Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 29 Keresahan Pak Herman.


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir satu bulan Hana berada di Jepang, sedikit demi sedikit Hana mulai mengenal teman-teman kerjanya.


Tampak pak Yamada, seorang pegawai yang khusus mengawasi seluruh pegawai bekerja. Segala kejadian yang ada di pabrik, semua atas pengawasannya, adapun hal yang baik maupun yang buruk, maka pak Yamada lah yang bertanggungjawab. Walau terkesan tegas, laki-laki itu mempunyai sikap yang sangat sabar dan penyayang. Mulai dari pengepakan sampai pengiriman, semua atas perintahnya. Hari ini Hana dan teman-temannya mengepak pakaian jadi untuk di kirim ke beberapa tempat. Sepasang mata terus mengawasi nya dengan sangat sinis, Hana Yang menyadari akan hal itu merasa sangat risih, betapa tidak pemilik mata yang menatapnya saat ini adalah seorang gadis yang menempati asrama sebelahnya. Hana tak tahu apa yang menyebabkan gadis itu begitu membencinya. Hana merasa lain dan sangat rikuh. Tiba-tiba gadis yang bernama Verona itu mendekati nya.


"Kalau kamu berani macam-macam, jangan panggil aku Rona!" Hana menatap Rona, penuh keheranan.


"Apa maksudmu?"


"Jangan pura-pura tidak mengerti, kamu jangan ambil muka di hadapan pak Kimura, atau kau akan menerima akibatnya." Hana akan menjawab, tapi Pak Yamada menghampiri mereka.


"Rona ... kerjakan tugasmu!" tegur Pak Yamada sambil menatap tajam ke arah Verona. Hana tersenyum, sambil mengangkat bahunya.


Pekerjaan demi pekerjaan hari ini di selesai kan dengan begitu baik oleh tim Hana dan Dewi, sampai akhirnya mereka sampai pada jam pulang. Hana mengemas seluruh pakaian kerjanya, mengganti dengan pakaian nya, karena di perusahaan semua karyawan mengenakan pakaian yang telah di sediakan di sana.


"Sudah selesai ... mari kita pulang!" kata Dewi menghampiri Hana, dan menemani Hana yang masih tampak sibuk dengan barang-barangnya. Selang waktu tak begitu lama, mereka pun akhirnya meninggalkan tempat itu.


"Mbak ... si Verona kenapa sih?"


"Apa kamu tidak tahu kalau dia cemburu sama kamu?" Hana terkejut dan berhenti melangkah.


" Cemburu ...."


" Ya ... cemburu, karena pak Kimura sering datang ke asrama kita sejak kau bekerja di perusahaan itu."


"Pak Kimura kan hanya mengawasi pegawainya, apa itu salah?"


"Menurutnya itu salah, karena Verona menyukai pak Kimura." Hana tertawa terbahak-bahak, merasa sangat lucu dengan apa yang di katakan oleh Dewi.


"Kok kamu ketawa, memang ada yang lucu?"


"Mana mungkin kita ini naksir sama bos, mimpi!"


"Apa kau tak tahu kalau bos besar memberikan perhatian lebih sama kamu?"


"Jangan ngawur."


"Tidak ... aku tidak ngawur, memang pak Kimura suka sama kamu!"


"Dari mana, Mbak tahu?"


"Dari sumber yang bisa dipercaya, makanya aku sarankan, hati-hati sama Vero, dia sangat berbahaya, dia akan melakukan apapun untuk menyingkirkan kamu!"


Akhirnya Hana mengangguk, mengiyakan apa yang di katakan oleh Dewi.


Tanpa sadar mereka sudah sampai ke asrama mereka. Hana menghempaskan badannya ke kasur yang di sediakan di sana. Belum sempat Hana menikmati istirahat nya, suara ponsel berdering mengagetkan dirinya. Hana mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, mata nya menatap sekilas dan menjawab ponsel itu.


"Halo Ga ... ada apa?"

__ADS_1


"Enggak ... cuman tanya kabar Kakak, apa baik?"


"Alhamdulillah, Kakak baik-baik saja, bagaimana Ayah?"


"Ayah sekarang, sangat sering menanyakan Kakak, seakan dia menyembunyikan sesuatu, kayak tidak percaya lagi kalau Kakak praktek di sana."


"Memangnya Ayah bilang apa aja?"


"Pernah Ayah tanya sama Ibu, apa Ibu tahu sesuatu tentang Kakak, tak mungkin Kakak pergi dalam waktu yang begitu lama, sampai saat ini belum kembali, kalau hanya sekedar praktek.'


"Lalu, aku harus bilang apa pada Ayah?"


"Entahlah, aku sendiri bingung, Kak."


"Bagaimana, belum ada donor hati untuk Ayah?"


"Belum, mudah mudahan segera ada ya, Kak"


"Ga, ya udah, besok aja aku telepon Ayah, sekarang Kakak sangat capek, kalau ada apa-apa, kamu segera kabari Kakak, salam untuk Mas Defta, katakan aku baik baik saja."


