
Hari ini Hana pulang bersama dengan Rega dan Defta, tidak naik bus melainkan dengan mobil milik Defta. Hana duduk di depan, disebelah Defta sedangkan Rega duduk di jok bagian belakang. Mereka saling diam, asyik dengan perasaan mereka masing-masing. Mata mereka menatap lurus ke depan seakan tak ada manusia lain di samping mereka. Hingga akhirnya sebuah ******* panjang dan berat ter hela dari mulut Hana. Defta menoleh seakan mengerti betapa berat beban yang menghimpit nya saat ini.
"Han ...." Panggil nya kemudian.
"Ya, mas!" sahut Hana.
"Kamu kenapa?"
"Entahlah mas, aku bingung!"
"Katakan padaku apa yang membuatmu bingung?"
"Setelah menjual tanah kami yang dua bidang itu, kemana aku akan mencari uang untuk pengobatan ayah?"
"Maksudnya?"
"Ya barang kali ada pekerjaan, aku bisa bekerja untuk tambahan penghasilan, kan ayah dan ibu sudah tak menghasilkan uang lagi, jadi nggak mungkin kami hanya mengandalkan uang tanah itu."
"Kamu mau bekerja apa?"
"Entahlah, apalah pekerjaan yang bisa didapatkan dengan mengandalkan ijazah SMA."
"Maunya kamu bekerja apa, misalnya?"
"Apapun pekerjaan nya gak apa-apa lah mas, yang penting halal dan menghasilkan uang "
"Kita buka aja warung atau apa gitu!" sahut Rega tiba-tiba.
"Dimana bukanya, Ga?"
"Oh ya, bener itu Ga, kita buka aja di kota, masalah tempat biar nanti aku yang cari."
"Lalu siapa yang jagain?"
"Kamu bisa gantian sama ibu, Han."
"Baiklah kita pikirkan lagi nanti."
Tanpa terasa mereka sudah sampai di kampung mereka, banyak tetangga yang mengabarkan keadaan pak Herman, maklum kehidupan desa yang masih mengutamakan istilah kekeluargaan. Apabila salah satu diantara mereka ada yang terkena musibah maka keluarga yang lain akan bersimpati. Itu bagi Hana sudah lebih dari cukup.
Hana langsung masuk kedalam rumah nya, menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Rega ikut duduk disebelah nya, menatap kakak nya yang sudah mulai kurus itu.
"Kamu lapar, Ga?" tanya Hana, karena diperjalanan mereka tidak turun mencari makanan.
"Iya kak, dikit!"
"Bentar ya, Kakak buat kan kamu makanan." Hana beranjak dari tempat duduknya, menuju dapur dan mencari-cari sesuatu, tak ada yang didapatkan kecuali beberapa telur saja. Hana mengambil telur itu dan menjadikannya telor ceplok saja, biar cepat pikirnya, dimana nasinya sudah ia masak di penanak nasi. Hanya menunggu setengah jam mereka sudah bisa menikmati makan siang mereka.
"Ga, kamu besok tinggal aja dulu, kamu di rumah sampai selesai ujian."
"Iya, Kak. "
__ADS_1
"Kamu belajar yang rajin, masih lama lagi ujiannya, Ga?"
"Sekitar sepuluh hari lagi Kak, bagaimana dengan kuliah Kakak?"
"Kamu tahu sendiri kan, keadaan kita sekarang gimana?"
"Maksudnya Kakak tidak kuliah lagi?" Hana mengangguk sedih
"Apa boleh buat, dek ...." Hana nampak menunduk dalam, menyembunyikan air matanya yang jatuh di pipinya. Rega tahu akan hal itu.
"Sekarang kamu yang harus serius Ga, Kakak akan berjuang demi keberhasilan mu, Kakak akan menggantikan ayah, kau harus berhasil Ga!"
"Ya, Kak." Hanya itu yang bisa Rega katakan untuk menyenangkan hati Kakak nya.
Hana datang ke rumah pak Kades setelah istirahat sebentar, masih terasa capek memang, tapi ingat ayah nya di rumah sakit, rasa capek itu hilang digantikan dengan semangat empat lima. Dengan perlahan diketuknya pintu rumah pak Kades yang sudah berada dihadapannya.Tersembul wajah tampan yang diiringi senyum menatap kearahnya. Defta.
"Mas ...."
"Hana, mari masuk!"
"Iya Mas, mana Bapak?"
"Bapak masih ada urusan, sebentar lagi pulang." Hana mengangguk.
"Kamu kok sudah cari aku Han, kan baru aja kita ketemu, emang sudah rindu gitu?" ledek Defta, sedang Hana hanya tersenyum.
"Mari duduk dulu."
"Mas, terimakasih atas semua yang telah mas berikan pada kami, baik itu waktu, tenaga atau yang lainnya."
