Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 49 Maafkan aku Shel


__ADS_3

Sejuta rasa bersalah yang bersarang di hatinya, untuk dapat melupakan cinta, Andri harus mengakhiri segalanya, termasuk ingatannya tentang Hana sekalipun.


Tapi ....


Tampaknya, bukan melupakan Hana, justru ... saat ini Hana semakin datang menemani lamunannya, semakin lama semakin jelas, bahwa bayangan Hana semakin menarik perhatiannya, sedang Shela ... justru semakin kian tersisih dari hati Andri, sehingga mau tidak mau, Shela hanya bisa menghela nafasnya, menahan rasa sakit yang teramat sangat menusuk hatinya, yang selama ini tidak pernah di bayangkan oleh nya.


"Mas ... bangunlah, hari sudah sore, apakah Mas tidak mandi?"


Andri membuka matanya, melihat Shela yang membangunkan nya dengan sangat lembut.


Tanpa menyahut, Andri mengambil handuk dan iapun segera pergi ke kamar mandi.


Lain halnya dengan pengantin baru pada umumnya, Andri tak terlihat sedikitpun, bersikap manis pada Shela. Dan semua itu, jelas sangatlah begitu menyiksanya.


Seusai Andri dari membersihkan badannya, dan mengganti pakaiannya, Shela mendekati Andri lagi, memegang bahu Andri sebelah kiri, Andri menoleh, menatap Shela dengan sangat dingin, tidak seperti pasangan pengantin baru.


Tak ada reaksi, tak ada ucapan, kembali Andri membiarkan Shela. Suasana itu berlalu sampai selesai shalat Maghrib.


"Apakah Mas, tidak lapar?"


"Aku tidak bernafsu untuk makan."


"Mas ... sudah sejak pagi, kau belum makan, ayo kita makan, papa dan mama, sudah mananti kita di ruang makan."


"Bilang saja, aku tidak lapar, pergilah!"


" Kenapa kau bersikap seperti ini, bahkan di hari pertama pernikahan kita, kalau kau tidak bisa bersikap manis padaku, setidaknya ... jangan buat orang salah menilai dirimu."


"Baiklah, aku akan ikut turun, apakah harus turun berdua?"


"Ya ...." Shela mencoba untuk tidak memperlihatkan sikap suaminya pada papa dan mamanya.


Mereka berdua keluar dari kamar, Shela memegangi tangan Andri, menautkan jari jari mereka, walaupun kadang Andri sempat ingin melepaskan tangannya.


"Aduuuh, yang lagi seneng, kayak nya putri kita tidak mau jauh-jauh dari suaminya, tuh Ma!"

__ADS_1


"Iya dooong." Jawab Shela sambil tersenyum menutupi betapa hatinya yang pedih untuk saat ini, ia tak ingin kedua orang tuanya tahu, karena Andri adalah pilihannya sendiri, sedang Andri hanya diam tanpa komentar apapun.


"Kalian, jangan capek capek, besok harus punya energi ekstra, sebab besok masih banyak kegiatan di acara resepsi kalian."


"Iya, ma!"


"Kamu sejak tadi hanya diam, An ... ada masalah?"


"Tidak pa, aku hanya sedikit ngantuk."


"Loh, pengantin baru jam segini kok ngantuk!"


"Mas Andri hanya capek ma, makanya kurang bersemangat."


Suasana ruang makan kali ini tidak begitu bersemangat, papa dan mama Shela tak mau menggoda putrinya dengan berlebihan, melihat sikap mereka yang terlihat asing satu dengan yang lain.


Setelah acara makan malam selesai, Andri langsung masuk kekamar mereka, tanpa menanti Shela yang membantu pembantunya beres beres meja makan.


Ketika Shela memasuki kamar pengantin mereka, di dapatinnya suaminya sedang duduk diatas sofa, menonton televisi dengan malas-malasan, melirik dengan sekedar kearah Shela dengan ekor matanya. Shela duduk disisi Andri, bergelayut mesra, kedua tangannya memegang lengan Andri sebelah kiri bagian atas.


"Hmmm" jawab Andri datar, tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada pesawat tv


"Maaas!"


"Ada apa Shel ...."


Shela akhirnya terdiam, tak berani berkata lagi, ketika menatap wajah suaminya yang memandanginya dengan wajah tidak bersahabat.


"Aku mau bobok aja!"


"Tidurlah, aku sebentar lagi."


Shela berdiri dengan perasaan tidak menentu, ia berharap suaminya akan menyusul dirinya, tapi setelah sekian lama, Shela membaringkan badannya diatas kasur berukuran besar itu, Andri tak jua kunjung mendekatinya.


