Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 25 Pelukan Pertama Dan Terakhir


__ADS_3

Hana dan Defta berangkat ke bandara, pagi-pagi sekali, sekitar pukul setengah sembilan. Karena Hana akan terbang pukul sepuluh, pagi ini.


Tiada lagi canda diantara mereka, keduanya diam membisu, menatap lurus ke depan, keduanya seakan terbawa keadaan, suasana hati mereka yang gundah gulana, saat ini.


Hana merasa, kepergian nya, sangat menyakitkan, bagaimana tidak, ia pergi meninggalkan secercah luka, luka yang begitu dalam, untuk orang-orang yang begitu di cintai dan mencintainya. Luka akan rasa takut, takut karena perpisahan yang panjang dan lama.


Defta memberanikan diri untuk mengangkat tangan nya, menyentuh jari-jari tangan mungil Hana, menciumnya, dengan segenap hati, mencoba menghapus segala pengharapan, harapan untuk memiliki hati Hana.


Kali ini, Hana sama sekali tidak menolak, atau menarik tangannya, di biarkan nya Defta menggenggamnya, justru Hana memalingkan wajahnya, air matanya menetes membasahi pipinya.


Hana mencoba menyembunyikan kesedihannya, tapi terasa olehnya, setetes air jatuh di atas lengan nya, Defta pun menangis. Mau ke tak mau, Hana menoleh, saat itu pula, Defta menatap nya, mata bertemu dengan mata, keduanya kian larut dengan kesedihan mereka, Defta tetap menggenggam tangan Hana dengan kedua tangannya, masih di depan bibir nya, masih menciumi nya.


"Han, maafkan aku ... sesungguhnya aku tidak berhak, melakukan ini padamu, aku hanya orang asing, aku ...." Defta tidak sanggup meneruskan kata-katanya, air matanya tambah deras saja, Defta benar-benar tersiksa dengan perasaannya, Hana menggeleng.


"Hari ini kau bebas melakukan nya Mas, aku izinkan!"


"Kau tak marah ... aku menggenggam tanganmu, seperti ini?" Hana kembali menggelengkan kepalanya, bahkan Hana menghadap Defta, tangannya meraih wajah Defta, dihapus nya air mata pria itu.


"Mengapa engkau menangis, Mas?"


"Aku benar-benar takut, aku takut kepergian mu, adalah awal jauh nya kau dari diriku, aku takut, kau akan melupakan aku yang mencintaimu."


"Tak ada yang akan aku lupakan dari mu, disepanjang kehidupan, aku berjanji, kau akan selalu tetap berada dalam ingatanku!"


"Benarkah?" bagai sebuah obat, kata-kata Hana mampu menenangkan hati Defta yang kalut.


"Han, walaupun kau tak mencintaiku, jangan pernah kau abaikan diriku, dengan perhatian mu yang sedikit ... saja, akan membuat aku bahagia."


"Tentu, Mas." Tanpa terasa mereka sudah sampai di air port, supir taksi yang mereka tumpangi, tak sampai hati memanggil mereka, supir itu tersenyum, menyaksikan pemandangan yang begitu romantis di hadapannya, karena dirasa sudah lumayan lama, supir itu, men dehem, Defta menatap kemuka, menatap supir taksi itu, supir itu tersenyum, mengangguk pada Hana dan Defta, sontak Defta melepaskan genggaman tangannya, mendadak tersadar kalau mereka sudah sampai.


"Sudah sampai ya, Pak?"

__ADS_1


"Ya,Mas, mari silahkan turun!"


"Ya, tolong ya Pak, bantu keluarkan barang barang kami." Supir itu mengangguk.


Disesi lain, di air port, tampak Andri mencari-cari Shela, ia terus berjalan, menuju tempat yang di janjikan oleh Shela padanya. Andri kelihatan sangat santai dan lega, mendapatkan sosok Shela yang berdiri melambaikan tangannya. Tapi sebelum Andri sampai di tempat Shela, ia terkejut dengan apa yang di lihatnya.


Bukankah ... itu Hana?, batinnya, dengan mengucek mata berkali-kali, ia menatap kembali ke arah Hana, seketika kakinya mundur, hati nya seakan tak percaya, dengan siapa Hana saat ini,


Mas Defta.


Dalam keterkejutan Andri, Hana dan Defta tidak menyadari kalau saat ini, Andri sedang memperhatikan mereka. Mereka asyik dengan perasaan mereka yang entah, bagaimana!, Defta menatap Hana, membelai rambut nya yang tergerai oleh angin, Hana hanya tersenyum.


