
Hana dan Ibunya masuk kedalam tempat Pak Herman dirawat setelah mereka minta izin pada dokter.
Pak Herman terbaring lemah tak berdaya, dokter telah mengambil darah pak Herman untuk sampel. Nampak wajah nya yang pucat pasi seakan menahan sesuatu yang begitu sakit.
"Ayah, mana yang sakit?" tanya Hana dengan sangat lembut sambil menyapu pucuk kepala ayahnya. Ibunya duduk di sisi kanan pak Herman sementara Hana berdiri disisi kirinya. Ayahnya menoleh menatap Hana, bibirnya tersenyum seolah menyembunyikan rasa sakit yang di deritanya.
"Ayah, tidak apa-apa Han."
"gak ada yang sakit?"
"Ada , disini sedikit!" jawab pak Herman menunjuk bagian perut sebelah kanan atas dan kembali menyembunyikan rasa sakit yang demikian luar biasa, pada putrinya.
"Ayah yang sabar, ya ...." Sahut bu Fatmi.
"Ayah minta maaf, ayah sudah merepotkan kalian."
"Ayah jangan bicara seperti itu, selama ini kami selalu merepotkan ayah, bukan?, maafkan jika kami punya salah pada ayah." Sahut Hana dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, sama sekali tidak, kalian adalah anak-anak yang baik, aku bangga pada kalian, kalian adalah anugerah terindah dalam hidup Ayah."
"Ayah harus cepat sembuh, ya!" kata Hana lagi.
"Mana Rega?"
"Ayah mau bicara dengannya?" tanya ibu Fatmi, sedang Hana menggeleng.
"Tidak Ayah, ayah harus istirahat, nanti kalau sudah mendingan, baru ayah boleh banyak bicara, ya!"
"Ibu, Hana keluar dulu sebentar, Ibu tetap disini bersama Ayah." Ibu nya mengangguk.
Hana pun keluar, nampak olehnya adiknya duduk dipojok ruang tunggu rumah sakit, sendiri sambil menatap jauh dengan tatapan mata kosong. Hana menghampiri nya, tetapi belum sampai dimana Rega duduk, seorang perawat memanggilnya.
"Mbak, dari keluarga pak Herman?"
"Iya sus, ada apa, ya?"
"Mbak di panggil oleh dokter, mari ikut saya." Hana mengangguk dan mengikuti suster tersebut. Tak lama sampailah mereka di ruangan dokter, tatapan mata dokter yang seakan ada sesuatu yang begitu penting untuk di sampaikan.
"Dokter memanggil saya?" setelah dokter itu menyuruhnya duduk.
"Ya mbak, saya harus menyampaikan, hasil dari pemeriksaan tes darah dari ayah mbak."
__ADS_1
"Bagaimana hasil nya, dok?"
Dokter itu bukannya menjawab malah menatap dalam kearah Hana. Hana pun seolah mengerti akan maksud dokter itu, bahwa ayahnya sedang menderita sesuatu.
"Ada apa dok, katakanlah!" Dokter itu berdiri. Menatap Hana.
"Mbak harus sabar, karena ...." Dokter itu kembali diam.
"Katakan dokter, katakanlah!"
"Kamu harus menerima kenyataan bahwa, ayah mu menderita kanker hati stadium tiga."
Deg, seolah jantung Hana berhenti berdetak mendengar kabar yang di sampaikan oleh dokter itu, air matanya tanpa bisa dicegah, mengalir begitu saja. Tanpa bicara apapun Hana menatap dokter itu, dokter itu menghampiri nya dan memegang bahunya seakan memberi kekuatan padanya.
"Kamu harus kuat!"
"Apakah ayah saya bisa di sembuhkan, dok?"
"Kemungkinan sangat kecil, tapi maut itu adalah rahasia Tuhan, doa seorang anak yang sholeh sangat ampuh, maka berdoalah untuk kesembuhan ayahmu."
"Lalu pengobatan apa yang harus dilakukan, dok?"
"Tentu biayanya sangat mahal, 'kan, dok?"
"Masalah biaya kamu bisa menanyakan kepada administrasi"
"Kapan kemoterapi nya akan dilakukan dok?"
"Dalam Minggu ini, kami akan mengatur jadwal nya."
"terimakasih kasih dok, saya permisi." Dokter itu mengangguk tersenyum.
