
Hana bersama dengan beberapa temannya, telah sampai di Jepang hari ini, mereka menempati sebuah asrama yang di sediakan oleh perusahaan di mana mereka bekerja.
Hana satu kamar, dengan salah satu karyawan yang sudah bekerja setahun sebelumnya.
Dewi, nama gadis itu.
Saat ini, di Jepang, sedang musim semi, bunga sakura bermekaran, warna warni, seakan menggambarkan suasana hati yang bahagia, mungkin, itu adalah milik sebagian orang, namun, ya, kembali pada perasaan Hana, di antara bunga bermekaran, dan ramainya hiruk pikuk di kota itu, bukan mewakili suasana hatinya kali ini, badannya berada di Jepang, tapi hatinya berada jauh ... nun di sebrang Indonesia.
"Hai ... apa kabar kawan ... kenapa engkau bermuram durja?" tanya Dewi, dengan nada bercanda. Sedangkan Hana hanya tersenyum.
"Kakak kah, yang menempati ruangan ini?"
" Ya, semoga kau adalah partner yang bisa membuat ku betah di tempat ini!"
"Berarti kau, Kak Dewi?"
"Ya, aku Dewi, kau Hana, bukan?"
"Ya, aku Hana!"
" Kau datang dari mana?" Hana menjawab dan menyebutkan asal kampung, di mana ia berasal.
Mereka akhirnya terlibat percakapan yang sangat serius. Hana menceritakan mengapa harus sampai ke Jepang, untuk mencari pekerjaan.
" Lalu, bagaimana keadaan ayahmu sekarang?"
"Saat ku tinggalkan, ia dalam keadaan baik-baik saja. Untuk saat ini aku belum berkabar!"
"Hubungi saja keluargamu, besok setelah kau bekerja, tentu waktu akan sangat terbatas, kau harus pandai-pandai membagi waktumu, apa lagi kalau kau ingin mendapatkan gaji ekstra."
Hana mengangguk, kemudian mengambil ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Ga ... mana ibu?"
"Waalaikumsalam Kak Hana ... apakah Kakak sudah sampai?"
"Ya, Kakak sudah sampai satu jam yang lalu!"
"Sebentar, aku masuk dulu, Kakak mau ngomong sama ibu dan ayah, bukan?"
"Ya, mereka sehat 'kan Ga?"
"Ya Kak, Kakak sehat juga?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, iya!" Rega memberikan ponselnya pada ibunya.
"Halo ...."
"Ya, Assalamu'alaikum Bu, Ibu sehat?"
"Waalaikumsalam, Ya, Ibu sehat dan baik-baik saja, begitu pula dengan Ayahmu."
"Aku sangat senang, semoga saja kesehatan selalu menyertai kita, apa Ayah sedang tidur?"
"Iya, Ayahmu baru saja tidur."
"Ya sudah, kalau Ayah tidur, yang penting ayah sehat-sehat saja, aku sudahi dulu ya, Bu!"
Belum sempat Hana menutup telepon nya, terdengar suara ayahnya, meminta ponsel karena ingin berbicara pada Hana.
"Hana ... kau sudah sampai, sayang?"
"Assalamu'alaikum, Ayah, ya Ayah, Hana sudah sampai!"
"Waalaikumsalam, kamu tahu, Ayah sudah sangat merindukan kamu Hana!"
"Ya, Hana pun demikian, dan akan selalu merindukan Ayah, karena Ayah tahu kan ... kalau Hana sangat menyayangi Ayah."
"Tiada seorang anak yang bisa membuat Ayah bangga, kecuali dirimu, Ayah berharap kau akan sesegera mungkin akan kembali."
"Gi mana, apakah kamu sudah tahu tempat kamu praktek?" Hana terkejut mendengar pertanyaan Ayah nya, darahnya terkesiap, belum sempat Hana akan memberikan jawaban, ayah nya kembali berkata.
"Ayah yakin, tempat praktek kamu, pasti memiliki fasilitas yang cukup modern dan lengkap, betapa ayah bangga, nanti kau pulang pasti akan menjadi seorang dokter yang handal dan berpengalaman."
Tak urung, kata-kata ayahnya membuat air mata Hana jatuh kembali berderai, hatinya bagaikan tersayat oleh sembilu yang begitu amat tajam. Bagaimana ia akan menjadi seorang dokter, sedang ia tidak lagi kuliah, mungkin hanya satu yang bisa ia banggakan, ia berani berkorban hati dan perasaannya, demi sebuah kesembuhan ayah nya.
"Han ... kenapa engkau diam?"
"Ti_ tidak Ayah, Hana berharap semoga saja, kata-kata Ayah, menjadi kenyataan, aku akan menjadi seorang dokter yang hebat dan menjadi kebanggaan Ayah!"
