
Hana celingak-celinguk mencari cari di mana keberadaan pak Kimura, di tengah keramaian seperti ini, pak Kimura sengaja meninggalkan dirinya, seperti ayam yang kehilangan induknya, Hana merasa cemas dalam rasa asing yang saat ini di alaminya, sebab selama ia berada di kota itu, ia belum pernah menginjakkan kaki nya di tempat itu. Tempat yang didatangi nya bersama pak Kimura saat ini, sangat ramai, banyak bunga sakura bermekaran di sana sini, serta banyak pula pasangan muda mudi yang sedang bersama disana.
Hana kembali menatap ke sekeliling, namun sejauh mata memandang, ia tak menemukan sosok bos reseknya itu.
Hana kesal dan lelah, ia menghempaskan dirinya di sebuah bangku panjang yang ada di tempat itu, tanpa disadarinya, pak Kimura datang dan menutup mata Hana dari arah belakang, sontak, Hana terkejut bukan kepalang, tapi Hana kemudian tenang, ketika mendengar suara pak Kimura yang berbisik di telinganya.
"Ini, aku ... kau mencari ku?" kemudian pak Kimura melepaskan tangannya, dan duduk di sisi Hana, sambil menyematkan bunga di telinga Hana, sebelah kiri.
"Kau tampak sangat cantik, dengan bunga ini!" ucap pak Kimura tersenyum, senyum yang sulit di artikan oleh Hana.
"Bapak kemana sih, aku mencari mu sejak tadi, mengapa kau meninggalkanku, aku begitu cemas!"
"Aku sengaja melakukannya," ujar pak Kimura.
"Ooo, gitu uuu, kalau saja kau tidak bosku, aku pasti membalas mu."
"Boleh ... kau boleh membalasnya, di kantor aku adalah bosmu, tapi di luar, aku adalah temanmu, jadi kau bebas melakukan apa saja padaku."
"Apa saja?"
"Ya, apa saja, yang penting bisa membuatmu puas, dan tentunya bahagia."
Hana terdiam, melihat kelakuan bosnya, ia teringat akan Andri, Andri yang selalu usil padanya, selalu mengerjainya, seperti saat pak Kimura menutup matanya tadi, Hana teringat Andri, waktu dirinya dan Andri sedang asyik berkumpul dengan teman-teman nya, di desa waktu itu, tiba-tiba Andri meninggalkan dirinya, dan kemudian datang dengan menutup matanya, serta membawa seikat bunga dan menyerahkan bunga itu dengan begitu mesra, memang tidak sama persis dengan apa yang dilakukan oleh pak Kimura, tapi itu cukup mengusik ketenangan Hana.
Hana yang sekian lama mencoba tidak mengingat Andri, mencoba melupakan semua tentang Andri, dengan semua itu Hana kembali tersadar, betapa dirinya sangat merindukan sosok Andri, wajah yang sekian lama tidak muncul, karena Hana tak sempat berpikir sedikitpun tentang Andri, karena beragam masalah yang di hadapinya, tiba tiba terlintas dengan seulas senyum, menyapa hatinya yang hampa, hampa karena jauh dari orang-orang yang dicintainya.
Hana semakin membisu, wajahnya tampak lesu, mengisyaratkan hatinya yang tidak tenang saat ini.
Pak Kimura menatap Hana heran, di pegang nya tangan Hana, di genggamnya erat, kemudian pak Kimura membawa tangan Hana yang lembut itu kepangkuan nya. Hana mencoba melepaskan tangannya, tapi pak Kimura justru mencium tangan Hana, Hana sangat terkejut.
Lagi lagi, tingkah pak Kimura mengingatkan Hana pada Andri, Andri yang selalu bersikap demikian bila menenangkan dirinya, saat ini, seakan pak Kimura tahu, kalau dirinya sedang resah, sama persis dengan apa yang di lakukan oleh Andri, pak Kimura mencium tangan Hana sambil menggosok-gosok lengannya.
"Ya, Tuhan ... kenapa harus pak Kimura?" ucap Hana dalam hati.
"Kamu kenapa, Han?" Hana menggeleng, air matanya berkaca-kaca, ia berdiri, kemudian berjalan meninggalkan pak Kimura begitu saja. Pak Kimura mengikuti Hana, sebab ia yakin Hana menyembunyikan sesuatu darinya, tapi pak Kimura tidak mendesak Hana, sebab ia tidak ingin memaksa Hana untuk mengatakan segalanya, sebab ia sadar, tidak mungkin Hana akan mudah bicara berterus terang padanya, sebab mereka belum lama akrab.
__ADS_1
Hana berusaha menguasai dirinya, ia mencoba untuk bersikap profesional, ia tak mau membawa orang lain dalam masalah pribadinya.
"Han ... apa kamu tidak lapar?"
"Sebetulnya aku sangat lapar sejak tadi, Pak, tapi aku tidak berani ngomong sama Bapak!"
"Kenapa?"
