Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 63 Shela Kritis


__ADS_3

Andri menghempaskan dirinya diatas lantai, di samping tempat tidur, ia menarik rambutnya dengan kuat kearah belakang, kemudian meletakkan kepalanya diatas lutut yang ia peluk.


Puas dengan meletakkan kepalanya, Andri mengepalkan tangannya, kemudian meninju lantai beberapa kali, hingga mengeluarkan darah segar.


Shela yang baru saja masuk, terkejut melihat tangan Andri yang berdarah. Shela segera menghampirinya, dan memegang tangan Andri yang terluka itu.


"Apa kamu sudah gila, menyakiti dirimu sendiri?"


Mata Andri hanya menatap wajah Shela sekilas, kemudian ia memalingkan wajahnya ke depan.


"Apakah kau merasakan apa yang aku rasakan?"


"Apa maksudmu?"


"Terluka, dan sangat sakit."


"Hana tak mau mendengarkan penjelasan dariku."


"Penjelasan bahwa kau tak pernah mencintai wanita lain, meski istri mu sendiri?"


"Aku tidak sanggup membayangkan jika aku harus kehilangan dia lagi."


"Apakah kau tak punya hati mengatakan semua itu padaku, aku adalah istrimu, kau kejam!"


"Aku tak ...."


"Aku tak bermaksud menyakiti mu, iyakan ... kau mau berkata seperti itu kan?" Andri semakin tersiksa.


"Mas Andri ... aku begitu menyayangimu, aku tak ingin kau menderita, aku sakit melihatmu tersiksa seperti ini, aku tak tahu apakah aku masih mencintaimu atau tidak, yang kutahu ... aku tak ingin kau menyakiti dirimu. Percayalah Hana pasti akan kembali bersamamu." Shela menitikkan air mata.


"Bagaimana mungkin, dia tak mau lagi bertemu denganku."


"Aku akan membantumu, apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu."


"Kenapa kau begitu baik Shel ...."


"Karena aku tak mau kau merasakan apa yang aku rasakan."


"Apa maksudmu?"


"Kau telah membuat aku sangat menderita karena cintaku yang tak pernah berbalas, dan aku bisa membayangkan saat Hana berlalu pergi meninggalkan dirimu."


"Kau tahu?"


"Aku menyaksikan semuanya, aku di restoran itu juga."


"Aku tak tahu lagi apa yang harus aku katakan padamu."


"Kau tidak perlu mengatakan apapun, sekarang kita pikirkan bagaimana caranya agar Hana mau kembali menemui mu.


Shela memeluk Andri, ia tak mungkin lagi mengharapkan suaminya lagi, benar benar sudah tak ada harapan untuk menyatukan kembali kepingan kepingan yang telah pecah.


Cintanya telah kandas, harapan nya telah sirna, kerinduannya pun telah pupus, yang ada saat ini adalah seorang sahabat yang ingin menyaksikan kebahagiaan untuk sahabatnya.

__ADS_1


****


Kita percepat saja ritme perjalanan cerita cinta ini, ya pembaca terkasih.


Sudah dua tahun dan sudah beberapa kali Shela melakukan cuci darah, namun sampai detik ini, Andri belum mengetahui tentang penyakitnya, begitu juga dengan Hana, tak sekalipun ia mau menemui Andri, ia selalu menghindar.


Hari ini, Shela kembali kerumah sakit, dan seperti biasanya ia diantar oleh Defta, sebagai mana Shela mengaku bahwa Defta adalah suaminya, Hana masih beranggapan bahwa memang Defta benar benar suami Shela.


Kali ini, kondisi Shela sudah tidak baik-baik saja, tapi karena Shela selalu menolak untuk kontrol selama sebulan ini, maka ia pasti tak mengetahui perkembangan kondisi ginjalnya.


"Mbak Shela ... Kenapa tak mau cuci darah lagi?"


"Rasanya sudah bosan aku melakukan cuci darah, namun semua itu tak juga membuat aku sembuh, malah dokter menyarankan agar aku operasi donor ginjal, sedangkan donornya tak ada yang cocok."


"Menanti ada yang cocok, bukankah lebih baik kita mencegah agar tak semakin memburuk, dengan rutin memenuhi jadwal cuci darahnya."


Defta sudah memeriksakan ginjalnya untuk didonorkan pada Shela, namun tidak cocok.


Hana meninggalkan Shela, untuk memeriksa keadaan pasien lainnya, tapi belum genap setengah jam, Hana sudah dipanggil untuk melihat keadaan Shela.


Dengan segera, Hana menuju tempat Shela dirawat.


Defta sudah berteriak memanggil manggil Shela, namun Shela tak menyahut, karena ia sudah tak sadarkan diri.


