Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 39 Diantar Pak Bos


__ADS_3

Pak Kimura memegang tangan Hana, seketika tangan itu berubah menjadi dingin, bagai terkena air es saja, namun ia tidak berani menggerakkan tangannya untuk melepaskan tangannya itu.


"Jangan marahi saya, Pak!, saya tidak bersalah, sa_ saya ... tidak mencuri ...."


"Apa kamu pikir aku percaya sama kamu, kamu hampir saja merusak citra perusahaan ku yang sudah lama aku bangun dengan susah payah, kamu sadar tidak?, ha!" kata pak Kimura semakin erat memegang tangan Hana, Hana pun semakin ketakutan.


"Aku benar-benar tidak mencuri, Pak, aku ...."


"Lalu pakaian itu berjalan sendiri masuk ke dalam tasmu?"


"Aku tidak tahu mengapa pakaian itu bisa ada dalam tasku, tahu-tahu saat di periksa, pakaian itu ada di sana."


"Alasan basi, bilang saja kau butuh uang, lalu kau akan menjual pakaian itu, jangan sok suci!"


"Aku akan buktikan kalau aku tidak bersalah, bukan aku yang memasukkan pakaian itu kedalam tasku."


"Ha ... ha ... ha ...." Pak Kimura tertawa terpingkal-pingkal, menyaksikan wajah Hana yang pucat pasi, ketakutan dan merasakan tangan gadis itu sangat dingin sekali.


Pak Kimura melepaskan tangannya, kemudian menatap Hana dan tertawa kembali.


"Kamu menggemaskan kalau sedang ketakutan kayak gini, aku ingin mengerjai mu, tapi aku sudah tidak tega, kamu lucu ...." Kata pak Kimura dengan tawanya yang masih terurai.


"Apa maksudmu, Pak?"


"Tidak, ayo aku antarkan kamu pulang, aku ingin melihat bagaimana reaksi Vero, melihat aku mengantarmu."


"Jangan menambah masalahku, Pak!"


'Aku justru ingin menyelesaikan masalahmu, aku tidak suka melihat kau difitnah seperti ini."


"Jadi ... benarkah Bapak percaya, kalau aku tidak mengambil pakaian itu?" Pak Kimura menggeleng, kemudian tersenyum.


"Aku sama sekali tidak percaya, sudahlah, kamu jangan takut, aku sudah mendapatkan bukti siapa yang melakukannya."


"Benarkah?"


"Ya, aku sudah mengecek cctv, dan memang Vero Lah yang telah melakukan itu."


"Awas kau Vero, aku akan bikin perhitungan denganmu."


"Jangan macam-macam, aku tidak mengizinkan kamu melakukan apapun pada Vero, aku yang akan membuat dia merasa jera, lebih baik kalau kita bermain-main sebentar dengannya."


"Maksudnya?"


"Kita buat dia semakin Panas, kita kerjain saja dia, itu akan tambah seru bukan?"


"Tapi, Pak ...."

__ADS_1


"Sudahlah ...."


"Aku takut, dia akan tambah marah padaku, pak."


"Karena aku dekat denganmu?" Hana mengangguk.


"Aku yang menentukan dekat dengan siapa, memang apa haknya, marah sama kamu, aku inginnya dekat sama kamu, aneh!"


"Mari kita pulang, Pak, lihatlah ... hari sudah gelap!" pak Kimura mengangguk dan menyuruh Hana jalan di depannya, sedang pak Kimura berada di belakangnya.


Entah mengapa, Hana merasa tenang berada dekat dengan pak Kimura, mungkin karena pak Kimura percaya bahwa dirinya tidak mencuri pakaian itu.


Melihat Hana berjalan dengan cepat, pak Kimura pun semakin mempercepat langkahnya, sekarang berada tepat di samping Hana, mereka menuju mobil mewah milik pak Kimura, dan akhirnya dengan romantis nya pak Kimura membukakan pintu untuk Hana, sambi mengurai sebuah senyuman yang begitu manis, menatap Hana penuh arti, seakan benar-benar ingin menunjukkan bahwa dalam hatinya ada perasaan untuk Hana.


Hana masuk, tanpa ingin memperhatikan semua itu dari pak Kimura, ia tidak punya waktu untuk semua itu, tapi bagi pak Kimura, semua itu justru merupakan sebuah tantangan baginya, langka ada gadis seperti Hana.


Dalam perjalanan, Hana hanya diam, seperti biasanya, ia tidak ingin menambah masalah hidupnya, ia hanya ingin hidup damai, itu saja.


"Han ... bagaimana kabar ayahmu?"


Hana menoleh, memandang pak Kimura.


"Ayahku sudah di operasi, pak, tapi sampai sekarang belum sadarkan diri, terakhir kabar yang ku terima, ayahku, koma."