"Han ... boleh kah aku memelukmu?" Hana memandang Defta dengan tatapan penuh arti, kemudian mengangguk, mengiyakannya.


Defta langsung memeluk dengan sangat erat, membuat siapapun yang melihatnya akan salah paham, dengan kedekatan mereka. Tak luput halnya dengan Andri, yang masih mematung menjadi saksi kemesraan mereka kali ini.


"Aku sangat mencintaimu, Han ... "


"Mungkin, aku memang tidak di takdir kan untuk mendapatkan cintamu, tapi, dekat denganmu begini, aku sudah merasa bahagia, jangankan memiliki mu, dapat kesempatan memeluk mu saja, aku sudah bahagia, Han .... Maaf, aku tak bermaksud mengambil kesempatan, mungkin ini adalah kali pertama dan terakhir aku bisa memeluk mu, seperti ini."


"Mas, aku pamit, aku titipkan keluarga ku padamu, jaga mereka, seperti engkau menjaga keluargamu sendiri, aku memang jauh dari kalian, tapi aku selalu bersama kalian."


"Pasti Han ... aku pasti menjaga mereka, seperti engkau menjaga mereka." Jawab Defta melepaskan pelukannya.


"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, tak mungkin aku bisa melewati semua ini, tanpa adanya Mas Defta, di sisiku."


"Andai saja, perusahaan ku sudah berkembang, tentu aku tak akan membiarkan mu pergi sejauh ini, aku sama sekali tidak ingin kau pergi, Han ...."


"Tak ada gunanya berandai-andai untuk saat ini, yang penting adalah, kita harus ikhlas, maka insyaallah, semua akan berjalan baik-baik saja."


"Kau selalu bersikap dewasa, bahkan kau lebih dewasa dari umur mu!"

__ADS_1


"Kalau saja aku menceritakan penderitaan ini, maka tak cukup waktu satu hari, untuk menceritakannya."


" Aku paham, kau pasti sangat tersiksa dengan keputusan ini, tapi percayalah, pengorbanan yang kau berikan untuk orang tua mu, akan membuahkan sesuatu yang tidak kita duga."


"Insyaallah, Mas, Amiiiin!"


Defta mengusap pipi Hana yang masih menyisakan tetesan air mata, kembali di peluknya Hana, dengan sedikit ragu, Defta mendekatkan wajahnya ke wajah Hana, merasa tidak ada penolakan, Defta memberanikan diri untuk mencium lembut bibir Hana, lembut.


Hana sedikit terkejut, terbelalak menatap Defta, sedang Defta tersenyum, kemudian menggenggam kembali tangan Hana.


"Maaf, aku terbawa perasaan, izinkan aku untuk selalu mengenang momen ini, semoga saja, Tuhan menjadikan hatimu, menjadi milikku!"


Hana tak menjawab, bagaimanapun, Hana merasa tidak nyaman dengan kecupan Defta tadi, tapi karena ia menyadari Defta sangat mencintainya, maka ia berusaha untuk tidak menyakiti hati laki-laki yang selalu ada untuknya itu.


"Sudahlah Mas, aku harus masuk dalam pesawat, aku harus berangkat, do'akan aku dapat menjalani semua."


"Pasti sayang ... , aku akan selalu berdoa untuk kebaikanmu."


Defta melepaskan tangannya, ada sesuatu yang hilang, seiring kepergian Hana, hatinya hancur, remuk berkeping menjadi pecahan-pecahan kesedihan yang tidak terkira. Hana pergi dan entah kapan akan kembali.


Sementara itu, Andri masih tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya, Hana bersama dengan Defta. Ya, pasti mereka sudah menikah, mereka terlihat sangat mesra.


Semua fakta, bagi Andri sudah terungkap, Hana sudah melupakan dirinya, Hana sudah mengkhianati nya, menikah dengan pria lain.


Bayangan masa lalu, membuat Andri kian sakit, sakit karena merasa penantiannya telah kandas, padahal, itu hanya anggapan nya saja, sementara Hana juga masih setia dalam penantian nya.


"An, kamu lihat apa?"


"Ng ... tidak ada, ayo kita pulang!" ajak Andri.


Dalam perjalanan pulang, Andri hanya membisu, hanya sesekali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan Shela.

__ADS_1


💓Maaf ya, readers terkasih, author tidak up date beberapa hari ini, author lagi sibuk dengan kegiatan puasa, lagi banyak order jahitan, sorry ya ...💓💓


__ADS_2