
Hari ini Andri pergi ke kampus agak pagi, karena ia mendapat teguran dari salah satu dosen nya, ia disuruh menghadap. Andri pun menuju ruangan dosen yang di maksud.
"Assalamualaikum," katanya sambil mengetuk pintu.
"Masuk!" jawab dari dalam, kemudian menyuruhnya duduk.
"Bapak memanggil saya?" dosen itu menatapnya lekat.
"Kamu tahu apa kesalahan mu?" Andri terdiam.
"Tahun ini kamu akan menyelesaikan skripsi mu, tapi aku perhatikan nilai kamu anjlok, banyak tugas-tugas kamu yang harus di revisi, kamu mau lulus tahun ini atau nggak?" lagi-lagi Andri hanya diam.
"An, sebenarnya kamu ada masalah apa, sampai cara belajar mu menurun drastis?" masih diam.
"oke, aku tidak punya urusan dengan masalah kamu, tapi karena nilai kamu jelek di mata kuliah saya , ya mau tak mau, aku memanggil mu kesini. Semua itu aku lakukan karena kamu adalah mahasiswa terbaik di tahun-tahun sebelumnya."
"Maaf, pak!"
"Kata maaf tidak bisa memperbaiki semuanya, yang jelas tanpa ada kesadaran dari kamu, semuanya akan sia-sia." Andri menunduk.
"Ya sudah, Hanya itu guna nya aku memanggil mu, semangat, kamu pasti berhasil!"
"Terima kasih pak, saya permisi dulu!"
Andri pun keluar dari ruangan itu, menuju taman belakang kampus nya. Nampak Shela di sana, namun gadis itu hanya cuek melihat kedatangan Andri. Andri mendekati nya, namun Shela tak acuh sama sekali.
"Shela, apakah kau marah padaku?"
"Enggak, kenapa aku harus marah?" jawab Shela dingin.
"Marah karena kejadian waktu itu?"
sebab sejak saat itu Shela berubah drastis padanya.
"Apa aku punya hak marah pada mu?"
"Shela, ini bukan kamu, Shela yang kukenal penuh dengan semangat."
"Terus, sekarang kamu ini siapa?"
"Maksudnya?" tanya Andri tak mengerti.
"Kamu bukan lah Andri yang dulu, kamu telah berubah, hanya karena seorang perempuan!" jawab Shela ketus, sikap yang tak pernah dia lakukan pada Andri.
Shela berdiri hendak meninggalkan Andri, tapi spontan Andri menggapai tangannya dan menahannya.
"lepas, An!"
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu."
"Apa mau mu?"
"Aku cuma ingin kau mengerti akan aku!"
__ADS_1
"Lalu, apakah kau mengerti akan diriku?"
"Apa maksudmu?"
"Kau memang tidak mengerti dan tidak akan pernah!" Shela menghempaskan tangan Andri, kemudian pergi begitu saja.
Andri meremas rambut nya, kepalanya pusing tujuh keliling. Kalau memungkinkan, rasa nya ingin sekali ia menjerit. Lama ia termangu dalam kesendirian nya. Mata kuliah pertama pun dimulai, Andri mengikuti pelajaran dengan tidak fokus sepenuhnya, sampai akhirnya, sembilan puluh menit waktu berlalu. Andri kembali menemui Shela, namun gadis itu berusaha untuk menghindari nya. Andri terus mengikuti nya, bahkan sambil berlari-lari kecil mengejarnya. Hana menuju perpustakaan kampus, pura-pura mencari buku, seolah ingin membacanya.Tak lama Andri pun sudah datang di dekatnya.
"Shela, ayo lah, jelaskan padaku apa masalahmu!"
"Benarkah, kau mau tahu?" jawab nya sinis.
"Ya, aku mau tahu."
"Apa peduli mu?"
"Setiap masalah mu senantiasa kau bagi dengan ku, tapi kenapa sekarang kau berubah?"
"Aku tak pernah berubah, kamu yang berubah, aku masih sama seperti dulu, An."
"Menurutmu mungkin tidak, tapi pada kenyataannya kamu berubah, kau tidak lebih dari seorang pecundang!"
"Kau bicara seolah aku telah menyakitimu?"
"Apa kau tak merasa menyakiti ku?, kau menyakitiku An, Kau mengecewakan aku."
"Kapan aku melakukan itu?"
"Tanyakan saja sama hati kamu!"
"Shela, katakanlah, aku benar-benar tak tahu!" bujuk Andri.
"Benarkah kau benar-benar tidak tahu?" Andri mengangguk.
