Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 70 Keluarga bahagia Hana dan Andri


__ADS_3

"Apakah aku boleh mendekati mu?"


Hana menoleh, ia menatap Andri dengan sedikit senyum, dihatinya masih terbesit tanda tanya, kenapa Rega sampai menikahkan dirinya dengan Andri.


"Apakah seorang istri pantas menolak saat suaminya mendekatinya?"


"Hana, mungkin kau masih terkejut dengan pernikahan kita, dan mungkin kau masih belum menerima ku karena kau belum mengetahui alasan apa Rega menikahkan kita."


"Apakah kau tahu, Rega menikahkan kalian karena Mas Andri tak pernah sekalipun mengkhianatimu, ia selalu ada untukmu, bahkan ia akan melakukan apapun untuk tetap bersamamu." Sahut Shela yang masuk bersama dengan Defta.


"Mbak Shela?"


"Ya, aku kesini karena aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan mu, aku semakin mengagumimu, pantas saja Mas Andri demikian mencintaimu, aku yang baru mengenal mu, sangat kagum, apalagi orang yang telah mengenalmu begitu lama."


"Ah, Mbak Shela bisa aja, aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, jika Mbak Shela yang berada diposisi ku, pasti akan melakukan hal yang sama, bukan?"


"Kau salah jika kau mendonorkan ginjalnya untuk melihat kebahagiaan ku bersama dengan Mas Andri, yang betul adalah ... aku selamat karena donor ginjal yang kau berikan karena Tuhan ingin memperlihatkan kebahagiaan mu bersama dengan Mas Andri."


"Apakah kau tak merasa sakit hati, padaku?"


Shela tertawa, ia kemudian menggeleng dan mendekati Hana, kemudian memegang tangan nya erat.


"Aku senang melihat kebahagiaan kalian, kau tak perlu khawatir, aku dan Mas Andri sudah bercerai, dan cepatlah kau sehat, mari kita adakan pesta bersama, karena kami akan segera menikah juga."


"Benarkah, dengan Mas Defta?"


"Ya, Hana ... kami akan menikah, tentunya menanti masa Iddah nya tiba." Defta yang menjawab.


Andri duduk disisi Hana, dibagian dekat kepala, ia mengelus rambut Hana lembut, kemudian mengecupnya hangat.


"Apakah kau masih meragukan cintaku?" Hana menggeleng kemudian tersenyum.


"Aku percaya jika kau memang mencintaiku."


"Cepatlah sembuh, aku tak sabar rasanya ingin membawamu pulang."


"Cie ... yang mau malam pertama!"


Shela menggoda Andri dan hana, tak ingat akan kebersamaan nya dengan Andri yang sama sekali tak pernah mengatakan semua itu, apalagi menginginkan nya.


"Ya, rasanya aku tak tahu akan mengatakan apa pada Hana, aku begitu bahagia sampai aku tak bisa berbuat apa-apa."


"Ah, kau payah!" ucap Defta sambil mendorong kepala Andri.


Semuanya terdengar tertawa, mereka kelihatan bahagia.


Makan siang bagi pasien telah datang, Hana duduk dengan dibantu oleh Andri, sedang Shela dan Defta permisi untuk keluar.


"Sini aku suapi!" kata Andri mengambil piring yang ada ditangan Hana.


"Aku bisa Kak."


"Tidak apa, mari sini kasihkan padaku, biarkan aku menyuapi mu."

__ADS_1


Hana akhirnya menurut saja, ia makan dengan lahap, tampak sekali Andri begitu memanjakan nya.


"Kak, kenapa kalian bercerai?"


"Tiba tiba pertanyaan itu mampu membuat Andri terdiam.


"Karena kami tak pernah saling mencintai."


"Jika tidak saling mencintai, kenapa kalian menikah, apa alasan nya?"


"Kami menikah pada mulanya untuk menyelamatkan perusahaan ayahku yang sempat akan bangkrut."


"Kak, kamu jawabnya kok kelihatan terpaksa gitu?"


"Ya, aku memang tak ingin mengungkit semua masa lalu yang sangat menyiksa itu, aku hanya ingin membicarakan masalah kita, aku bahagia jika kau menanyakan semua tentang kita."


"Maaf, aku hanya ingin tahu, sampai dimana cintamu pada Mbak Shela."


"Aku tak pernah mencintainya, Hana sayang ...."


"Benarkah?"


"Ya, untuk apa aku bohong, apakah hatimu tak merasakan betapa aku selalu memikirkan dirimu."


"Mungkin, akupun merasa jika aku tak akan bisa bertahan mengetahui kau milik orang lain."


"Itukah sebabnya kau menjauh dariku?"