Saat ini, Defta jadi serba salah, ia tak tahu apa yang akan dilakukannya, memberi tahu keluarga shela, namun selama ini keluarga nya sama sekali tak mengetahui keadaan nya, apalagi Papa nya mempunyai riwayat penyakit jantung.


"Mas ... apa tidak ada keluarga yang lain, keadaan Mbak Shela sangat kritis, ia memerlukan donor ginjal secepatnya."


Tanpa pikir panjang, Defta menghubungi Andri, Defta memutuskan untuk memberi tahu Andri karena ia tidak tahu lagi siapa yang harus dihubunginya.


"Halo, ada apa, Mas?"


"Halo An ... datanglah kerumah sakit, Shela saat ini sedang kritis."


Mendengar Shela sedang kritis, dengan tanpa pikir panjang, Andri menghentikan rapat yang sedang diadakan.


Dengan penuh kecemasan, akhirnya ia meninggalkan kantor dengan perasaan was-was.


Sesampainya dirumah sakit, Andri menemui Defta yang dari tadi sudah menunggunya.


Shela sudah dipindahkan keruang ICU.


Saat menyaksikan Andri datang, bukannya menunjukkan ruang dimana Shela dirawat, tetapi memberikan sebuah bogem mentah pada Andri.


Bug, tepat di wajah Andri, Andri yang tak mengira akan mendapat pukulan, merasa terkejut, dan terjerembab kebelakang, disudut bibirnya mengalir darah segar.


"Kenapa kau memukulku?"


"Untuk mengingatkan kalau kau bukan suami yang bertanggung jawab atas istri kamu."


"Aku tak tahu apa yang terjadi."


"Ya, karena kamu tak pernah sekalipun memberikan perhatian padanya, sampai Shela kritis seperti ini."

__ADS_1


Sebuah tendangan kembali telak menghantam perut Andri. Kembali Andri sama sekali tidak mengadakan perlawanan, ia sadar kedudukan nya saat ini, ia memang salah.


"Aku tak akan pernah memaafkan dirimu, jika terjadi sesuatu pada Shela."


Seorang petugas rumah sakit mengetahui kejadian itu, dan memisah keduanya.


"Tunjukkan padanya dimana Shela dirawat."


petugas rumah sakit itu mengangguk, kemudian membawa Andri keruang ICU tempat shela berbaring tak berdaya.


Andri terkejut menyaksikan keadaan Shela, iapun baru menyadari bahwa dirinya memang orang yang tidak bertanggung jawab.


Air matanya menetes, perlahan dirabanya pipi yang selama ini tak pernah disentuh nya itu.


Kemudian duduk di sisi ranjang pasien, ia menggenggam erat tangan Shela yang tak berdaya itu.


Rasa sesak yang tak terhingga, menyelimuti segenap hati Andri, betapa ia sangat sadar telah menyia-nyiakan ketulusan cinta dan kasih sayang istrinya yang tak pernah menuntut itu.


Justru diantara rasa sakit yang tidak di ketahui nya, Shela ingin sekali menyatukan dirinya dengan Hana.


"Shel ... bangunlah sayang ... apakah kau tak ingin lagi memarahi aku, apa kau tak mau lagi mengejek aku?" Andri berkata sambil berlinangan air mata. Isak tangis semakin pecah, kini penyesalan tak ada artinya. Ia tak mampu membuat Shela terbangun dari pingsan nya.


Sementara diluar, Hana menghampiri Defta, ia ingin menanyakan sesuatu pada Defta.


"Mas ... Aku menyuruhmu menghubungi keluarganya, keadaan Shela benar benar kritis, tapi mengapa justru kau memanggil Andri kemari?"


Defta yang terisak, menoleh kearah Hana, ia hanya menggeleng, ia tak mampu lagi berbuat apapun.


"Mas ... apa kau mendengar aku?"


"Ya, aku mendengar mu, aku salah ... Aku tak memberi tahukan padamu sejak semula, jika aku bukanlah suami Shela."


Hana membuka mulutnya karena terkejut, ia tak menyangka hal sebesar itu bisa ditutupi selama dua tahun ini darinya.


"Apa aku tak salah dengar?"


"Tidak Hana ... kau tak salah dengar, AKU BUKAN SUAMI SHELA, suami Shela adalah Andri."


"Apa?"


"Maaf Han ... maafkan aku!"


Hana terpaku ditempatnya berdiri, tiba-tiba seorang suster datang berlari menemuinya.


"Dok, keadaan pasien darurat!"


Hana segera menuju ruang ICU, diikuti oleh Defta.


Shela terlihat kejang, Andri disuruh keluar oleh Hana.


Selain Hana, ada seorang dokter lain, yang sengaja diminta Hana untuk mendampinginya apabila terjadi sesuatu.


Defta dan Andri menanti diluar, kemudian mereka membicarakan masalah Shela secara serius.

__ADS_1


__ADS_2