"Maaf, aku tidak bermaksud mengingat kan kesedihanmu."


"Kalau kau butuh bantuan, katakan saja, maka aku akan membantumu."


"Ya, pak"


"Jangan iya, iya, tapi nyuri!"


"Bapak ...." Ucap Hana sambil mengangkat tangannya, tapi dengan segera Hana menghentikan gerakan tangannya, menyadari dengan siapa ia saat ini sedang bicara, walau ia tahu bosnya itu sedang menggodanya, tapi ia tidak ingin melebihi batas kesopanan antara bos dan bawahan. Hana diam merasa rikuh.


"Mengapa Han ... ayo pukul aku, kenapa berhenti?"


"Kenapa Bapak selalu menggoda aku?"


"Terus terang aku senang melihatmu bahagia, apalagi sampai tertawa lepas, tapi sepertinya aku belum bisa membuatmu tertawa, kamu tunggu aja!"


"Pak, sudahlah ... aku tidak ingin orang lain beranggapan yang tidak-tidak."


"Biar aja, aku justru suka."


Tak terasa, mereka sudah sampai di asrama, dengan santainya pak Kimura mengikuti Hana dari belakang, Hana menuju tempatnya dari arah yang tidak melewati asrama Vero, dengan cepat pak Kimura meraih tangan Hana, dan sekali lagi, Hana tak kuasa melepaskan tangan bosnya itu.


"Kenapa lewat sini, pak?"

__ADS_1


"Diam!" benar saja, saat pak Kimura dan Hana akan melewati asrama Vero, Vero kebetulan sedang keluar, Hana berontak, ingin melepaskan tangannya, agar Vero tidak melihatnya, tapi justru pak Kimura meraih bahunya dengan cepat, ia berjalan santai sambil memeluk mesra.


"Diam!, aku tidak suka kau menolak ku!" bisik pak Kimura.


Vero yang baru saja keluar, melihat kemesraan mereka, sangat terkejut, dan dengan wajah tidak suka ia kembali masuk sambil membanting pintu.


Pak Kimura membungkam mulutnya sendiri, menahan tawanya, mengetahui ekspresi Vero. Hana hanya tersenyum, melihat kejahilan bosnya itu.


Hana masuk ke dalam, pak Kimura masih saja berdiri dekat pintu, sehingga Hana tidak jadi menutup pintunya.


"Kau tidak menyuruhku masuk?"


"Tapi Pak ... ini sudah malam, baiknya Bapak pulang."


"Sebentaaar saja!" Hana tidak mengiyakan, tapi tidak juga menolak, ia hanya diam, menatap pak Kimura.


"Oke ... aku pulang, besok jangan lupa masuk, kamu tidak jadi skors!"


"Benarkah?"


"Ya ... kita besok buat saja perhitungan pada Vero."


"Sudahlah Pak, aku tidak mempermasalahkan lagi, aku sudah memaafkan dia!"


"Tidak, aku tidak suka pada cara dia, dia hampir saja merusak nama baik perusahaan!, dia harus dihukum."


"Ya, aku setuju, kalau tidak di tindak lanjuti, dia akan semakin merajalela." Kata Dewi begitu saja.


"Eh, siapa yang ngajak kamu ngomong, main sambung aja!" celotehan pak Kimura.


"Habis kalian tidak ngajak aku ngobrol, ya aku nyahut saja!"


"Kamu ganggu aja!" jawab pak Kimura lagi. Dewi menjulurkan lidahnya. Hana dan pak Kimura tersenyum.


"Ya, sudah!, aku pamit dulu, kamu cepetan mandi, bau!" kata pak Kimura pada Hana, kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Sepeninggal pak Kimura Hana segera membersihkan diri, membasahi badannya yang terasa begitu penat, mengingat semuanya kejadian hari ini, setelah mandi, Hana merasa agak mendingan, rasa penat yang tadi terasa begitu amat sangat, saat ini diganti dengan rasa kantuk yang luar biasa.


Dewi membawa makan malam yang tadi telah dibelinya, sewaktu pulang dari kerja. Melihat Hana yang hampir memejamkan matanya, Dewi menarik kaki Hana begitu saja.


"Makan dulu, Han, aku tidak ingin kamu sakit, duduk!"


"Tapi aku ngantuk Mbak ...."


"Pokoknya makan dulu!" Dewi menyendok makanan yang ada di piring, dan menyuapi Hana, entah kesekian kalinya Dewi merasa, kalau dirinya sangat menyayangi Hana, seperti saudaranya sendiri.


Sambil terus memejamkan matanya, Hana menerima saja suapan dari Dewi itu, sampai akhirnya Hana tak kuasa lagi menahan kantuknya, dan akhirnya rebah begitu saja. Dewi gelang-gelang kepala, kemudian membenarkan letak tidur Hana dengan penuh rasa kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2