Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 16 keluarga Hana menetap di kota


__ADS_3

Hari ini Hana dan keluarganya resmi pindah ke kota, Rega pun sudah menyelesaikan ujian nya, namun tidak melanjutkan pelajarannya kejenjang yang lebih tinggi karena mengingat biaya yang tidak mencukupi. Selain itu adalah bahwa rumah dan pekarangan telah ikut dijual, mereka benar-benar sudah meninggalkan desa tercinta tempat mereka lahir dan dibesarkan. Hana membuka sebuah kios kecil untuk pendapatan sampingan selain kesibukannya menjadi guru privat pribadi untuk beberapa orang anak.


Pak Herman pun sudah dibawa pulang dari rumah sakit dan hanya periksa pada saat waktu kontrol tiba. Tepatnya ia keluar dari rumah sakit karena keadaan ekonomi mereka tidak memungkinkan untuk tetap tinggal dan di rawat.


Saat ini pak Herman duduk di atas kursi roda, badannya dikatakan jauh dari kata segar, wajah nya nampak kuyu dan pucat, rambutnya pun tampak tipis karena rontok, badannya kurus bak kulit pembalut tulang.


Hari ini Hana tidak pergi kemana-mana, ia di rumah menemani ayahnya, membawa ayah nya keluar menuju taman belakang yang tidak begitu luas. Hana memang membuat taman itu untuk mendapatkan sensasi udara segar pada pagi dan sore hari.


Hana jongkok dihadapan ayah nya, menggenggam tangan ayah nya dan membawanya didekat hidungnya yang bangir, mencium nya lama sekali, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya yang sekarang sudah tampak kurus itu.


"Ayah, maafkan Hana karena Hana tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Ayah!"


"Tidak sayang ... Ayah yang seharusnya minta maaf karena Ayah tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kalian, Ayah telah menghabiskan semua milik kita, tanah, rumah, semua nya." Hana menggeleng kemudian berdiri dan melangkah kebelakang ayahnya. Membelai rambut ayahnya dengan sangat lembut, hati nya terenyuh melihat kenyataan bahwa rambut ayah nya tinggal tipis karena rontok.


"Dengan melihat ayah sembuh, sehat, kami sudah sangat bahagia, Ayah tidak usah berfikir yang macam-macam, tanah nya tidak habis Ayah, ini, rumah kita ini adalah rumah kita yang di desa, agar kita berobat nya tidak jauh makanya kita pindah kesini"


"Oh ya apa kamu tidak masuk kuliah hari ini?"


"Tidak Ayah, Hana libur hari ini, Hana pengen menemani Ayah, sudah lama kan Hana tidak menemani Ayah." Ucap Hana berbohong karena Hana sudah lama keluar dari kuliah nya. Mereka tidak memberi tahu pak Herman karena tidak ingin pak Herman semakin sedih mengetahui semuanya dan berfikir bahwa semua terjadi karena dirinya.


"Kamu yang serius kuliah nya ya Han, Ayah pengen melihat mu jadi dokter, kamu pasti sangat cantik dengan seragam putih itu." Hana menggigit bibirnya, menyeka air matanya yang tak bisa ditahannya. Pilu rasanya mendengar perkataan ayahnya, jangankan untuk kuliah, untuk keperluan pengobatan ayahnya saja Hana harus memutar otak untuk menutupi nya.


"Sekarang kita masuk rumah, ya Ayah, matahari sudah sedikit mulai panas, Ayah sudah capek kan, mari kita istirahat dulu." Pak Herman pun mengangguk.


mereka masuk kedalam rumah mungil yang memiliki bangunan minimalis itu, isi ruangan tamu itu tampak sangat begitu sederhana, tidak banyak barang hanya kursi dan satu buah lemari dan itu pun tidak terlalu besar.


Rega tampak keluar dari arah ruang tengah dan membantu Hana membaringkan tubuh ayahnya dikamar lalu memijat badan ayah nya pelan. Hana keluar dari kamar dengan meninggalkan ayahnya bersama dengan Rega, menuju dapur, tapi sebelum sampai terdengar suara pintu diketuk, Hana pun kembali dan membukakan pintu, tampak wajah tampan Defta dengan senyum terurai menanti di sana.


"Mas ... mari masuk!" kedua nya pun masuk.


"Kok pagi-pagi sudah kesini, jam berapa dari desa?"


"Aku sudah sejak kemarin disini, aku juga tinggal disini, di kompleks ini." Hana mengernyit heran, tidak mengerti.


"Aku pergi dari rumah!" kata Defta seakan mengerti akan keheranan Hana.


"Kenapa mas?"

__ADS_1


"Kamu sendiri tahu ayah gimana, aku sudah tidak tahan sama sikap ayah."