"Apakah kau pikir aku mendekati mu itu karena apa?, karena aku mencintaimu An, lalu apakah aku tak sakit hati melihatmu seperti itu hanya karena wanita lain."
seketika air mata membanjiri wajahnya.
"Kamu ...."
"Apa kamu kira aku tak tahu?"
"Shela, aku ...."
"Pergilah engkau dari ku!"
"Shela ...." Andri memegang tangan Shela.
"Pergi!" Shela menjerit sehingga orang yang ada di ruangan itu melihat mereka.
Mengapa kau diam An, mengapa engkau tidak berusaha menenangkan aku .... Kata nya dalam hati. Sementara Andri duduk di bangku didekat nya, menyaksikan Shela yang menangis tersedu-sedu.
"Sudah lah Shela, malu sama orang."
__ADS_1
"Apa An, malu, aku gak malu, bahkan aku ingin satu dunia tahu kalau aku mencintaimu, agar kau hanya menjadi milikku" Andri terperangah menatap Shela.
"Mengapa, kau terkejut?"
"Dari mana kamu tahu akan semua itu?"
"Aku mendengar semua pembicaraan antara kau dan ibumu." kemudian Shela menggenggam tangan Andri.
"Rasanya sakit An, apakah tak sedikitpun ada rasa di hatimu untukku, tak menarik kah aku untukmu, kurang seksi kah aku, sehingga kau tak mencintai ku?"
"Shela, kamu sangat cantik!"
"Tapi kekasihmu lebih cantik bukan?"
"Shela ...." Andri memejamkan matanya, menatap Shela yang histeris, ia justru kian tersiksa. Andai saja engkau adalah Hana, betapa aku sudah memelukmu.
"Maaf kan aku Shela, maaf kan aku!" akhirnya Andri mengusap air mata gadis itu dengan sangat lembut, tapi usapan itu justru semakin membuat nya menangis, karena baru kali ini, pertama kali nya Andi menyentuh nya.
"Bolehkah aku memeluk mu An?" tanya Shela bergetar. Andri mengangguk pasrah.
Setelah Shela tenang Andri dan Shela akhirnya pulang. Andri mengantarkan nya sampai ke rumah nya. Setelah itu iapun langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah Andri langsung membersihkan badannya lalu merebahkan badannya yang terasa capek. Belum lama berselang, terdengar suara pintu diketuk Andri pun membukanya.
"Ada apa Bu?"
"Ayah memanggil mu!"
Aduh!, Tuhan ... ada apa lagi ini?, batinnya. Dengan bergegas ia menemui ayahnya di ruang tengah, kemudian duduk di hadapannya. Sekilas Andri menatap wajah ayah nya itu, tampak kemarahan di sana.
"Ada apa Ayah?"
"Masih bertanya apa kesalahan kamu?" Andri bingung tidak mengerti.
"Walau diam, apa kau kira aku tak memperhatikan mu?" Andri mulai mengerti kemana arah pembicaraan ayahnya.
"Kalau kamu tetap tergantung pada gadis desa itu, mau tak mau, aku akan mencabut semua nya, silahkan kau keluar dari rumah ini, aku tak mau punya anak yang tidak bisa diatur!" seketika darah muda Andri terkesiap.
"Apa maksudmu, Ayah?"
"Dari dulu aku membiarkanmu suka sama siapa saja, tapi kalau cinta itu membuatmu frustasi, itu sudah tidak benar, jadi mulai sekarang kalau kau tidak fokus pada kuliah mu, maka keluarlah kau dari rumah ini, ku berikan jalan padamu, cari dia, karena dengan menemukan dia mungkin kamu akan bahagia!" Andri berdiri, menatap ayahnya.
"Baik ayah, aku akan pergi!"
"Ooo, ternyata benar kau lebih memilih gadis itu dari pada orang tua mu sendiri, dasar tak tahu di untung!"
"Apakah selama ini aku kurang patuh pada ayah, semua keinginan ku sama sekali tidak ayah turuti, seakan-akan aku hanya lah seorang anak tiri, atau aku memang bukan anak kandung mu?" ibunya yang mendengar perdebatan mereka langsung mendekat.
"Sudah lah yah, cukup!"
"Memang mengapa, dia memang anak yang susah di atur."
"Kapan aku menolak keinginan ayah?"
"Pergilah, kalau kau mau pergi!"
__ADS_1
Andri berjalan menuju kamarnya dengan maksud mengemas baju nya, tapi ibunya menangis sejadi jadinya sehingga Andri mengurungkan niatnya.