
Shela berhenti di lorong rumah sakit, tak jauh dari tempat mereka tadi, ia memegang kedua tangan Rega, seperti ia telah mengenal laki laki itu begitu dekat.
"Lepaskan aku, jangan sok akrab!"
"Oke, tapi dengarkan aku."
"Apa sebenarnya yang akan kau tunjukkan padaku, kenapa harus kemari."
"Hei ... apa kamu tidak bisa diam, kau nyerocos saja sejak tadi."
Shela tas selempang yang dipakainya, ia sengaja membawa tas itu untuk membawa sesuatu yang akan dia tunjukkan pada Rega. Beberapa helai kertas putih, dan ia menyerahkan nya pada Rega, setelah melihatnya, Rega sempat terkejut, ia menatap tak berkedip kearah Shela.
"Apa kau yakin?" Shela mengangguk.
Shela membawa Rega duduk disebuah bangku panjang, ia terdiam, seakan memikirkan perkataan apa yang bisa membuat pemuda disampingnya luluh.
"Apa dengan melihat itu, kau juga tak mengijinkan Andri untuk bertemu dengan Hana?"
"Tidak, aku tak akan rela, aku tak sudi, saat sehat saja kakakku tak mau bertemu dengannya, jadi sudah menjadi kewajiban aku untuk menjaganya dari orang yang tega menyakiti hati nya."
"Apa kau tak merasakan betapa Mas Andri sangat mencintai kakakmu?"
"Dengan mengkhianati nya?"
"Dia tak pernah mengkhianati nya, dia hanya mencintai kakakmu!"
"Cih, berapa jumlah uang yang kau terima hingga kau tega melakukan semua ini pada kakakku?"
"Uang ... apa maksudmu?"
"Kau dan Andri sengaja menghancurkan kakakku, kau sengaja mengambil ginjal kakakku."
"Kenapa kau begitu berprasangka buruk padaku, bukankah aku sudah menjelaskan, kakakmu justru menolong aku yang menginginkan kematian, aku benci kenapa dia melakukan semua ini, dia mendonorkan ginjalnya, itu bukan kemauanku, aku tak tahu!"
"Kau dan Andri hanya ingin kakakku menderita, itu sebabnya kau dan dia mau membunuh kakakku perlahan-lahan."
"Andri, percayalah Mas Andri hanya mencintai kakakmu, dia hanya mencintai Hana."
"Sandiwara apalagi yang akan kau perankan, masih kurang kah kau membuat kakakku tak berdaya seperti itu?"
"Aku sedang tidak bersandiwara."
"Apa kau tak yakin melihat ini?" tanya Shela sambil mengarahkan lembaran kertas itu pada Rega.
"Apa Andri memaksamu?"
"Rega ... cobalah tenang ... Aku melakukannya sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun, karena aku sudah tak sanggup lagi menjalani semuanya."
"Aku tidak akan percaya, aku tak mau kakakku lebih menderita, aku tak akan pernah mengijinkan Andri untuk bertemu dengan kakakku."
Rega berdiri, ia berjalan beberapa langkah, shela kehabisan cara bagaimana menghadapi Rega.
Sebelum jauh melangkah, ia harus menghentikannya, Shela terus berpikir.
"Stop, berhenti!"
__ADS_1
Rega berhenti, ia membalikkan badannya, menghadap pada Shela lagi.
"Kumohon ... dengarkan aku, Ga!"
Shela kembali mendekati Rega, dan kembali membawanya duduk.
"Dengar, apa kau tak pernah jatuh cinta, atau mengetahui sedikit saja tentang cinta?"
"Aku tidak mau jatuh cinta!"
"Kata orang, jika kita mencintai seseorang, maka kita akan melakukan apa saja yang bisa membuat orang yang kita cintai itu bahagia!"
"Lalu?" Rega mulai terpancing.
"Nah, itu lah yang dilakukan kakakmu!"
"Maksudmu?"
"Sama seperti aku, karena rasa cinta dan sayang ku pada Mas Andri, maka aku ingin menyatukan mereka."
"Kau sudah tak waras!"
"Cobalah dengarkan aku dulu."
"Oke, aku dengar, jangan membuat aku semakin marah!"
Seperti yang aku katakan tadi, orang yang mencintai seseorang, maka akan melakukan apapun untuk kebahagiaan orang yang dicintainya, nah mari kita memakai logika kita."
"Bagaimana?"
"Kakakmu mendonorkan ginjalnya untuk aku, dan dia tahu jika aku adalah istri dari orang yang dicintainya, menurut dia Andri akan bahagia jika aku selamat, tak peduli dia akan menghadapi maut atau apapun."
