
Pak Kimura nampak Mondar mandir didekat Hana terbaring, sudah sehari semalam Hana tak sadarkan diri. Perasaan cemas menyelimuti hatinya, ia hanya sendirian menungguinya, sedangkan Dewi masuk kerja. Pak Kimura kembali duduk disamping Hana, setelah sekian lama berdiri menghadap kearah luar sakit tempat Hana dirawat. Digenggamnya tangan mungil yang halus itu, dibawanya ke bibirnya, di ciumnya begitu lama, dengan bergetar menahan perasaannya, pak Kimura menenggelamkan kepalanya, menanti kapan Hana akan sadar kan diri, mengharapkan Kebahagiaan kembali bisa dirasakan oleh Hana.
"Han ... bangunlah, aku sangat mencemaskan dirimu, aku ingin kau segera sadar, kau tahu aku disini untuk menjagamu, aku akan lakukan segalanya untuk membuatmu kembali bahagia."
Pak Kimura merasakan gerakan tangan Hana yang digenggamnya, dengan harap harap cemas, ia menatap Hana, menemukan mata gadis itu perlahan membuka, pak Kimura segera bangkit dari duduknya, kemudian mengusap pipi Hana.
"Haiii, kau sudah sadar?" kata pak Kimura tersenyum, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Hana menatap Hana dengan bingung, menatap ke sekeliling ruangan itu.
"Aku dimana?"
"Kau dirumah sakit, sejak kemarin kau tidak sadarkan diri, gimana ... kau tidak apa-apa kan?"
"Aku_ aku baik baik saja, cuma sedikit agak lemas."
Tak berapa lama dokter masuk memeriksa Hana, kemudian tersenyum.
"Tidak apa-apa, nanti boleh pulang kok, menanti pemulihan saja."
Pak Kimura tersenyum mengangguk menatap dokter itu, kemudian membungkukkan badannya.
"Terimakasih dok!" dokter itu pun mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
Pak Kimura kembali duduk, menghadap Hana, menatap Hana dengan tatapan yang begitu lembut, sehingga membuat Hana menunduk, ada rasa rikuh dan grogi tiba-tiba menyapa hatinya.
"Heiii, kenapa kau sembunyikan wajahmu, tidak tahukah kamu kalau aku menatapmu?" kata pak Kimura mengangkat wajah Hana dengan memegang dagu Hana.
"Sialan, begitu agresif sekali bos ini" batin Hana. Mata Hana terbelalak menatap pak Kimura. menyaksikan wajah bosnya yang tersenyum begitu manis.
"Han ... aku demikian khawatir melihat dirimu, rasanya begitu lama aku menunggu kau sadar, seakan-akan waktu tidak berjalan dan berhenti di satu waktu, dimana hanya ada saat kau tak sadarkan diri, sungguh aku begitu cemas, dan ...."
"Dan, apa Pak?"
"Dan setelah kau sadar, kenapa tak mengacuhkan aku?"
"Maksudnya?"
"Menatap aku saja, kau tidak Mau!" ucap pak Kimura kemudian menunduk.
"Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih, kau telah membantu aku, aku tidak tahu, apa yang akan terjadi padaku, seandainya Bapak dan Mbak Dewi tidak ada disini."
"Hanya itu?"
"Aku tidak mengerti maksud Bapak?"
"Apa kau tidak menangkap kecemasanku karena apa?" Hana menggeleng, tak paham apa maksud bos-nya.
"Aku ...." Tiba-tiba pak Kimura menjadi grogi.
"Ada apa, Pak?"
"Ti_ tit_ tidak, tidak apa-apa."
Tiba-tiba suara ponsel berbunyi, tepat di samping Hana, pak Kimura tersenyum, merasa lega, sambil mengelus dadanya, dan menghembuskan nafas lega.
"Halo, mas Defta?"
__ADS_1
"Halo Han, bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik Mas, bagaimana keadaan ibu?"
"Ibu, Alhamdulillah baik baik saja, aku justru mengkhawatirkan dirimu, apalagi kau sampai masuk rumah sakit, aku terus memikirkan mu."
