Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 24 Pergi Dengan Defta


__ADS_3

Hana kelihatan tegang di atas tempat duduknya, Defta tersenyum menatapnya, dengan lembut dipegangnya tangan mungil yang halus itu.


"Ngapain tegang?, kamu takut?" Hana menelan ludahnya, lalu mengangguk.


Maklum seumur-umur baru kali pertama ia naik pesawat, sebelumnya, sedikitpun ia tak pernah memimpikannya. Selang beberapa jam kemudian, pesawat pun mendarat dengan selamat sampai tujuan.


Defta memegangi tangan Hana, membawanya turun, menuju taksi yang telah di pesannya, menuju hotel untuk beristirahat malam ini.


Hana akan berangkat besok.


"Han, kok kamu bengong?"


"I_ iya, Mas!" Hana ikut turun dari taksi itu. Hana menatap Defta bingung.


"Kita nginap di sini?"


"Ya, memang kenapa?"


"Sekamar?"


"Ya!"


"Sekamar?" ulang Hana lagi.


"Iya ... sayang !" Hana terpaku, mematung, tak ikut masuk.


"Kamu takut?" Hana mengangguk.


"Han, aku sama sekali tidak punya niat buruk padamu, aku akan tidur di bawah, kamu tenang saja!" Hana masih ragu.


"Oke, aku pesankan kamar kalau begitu!" Hana menahan tangan Defta.


" Nggak usah Mas, aku percaya!"


"Nah, gitu dong!" Hana masuk, membawa beban nya yang lumayan banyak.


Defta menghempaskan badannya di atas sofa, yang ada di kamar hotel itu, benar, apa yang di katakan oleh Hana, ia membayangkan sesuatu yang tidak semestinya. Defta tersenyum, di pandangi nya wajah Hana, seandainya saja Hana adalah istrinya, akan dengan mudahnya, ia memeluk nya dari belakang. Defta menepis khayalan nya, sadar diri, Hana bukan kekasih atau istrinya.


"Mas, barang ku ada yang tinggal."


"Dimana?"


"Di rumah, Mas."


"Terus gimana?"


"Mas, capek nggak?"


"Capek sih ... tapi kalau kau mau membeli sesuatu aku siap mengantar!"


"Benarkah?"


"Ya, tentu!"


" Besok pagi aja, Mas."


"Besok pagi terburu-buru, sekarang aja, ayo!"


"Baiklah, tapi aku merasa sangat panas, kalau aku mandi dulu, boleh?"

__ADS_1


"Ya, tentu boleh, kamu mandi aja dulu, aku keluar sebentar." Ternyata memang benar, rasanya rikuh sekamar dengan seseorang yang tidak ada hubungan sedikit pun, sehingga ia harus pura-pura ada keperluan, untuk jadi alasan, agar bisa keluar, sehingga Hana, bisa leluasa untuk mandi, tanpa merasa sungkan.


Defta kembali setelah Hana selesai mandi, sedikit polesan bedak dan lipstik, membuat Defta terpana menatap Hana. "Kau cantik sekali Han ...." Batinnya.


" Mas tidak mandi?" Defta hanya menggeleng.


" Nanti saja, keburu malam!"


" Mandi malam-malam tidak baik lo Mas, untuk kesehatan." Defta hanya tersenyum cuek.


Mereka berdua keluar bersama, Defta menggandeng tangan Hana dengan begitu mesra, Hana merasa salah tingkah, namun Defta seolah mengabaikan hal itu. Bagi Defta mungkin ini adalah kali pertama dan terakhir bisa melakukan itu, setelah Hana kembali, entah apa yang akan terjadi.


"Mau beli apa sih, Han?"


"Handuk ku ketinggalan Mas."


"Kalau begitu kita ke toko kain aja."


"Ya!"


Defta telah memesan taksi sebelumnya, jadi mereka sebentar saja menunggunya.