"Ga ... Aku ingin kau mengijinkan Andri untuk bertemu dengan Hana, yakinlah ... hanya Andri yang bisa membuat kakakmu sadar."
"Kenapa kau yakin dan jangan mulai lagi, atau aku akan pergi!"
"Aku ...." Shela mulai berkaca-kaca.
"Sudah lama kami menikah, tapi ...."
pecah tangis Shela, ia tak kuasa lagi menyembunyikan kesedihannya, kesedihan yang tiada seorangpun yang tahu. Tapi entah mengapa ia mengatakan semuanya pada Rega, pemuda yang tak kenal padanya.
"Tapi apa?"
"Andri tak pernah mengkhianati kakakmu, sungguh dia tak pernah menyentuh aku!" Rega terhenyak.
Sangat terkejut, tak percaya.
"Kamu serius?"
"Untuk apa aku bohong, aku hanya ingin memastikan bahwa Andri akan baik baik saja, aku bisa merasakan rasa sakitnya saat kau tak mengijinkan dia untuk menemui kakakmu, selama ini ia ingin menjelaskan bagaimana sebenarnya, tapi kalian tak pernah memberikan dia kesempatan."
"Lalu, kenapa kau justru membantu suamimu?"
"Karena satu alasan, aku ingin melihat dia hidup bahagia, dan.aki juga ingin melanjutkan hidupku, dengan berpisah darinya."
__ADS_1
"Apa aku bisa percaya?"
"Percayalah, aku tidak main-main, aku serius ...."
"Jadi apa yang bisa aku lakukan?"
"Persatukan mereka!"
"Apa mungkin?"
"Ga, seperti yang aku bilang tadi, Hana mendonor ginjalnya untuk aku, karena dia ingin melihat Andri bahagia, sementara dia salah, Andri justru akan menderita dengan keadaannya, mereka akan bahagia jika mereka bersatu, maka mari kita lakukan semua, sebelum terlambat."
"Caranya?"
Shela membicarakan rencananya, dan setelah bersusah payah meyakinkan, akhirnya Rega menuruti rencana yang dibuat oleh Shela, dan hanya mereka berdua yang tahu rencana itu.
"Ijinkan Andri menemui kakakmu!"
"Baiklah, aku akan bicara pada Andri."
Rega berjalan melalui lorong, kembali ke ruangan dimana Hana dirawat, sudah lebih dua minggu, Hana belum sadar, semua itu membuat nya sangat sedih, apalagi Ibunya.
Andri berdiri didepan pintu, saat Rega datang, ia bermaksud akan pergi, tapi Rega menghentikan langkah nya.
"Kau mau kemana?" Andri menoleh.
"Kau bicara padaku?"
"Cepat temui kakakku!"
"Kau mengijinkan aku bertemu kakakmu?"
"Apa kau ingin aku berubah pikiran?"
"I_ iya, aku akan menemuinya."
"Tunggu apalagi, cepat masuk!"
Saat ini, sikap Rega terlihat dingin dan arogan, tepatnya setelah pertemuannya dengan Hanna terakhir kali.
Andri membuka pintu itu dengan gemetar, saling bahagianya, ia bahagia bisa menemui Hana, Bu Fatmi yang berada didalam terkejut melihat Andri masuk bersama dengan Rega, karena ia tahu Rega sangat membenci Andri.
Rega meminta ibunya untuk keluar, dengannya, jadi Rega benar benar memberikan kesempatan pada Andri untuk bersama dengan kakaknya.
Bu Fatmi masih bertanya tanya, ada apa sampai Rega mengijinkan Andri untuk bertemu dengan Hana.
Sementara itu, Andri yang telah sekian tahun merindukan yang terbujur tak berdaya itu, tak kuasa lagi menahan air mata nya, ia memeluk Hana penuh kerinduan, membelai wajahnya yang terlihat pucat.
Rega menyaksikannya dari luar, ia bisa merasakan betapa pelukan Andri itu sangat tulus, dan ia semakin yakin akan melakukan rencananya bersama dengan Shela.
"Hana ... bangunlah sayang, aku disini menantimu, aku hanya bisa hidup jika kau ada bersamaku."
Lagi lagi Rega merasakan kesedihan yang begitu dalam
"Ya ... semoga belum terlambat, aku akan melakukan segalanya."
__ADS_1
Tekat Rega bulat.
🌹hai ... pembaca yang terkasih, jangan bilang kalian menyukai karya ini tapi tak memberikan dukungan, tinggalkan komentar kalian dikolom komentar, dan jangan lupa tinggalkan like juga, author berharap semoga karya ini mendapatkan nilai baik, jadi tunjukkan dukungan kalian!🌹🌹🌹