Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 21 Berbohong Demi Sebuah Restu


__ADS_3

"Ayah apakah Ayah tahu, aku punya kejutan untuk Ayah?" ucap Hana didepan kursi roda ayahnya sambil menciumi tangan ayahnya. Saat ini Hana berada pada posisi jongkok. Ia harus berbohong pada ayahnya demi mendapatkan restu agar kepergian nya tidak menimbulkan kecurigaan, sehingga membuat ayah nya banyak pikiran.


"Kejutan apa, Han?" tanya ayahnya penasaran.


"Hana dapat tugas dari kampus, tapi Hana takut Ayah ... Hana takut berpisah dengan Ayah."


"Memang kenapa?"


"Hana harus praktek, Ayah." Kali ini Hana menunduk, dan perlahan pak Herman mengangkat wajah putrinya.


"Memang praktek nya jauh?"


"Jauh ayah, keluar negeri." Jawab Hana tak kuasa lagi membendung air matanya. Hana tak ingin sedikit pun berbohong pada ayahnya itu, tapi seandainya ia terus terang maka tidak akan mungkin ayah nya memberi izin, bagaimanapun juga Hana ingin melihat ayahnya tetap hidup dan sehat.


"Itu bagus sayang ... mengapa engkau menangis?"


"Aku tidak ingin jauh dari Ayah, aku tidak mau meninggalkan Ayah ...."


"Kenapa?, kau harus pergi, aku merestui kepergian mu."


"Benarkah?" ayah nya mengangguk dan tersenyum.


"Apa yang tidak buatmu, Hana?" dalam hati pak Herman menjerit, keluar negeri bukanlah tempat yang dekat, kalau putrinya itu pergi entah kapan akan kembali. Lalu apakah aku akan bisa melihatnya kembali, bisakah aku memeluknya lain waktu?, kata hati pak Herman, pilu. Seandainya aku tidak mengizinkannya pergi, apakah aku tidak begitu egois?, ia ingin sekali melihat anaknya berhasil, memakai pakaian putih, menjadi seorang dokter yang selama ini dicita-citakan nya.


Seketika diraihnya badan putri kesayangannya itu, dipeluknya dengan begitu erat, seakan tak ingin melepaskan lagi, dadanya terasa sangat sesak menahan derita hatinya. Derita yang tidak ingin berpisah dengan anaknya itu. Itu juga yang menjadi dilema bagi Hana, disaat seorang anak harus menunjukkan rasa sayang nya pada orang tua nya, dia justru harus pergi, tapi kalau tidak pergi, bagaimana cara nya dia akan mendapatkan uang untuk pengobatan ayah nya.


Aku harus kuat, batinnya, bagaimana pun aku harus bertanggung jawab atas kesembuhan ayahku, pendidikan Rega juga, aku harus berjuang, harus, batin Hana lagi menguatkan hatinya. Di balasnya pelukan ayah nya erat bahkan jauh lebih erat, seakan tak ingin melepaskan. Ibu Fatmi yang dari tadi menyaksikan ayah dan anak itu turut meneteskan air mata, putrinya yang tidak pernah berbohong, untuk kali ini ia berani berbohong demi sebuah usaha untuk kesembuhan ayah nya. Bu Fatmi tahu semua itu tidaklah mudah bagi Hana, semua itu adalah sebuah pengorbanan yang tidak ternilai harganya. Pengorbanan seorang anak untuk orang tua nya.Tanpa berpikir bagaimana akhir nya, yang di harapkan hanya kesembuhan ayah nya, bagaimana masa depannya sama sekali tak terlintas dipikiran nya.


"Luar negeri nya negara apa, Han?"


"Ke Jepang yah ...."


"Betapa jauhnya engkau akan meninggalkan Ayah, tapi yakinlah kau akan berhasil di sana, jaga diri baik-baik, kembalilah engkau untuk ayahmu ini!"


"Iya Ayah, pasti aku akan kembali untuk Ayah!"


"Ayah akan merindukanmu sayang ...."


"Aku juga akan sangat merindukan Ayah."


Mereka melepaskan pelukan mereka, di pipi pak Herman tampak air mata yang mengalir dan Hana mengusapnya dengan sangat lembut. Wajah yang sudah tampak keriput itu tampak sudah sangat menua, menua karena penyakit yang dideritanya. Oleh karena itu Hana tak ingin jauh-jauh dari ayahnya itu, tapi sungguh mujur tak dapat diraih malang tak dapat di tolak.


"Ayah belum makan, aku ambilkan dulu sarapan untuk Ayah!" Hana berdiri dan beranjak dari hadapan ayah nya, menuju dapur untuk mengambil sarapan ayah nya. Sesampainya di dapur dekat pintu, Hana sangat terkejut melihat ibunya yang menangis tersedu-sedu, kemudian didekati nya ibunya yang sedang menangis sambil berdiri itu. Hana memeluk nya erat seakan berusaha untuk menenangkan nya.