"Ya Kak, sampai besok, aku tutup dulu."


Percakapan merekapun berakhir, Hana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mencoba mengikhlaskan semuanya, menerima segala ujian yang diberikan kepadanya.


Wajah ayahnya tiba-tiba terlintas di benak Hana, ia tak tahu lagi, apa yang harus di katakan pada ayahnya, Hana tahu, ayahnya pasti sangat merindukan diri nya, sebab, tak pernah sekalipun mereka saling berjauhan selama ini. Begitu juga dengan adik dan ibunya.


Terdengar kembali ponselnya, kali ini dari Defta, Hana seakan tak bersemangat untuk mengangkat ponselnya, hatinya saat ini sedang kalut, rasa khawatirnya kini semakin bersarang di hatinya. Hana mendiamkan ponselnya, membiarkan nya berdering dan sampai akhirnya mati. Tapi ponsel itu kembali berdering, Hana mau tak mau akhirnya menerima panggilan itu .


"Kamu lagi ngapain?"


"Aku mau mandi, ada kabar apa?"


"Aku hanya kangen saja sama kamu, lama aku tidak menelpon mu, apakah kau baik baik saja?"


"Ya Mas, aku baik, Mas sendiri bagaimana?"


"Alhamdulillah, aku baik, perusahaan ku maju sangat pesat, andai saja saat itu, aku pada posisi ini, tak akan ku biarkan kau pergi sejauh ini, pasti aku akan mengajak mu kerja di perusahaan ku."


"Sudahlah, mungkin ini memang jalan hidup untukku, jadi aku harus ikhlas dan sabar menghadapi semua ini."


"Maafkan aku, semua ini karena aku!"


"Tidak Mas, jangan buat aku tambah bersedih, saat ini aku lagi kalut, aku lagi berfikir, bagaimana caranya aku mengatakan pada Ayah, tentang aku disini!"


"Memang ada apa dengan Ayahmu?"


"Tadi Rega telpon, Ayah sering menanyakan aku, dia tidak percaya lagi kalau aku lagi praktek, sebagai mana yang ku katakan selama ini."

__ADS_1


"Terus, apa rencana mu?"


"Itulah Mas, kalau aku jujur, aku takut Ayah akan terkejut dan kepikiran, tapi ...."


"Han ... aku akan coba bicara soal itu pada ayahmu, semoga saja ia bisa mengerti."


"Makasih, Mas!"


"Apakah kamu lagi menangis?"


"Ya, aku sangat merindukan Ayah!"


"Semoga Allah mengampuni semua dosa Ayahmu, beliau beruntung memiliki seorang anak yang begitu mencintai dan menyayangi nya."


"Saat ini aku begitu takut, Mas ...."


"Takut, terjadi sesuatu pada Ayah!"


"Jangan berfikir macam macam, berdoalah, aku akan menjaga keluargamu di sini."


"Oh ya, Han, aku seminggu lagi mau ke Jakarta, apa kamu mau nitip CD?" Hana tergelak, cekikikan, Defta sangat gembira mendengar suara tawa itu.


"Mas Defta, ada ada aja!"


"Aku selalu tersenyum sendiri kalau ingat akan kejadian itu, bahkan aku ingin sekali lagi mengulangi nya, aku benar benar tersiksa dengan kerinduan ini."


"Mas ...."


"Hana ... apa yang harus aku lakukan, aku tidak sanggup lagi mengenal wanita lain selain dirimu, bagiku kaulah wanita yang paling sempurna, apa ini pertanda aku terobsesi pada seorang gadis?"


"Mas ... jangan kau menyukai sesuatu dengan berlebihan, boleh jadi yang kau sukai saat ini akan menjadi sesuatu yang paling engkau benci di masa yang akan datang."


"Mengapa Hana, kau selalu punya kata puitis yang begitu sangat berarti, aku tak tahu, tapi kalau boleh jujur, semakin aku mengenalmu semakin pula aku mencintaimu, semua tentang mu, sangat berarti bagiku."


"Aku ... hanya mengatakan sesuatu yang aku tahu, masalah membuat orang menilai siapa diriku, itu terserah mereka yang menilai ku."


"Setiap harinya aku semakin banyak menemukan sisi baik dari dirimu."


"Terimakasih, atas pujiannya."


"Aku tidak memujimu, aku bicara apa adanya."


"Mudah mudahan, semakin bertambahnya usia dan ujian hidup yang aku hadapi, aku menjadi sosok manusia yang bijaksana dan baik hati."


"Aamiin, oh ya, aku bakal sering sering ke Jakarta, nanti aku bakal beli CD banyak untuk kamu, kamu mau aku kirimin?"


"Udah Mas, bercandanya, nggak lucu, kalau saja Mad Defta tahu, sekarang muka ku merah kayak tomat karena malu." Defta tersenyum, geli membayangkan wajah Hana yang merona.

__ADS_1


"Udah ya Mas, aku mau mandi dulu!"


"Ya, baik baik selalu, love you!" percakapan mereka pun akhirnya berakhir sampai disitu.


__ADS_2