Bapak benar benar ...."


"Apa Han?"


"Tidak ... tidak ada, besok saja kita bicara."


"Ya, baiklah!"


Malam dirasakan oleh Hana, berjalan dengan begitu lambat, entah karena ia selalu menantikan saat ia akan pulang kembali ke Indonesia, atau memang karena dirinya sangat cemas meninggalkan pak Kimura.


Tepat pukul delapan pagi, pak Kimura telah berdiri didepan pintu asrama. Hana merasakan tangannya begitu dingin, ia tak kuasa menatap, saat pak Kimura tersenyum menatapnya, tangannya mengembang, mengharapkan Hana akan lari kedalam pelukannya. Tapi Hana hanya terdiam melihat tangan itu, ia justru sangat takut akan memeluk pria tampan itu.


"Kemari lah, izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali." Hana masih diam.


"Aku tak mau memelukmu."


"Kenapa?"


"Karena aku takut rindu, saat kau tak ada disisiku." Jawab Hana sekenanya. Tapi tak disangka olehnya, jawaban itu mampu memberikan segenggam harapan bagi pak Kimura.


"Mari kita berangkat, aku takut kau akan ketinggalan pesawat."


Hana menurut, ia segera masuk kedalam mobil mewah milik bos yang saat ini justru sangat mencintai dirinya itu.


Setelah mereka berada di bandara, Hana dan Pak Kimura segera menuju pesawat, karena pesawat yang membawa Hana akan segera lepas landas.


Sebelum Hana memasuki pesawat itu, dengan sekali tarikan, Hana berada di pelukan Pak Kimura, laki laki itu memeluknya dengan sangat erat, ia tak kuasa membendung air matanya, ia sangat merasa kehilangan Hana, pria itu benar benar telah jatuh cinta pada Hana.


"Terimakasih telah mengizinkan aku mengenal dan mencintaimu."


Ucapnya sambil memandang wajah Hana.


"Aku juga berterima kasih, Bapak telah memberi motivasi untuk ku, sehingga aku menjadi seperti ini, aku sangat bersyukur, karena mu aku menjadi seorang dokter, seperti yang dicita-citakan oleh ku dan juga ayahku.


"Bolehkah aku mencium mu?" Hana tidak mengiyakan, tapi tidak juga menolak, ia hanya diam.


Perlahan, Pak Kimura mendekatkan wajahnya, Hana tetap diam, saat wajah Pak Kimura semakin dekat, mata Hana pun terpejam, sangat lembut, akhirnya Pak Kimura menempelkan hidungnya di pipi Hana, kelembutan itu menggambarkan betapa Pak Kimura merasa tersiksa dengan perpisahan mereka.


"Semoga saja, kita berjumpa lagi!" Bisiknya ditelinga Hana.


"Ya, semoga ... datanglah ke Indonesia!" jawab Hana membuka matanya.


"Aku akan berusaha membagi waktu, mudah mudahan aku bisa pergi kesana."


"Apa harapanmu, padaku?"


"Aku ingin kau akan mencintaiku, seperti aku mencintaimu, tapi aku tak mau mengikatmu, kalung ini bukan aku bermaksud mengikat, aku hanya ingin kau tahu betapa aku sangat mencintaimu, tapi ... kalau kau menemukan sosok yang lain, aku relakan kau bersamanya, aku bahagia jika engkau bahagia."


"Terimakasih, aku akan tetap mengenang semua tentang kita."


"Benarkah, terimakasih kalau begitu, pergilah, semoga selamat sampai tujuan."


"Ya, aku pergi ...." Hana melangkah masuk, Pak Kimura melambaikan tangannya, hatinya kini telah sepi kembali, setelah Hana pergi, ia dan Hana pun tak tahu, apakah mereka akan berjumpa kembali. Pesawat yang membawa Hana, telah terbang jauh nun di atas awan, meninggalkan sejuta duka yang mendalam, menciptakan sebuah kebimbangan, bimbang akan merajut hari yang telah pergi.


Pak Kimura, adalah sosok yang berjasa, dalam kehidupan Hana, sosok yang sangat penting untuk di jadikan sebagai inspirasi.


Hana telah kembali, kembali ke Indonesia, membuka kembali tabir cerita yang lama, untuk diulas kembali.


Bersama dengan orang orang yang pernah hadir dalam hidupnya.


Akankah ia akan bertemu dengan Andri kembali?

__ADS_1


__ADS_2