"Kita harus kuat Ibu, Allah tidak suka melihat hamba Nya berputus asa." Hana melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Betapa aku bersyukur dianugerahi anak seperti dirimu, maaf Hana , maafkan Ibu yang tidak mampu melakukan apapun untuk kalian."


"Engkau adalah Ibu terbaik bagi ku, mari kita hadapi ini secara bersama-sama." Ibunya mengangguk dan menyeka air matanya.


"Aku akan mengambil sarapan untuk Ayah"


"Ya, ambil lah!"


Hana menyuapi ayahnya dengan sangat telaten sekali, suapan demi suapan masuk ke mulut pak Herman hingga habis tak bersisa.


"Hana menanti mas Defta, Ayah, hari ini kami akan mengurus paspor untuk ku."


"Ya semoga semua berjalan lancar tanpa ada halangan!"


"Amiiiin ...."


"Kadang ayah berfikir, apa kita akan lama lagi untuk bersama-sama."


"Ayah ngomong apa?, tidak boleh ngomong kayak gitu, umur tidak ada yang tahu."


"Ayah hanya berharap, nanti saat pulang kembali dan Ayah sudah tidak ada, jangan lupa, Ayah selalu berharap kamu tetap menjadi anak yang selalu peduli dengan siapapun, menyayangi yang muda dan menghormati yang lebih tua."


"Iya Ayah, pasti!"


Tak lama kemudian, Defta telah datang , ia bercengkrama dengan pak Herman selayaknya orang tua nya sendiri, mereka tampak begitu akrab.


"Ya lumayan baik, tuh tadi makannya sudah banyak."


"Syukurlah kalau begitu."


"Bapak minta tolong, bantu Hana ya?"


"Ya pasti, Pak!"


Hana keluar dari kamar nya, sedikit memoles wajah nya dengan sedikit bedak itupun sudah cukup membuat nya cantik.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Defta.


"Ya Mas, mumpung masih pagi." Defta pun memberi salam pada pak Herman dan Bu Fatmi dan tidak lupa mencium kedua tangan mereka, begitu pula dengan Hana.


"Mereka naik mobil Defta, menyusuri jalanan aspal tanpa hambatan apapun. Sesekali Defta melirik kearah wajah Hana.


Mungkinkah nanti cinta yang dimiliki nya akan mendapatkan balasan setelah Hana pulang dari Jepang?, batinnya. Hana memergoki mata Defta yang menatap nya. Defta pun jadi salah tingkah.


"Mas ... ada apa?"

__ADS_1


"Nggak, nggak ada!"


"Kok mandangin aku, kayak gitu?"


"Kamu cantik, Han!" jawab Defta sekenanya, tanpa sadar dengan jawaban nya.


"ngggg, maksudku, aku ...."


"Mas ...."


"Han ... aku takut kau akan melupakan aku!" jawab Defta mulai bisa mengatasi keadaan grogi nya.


"Ya tidak mungkinlah, mas!"


"Benarkah, benar kah kau akan selalu ingat padaku?"


"Ya aku janji, kau adalah satu-satunya laki-laki yang mengerti akan diriku, jadi tidak mungkinlah aku akan melupakan mu."


Tanpa sadar mereka sampai di kantor yang mereka tuju. Defta tampak sekali mendampingi Hana, dan Hana sangat terbantu atas perhatian Defta padanya itu.


Sepulang mengurus semua keperluan Hana, Defta tidak langsung membawa Hana pulang, mobil terus melaju dan Hana yang merasa jalan yang di lalui berbeda, dengan cepat dia bertanya.


"Kita akan kemana, Mas?"


"Aku ingin mengajak mu ke pantai, tak jauh kok dari sini"


"Ngapain?"


"Jalan-jalan sebentar, mau kan?"


"terserah Mas aja lah!"


Mereka tampak menikmati keseruan mereka, semua itu Dimata Hana hanya untuk menyenangkan hati Defta, sedangkan bagi Defta itu adalah momen yang paling indah dalam hidup nya yang ia lalui bersama Hana, apakah ini adalah waktu yang paling terakhir, nanti saat dia kembali akan kah Hana dan dirinya akan melaluinya kembali.


Setiap detik waktu hanya Tuhan yang tahu untuk apa dan untuk siapa.


"Hana perjalanan panjang mu akan engkau mulai tanpa adanya aku di sampingmu!"


"Bukankah kau sudah berjanji akan selalu ada untukku?"


"Bagaimana aku akan hadir sedang engkau jauh dari sisiku!"


"Cukup ku pasrah kan keluarga ku padamu, aku yakin, Mas akan sanggup menjaga mereka."


"Kalau itu mau mu, itu sudah pasti"

__ADS_1


Mereka terus bercengkrama seakan mengadakan perpisahan, Kadang tertawa, tersenyum bahkan menangis.


__ADS_2