Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 33 Pertunangan Andri dan Shela


__ADS_3

Hari ini, adalah hari yang sangat menyenangkan dan membahagiakan bagi Shela, bagaimana tidak, Andri telah mengikat nya, sepasang cincin telah mereka pakai, ya, hari ini Andri dan Shela resmi bertunangan.


Binar kebahagiaan terpancar begitu terlihat di mata Shela, penantiannya yang panjang, akhirnya berakhir juga di tahap yang indah itu.


Setelah mereka selesai memakaikan cincin, dijari mereka, mereka saling pandang, seakan mematri hati mereka yang saat ini mulai bertaut.


Andri menggenggam erat tangan Shela, ia tersenyum penuh arti, dengan segenap keyakinan dalam hati, ia mencoba menyerahkan seluruh hatinya pada Shela.


"Shela ... apakah kau bahagia?"


"Aku sangat bahagia sekali, betapa lamanya aku menanti momen ini, akhirnya terjadi jua." Andri tersenyum.


Terdengar suara sorakan yang begitu ramai, yang hadir di acara itu meneriakkan agar Andri memberi sebuah kecupan pada Shela.


"cium!, cium!, cium!" Andri tersenyum dan sedikit agak canggung memberikan kecupan di pucuk kepala Shela. Shela yang terpancing langsung memeluk Andri dengan sangat erat.


"Shela ... sudahlah, malu!" bisik Andri.


"Maaf, aku terbawa perasaan!" Shela tersenyum, menatap Andri yang berusaha melepaskan pelukannya. Setelah acara demi acara berlalu, para tamu undangan menuju ruangan untuk acara makan bersama di tempat yang telah di sediakan. Berbagai hidangan ada di jamuan itu.


Shela mengambil seporsi makanan, ia membawanya ke dekat Andri yang saat ini sedang bercengkrama dengan rekan kerjanya yang sengaja mereka undang.


"Hai sayang, makan ya, aku suapin!"


"Aku bisa sendiri, Shel ...."


"Aduh ... romantisnya ... cie cie...." Andri tersenyum mendengar godaan teman-temannya.


"Jadi pengen nih ...." Sela yang satu lagi.


"Kalian kayaknya pacarannya sebentar, eh, tahu tahu sudah tunangan, gimana sih rahasianya, agar cepat?"


"Pepet terus ..."Jawab yang lainnya.

__ADS_1


"Emangnya mobil dipepet?" jawab Shela.


"Kalau nggak di pepet ditempel?"


"Nggak bocor kali di tempel!"


"Lalu di apakan dong ...."


"Di hamilin aja, kan cepet jadinya!" semua yang ikut nimbrung, mendelik kearah suara itu.


"Iiih ... Mas Lukman, mesum banget, jangan jangan mbak lusi nya sudah hamil, saat nikah sama Mas, sebulan lalu?" jawab seorang wanita yang baru aja gabung. Sementara laki laki yang bernama Lukman itu hanya cengengesan.


Andri menerima saja saat Shela menyuapi nya, mereka makan dalam satu piring, setelah menyuapi Andri iapun menyendok untuk dirinya sendiri, bergantian.


Acara makan pun selesai, ada yang berpamitan untuk pulang, ada juga yang masih asyik dengan bergabung pada acara dansa, Andri dan Shela tampak duduk saja di kursi, memandangi tamunya yang kelihatan masih semangat. Shela memandang wajah Andri yang sangat tampan pada malam ini. Andri yang menyadari itu tersenyum saja, tanpa memberikan reaksi. Ada sesuatu yang lain dari dirinya, ia merasa lega telah meminang Shela, tapi sungguh tidak bisa di pungkiri, sampai sejauh ini, kebahagiaan yang ia rasakan bersama Shela, tidak sama bila dibandingkan saat ia bersama dengan Hana. Apakah ini pertanda bahwa Andri belum bisa mencintai Shela?


"Mas ... kau masih memikirkan Hana?" Andri menoleh, menatap Shela kembali. Kemudian menggeleng.


"Kenapa berfikir seperti itu?"


"Tidak, kau tak perlu melakukan apapun, kau mau membantuku untuk melupakan Hana saja aku sudah sangat berterimakasih padamu."


"Mas ... setelah kita menikah, kumohon jangan lagi ada, apa pun itu, yang kau tutupi dariku, aku akan mencoba menjadi istri yang baik untukmu."


"Ya, aku pun demikian, seandainya nanti kau sudah tidak tahan hidup bersama dengan ku, katakan saja terus terang, kapanpun engkau meminta berpisah denganku, aku akan mengabulkan." Shela merinding mendengar penuturan Andri.


