
Mari kita tinggalkan dulu tentang kesedihan Hana, kita lihat keberadaan Andri yang semakin hari juga semakin menghadapi dilema.
Hari ini Andri menatap dengan tatapan dingin kearah ayah dan adik nya yang baru datang bertugas. Adiknya adalah seorang perwira. Sebagai mana cita-cita Andri sejak dulu, tapi cita-cita itu harus kandas, karena keinginannya tak di izinkan oleh ayahnya, sebab ayahnya menginginkan dirinya sebagai penerus perusahaan mereka yang bergerak di bidang properti.
"Anak kebanggaan ayah sudah datang, dan kau tambah gagah!" Ucap pak Wisnu sambil memeluk dan kemudian menepuk-nepuk pundak pemuda yang bernama Adam Saputra itu.
Kadang Andri merasa jengkel, yang mau jadi perwira siapa, yang dielu-elukan siapa, anak ayah lah, jagoan ayah lah, kebanggaan ayah lah dan lain sebagainya. Andri muak, sangat muak dengan semua itu, karena perhatian itu tak sekalipun ia dapatkan, selain makian dan cercaan.
Pertanyaan yang selalu mengganggunya hampir setiap hari, "Anak siapa aku ini sesungguhnya, kalau aku anaknya, mengapa ayah selalu menomorduakan aku, benarkah aku adalah anak tiri?" aaaah, Andri menepis segala perasaannya, kemudian menemui ayah dan adiknya.
"Adam, kamu sudah datang?"
"Ya, kedatanganku kali ini khusus untuk Mas, calon direktur!" jawab nya sambil tersenyum.
"Bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, tapi sepertinya Mas agak kurus, mikir apa?" Andri hanya menggeleng, keduanya berjalan masuk kedalam rumah dengan beriringan sedang pak Wisnu mengekor dibelakangnya.
Tampak Bu Wisnu tersenyum melihat kehadiran mereka, kedua nya pun langsung diajak nya makan, tampak sekali mereka sangat akrab, tapi entah ada apa dengan tatapan pak Wisnu yang kadang terlihat sinis.
"Andri, apa rencana mu setelah ini?"
"Andri akan pulang dulu ayah, melihat keadaan bibi!"
"Bibi atau gadis kampung itu?"
"Terserah, kata ayah!"
"Lebih baik kamu konsen dulu pada kantor, kamu tahu keadaan kantor sekarang, banyak sekali penanam saham yang menarik saham mereka akibat harga barang dipasaran anjlok, kita mengalami kerugian besar, akibatnya kita terancam bangkrut."
Dengan santainya Andri menjawab.
"Ada dikit mau nya, kemauan ku langsung tak di anggap."
"Apa katamu?" kata pak Wisnu berhenti menyendok makanan ke mulutnya.
"Sudahlah Yah, jangan mulai!" sahut Bu Wisnu.
"Anakmu yang mulai!" Andri diam. Adam menatap ayahnya dengan heran.
"Sejak dulu, kenapa Ayah dan Mas tidak bisa akur sih?"
"Mungkin karena aku, bukan anak Ayah, barangkali!" jawab Andri sekenanya, terus melangkah meninggalkan meja makan, sedang pak Wisnu melotot kan matanya.
"Andri!" serunya sambil berdiri dan akan melangkah, namun Bu Wisnu menahan nya.
__ADS_1
"Biar kan dia sendiri, Pak!"
"Kamu selalu membelanya, sehingga dia selalu melawan aku."
"Dia tidak melawan ayah, dia hanya terganggu dengan perasaan nya saja."
"Ayah, lembut lah sedikit pada mas Andri, mungkin dia akan mengerti"
"Dia memang seperti itu, tak pernah berubah?"
"Bukankah dia yang selalu menuruti kata-kata Ayahnya, sedang Ayah nya selalu memaksakan kehendak nya?" jawab Bu Wisnu.
"Apa maksudmu?"
"Dulu, ketika Andri ingin mendaftar menjadi seorang TNI, Ayah melarang nya dan menyuruh nya masuk ke perguruan tinggi, dan sekarang, saat Andri ingin pergi ke kampung mencari kekasihnya, apa mau Ayah?" jawab Bu Wisnu tegas.
"Andri manusia biasa yang punya kehendak dan cita-cita, dalam lubuk hatinya dia punya cinta dan pengharapan, berikan dia kebebasan untuk memilih."
" Memilih apa?, memilih hidup dengan gadis miskin yang entah dimana keberadaanya?"
"Setidaknya, beri dia kesempatan untuk mencarinya."
