Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 59 Shela melihat Hana


__ADS_3

"Ibuuu" Hana mengembangkan tangannya sambil berlari kearah ibunya yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini, dengan suasana hati yang haru, penuh kebahagiaan, Hana memeluk ibunya.


Rega yang datang dengan menenteng plastik berisi minuman, berteriak mengetahui Hana, kakaknya sudah berdiri memeluk ibunya.


"Kak hanaaa." ucap Rega memanggil kakaknya yang begitu dirindukannya.


Hana memalingkan wajahnya, menatap Rega yang datang sambil berlari.


Mendengar ada yang berteriak memanggil nama Hana, sepasang mata menoleh, menelisik kearah suara itu berasal, terbelalak, seakan bertanya dalam hati, dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Apakah perempuan cantik itu yang bernama Hana?" tanya dalam hati orang yang memperhatikan mereka dari jauh.


"Ternyata dia lebih cantik dari pada gambarnya." ucapnya lagi.


"Kau ternyata lebih tampan dari pada yang aku bayangkan, Ga ...."


"Kau pun kelihatan lebih cantik, kayak bule!"


"Kamu bisa aja, memang benar, Bu?" Bu Fatmi hanya tersenyum.


"Ayo kita segera pulang, Ibu sudah tak sabar bercengkrama denganmu."


"Ya baiklah, akupun ingin bercerita banyak sama Ibu."


Ketiganya berlalu menuju mobil yang diparkir, kemudian meninggalkan bandara dengan perasaan suka cita.


Sementara sepasang mata yang mengawasi tadi kini membuntuti mobil yang dikendarai oleh Rega.


"Cepat Pak, ikuti mobil itu!" ucapnya menyuruh supirnya.


"Baik non ...."


Dengan perasaan yang semakin tak menentu, sepasang mata milik Shela itu, memandang kearah muka, tak mau kehilangan jejak mobil Rega.


"Sungguh, aku tak menyangka akan melihatnya hari ini, aku yakin dia pasti Hana, kekasih Mas Andri."


Mobil yang dikemudikan oleh Rega, akhirnya berhenti disebuah pekarangan yang lumayan luas, mereka berhenti dan keluar dari mobil itu, dengan mengeluarkan seluruh barang barang bawaan Hana, sehingga Shela yang memperhatikan mereka merasa sangat puas dan semakin yakin bahwa yang ia lihat adalah Hana, wanita yang menjadi pertanyaan dan keingintahuan nya.


Dengan segera iapun meninggalkan tempat itu, tanpa ada yang mengetahuinya.


Hana menceritakan semua keadaannya, mulai dari ia masuk ke perguruan tinggi sampai akhirnya ia lulus dengan peringkat terbaik ditempat ia menuntut ilmu.


"Kamu bagaimana, Ga ... gimana kuliahmu?"


"Aku baik, bahkan aku akan wisuda bulan ini."


"Benarkah?"


"Ya, aku akan bekerja di perusahaan ternama disini. Kakak sendiri akan bekerja dimana?"


"Kakak sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah sakit, sebelumnya Kakak sudah melamar, makanya Kakak pulang."


"Oh ya?"


"Ya, begitulah."


Mereka bertiga asyik menikmati obrolan mereka, melupakan segala luka yang pernah ada, saat ini mungkin kebahagiaan lah yang mereka rasakan, setelah bertubi-tubi mengalami kesedihan yang tiada habis-habisnya.


*****


Shela menghempaskan tubuhnya diatas sofa kamar tidurnya, ia melihat Andri yang sedang sibuk didepan layar laptopnya, seperti biasanya, Andri tak menghiraukan kehadirannya.


"Mas ...."


"Hmmm"


"Kamu tahu tidak, apa yang aku lihat hari ini?"


"Apa?"


"Aku melihat Hana."


Seketika Andri menghentikan kegiatannya, ia menoleh, melihat


Kepada shela, tersenyum, seakan mengejek Shela.