"Aku malu!" pak Kimura tersenyum, sungguh Hana sangat polos, pikir nya. Kemudian mereka pergi mencari makan, dan Hana berhasil menepis bayang bayang Andri untuk sementara waktu, ia cukup terhibur dengan canda dan tawa pak Kimura.
Setelah mereka selesai menikmati makanan yang mereka pesan, Hana dan pak Kimura pergi dari tempat itu, tak terasa, malam telah hadir menggantikan siang, Hana belum juga pulang, ia sengaja menurut apa saja kemauan bosnya itu, ia ingin melupakan sejenak masalah yang di hadapinya, mungkin dengan pergi seperti ini, akan mengurangi beban hatinya yang terasa berat menghimpit perasaannya.
Hampir menjelang isya, Hana mengajak pak Kimura pulang, dan pak Kimura mengikuti saja apa yang di katakan oleh Hana, sebab ia tahu, sebenarnya Hana, tidak baik baik saja, oleh sebab itu, ia mengajak Hana jalan jalan.
Tidak menunggu waktu lama, mereka sudah sampai di asrama Hana, suasananya sedikit agak sepi, Hana mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan, mungkin karena Dewi sedang keluar, iapun membuka pintu itu, dengan menggunakan kunci yang di bawanya, setelah pintu terbuka, ia menatap pak Kimura yang saat ini sedang menatapnya pula, otomatis pak Kimura salah tingkah, dan iapun segera pamit untuk pulang.
Ketika pak Kimura hendak melangkah, tiba-tiba lampu padam, seluruh kompleks asrama itu, sangat gelap, tanpa sadar Hana langsung berlari kearah pak Kimura dan memeluk pak Kimura, penuh rasa takut, memang Hana sangat takut pada kegelapan.
"Hei ... tenang, tidak akan terjadi apa-apa, aku bersamamu."
"Ku mohon ... jangan tinggalkan aku, aku takuuut." suara Hana terdengar gemetar.
"Ya, aku sangat takut, tetaplah disini, sampai Mbak Dewi datang."
"Ya, aku akan menemanimu, tenanglah!"
Tiba-tiba, entah apa dan dari mana, ada sesuatu yang masuk dalam baju pak Kimura, terasa dingin dan merayap, sehingga pak Kimura merasa bergidik dan geli.
"Han ... lepaskan aku dulu, ada sesuatu yang masuk dalam bajuku, aku geli, kumohon Han ... lepaskan sebentaaar saja." Mohon pak Kimura sambil menggeliat menahan rasa geli yang amat sangat.
"Tidak, Bapak mau meninggalkan aku kan?"
"Tidak Han ... aku serius, aduuuh, aku tak tahan Han ... geli ...."
"Aku tidak mau melepaskan Bapak, nanti aku bisa pingsan ketakutan, pak!"
__ADS_1
"Aku akan memaksa agar kau melepaskan aku, aku sungguh tidak tahan!" kata pak Kimura sambil berusaha melepaskan tangan Hana, yang mencengkram nya dengan begitu kuat.
"Jangan pak, aku takut ...."
"Nanti aku yang pingsan, Han ...."
"Biar Bapak yang pingsan, asal bukan aku!"
"Kalau aku yang pingsan, kamu sama siapa?" jawab pak Kimura dengan terus menggeliat, karena yang masuk ke bajunya itu terus bergerak liar, tak mau kompromi.
Akhirnya pak Kimura berhasil mendorong Hana, iapun dengan segera membuka bajunya dan mengibaskan bajunya itu, eh ternyata sesuatu yang masuk dalam bajunya malah meloncat kearah Hana, dan berpindah ke tubuh Hana, Hana semakin ketakutan, pak Kimura segera menghidupkan senter dari ponselnya. Ia tersenyum geli melihat Hana yang menggeliat geliat menahan geli.
"Ini pak, disini!" ucap Hana.
Pak Kimura bukannya menolong Hana, justru malah bengong, ia tidak langsung memegang punggung Hana, karena ia bingung, harus bagaimana cara mengeluarkannya dari tubuh Hana.
"Cepat Pak, tolong ...."
"Gimana caranya?"
Dalam kondisi bingung, tampak Dewi dan Vero datang, mereka heran melihat pak Kimura dan Hana, yang lumayan heboh itu.
"Ada apa pak?"
"Entahlah, ada sesuatu yang masuk kedalam baju Hana, mana lampu mati lagi!"
Tag, lampu seketika menyala, Vero berhasil mengeluarkan sesuatu itu dari tubuh Hana, ternyata seekor cicak.
"Eh, dasar cicak jantan!" ucap Dewi sambil tertawa.
"Bukan, bukan jantan, cicaknya suka sama cowok dan cewek."
"Kok gitu?"
"Ia, tadi cicak itu, masuk dulu dalam bajuku, eh sudah itu, masuk dalam baju Hana."
__ADS_1
Mereka tertawa terpingkal-pingkal. Karena malam pun semakin larut, akhirnya pak Kimura pun pamit meninggalkan tempat itu.
🙏 Mohon dukungannya, ya man teman!🙏🙏😳😳