"Aku sudah tidak apa-apa, nanti aku sudah boleh pulang, tak perlu lah terlalu memikirkan aku."
"Kenapa?, apakah karena kau sudah melupakan aku?"
"Bagaimana aku bisa melupakanmu Mas, Mas tahu kan, aku tidak mudah melupakan orang yang berjasa dalam hidup ku?"
"Lalu, kenapa ngomong kayak gitu?"
"Aku tidak bermaksud menyakitimu, aku minta maaf!"
"Sudahlah, mungkin aku tidak berarti lagi, bantuanku, perhatianku, tak ada gunanya lagi, karena kau sudah punya laki laki lain yang memperhatikan dirimu."
"Mas!" ucap Hana langsung duduk di tempatnya berbaring.
"Maaf, telah mengganggu!"
"Mas, Mas Defta!"
Tuut, tuut, tuut, terdengar suara ponsel yang di putus secara sepihak oleh Defta begitu saja. Hana membanting ponselnya disampingnya, ia geram menerima perlakuan Defta yang demikian kekanak-kanakan, ia sebel, belum aja, hatinya bisa tenang sepenuhnya, Defta menciptakan masalah baru untuk dirinya.
"Kenapa?" tegur pak Kimura.
Hana tak sedikit pun menjawab, airmata nya kembali mengalir membasahi pipinya, ia tidak tahu akan melakukan apa, tanpa sadar ia telah menyakiti hati seorang laki-laki yang sangat menyayangi dirinya, tapi Hana tidak bermaksud melakukan itu.
Disisi lain, Defta mengobrak-abrik seisi kamarnya, ia sangat merasa muak, merasa Hana tidak lagi membutuhkan dirinya, semua kenangan bersama dengan Hana, terlintas begitu jelas, senyum gadis itu, serta tingkah lakunya yang sangat membuat Defta sangat mencintai gadis itu, hanya karena cemburu, ia tanpa sadar membuat Hana menangis.
"Aku tidak suka melihatmu menderita, lalu apa yang harus aku lakukan untuk bisa membuatmu bahagia, Han?"
****
"Bolehkah aku memelukmu?" teringat kembali saat Hana akan berangkat ke Jepang, kenangan itu begitu indah dan manis, namun untuk kali ini telah mampu menghimpit jiwanya yang rindu.
****
Saat Hana dan dirinya pergi belanja kesebuah toko kain, saat mereka asyik dengan kejadian waktu itu, dan masih banyak lagi lainnya.
Defta meremas rambutnya, kemudian meninju kasur tempat ia duduk saat ini.
"Kenapa, Han ... kenapa kau harus dekat dengan laki-laki lain?"
Defta geram, giginya saling bertaut, sehingga terdengar suara gemeletuk akibat giginya yang bergesek itu.
Tok tok tok, terdengar suara pintu kamar yang diketuk dari luar, Defta hanya diam, menatap acuh.
"Siapa?"
"Saya, den ... ada mas Rega datang," jawab Bik Asti pembantu Defta.
"Suruh dia masuk!"
__ADS_1
Rega masuk, wajah nya terlihat terkejut melihat keadaan sekeliling yang begitu berantakan, dengan segera ia menghampiri Defta dan memegang kedua bahunya.
"Ada apa, Mas?" Defta hanya menggeleng.
"Atas nama Kak Hana, aku minta maaf, jangan perlakukan dia seperti ini." Defta masih diam
"Dengan melihatmu seperti ini, akupun ikut bersalah, Mas, kenapa?" Rega kembali mengguncang bahu Defta.
"Aku sangat sakit, Hana tak lagi menghiraukan aku."
"Kapan dia tidak menghiraukan dirimu, kapan kakakku itu menyakiti dirimu?"
"Dia tak mau aku terlalu memikirkan dirinya."
"Heh, Mas, bukankah sejak dulu kakakku memang seperti itu?, bukankah ia selalu menolak perhatian dari siapapun?, ini bukan untuk pertama bagimu kan?, lalu kenapa kau seolah baru mengenal kakakku?"