"Kau sangat perhatian pada ku Mas, tapi aku tidak bisa membalas semua perasaan mu padaku."
"Kan aku sudah bilang, melihat mu bahagia aku sudah senang, masalah kau membalas perasaanku yang mencintaimu itu urusan belakangan."
Terdengar suara deheman dari arah belakang, tampak pak Kades keluar dari arah pintu belakang.
"Kamu Han, ada apa ya?" tanya pak Kades setelah duduk diantara mereka.
"Mau bertemu Bapak, saya ...." Hana terdiam, rasanya begitu getir melepaskan tanah yang selama ini dipertahankan oleh ayahnya itu.
"Hana mau menjual tanah perkebunan itu, yah!" pak Kades tersenyum.
"Pada akhirnya, tanah itu jadi milik ku, ternyata ada manfaatnya ayah mu jatuh sakit." Ucap pak kades tanpa merasa berdosa.
"Ayah, bisa-bisanya ayah berkata seperti itu!" Hana meremas tangan nya menahan sejuta amarah yang bergejolak dalam jiwanya. Andai saja, ya ... andai saja Hana tidak dalam keadaan terjepit seperti saat ini, mungkin ia akan meluapkan semua emosi nya, tapi kali ini ia hanya mampu diam membisu. Bungkam seribu bahasa.
"Baiklah, berapa kau akan menjualnya?"
"Bukankan bapak pernah menjanjikan harga dua kali lipat dibandingkan tanah perkebunan milik warga lainnya?"
"Wow ... ternyata kau pintar juga bernegosiasi, tapi bagaimana seandainya aku tidak mau dengan harga itu?"
__ADS_1
"Aku akan menjualnya sama orang lain."
"Fantastis sekali, kira-kira siapa yang mau membeli nya?" Hana diam.
"Kurangi lah sedikit," bujuk pak Kades lagi.
"Tidak, kalau Bapak tidak mau ya, saya permisi, mungkin ini bukan rezeki Bapak."
Hana siap berdiri untuk pergi, namun Defta menahan tangannya.
"Tetaplah disini, Ayah ku pasti membayar nya."
"Kenapa kau begitu yakin aku akan membayarnya?"
"Karena Ayah sangat menginginkan tanah itu."
"Itu dulu, sekarang tidak!" ucap pak kades mencoba untuk mengelabuhi Hana, Hana kembali menatap Defta dan Defta seakan memberi sebuah isyarat untuk tetap bertahan.
Tak lama kemudian akhirnya pak Kades menyerah juga.
"Baiklah, apa kamu sudah menyiapkan semua surat-surat nya?"
"Ya, saya membawanya." Jawab Hana sambil mengeluarkan map berisi surat tanah itu. Kemudian menyerahkan nya pada pak Kades.
Pak Kades memeriksa surat tanah itu lalu mengambil sejumlah uang dan diserahkan pada Hana.
Seiring dengan berpindahnya kepemilikan tanah perkebunan milik ayahnya menjadi milik pak Kades, maka seiring itu pulalah pupus segala impian Hana dan keluarganya. Tinggal sepetak tanah pekarangan yang diatasnya ada sebuah bangunan rumah sederhana milik keluarganya lah yang mereka miliki untuk saat ini.
Harapan dan mimpi untuk kembali ke rumah itu pun sekarang hampir tak mungkin.
"Baiklah Pak saya pernah dulu, mari Mas!" pak kades mengangguk sambil tersenyum bahagia, betapa tidak apa yang di harapkan selama ini terkabul sudah, cita-cita mendirikan pabrik yang selama ini sudah dirancang nya Dengan sangat matang.
Sepeninggal Hana, pak Kades menatap anak nya dengan tatapan tak suka.
"Apakah kamu akan tetap mengharapkan dia?"
"Ya ayah, selama janur kuning belum melengkung, maka aku akan tetap berjuang mendapatkan nya."
"Apa yang menarik dari gadis itu?, aku tak suka kalau kau terus mendekati nya."
"Tapi aku mencintai nya, Ayah!"
"Aku tidak akan mengizinkan mu!"
"Bagaimana kalau aku tetap mendekati nya?"
"Aku tidak segan-segan mengusir mu dari rumah ini!"
"Kalau demikian, biarkan aku pergi dari rumah ini!"
"Defta!"
__ADS_1
"Ya ayah, aku tak peduli walaupun ayah mengusir aku dari rumah ini, karena bagiku Hana adalah gadis yang terbaik untuk masa depan ku."
Pak Kades naik darah, dulu dia membiarkan Defta mendekati Hana karena semata-mata untuk mendapatkan tanah perkebunan milik pak Herman, dan sekarang sudah mendapatkan nya, jadi untuk apa lagi ia merestui anak nya berhubungan dengan gadis yang tidak punya apa-apa lagi. Sementara Defta berlalu tanpa menghiraukan ayah nya.