"Kamu, kayak kenal aja!" ucapnya dingin.

__ADS_1


"Bukankah aku pernah melihat lukisan mu?"


"Ya, tapi mana mungkin kamu melihatnya, dia di Jepang, kamu ada ada aja!"


"Sungguh, aku yakin ... dia dijemput oleh seorang pemuda, dan seorang wanita separuh baya."


"Terus?"


"Huh, segitunya kamu mendengar tentang Hana, kenapa aku tadi bilang padamu, apa sih untungnya." Shela menggerutu dalam hati.


"Shel ... kok kamu diam?"


"Apakah kamu tetap tidak bisa melupakan dia?"


"Aku ...."


"Kalau kau tak bisa melupakan dia juga, kenapa kau berat mengambil keputusan, ceraikan aku, aku tak sanggup lagi dengan kebersamaan ini, aku rasa aku sudah cukup bertahan."


"Kau hanya ingin menjebak ku?"


"Maksudnya apa?"


"Kamu mengatakan bertemu Hana hanya karena kau ingin mengetahui perasaan ku padanya, kan?, kemudian kau akan mudah untuk minta cerai dariku."


"Untuk apa kita pertahankan lagi?"


"Untuk orang tuamu Shel ... bukankah kau mengkhawatirkan keadaan papamu?"


Shela diam, ia sadar ia tak mungkin berpisah dengan Andri, karena ia pernah mencoba untuk menggugat Andri tapi pada kenyataannya, dia harus menyaksikan papanya masuk rumah sakit karena ia tak ingin melihat dirinya dan Andri berpisah.


"Mau nekat?"


"Aku ngaku kalah, aku tak berdaya, tapi melihatmu seperti ini terus padaku, rasanya aku tak kuat."


"Shela ... Aku juga tak berdaya, aku tidak bisa berbuat apapun, kita harus terjebak didalam ikatan pernikahan ini."


"Mas ... aku ingin lepas darimu, aku ingin kita berpisah, aku tidak mungkin bertahan lagi ...."


"Ya, aku sadar ... pernikahan kita sudah berjalan lima tahun, dan itu bukanlah waktu yang singkat, aku paham perasaanmu, tapi apa daya kita?"


"Harus sampai kapan aku tersiksa seperti ini?"


Shela mengambil tas kecilnya, ia memakainya, dengan celana jeans dan kemeja lengan panjang, Shela tampak sangat serasi menggunakannya, ditambah tas selempang yang baru saja dikenakannya.


"Kamu mau kemana?, kan baru saja kamu pulang ... apa tidak capek?"


"Aku capek, sangat capek! tapi hatiku lebih capek, biarkan aku pergi, aku akan menenangkan diri."


"Kemana?"


"Kemana saja."


"Apakah aku boleh mengantarkan mu?"


"Aku capek karena kamu, aku bosan hidup juga karena kamu, ngapain kau harus mengantarkan aku?"


"Ya sudah ... tapi kamu jaga diri, aku tak ingin sesuatu terjadi padamu."


Shela berlalu, meninggalkan Andri kembali.


"Sebenarnya aku sangat capek, Mas ... Aku ingin kau perlakukan aku selayaknya seorang istri, tapi sampai detik ini, kau tetap saja sama, Hana terus, yang ada di hari dan pikiran mu." Bisik hati Shela.


Shela mengemudikan mobilnya seorang diri, ia semakin melajukan mobilnya, menuju kawasan perumahan elit, kerumah dimana ia bisa menenangkan dirinya.


Kemana lagi kalau tidak kerumah Defta.


Shela keluar dengan membanting pintu mobilnya, ia mendorong pintu rumah yang agak terbuka, tapi setelah ia masuk, ia tak menemukan Defta diruang tamu, ia mencari ke seluruh ruangan, tapi ia tak juga melihatnya.