"Ya, aku sangat ketakutan, aku sangat tersiksa karena kau sudah menikah dengan orang lain."


Makan siang Hana kali ini, habis tak bersisa, itu karena Hana makan sambil ngobrol.


Andri menghapus sisa-sisa makanan disudut bibir Hana, kemudian mengecup lembut pipi Hana.


"Aku bahagia, sayang ...."


"Aku juga, Kak ...."


Andri membawa kepala Hana dalam pelukannya, Hana mendongakkan kepalanya sambil tersenyum.


"Apakah kau tahu, rasanya aku begitu khawatir saat kau tak sadar sadar."


"Aku minta maaf, karena telah membuatmu khawatir."


"Lain kali jangan pernah membuatku seperti ini lagi, aku akan menghukum mu jika kau membuatku takut."


Hana mengangguk.


Beberapa hari kemudian Hana sudah bisa melakukan aktivitas sebagai mana biasanya, cuma ia harus menjaga diri agar ia tak kelelahan.


Hari ini Hana dan keluarganya, pergi ziarah ke pemakaman pak Herman, ia mendoakan akan keselamatan pak Herman, sambil mengusap batu nisan itu.


"Ayah ... semua cita cita Hana telah tercapai, aku sudah menjadi dokter, aku juga sudah menikah dengan Kak Andri, aku sudah hidup bahagia, selamat jalan, Ayah ...."

__ADS_1


Andri ikut membersih kan pemakaman itu, setelah dirasa cukup akhirnya mereka meninggalkan pemakaman itu dengan perasaan bahagia.


Keluarga Hana saat ini adalah keluarga yang bisa dikatakan keluarga bahagia, keluar yang terdiri dari anak-anak yang telah mendapatkan apa yang mereka harapkan.


Bu Fatmi merasa bersyukur, akhirnya apa yang dicita-citakan oleh putra putri nya, tercapai.


Rega menjadi pimpinan perusahaan yang saat ini sudah menjadi milik mereka, dan Hana telah berhasil pula mendirikan sebuah rumah sakit gratis untuk para penderita kanker.


****


Beberapa bulan kemudian, Hana pergi kerumah sakit bersalin, ia akan melahirkan anak pertama mereka, maka genap lah sudah kebahagiaan mereka.


Hana akan melahirkan seorang anak perempuan, tentu saja itu akan semakin membuat Hana dan Andri bahagia.


Ketika sampai didepan rumah sakit, ia berpapasan dengan Shela, yang lebih menariknya, Shela juga sedang hamil besar, juga akan melahirkan, tapi anak mereka laki laki.


"Hana, aku kira Andri dulu, tidak laki laki, aku sangka dia tidak normal tahu!" goda Shela.


"Apa sampai segitunya?"


"Ya, makanya aku melepaskan dia untuk kamu."


Ha ha ha ha, mereka berempat tertawa bersama.


Rega dan Ibu Fatmi datang juga di rumah sakit itu, mereka tak sabar rasanya ingin melihat sang putri akan hadir ditengah tengah mereka.


Saat Hana akan masuk kedalam, tiba-tiba ponsel yang ada di sakunya berdering, Hana segera mengangkatnya. Ia tersenyum melihat siapa yang menghubunginya.


"Halo Pak Kimura, apa kabar?"


"Halo juga, aku baik baik saja, aku hanya mau menyampaikan, bahwa bulan depan aku akan menikah, apa kau bisa hadir?"


"Lihatlah, perutku besar, maka sepertinya aku tak bisa datang, apakah kau marah?"


"Oh, tentu saja tidak, aku turut bahagia melihatnya."


"Aku juga turut bahagia, semoga Bapak juga bahagia."


" Ya, semoga kita semua hidup bahagia. Kapan kapan aku akan mengajak istriku datang ke Indonesia, atau kami _"


"Bulan madu disini."


"Ya, itu ide yang baik, aku setuju!"


"Sudah ya Pak, perutku sakit, sepertinya aku akan melahirkan."


Semua sibuk, Rega mengambil kursi roda untuk membantu Hana berjalan, sedang Andri setia menemaninya bagai tak mau meninggalkan Hana sedikitpun.


End


Para pembaca semua yang terkasih dan tersayang, kita akhiri saja kisah ini, mari mampir ke novel author yang satu lagi, sambil menunggu karya author yang lain yang masih belum rilis, oke ...


Agar tak ketinggalan karya author yang baru, maka disarankan untuk membaca karya author yang berjudul Ayah Anakku Kakak Kekasihku. Setelah itu kalian akan mendapatkan instruksi, kapan novel baru author akan keluar kembali.

__ADS_1


Untuk sekedar info, atas perhatiannya, terimakasih.


__ADS_2