Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 60 Menderita Gagal ginjal


__ADS_3

Shela sengaja menemui pengacaranya, ia membicarakan masalah yang serius, sehingga ia tidak ingin ada yang mengetahui pertemuannya kali ini.


Ia sendiri tidak tahu, ada apa dengan kesehatannya akhir akhir ini, ia sering mengalami kelelahan.


Setelah ia pergi menemui pengacaranya, ia memutuskan untuk pergi kerumah sakit, memeriksa keadaan dirinya.


Setelah sampai kerumah sakit, Shela menunggu antrian, dan saat menanti antrian, ia melihat seorang dokter cantik, sedang berjalan memasuki sebuah ruangan, dan ketika ia ingin mengikuti dokter itu, ia dipanggil untuk masuk kesebuah ruangan dokter yang akan memeriksa dirinya.


Kembali, Shela terperangah menatap seorang dokter cantik di hadapannya, ia sampai menutup mulutnya, saking terkejutnya.


"Apakah Ibu yang bernama Marshela?" tanya dokter itu.


"I_ iya, a_ aku Marshela."


"Silahkan kan duduk." ucap dokter itu.


"Apakah dokter, adalah dokter Hana?" dokter itu tersenyum ramah, kemudian mengangguk.


"Ya, saya adalah dokter Hana, saya baru satu bulan bekerja disini."


"Kau begitu cantik, dokter ...."


Sekali lagi, dokter yang ternyata Hana itu tersenyum dengan manisnya, kemudian menanyakan keluhan yang dirasakan oleh Shela.


"Terimakasih atas pujiannya, oh ya, apa yang Ibu rasakan?"


Shela menceritakan semua permasalahan yang akhir-akhir ini, ia rasakan. Kemudian Hana memeriksa keadaannya.


"Darahmu harus diperiksa, untuk memastikan keadaan mu."


Hana mengambil darah Hana, dan kemudian membawanya ke laboratorium, untuk diperiksa.


"Sebaiknya kau datang dua hari lagi, hasilnya akan keluar lusa."


"Baiklah, aku akan datang dua hari lagi."


Shela pamit meninggalkan rumah sakit itu.


Kini sudah jelas sudah, dimana ia menemukan Hana, tapi entah mengapa setelah ia bertemu dengan Hana, hatinya seakan tersayat belati yang sangat tajam. Sangat perih dan sakit.


Semula ia ingin mengatakan perihal rumah tangga mereka yang tidak pernah harmonis.


Andri yang tak pernah menganggap nya ada, tapi seandainya ia menceritakan semua itu, pasti akan membuat Hana membenci Andri, sedangkan dirinya ingin sekali menyatukan cinta mereka.


Airmata kembali menetes, memang mengorbankan sesuatu yang sangat kita cintai akan sangat menyakitkan, tapi setelah itu, ia yakin akan mendapatkan pengganti yang lebih baik yang akan membuat dirinya bahagia.


Karena Shela terlalu terhanyut dalam lamunan nya, tanpa sengaja ia hampir menabrak kendaraan lain yang ada di depannya.


Dengan susah payah, ia mengembalikan fokus nya.


Shela langsung saja kembali pulang kerumahnya, karena hari sudah menunjukkan pukul lima sore.


Andri tersenyum melihat kedatangannya, Shela mencoba bersikap biasa, membalas senyuman suami diatas kertasnya itu.


"Dari mana Shel ... kok sampai sore?"

__ADS_1


"Dari rumah teman!, Mas Andri, sudah lama pulangnya?"


"Ooo kirain kemana, aku sejak dua jam yang lalu."


"Ayo Mas, aku mau mandi."


"Aku sudah mandi, kamu masuk aja dulu."


"Baiklah."


Shela meninggalkan Andri sendirian, menuju kamar mereka.


Setelah selesai mandi, Shela sudah mendapatkan Andri duduk di sofa kamar mereka, ia melihat Andri tampak sedikit santai, perlahan ia duduk di sisi Andri, yang menatapnya dengan tatapan biasa aja.


"Mas ... apakah memang hubungan kita harus berakhir?"


"Maaf, sayang ...."


"Seandainya kau bertemu dengan Hana, apakah kau akan benar benar akan mengakhiri pernikahan ini?"


"Aku tak bisa menjawabnya, Shel ...."


"Kenapa?"


"Disatu sisi aku ingin sekali mempertahankan rumah tangga kita, tapi sampai sekarang aku tak bisa mencintaimu, dan di sisi lain, aku ingin sekali bertemu dan kembali pada Hana, tapi bukankah dia itu hanya masa lalu?"


"Seandainya, masa lalu mu itu masih mencintaimu, apakah kau akan meninggalkan aku?"


"Shela ... Kenapa kau buat aku kembali merasa bersalah, aku sayang padamu, aku ingin sekali membahagiakan dirimu."


"Maksudmu?"