Defta diam seolah ingin mencerna perkataan Rega.
"Dulu, kau bilang padanya, kau mencintainya dan akan melakukan apapun untuk kebahagiaan nya, meski dia tidak mencintaimu, kau rela, ini apa?"
"Pernahkah dia menerima dirimu, pernahkah dia memberikan harapan padamu?, aku yakin, tidak pernah di lakukan olehnya, karena yang aku tahu dia hanya mencintai satu laki laki, dan kau tahu siapa laki-laki yang beruntung mendapatkan cintanya itu, tidak bosnya, tidak juga dirimu."
"Sekarang kenapa kau menuntut, kenapa kau sakit hati melihat dia dengan laki-laki lain?" Defta menunduk.
"Jawab aku, jawab, Mas!" seru Rega emosi.
"Kenapa kau buat kakakku menangis, kenapa kau tambah luka hatinya, sementara kau tahu, betapa saat ini dia begitu menderita, kemaren ...." Rega terisak, sehingga ia tersendat dalam berbicara.
"Kemaren, baru saja ayah kami pergi, dan dia sampai masuk kerumah sakit, tapi apa yang kau lakukan, kau tambah luka hatinya, kau buat dia menangis, tak kau angkat telepon nya, bahkan dengan kejamnya, kau matikan ponselmu, dimana hatimu, di mana rasa kasihmu, kenapa sampai hati melakukan ini?" Rega kian sedih.
Defta menunduk, menyesali semua yang telah diperbuatnya.
"Aku khilaf, aku tidak bermaksud menyakiti dirinya, aku terbawa emosi, aku sangat cemburu, sehingga aku tak sadar telah menyakiti hatinya."
"Apa kau tahu, ia sangat histeris, sampai sampai bosnya tidak sanggup menenangkan dirinya."
"Maaf, maafkan aku!"
"Kalau saja tidak ada orang lain yang baik padanya, apa yang akan terjadi pada kakakku, kenapa kau berubah?, apa kau ingin imbalan atas kebaikan mu selama ini pada kami?"
"Jangan katakan itu Ga, jangan katakan itu ...." Saat ini Defta tidak kuasa membendung air matanya.
"Begitu banyak derita yang ia rasakan, begitu banyak cobaan yang ia hadapi, kau adalah salah satu sumber kekuatan yang dimilikinya, karena dirimu ia rela melakukan apapun untuk keluarga ku, kau adalah poin berharga baginya, kau adalah inspirasi nya, tapi karena sikap yang kau tunjukkan tadi, ia menjadi wanita lemah, ia sangat hancur."
Ooooh ho ho, Defta menangis, merasa tersiksa sendiri dengan perasaannya saat ini, membayangkan bagaimana keadaan Hana saat ini.
"Tak pernah dia mengadukan perasaan nya, tak pernah dia mengakui penderitaan nya, tapi karena sikap Mas padanya, ia sampai menyuruh aku menemui mu, memohonkan maaf padamu, lalu apakah kau merasa bahwa kakakku itu tidak pantas mendapatkan maafmu?"
"Aku selalu memaafkan dirinya, aku bahkan terus mencintai nya, tapi aku tidak kuasa menahan kecemburuan ku, melihat pria itu memeluk dan membelai rambut Hana."
"Kalau kau tak mau memberikan maaf karena egomu, baiklah, tak usah lagi kau hiraukan kakakku, aku akan bilang kalau kami tidak akan mengenal dirimu, aku akan mengumpulkan uang untuk membayar semua yang telah kami pakai selama ini."
"Kenapa kau katakan itu, Ga ... aku tidak berubah, aku akan memaafkan dirinya, disini aku yang salah, aku yang harus minta maaf, tolong Ga ... jangan hakimi aku seperti ini."
"Tunggu apalagi, kak Hana menunggu kabar dari mu, telepon dia, kembalikan kebahagiaan kakakku!"
__ADS_1
Defta dengan jari gemetar, mengambil ponselnya, menekan tombol yang menghubungkan dirinya dengan Hana.