Tiba tiba pembantu Defta datang dari belakang dan kaget menyaksikan Shela yang ada didepannya.


"Mana Mas Defta, Bik?"


"Mas Defta ada di kamarnya, dia tadi bilang mau mandi."


"Ada apa, Non?"


"Tidak, tidak ada, katakan saja aku di taman belakang."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengatakan padanya, Non mau dibawakan apa?"


"Tidak usah repot-repot, Bik!"


Shela berjalan ketaman belakang rumah Defta, ia selalu ditempat itu untuk menghilangkan semua kekesalan nya, ia cukup nyaman di taman itu, dan rumah Defta adalah tempat ia menghilangkan segala dukanya.


Tak berapa lama, Defta sudah berada disisi Shela, tapi Shela yang melamun tak menyadari akan kedatangan Defta.


Defta mendehem, membuat Shela kaget, dan spontan menghapus airmata nya.


"Ada apalagi?"


Dengan tanpa merasa canggung, Shela memeluk Defta, ia terisak, menumpahkan segala penderitaannya.


"Andri lagi?" Shela mengangguk.


"Aku ... tak kuat lagi, aku ingin sekali berpisah dengannya."


"Sabarlah, kita coba dulu bicara baik-baik pada papamu, semoga dia mau mengerti."


"Aku takut ... apakah tidak berakibat fatal?"


"Semoga saja tidak ... apa salahnya kalau kita coba."


"Apakah kau tahu ... aku melihat Hana?"


Sama dengan Andri, Defta menunjukkan reaksi yang sama.


"Kamu tak pernah mengenalnya, mana mungkin kamu tahu akan dia."


"Aku sempat mengambil foto nya." Jawab Shela sambil menunjukkan foto yang diambilnya tadi. Shela sengaja tak menunjukkan foto itu pada Andri, karena kekesalannya tadi.


Defta terperangah melihat foto itu, ia merasa sesak. Memang benar apa yang dilihat oleh shela.


"Ya ... dia adalah Hana!"


"Dia sangat cantik, pantas saja kalian sangat mencintainya."


Shela mengucapkan semua itu sambil menahan rasa sakit, iapun merasa sakit mengetahui Defta masih mengenang masa lalu nya.


Shela menunduk, menyembunyikan airmata yang akan jatuh kembali di pipinya.


"Kau kenapa, cemburu?"


"Aku memang cemburu, kenapa orang yang aku cintai harus mencintai wanita lain, dari dulu sampai sekarang."


Defta menghapus airmata itu, ia bahkan membawa Shela kembali kedalam pelukannya, mendekapnya kian erat, mencoba menenangkannya.


Saat ini, ia sadar, bahwa dirinya tidak sekedar kasihan pada Shela, ia menyadari telah ada perasaan lain yang tumbuh dihatinya untuk wanita yang saat ini berada dalam pelukannya itu.


"Diamlah, aku akan selalu ada buatmu, tersenyum lah untuk ku!" Shela menatap wajah Defta, ia menemukan sebuah ketenangan dalam dekapan laki laki itu.


"Benarkah engkau selalu ada buatku?"


"Pasti!"


"Oh ya, mana ayah dan ibumu?"


"Mereka pulang, mereka tak mau menetap disini, katanya Jakarta sangat banyak polusi."


"Kapan kapan, kita jalan jalan kesana lagi ya?"


"Pasti, tapi kau harus tenang dulu. Orang tuaku tidak suka orang yang cengeng."


Shela tersenyum,


" Kau beneran?"


"Apanya yang bener?"


"Kau akan mengajak aku kembali."


"Ya, aku kan mengajakmu, tapi sebagai istri bukan teman lagi."


"Apa kau serius?"


"Aduh ... Kau ini, apa kau mau?"

__ADS_1


Keduanya sama-sama tersenyum. Seakan menggambarkan kebahagiaan yang tersembunyi dalam hatinya.


__ADS_2