"Dasar manusia aneh, es balok!" umpat Shela menatap kearah suaminya penuh rasa benci dan harap harap cemas.

__ADS_1


Sebagai seorang wanita dewasa yang telah menikah, siapapun mengharapkan malam pertama yang begitu indah dengan pasangan nya, tapi mungkin semua itu tidak akan pernah di lewati Shela bersama Andri. Hampir tengah malam, Shela tak kunjung menutup matanya, Andri pun tak beranjak dari tempat duduknya, bahkan ia tertidur diatas sofa, tanpa mempedulikan istrinya yang menanti dirinya.


"Mas Andri, bisa bisanya kau malah tidur disana, bagaimana aku akan mengajakmu tidur disini." Shela bangkit, menuju sofa, membangun kan Andri, perlahan tapi mampu membuat Andri terkejut. Andri lagi lagi, tanpa sengaja mendorong Shela.


"Ini aku Mas, ayo kita pindah, masak tidur sambil duduk kayak gini!" Shela menarik tangan Andri dan ingin membimbing Andri membawanya ke tempat tidur mereka, tapi Andri menyentakkan tangannya. Seketika airmata Shela memenuhi bola matanya, berkaca-kaca, dan ia kemudian membalikkan badannya dan menghamburkan dirinya diatas kasur dan mengadukan segala penderitaan nya yang teramat sakit, menerima semua itu bahkan setelah pernikahan mereka, yang menambah hatinya kian sakit adalah, tak ada satu orangpun yang memaksakan pernikahan itu, mereka menikah atas dasar kemauan mereka sendiri, tapi sungguh, Shela tak pernah membayangkan kalau Andri akan bersikap demikian dingin padanya.


Mengetahui Shela yang berlari meninggalkan dirinya, Andri beranjak dari sofa, mendekati Shela, membelai rambut istrinya lembut, dan Shela yang demikian sangat mencintai Andri langsung menghamburkan dirinya kedalam pelukan Andri. Terdengar Isak disana.


"Shel ... maafkan aku, aku tak bermaksud menyakiti hati mu, aku merasa saat ini aku tersiksa dengan keadaan ini, sekali lagi aku minta maaf."


"Kenapa, apakah engkau tak berniat melupakan Hana, sehingga kau tak menganggap diriku?"


"Aku ...."


"Aku sudah merasa, sejak ijab qobul kita, kau bahkan menyebut nama wanita lain, dan itu cukup membuat aku merasa sakit, tapi aku berusaha untuk mengerti, tapi kenapa kau tak mengerti akan diriku, Mas?"


"Aku mengerti, itu sebabnya kenapa aku diam, aku belum sanggup melakukan nya, Shela, aku tahu tugasku sebagai seorang suami, kau mengharapkan aku menyentuhmu bukan ... tapi aku belum siap!" ucap Andri sambil terus memeluk Shela kian erat.


"Aku mencintaimu, Mas ...."


"Maukah kau bersabar untuk ku?"


"Maukah kau memahami aku, aku akan terus berusaha untuk melupakan Hana, aku akan melakukan apa pun yang bisa membuat aku melupakan Hana."


"Ya, aku akan menantimu, aku akan terus menanti kapan malam indah itu tiba, aku akan terus memimpikannya, dimana suamiku hanyalah menjadi milikku."


"Sebelum aku bisa membuang semua kenangan ku bersama Hana, maukah kau menjadi temanku?"


"Aku mau menjadi temanmu, atau bahkan menjadi tempat mu mencurahkan segala penderitaan mu karenanya, aku rela, asalkan jangan memperlakukan aku dengan kasar seperti tadi, aku mencintaimu lebih dari apapun, mungkin melebihi cintamu pada Hana."


"Maaf, malam ini aku belum bisa memberikan malam pertama yang indah untukmu."


"Aku akan menunggumu, aku akan bersabar untukmu, bukankah untuk mendapatkan cintamu aku harus sabar?"


"Seharusnya aku bersyukur, memiliki istri yang baik dan pengertian seperti mu, tapi entah mengapa, perasaan ini begitu menyiksa ku." Ucap Andri mengecup pucuk kepala Shela.

__ADS_1


Air mata Andri mengalir membasahi pipinya, seiring kecupan yang ia berikan untuk istrinya itu. Shela menatap wajah Andri, kemudian menyusut lembut air mata yang membasahi pipi suaminya yang kian lama kian deras itu.


__ADS_2