
Hari ini adalah hari terakhir, Hana bersama ayahnya, besok ia akan berangkat, hari ini Hana tidak jadi berangkat karena ia terlambat datang ke bandara, makanya penerbangan nya dijadwalkan untuk esok harinya, para rombongan yang akan berangkat menantinya di Jakarta.Tidak jadinya Hana pada hari ini, membuat Hana sangat bersyukur, karena ia masih punya satu hari lagi bersama ayahnya, dan waktu itu sangat dipergunakan olehnya, ia tidak mau jauh-jauh dari ayahnya.
"Ayah, Hana nanti nggak mau dengar kalau Ayah susah minum obat, Hana tak bisa lagi memaksa Ayah, makanya Ayah harus minum obat, tanpa dipaksa."
"Iya!"
"Jangan iya iya aja, Ayah!" ayahnya menatap Hana, di pandangi nya wajah anaknya dengan seksama, entah apa yang ada dalam hatinya.
"Ayah tahu, aku adalah orang yang paling bahagia melihat kesembuhan Ayah!" tatapan mata ayahnya kian lekat, dalam dan tajam, seakan penuh selidik.
"Kok, sejak tadi Ayah hanya diam?"
"Ayah merasa ada yang kau sembunyikan dari Ayah!"
"Ti_ tidak, memangnya apa yang aku sembunyikan?"
"Kamu benar-benar melakukan tugas kuliah?"
Hana tercengang menatap Ayahnya.
"Ya_, ya iyalah, kalau tidak memangnya Hana mau kemana, Ayah?" apakah itu yang di namakan hubungan anak dengan orang tua?, merasakan sesuatu yang disembunyikan, meski sangat di rahasiakan.
"Ayah ingin aku menjadi dokter terkenal, 'kan?"
"Semoga, Amiiiin!"
"Kalau Tuhan berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin!"
"Kalau Tuhan berkehendak?" kata pak Herman mengulang kata-kata Hana.
"Ya!" Hana jongkok dihadapan ayahnya.
"Putriku, mengapa kau bicara seolah-olah sudah tidak kuliah lagi?" Hana terdiam.
"Jelaskan pada Ayah, kenapa kau bicara seperti itu?"
"Ayah ... bukankah kita hidup harus sesuai kehendak Yang Kuasa?"
"Ya, kamu benar!"
"Nah, maksudku, walaupun aku berusaha sampai ke Jepang, tapi kalau Tuhan tidak mentakdirkan aku menjadi seorang dokter, maka aku tidak akan menjadi seorang dokter."
"Tapi Ayah yakin, kalau kau kelak akan menjadi dokter kebanggaan Ayah!"
"Amiiiin, Ayah!"
__ADS_1
Hana benar-benar menghabiskan waktunya bersama ayahnya, dari pagi sampai sore, bahkan ayah nya tidur pun ia tak mau jauh-jauh dari ayahnya. Hana menunggunya, sampai ikut ketiduran.
Keesokan harinya Hana bersiap-siap berangkat ke bandara, Hana bergegas untuk menyelesaikan barang-barang yang kemarin belum sempat dikemasnya. Tak lama kemudian Defta datang, karena hari ini Defta ikut mengantar Hana sampai ke bandara Soekarno Hatta, di Jakarta.
Hana berdiri menatap ibunya yang sekarang sudah berada di belakangnya. Mata perempuan tua itu terlihat sembab oleh air mata. Hana menghamburkan dirinya dalam pelukan ibunya.
Hik ... hik ... hik ... Hana tersedu-sedu, merasakan betapa hancurnya hati dan perasaannya, begitu pula dengan ibunya. Sakit rasanya melepaskan anak gadisnya, pergi begitu jauh darinya, yang entah kapan akan bertemu kembali.
"Ibuku sayang ... maafkanlah anakmu ini karena tidak bisa selalu di sampingmu."
"Seharusnya Ibu yang harus minta maaf padamu, karena Ibulah yang seharusnya memikul beban berat ini, tapi justru Ibu tidak berdaya menghadapi semuanya"
"Hana ikhlas melakukannya, Bu!"
"Kau korbankan segalanya demi kami, sungguh aku sangat bahagia dan bangga memiliki dirimu!" kata Bu Fatmi semakin tenggelam dalam kesedihannya.
"Tiada kebahagiaan dan kepuasan bagi seorang anak, selain melihat orang tuanya bahagia."
"Jaga dirimu di sana, jangan lupa pula menjaga kesehatan, jangan hanya demi kami kau tak memperdulikan dirimu."
"Do'akan aku, Ibu!"
"Iya sayang, itu pasti, do'aku selalu menyertai dirimu, di manapun kau berada."
Mereka tak mampu berkata-kata lagi, seakan semua yang hendak di ucapkan hilang, sirna begitu saja.