Hana keluar dengan gontai, menuju administrasi untuk menanyakan berapa biaya ayah nya tepatnya untuk kemoterapi pertama nya. Tapi alangkah terkejutnya Hana mendengar biaya yang disebut oleh pegawai rumah sakit itu, badannya terasa lemas, jangan kan untuk biaya kemoterapi, untuk biaya rumah sakit saja uang mereka di bilang jauh dari cukup. Lalu dari mana ia akan mendapatkan uang yang demikian banyak untuk pengobatan ayah nya.
Hana melangkah dengan menundukkan kepalanya, menyeka air matanya yang mengalir beberapa kali. Dari jauh nampak Rega memperhatikan nya dan langsung berlari melihat badan kakak nya seperti oyong, Rega segera menangkap nya, agar kakaknya tidak terjatuh.
"Ada apa, Kak?" Hana hanya menatap Rega hampa, sambil terus berurai air mata, bibirnya bergetar seakan menahan perasaan gundahnya.
"Ayah ga, ayah di vonis kanker hati."
Saking terkejutnya Hana hampir jatuh dari pegangannya, terus kemudian membawa kakaknya duduk di bangku kosong.
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan, Ga?" Rega dan Hana, diam seakan pasrah.
"Dari mana kita mendapatkan biaya untuk ayah?" Hana tersedu-sedu dalam pelukan adiknya. Defta menghampiri mereka dengan sangat heran, apa lagi menyaksikan Hana Yang menangis, hati nya seakan tersiksa.
"Ada apa, ga?" tatapnya pada Rega yang juga nampak berkaca-kaca.
"Ayah Mas, ayah kena kanker hati" Ucapnya dengan terbata sementara Defta melongo seakan tak percaya, tak lama berfikir, Defta seakan mengerti apakah yang dirasakan oleh Hana, diambilnya dompet dari dalam saku celana nya dan membukanya, mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkan nya dalam genggaman tangan Hana. Hana menoleh menatap Defta dengan serta Merta melihat tangan nya, ia melihat sebuah kartu ATM.
"Pakailah, itu murni punya ku, gunakan untuk menutupi keperluan mu."
"Tapi Mas ...."
"Jangan bilang apapun, please ku mohon, terimalah, hanya ini yang bisa aku lakukan, degan melihat ayahmu sehat, itu membuat mu bahagia bukan?" Hana mengangguk.
"Aku bahagia melihat mu bahagia Han, katakan saja kalau kau butuh bantuan ku, bukankah aku sudah berjanji akan selalu ada untukmu, anggap lah aku ada!" Defta diam sebentar.
"Walaupun tidak sebagai kekasih, anggap aku sahabatmu!"
"Terimakasih, Mas." Defta mengangguk, kemudian pamit menemui ayah dan ibu nya.
Nampak pak Herman mengerang kesakitan, mulut nya mendesis sambil sesekali menggigit bibir, menahan sakit nya yang tidak terkira. Hana berlari menghampiri ayahnya. Hatinya sangat menderita melihat penderitaan ayah nya, matanya terbelalak ketika hidung ayahnya tampak keluar darah segar.
Hana membersihkan nya dengan sapu tangan dari sakunya.
"Ayah ... katakan pada Hana mana yang sakit?" ayahnya terkulai tak berdaya.
"Sejak kapan ayah sering mimisan?" ayahnya hanya diam.
"katakan padaku Ayah, sejak kapan, mengapa Ayah menyembunyikan dariku?" tanya Hana dalam tangisnya yang terdengar pilu.
"Sejak dua tahun yang lalu?"
"Mengapa ayah menyembunyikan sakit ayah, mengapa ayah merasakan sakit itu sendirian, ayah?" Ibu Fatmi menatap Hana, seakan ia sudah mengetahui kalau putrinya sudah mengetahui sesuatu.
"Jawab Ayah, kenapa Ayah tidak beritahu Hana, kalau ayah sakit?"
"Ayah tidak mau menambah penderitaan mu, bukankah kau sangat sedih karena Andri?"
"Ayah ...." Air mata Hana tumpah sejadi-jadinya.
"Ayah, adalah orang yang paling berharga dalam hidupku, Andri ... Andri hanya lah orang yang gak jelas statusnya Ayah. Ayah adalah segala nya bagiku, lalu mengapa ayah menjadikan aku seorang anak yang egois, yang tidak punya hati melihat penderitaan Ayahnya, Aku takut akan kehilangan Ayah." Hana memeluk ayahnya erat, sangat erat seolah tak ingin melepaskan nya, sementara ibunya hanya membisu sambil menangis sedih.
__ADS_1