"Mas ... kalau kau menikahi aku hanya untuk berpisah denganku, lalu untuk apa kita menikah?"


"Jangan salah paham, Shel ... aku berkata seperti itu, mana tahu, aku tidak mampu membuatmu bahagia, maka jangan siksa dirimu karena bertahan hidup bersama denganku."


"Tuhan telah mempertemukan kita, dan hanya Tuhan pula yang akan memisahkan kita, aku berjanji, setelah aku menjadi istrimu, aku akan tetap berjuang untuk hidup bersama, walaupun aku tidak mendapatkan cintamu sepenuhnya."


"Bicara itu tidak semudah menjalankan, Shela."

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu, Mas ...."


Tiba-tiba seorang gadis datang menarik


tangan Andri, membawanya ketempat dansa, Shela hanya tersenyum, dan seorang lelaki pun datang menjemput Shela. Mereka saling berdansa, tapi pada akhirnya, pasangan pun berganti, Andri dan Shela kini menjadi pasangan.


Mengikuti irama musik yang begitu merdu, mereka akhirnya saling menautkan badan, tangan Andri memegang pinggang Shela, sementara tangan mereka saling berpegangan, sebagaimana layaknya orang yang berdansa pada umumnya.


Malam ini, sungguh menjadi malam yang berbeda untuk Andri dan Shela, tapi entah mampu membuat Andri berpaling dari Hana atau tidak, yang pasti Shela sangat bahagia malam ini.


"Shela ... malam sudah begitu larut, baiknya aku pulang dulu, kamu pun harus istirahat bukan?"


"Ya, aku juga berpikir seperti itu, mari kita sudahi acara ini."


Para tamu pun sudah tinggal beberapa orang, semua pulang, satu persatu, hingga acara benar benar selesai, Andri pun pamit untuk pulang.


Ditengah perjalanan pulang, mobil yang di kemudikan oleh Andri terasa oleng, seperti menabrak sesuatu, Andri berhenti, ternyata ada bongkahan batu yang entah mengapa ada di tengah jalan. Andri menepikan batu itu, kemudian kembali masuk kedalam mobilnya. Saat mau duduk dan siap menjalankan mobilnya, tiba-tiba sesuatu jatuh tepat di depannya.


Andri merasa penasaran, gerangan apa yang telah mengusik ketenangan hati nya.


Tangan nya meraba-raba kearah bawah, mencari-cari dengan sebelah tangan kanannya. Seperti sebuah lingkaran, Andri menemukan benda itu, lalu melihat nya.


"Gelang ..." Andri meletakkan begitu saja, tapi mengambilnya kembali. Memandangi nya. Gelang itu adalah hadiah ulang tahun yang di berikan oleh Hana padanya. Tepatnya, saat Andri ulang tahun terakhir kali di desa waktu itu, setelah ulang tahun itu, Andri pindah ke kota. Boleh di bilang, gelang itu adalah hadiah terakhir dari Hana, dan ia menyimpan gelang itu sudah lama. saking lamanya ia tak bisa menemukan gelang itu walaupun sudah mencarinya. Tapi mengapa, gelang itu datang sendiri, jatuh di hadapannya di saat ia bertunangan dengan Shela.


"Apakah kau tidak ingin aku melupakanmu, Han ...." Kata Andri lirih. Bayangan masa lalu kembali hadir, membangkitkan kenangan bersama Hana, saat itu Hana berpura-pura marah pada Andri, seolah-olah Andri melakukan sebuah kesalahan. Hana hanya diam, dari mulai mereka bertemu sampai akhirnya mereka akan meninggalkan tempat makan malam itu. Yang biasanya Hana selalu minta di suapi, kali itu ia hanya diam.


"Sungguh Han ... jangan siksa aku seperti ini, aku tak tahan kau diamkan seperti ini."


Lagi lagi Hana hanya diam, sampai pada akhirnya tengah malam, pukul nol nol tepat, Hana tersenyum sambil memberikan kode, pada teman temannya, membawa roti ulang tahun yang sudah di hidupkan lilinnya. Suara nyanyian ulang tahun terdengar, dan Hana berhasil dengan kejutannya kala itu.


"Selamat ulang tahun, sayang ...."


"Sungguh, ini tak akan pernah aku lupakan, awas aku akan membalasnya."

__ADS_1


Andri tersenyum mengenang itu semua. Bagaimana aku bisa melupakannya, sedang dirinya selalu menari dalam memoriku, desah Andri.


__ADS_2