"Rega ... adikku, jaga Ayah untukku, ya?" sambil menepuk-nepuk pipi kiri adiknya itu.
"Iya, Kak!"
"Jangan kau lewatkan sekalipun waktu untuk kesembuhan Ayah, kamu yang bertanggungjawab atas Ayah dan ibu disini!"
"Iya ... aku akan melakukan semuanya untuk Kakak." Rega hanya mengiyakan semua perkataan kakaknya. Setelah puas berbicara dengan Rega, Hana menemui ayahnya, yang duduk di atas tempat tidur.
"Ayah, maafkan Hana, Ayah ... Hana harus pergi, Hana bukannya tidak mau merawat Ayah, tapi Hana tak mampu menolak kepergian ini."
"Hana anakku, begitu sakit Ayah melihat kepergian mu, andai saja Ayah bisa mengantarkan mu , pasti lain lagi urusan nya."
"Tidak perlu Ayah, ada mas Defta bersamaku."
"Kau harus ingat, Ayahmu ini sakit-sakitan, kalau nanti Ayah tidak panjang umur, dan kita tidak sempat bertemu kembali, maka Ayah harap kamu memaafkan Ayah karena Ayahmu ini tidak memenuhi kewajiban sebagai seorang Ayah."
"Ayah ... jangan katakan itu ayah ...."
"Ayah harus mengatakannya sayang, entah mengapa rasanya Ayah tidak akan bertemu denganmu lagi!"
__ADS_1
"Bukankah Ayah akan melakukan transplantasi hati?" ayahnya membelai rambut Hana lembut.
"Kalau Tuhan menghendaki."
"Hana akan berdoa selalu untuk kesembuhan Ayah, apakah Ayah tahu, Hanya badan Hana yang berangkat ke Jepang, tapi jiwa Hana bersama dengan Ayah, aku selalu bersamamu, Ayah"
"Ya, Ayah tahu akan hal itu, kau akan melakukan segalanya untuk Ayahmu ini, aku bangga padamu, sekarang berangkatlah, nanti kamu ketinggalan pesawat lagi, restu Ayah senantiasa menyertai langkahmu."
"Iya Ayah, Hana berangkat!"
Sisa-sisa air mata masih terus saja menetes menghiasi wajah ayu Hana, rasanya begitu berat ia akan melangkah, meninggalkan sejuta duka dan penderitaan keluarganya. Hana tahu, setelah kepergiannya, adalah hal yang paling sulit untuk Ayah dan Ibunya. Sekian lama mereka menggantungkan nasib mereka pada Hana, sekarang ia harus pergi sangat jauh, dan entah kapan bisa kembali.
Terbayang dibenak Hana, betapa akan kesepiannya Ayahnya tanpa dirinya. Betapa sibuknya Ibunya tanpa bantuannya, tapi seandainya ia tidak pergi, kemana ia akan mendapatkan uang yang cukup besar untuk biaya Ayahnya.
Defta membantu Hana membawa barang-barang Hana masuk dalam mobil, sedang Pak Herman dengan di dorong oleh Rega mengikuti mereka ke teras. Melepas kepergian Hana penuh keharuan.
Pak Herman merasa ada sesuatu yang aneh dengan kepergian Hana, tapi entah apa?, seolah-olah Hana begitu tersiksa dengan kepergiannya, rasa penasarannya bermula dari pertanyaannya yang tidak bisa di jawab oleh Hana kemarin.
"Berapa lama kamu di Jepang, Han?"
"Masih belum tentu, Ayah."
"Seminggu, dua Minggu barangkali?"
"Hana tidak tahu Ayah."
"Tidak tahu ... kok tidak tahu?"
"Hana, bisa pulang kalau prakteknya selesai Ayah, berhasil atau belum, bisa seminggu, dua minggu, bahkan setahun!"
"Setahun?"
"Ya setahun, makanya Ayah harus cepat sembuh, nanti pas Hana pulang, Ayah bisa berlari menyongsong Hana."
"Entahlah ...."
"Kenapa Ayah?"
"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari Ayah, kan?"
"Tidak Ayah, Hana usahakan akan segera kembali!"
"Ayah pun akan selalu berharap kita bertemu kembali, do'akan Ayah berumur panjang, sehingga kita bisa bersua kembali."
"Amiiiin, pasti Ayah!"
__ADS_1
Pak Herman menyusut air matanya yang jatuh berderai, membalas pelukan perpisahan Hana yang saat ini memeluknya dengan sangat erat, seakan itu adalah pelukan terakhir antara dirinya dan anak gadisnya.
Akankah kepergian Hana membawa sejuta sesal bagi Hana?, atau berbuah kebahagiaan dengan sembuh nya Ayahnya?.