"Dengan tak pernah mengerti perasaanku, kau tak pernah menyentuhku, kau tak pernah mengerti kalau aku sangat merindukanmu, kau hanya jadikan aku seorang sahabat, sebagai tempat kau mencurahkan perasaan mu pada Hana, bahkan kau tak pernah lagi menganggap kalau kita adalah suami dan istri."


"Shela, aku tak mau kau terluka."


"Dengan bersikap dingin padaku?, sudahlah Mas ... akui saja kalau kau ingin kembali pada Hana."


"Aku tak bisa menceraikan mu, karena aku di tekan oleh keluargaku dan keluargamu."


"Kita sudah dewasa, jadi apakah kebahagiaan kita harus kita gantungkan pada keputusan keluarga kita?"


"Shela ... Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan, ingatlah jika papamu sedang tidak baik-baik saja." Shela tak kuasa lagi membendung air matanya, ia semakin yakin untuk melakukannya sendiri tanpa sepengetahuan siapapun.


****


Shela datang kerumah Defta, ia sengaja mengajak Defta untuk menemaninya melihat hasil pemeriksaan kesehatannya di rumah sakit kemaren lusa.


Defta kelihatan bahagia melihat kedatangan Shela, ia akui, kebahagiaan dia mulai terasa, saat ia melalui hari hari bersama Shela, sekian banyak waktu, ia senang menghabiskan nya bersama istri dari sahabat nya itu, namun ia belum sadar akan perasaannya itu.


Shela keluar dari mobil, dengan sedikit tertatih, dan akhirnya oyong dan hampir saja jatuh, seandainya Defta tak berada di dekatnya. Shela sudah pasti sudah terjatuh di atas semen.


"Kau kenapa, Shel?"


" Aku agak tidak enak badan." Jawab Shela sambil memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Kalau kau tak enak badan, kenapa kau paksakan kemari?"


"Aku mau mengajakmu melihat hasil laporan kesehatan ku, di rumah sakit."


"Apa tidak lebih baik kita istirahat dulu?"


"Aku rasa kita segera pergi aja, aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu."


"Kau membuat aku penasaran saja, apakah yang kau tunjukkan itu ... Sesuatu yang sangat istimewa?"


"Sangat istimewa, kau pasti akan terkejut."


Shela tak jadi masuk kedalam rumah Defta, tetapi masuk kembali kedalam mobilnya, menuju rumah sakit ditemani oleh Defta, mobilnya pun dikemudikan oleh Defta.


Tak berapa lama, mobil itu sudah sampai dirumah sakit yang dimaksud. Shela memegang tangan Defta dan langsung menuju ruang dokter, dimana ia diperiksa kemaren.


Shela diminta menunggu, karena dokter yang menanganinya sedang memeriksa keadaan pasien diruang yang lain.


"Tunggu sebentar, ya Ibu ... dokternya sedang memeriksa pasien yang lain!" Shela mengangguk.


"Apa sih kejutan yang akan kau tunjukkan padaku?" tanya Defta penasaran.


"Sebentar lagi, Mas ... kau akan melihatnya."


Sekitar seperempat jam, shela dan Defta menunggu, sesosok wanita cantik memasuki ruangan itu, dan mengambil sebuah berkas di meja kerjanya.


"Ibu Shela, ini suaminya, syukurlah anda datang dengan pasangan anda, agar ia sendiri menyaksikan hasil laboratorium itu, bahwa anda dalam keadaan tidak baik-baik saja."


Defta yang asyik dengan ponselnya mendongakkan kepalanya, tapi betapa ia terbelalak menatap apa yang ada dihadapannya, seorang gadis cantik memakai jas putih, yang selama ini pernah mengisi hari harinya.


"Ya, dia suami saya dok!"


Mata Defta bertemu dengan mata Hana, keduanya berpandangan tak berkedip, mulut mereka membuka, seakan tak percaya dengan pertemuan yang demikian kebetulan itu.


"Hana!"


"Mas Defta"


Hana tersenyum, menguasai keadaan, kemudian menyalami Shela dan Defta.


"Selamat ya, Mas Defta pasti sosok suami yang sempurna."


"Iya, iya!" jawab shela gugup.


"Shela ... Kamu ngapain ngomong kalau aku adalah suami kamu?" bisik Defta.


"Nanti aku jelaskan, sekarang diamlah!"


"Ini adalah hasil dari sampel darah ibu yang diambil kemarin lusa." Hana menyerahkan amplop berwarna putih pada Shela.


"Dengan sangat menyesal, saya menyampaikan bahwa, Ibu Shela menderita gagal ginjal akut, dan harus melakukan cuci darah."


Tangan Shela gemetar membuka isi amplop itu, ia membaca pernyataan yang tertera dalam lembaran hasil laboratorium itu dengan perkembangan yang hancur.


Spontan Defta memeluk Shela, mengelus rambutnya, memberikan kekuatan yang mungkin telah rapuh.

__ADS_1


Defta tak lagi memikirkan pertemuan nya dengan Hana, kesedihan Shela jauh lebih memenuhi ruang hatinya, dan ia Ikut merasakan kesedihannya itu.


__ADS_2