"Walaupun malam demi malam Ayah lalui, tanpa kehadiran mu, Ayah akan mencoba untuk bersabar, semoga umur Ayah panjang dan kita akan bertemu kembali!"
"Aamiin, Ayah!"
"Ya sudah, sekarang Ayah sudah lega, Ayah sudah mendengar suara anak Ayah, kamu baik-baik saja di sana, kamu jaga diri dan jangan lupa jaga kesehatan mu."
"Ayah juga, jaga kesehatan Ayah!"
"Ya, akan Ayah jaga kesehatan Ayah demi kebaikan kamu dan keluarga kita, sekarang kamu pasti capek, kamu istirahat saja dulu!"
__ADS_1
"Ya, Assalamu'alaikum, Ayah!"
"Waalaikumsalam." Percakapan pun terhenti sampai disitu, Hana kembali termangu, kembali teringat akan ganasnya penyakit ayah nya. Tanpa sengaja, terbayang olehnya akan ayah nya, dalam bayangan nya, bagaimana seandainya ayah nya kambuh disaat dirinya tidak ada di samping ayah nya, bagaimana seandainya ayah akan kembali pada sang pencipta sedang ia tak bisa pulang, melihat ayahnya?
Bayangan itu muncul begitu saja, Hana mendesah lirih, mencoba menepis bayangan itu.
"Ya Tuhan, berikan kesembuhan pada ayahku, biarkan kami berkumpul kembali ...."
Doa demi doa terus menerus di ucapkan oleh Hana, sehingga harapan demi harapan kembali hadir dalam benak Hana, sehingga semangat pun, kembali hadir, mencari uang untuk biaya kesembuhan ayah tercinta.
"Kamu masih melamun, sudahlah, pasrahkan segala nya pada sang Kuasa, kalau kita ikhlas, semua pasti akan baik-baik saja."
"Terimakasih, aku sangat bersyukur punya teman baru seperti dirimu, mungkin Tuhan, mengirimkan mu untuk menjadi benteng pertahanan ku di sini, sehingga aku tidak menjadi manusia yang lemah."
"Besok, kamu akan mulai bekerja, mengikuti pelatihan, jadi sekarang, mari kita pergi jalan-jalan, menikmati suasana Jepang dalam keadaan tanpa batas dan jarak!" Hana tersenyum mengangguk.
"Dulu, Jepang hanya ada di khayalan mu, sekarang mari buktikan, seorang Hana sudah ada di Jepang, ha ... ha ..."
" Kak Dewi, kau lucu!"
"Semoga, kau bisa hidup damai bersama ku disini, menjadi pendampingku, menemani tidurku, memberikan yang kuinginkan."
Hana merinding mendengar ucapan Dewi, tiba-tiba suara gadis asing itu berubah begitu garang, sadis dan menakutkan. Apa lagi tatapan matanya, penuh kebencian, tangannya meraih tangan Hana dengan kasar, dan memegangnya dengan sangat erat. Hana benar-benar ketakutan. Keringat dingin mulai keluar. Yang teringat di benak Hana adalah, bagaimana seandainya Dewi adalah sosok wanita yang menyukai sesama jenis?
Dewi berubah tersenyum, memandang Hana penuh arti, pegangan tangannya berubah lembut, Dewi menyadari perasaan takut Hana.
"Hei ... kawan, semudah itu aku menakuti mu, percayalah aku adalah orang baik, kalau aku tidak baik, mana mungkin aku akan bertahan sampai sekarang ini!" Hana masih ketakutan. Masih tegang.
"Han ... jangan takut ...." ucap Dewi lagi, sambil menepuk bahu Hana dengan tangan kirinya. Tersenyum kembali.
"Kamu tahu, aku adalah pemain teater terbaik di sekolahku dulu, nggak salah 'kan ... aku menunjukkan bakat pada mu?" Hana menarik nafas panjang dan lega.
"Sungguh Kak, kukira kau adalah seorang Homoseks, sorry ...."
"Ha ... ha ... ha ...." Dewi terbahak, sungguh di luar dugaan hasilnya, masak kamu berfikir sampai ke sana!"
"Aku benar-benar takut, sumpah!"
"Tak ada yang perlu kau takutkan, dari seorang Dewi."
Mereka akhirnya pergi menikmati suasana Jepang, hari ini, mencoba mengesampingkan semua masalah dan segala duka, Dewi benar-benar membuat Hana melupakan dukanya hari ini.
Semoga saja, Dewi adalah sesosok manusia yang dikirim Tuhan, untuk menjadi seorang teman sejati buat Hana.
Maaf ... author akhir-akhir ini agak lama up date, author lagi sibuk ... banget!
__ADS_1
Sorry ... so much! ♥️♥️♥️
Author punya novel baru yang sekarang sudah berhasil rilis, jangan lupa baca dan komentar nya. (Ayah Anakku Kakak Kekasihku)