"Tidak boleh seperti itu Mas, bagaimana pun dia adalah ayah Mas, dia itu adalah orang yang paling berharga dalam hidup Mas."


"Untuk kali ini tidak Han, aku akan melakukan apa pun yang ku anggap benar!"


"Tapi tidak dengan meninggalkannya!"


"Ayah sudah mengusirku, dan sudah tidak menganggap ku, diapun semakin merajalela dan semena mena sama warga."


"Dan Mas, meninggalkan nya?"


"Terpaksa Han, aku terpaksa melakukan itu."


"Sekarang aku maklum, tapi nanti kalau Mas sudah tidak marah lagi, aku sarankan untuk melihat keadaan ayah Mas, marah-marahnya orang tua, dia tetap orang tua Mas dan Mas tetap anak nya. Orang tua manapun akan bangga melihat dimana anak tetap berdiri memberikan yang terbaik buat orang tua mereka."


"Ya Han, aku pun berfikir demikian." Hal ini lah yang semakin membuat Defta jatuh cinta pada gadis yang ada di depan nya ini, sikap nya yang dewasa dalam menghadapi segala masalah apa pun.


"Mas, kita bisa bicara?" kata Hana dengan nada sangat pelan.


"Tentu Han, ada apa?"


"Ada apa Han, tampak nya sangat penting?"


"Anu mas, masalah ayah, ini tentang biaya ayah," ujarnya pelan


"Kau perlu uang?" Hana mengangguk


"Aku akan membantumu, ini kamu pakai!" Kata nya sambil memberikan kartu ATM yang dulu pernah diberikan pada Hana.


"Bukan itu maksudku Mas, aku ingin bekerja untuk biaya ayah, aku tidak ingin merepotkan orang lain, aku ingin jerih payahku, karena akulah yang harus bertanggung jawab atas semua ini."


"Kamu menganggap aku orang lain?"


"Bukan Mas, bukan itu maksudku."


"Tapi aku suka dan senang kau repot kan, aku bahagia bisa membantu mu!"

__ADS_1


"Untuk kali ini, tunjuk kan jalan Mas, itu yang ku mau, jangan kau biarkan aku menjadi parasit yang selalu mengandalkan mu setiap aku mendapat kesulitan."


"Aku tidak menganggap mu sebagai parasit, aku sayang sama kamu, salah kah aku menunjuk kan rasa sayang ini?"


"Maksudnya tidak seperti itu Mas, dengarkan aku, uang Mas tidak selalu untuk memenuhi kebutuhan ku, suatu saat Mas punya kebutuhan lain, dan aku tidak bisa membantu mu, jadi ...."


"Itu karena kamu tidak ingin berhutang Budi padaku kan, Han?, kamu takut akan merasa gak enak dan dengan begitu kau harus menerima aku, iya kan?"


"Mas ...." Hana menggenggam tangan Defta . Jantung Defta berdesir ketika tangan mungil Hana menyentuh nya.


"Biar kan aku menjadi anak yang berbakti pada orang tua, nanti seandainya aku tak punya jalan keluar lagi kau boleh membantu, sekarang aku


hanya ingin berusaha karena itu adalah tugasku sebagai seorang anak, jangan biarkan aku pasrah pada nasib, aku ingin berjuang demi kesembuhan ayahku, aku tidak suka menerima belas kasihan orang lain."


"Tapi aku bukan orang lain!" Tegas Defta.


"Mas ... kumohon ...." Defta diam.


"Bantu aku mendapatkan pekerjaan yang bisa menjanjikan pengobatan ayah ku." Ucap Hana lagi dengan tetap memegang tangan Defta.


"Pekerjaan apa, Han?"


"Apa saja, yang penting halal."


"Tahukah kamu betapa aku sakit membiarkanmu seperti ini, aku ingin membantu, tapi mengapa tak kau izinkan?"


"Aku juga minta bantuan mu kan, Mas, makanya aku mengajak mu kesini."


"Maksudku, uang Han!"


"Untuk itu ada saatnya Mas, pasti aku akan menerima nya kalau aku tidak menemukan jalan lagi untuk mendapatkan nya, seperti waktu itu."


"Janji kau tidak akan sungkan?" Hana mengangguk tersenyum penuh keharuan. Betapa tidak pria tampan yang ada dihadapannya itu, tetap saja mencintai nya dengan sangat tulus, walaupun tak pernah dirinya membalasnya.


"Aku akan cari informasi, nanti kalau ada aku akan mengabari!"


"Ya Mas, sebelumnya aku ucapkan terimakasih, kau selalu ada untukku."

__ADS_1


"Apapun akan aku lakukan untukmu!" jawab Defta tulus, tanpa mengharapkan suatu apapun juga, selain kebahagiaan Hana, adakah cinta yang seperti itu di dunia ini, tulus dan tanpa pamrih.


__ADS_2