"Silahkan, tapi kalau dia tak menemukan gadis itu, dia tak boleh menolak keinginanku untuk menikahkannya dengan Shela."
"Ya, selalu ada alternatif lain , selalu harus memilih pilihan Ayah, itukah yang dikatakan orang tua yang bijaksana?"
"Aku tidak melawan, aku hanya kasihan pada Andri yang selalu menuruti apa mau mu."
"Sudahlah Yah, Bu, besok adalah hari bahagia mas Andri, harus kah kita merusaknya dengan bertengkar seperti ini?"
"Ibumu tu yang selalu memanjakan Mas mu" Bu Wisnu hanya menghela nafas panjang.
keesokan harinya, Andri dan keluarga nya hadir di acara wisudawan wisudawati yang sangat meriah itu.Tampak Shela bergelayut manja ditangan Andri yang baru hadir di antara mereka. Andri hanya diam, membiarkan tangan Shela yang menggenggamnya, semua itu dilakukannya, karena ayah Andri sudah memberikan lampu hijau pada keluarga nya.
Andri tak bisa berbuat banyak, tapi tak pernah sekalipun Andri memberi harapan pada Shela, hatinya tetap untuk Hana, bukan yang lain.
Tak lama kemudian acara pun dimulai, berbagai tarian dipentaskan kan untuk menyambut para hadirin.
Setelah selesai Andri bergegas pulang, moodnya hilang melihat keakraban ayahnya dengan keluarga Shela, apalagi mendengar kata-kata papa Shela yang memuji-mujinya sebagai calon mantu.
"An_Andri, mari makan dulu, kamu sejak tadi belum makan!"
"Aku tidak lapar, Bu!"
"Jangan begitu an, nanti kamu sakit." Seketika Andri memegang tangan ibunya, menggenggam nya, dan menatap ibunya penuh selidik.
__ADS_1
"Ada apa, An?"
"Boleh Andri bertanya sama, ibu?"
"Tanya saja!"
"Ceritakan siapa aku Bu, katakan apakah aku bukan anak Ayah?"
"Kamu bilang apa sih An , itu tidak benar!"
"Lalu mengapa Ayah selalu bersikap tidak adil padaku?"
"Maksudnya?"
"Dulu waktu aku ingin menjadi seorang TNI mengapa dia tidak mengizinkan , justru mendaftarkan Adam, sekarang aku ingin mencari Hana justru memaksaku untuk menerima Shela, apakah itu adil?"
"Itu suatu kebetulan, dia menyuruh mu masuk ke perguruan tinggi itu, karena kamu lebih berpotensi menjadi pengusaha, dan menyuruh mu menerima Shela karena Hana entah dimana keberadaanya."
"Benarkah suatu kebetulan?, bukan untuk menyelamatkan perusahaan?"
"An ...."
"Harus kah kebahagiaan ku aku pertaruhkan Bu?, tolong Bu, tolong aku, aku tak bisa menikahi Shela." Bu Wisnu diam.
"Aku yakin, semua ini karena aku hanyalah seorang anak tiri, siapa ayah kandungku Bu, kata kan!" Bu Wisnu menggeleng, air matanya berlinang.
"Kamu anak kandung ayah mu, An, kamu anak kandungnya!"
"Lalu kenapa ayah bersikap demikian padaku?"
"Itu karena ayah kamu selalu ingat masa lalu nya tiap melihat mu!"
"Masa lalu apa?"
"Masa lalu, saat ibumu meninggalkan kamu dan ayahmu"
"Ibuku?" tanya Andri dengan sangat terkejut. Bu Wisnu mengangguk.
"Aku punya ibu lain?, berarti kau tidak ibu kandung ku?" Bu Wisnu kembali mengangguk.
"Lalu siapa ibu kandung ku?"
"Ibu tidak tahu An, ayahmu datang ke kampung bersama dengan bibi mu, sedangkan kamu masih sangat kecil, kira-kira berumur satu tahun." Andri masih tampak sangat syok.
"Ayahmu pindah ke kampung untuk melupakan ibumu yang pergi meninggalkan kalian, entah kemana."
__ADS_1
"Maaf kan aku ibu, maaf kan aku, yang mengungkit masa lalu itu, aku tidak akan menolak keinginan ayah, asalkan aku tidak menemukan Hana." Kata Andri kemudian sembari memeluk ibunya, ibu tiri yang merawat nya sejak kecil, ibu yang selalu membelanya , yang selalu menyayanginya, kapanpun dan di manapun.
.