Keduanya masuk dalam taksi itu, lagi-lagi, Defta ingin memegangi tangan Hana, tapi Hana menarik nya.


"Aku bisa sendiri, Mas." Defta tersenyum.


"Maaf, kau merasa risih?"


"I_ iya Mas."


Tak lama, mereka sampai ketempat yang di tuju.


"Untuk apa?"


"Mas telah mengantarkan aku."


"Sudah seharusnya, Han." Jawab Defta tersenyum.


Sesampainya di dalam, Hana tampak memilih barang yang akan di belinya, sedang Defta mengekor dari belakang. Setelah mencari-cari sesuatu, tapi tidak melihat apa yang akan di belinya ada di ruangan itu, ia mendekati seseorang yang berdiri di dekat mereka, pekerja di toko itu, tampaknya. Merasa tak nyaman untuk bertanya karena Defta selalu menguntit dari belakang, seakan tak ingin jauh-jauh dari dirinya. Hana nekat bertanya.


"Mbak, mana ya, tempat CD?" pekerja toko itu merasa bingung.


" Maaf mbak, ini toko baju, ngapain tanyanya CD?" Hana memberi kode namun wanita itu tidak mengerti.


" Mas tahu ini toko pakaian, kenapa Mas diam saja, istrinya nanya tentang CD." Defta jadi salah tingkah dikatakan kalau Hana adalah istrinya, sementara Hana merasa pipinya merona, karena malu. Hana menarik tangan wanita itu, agak menjauh dari Defta.


"Maksudnya, letak ****** ***** dimana?" perempuan itu justru tersenyum.


" Maaf Mbak, atas ketidak nyamanan nya, letak ****** ********, ada di lantai atas."


"Mbak bisa mengantarkan aku ke sana?"


"Lalu suami Mbak?"


"Dia bukan suami saya!" Perempuan itu akhirnya tersenyum, mengerti akan Hana Yang ternyata merasa malu.


"Jadi Mbak malu ya?" Hana mengangguk. Mereka berdua berjalan, menuju lantai atas, tapi Defta ternyata sudah ada di dekat mereka, ikut!


"Mas disini saja, saya pinjam sebentar Mbaknya, Mas jangan takut, Mbaknya akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Kalian mau kemana?" tanya Defta khawatir.


"Kami ...." Hana memandang Defta, lalu memandang perempuan itu. Defta tetap mau ikut, sudah dilarang kembali, tapi tetap membuntuti dari belakang.


"Mas ... Mbaknya mau beli pakaian dalam, tetap mau ikut?" tegas perempuan itu, Defta tersenyum, agak malu, akhirnya ia membiarkan Hana dan petugas toko itu menjauh dari nya.


"Pacar ya, Mbak?"


"Bukan!"


"Kok nampaknya, mas nya bucin banget."


"Masak sih?"


"Ya, sepertinya dia sangat mencintaimu."


"Kami hanya berteman."


Akhirnya Hana memilih-milih pakaian dalam yang akan di belinya. Setelah merasa cukup, iapun kembali lagi ke bawah.


"Sudah, Han?" Hana mengangguk, kemudian mereka menuju kasir.


"Maaf, sudah membuatmu tidak nyaman."


"Tidak apa-apa, Mas."


"Tapi melihat mu malu kayak tadi, seru lho."


Hana mencubit Defta. Aneh, dicubit bukannya marah malah cekikikan. Setelah urusan di kasir selesai, mereka beranjak pergi dari tempat itu, langsung kembali ke hotel, sesampainya di hotel, Defta langsung mandi, sementara Hana menunggunya untuk makan malam. Setelah makan malam, mereka akhirnya beristirahat, tidur dengan bunga mimpi masing-masing.


Dilain tempat, terdengar suara ponsel Andri berdering, dengan malas-malasan Andri meraih ponselnya.


"Ya, ada apa Shela?" yang ternyata yang menelponnya adalah Shela.


"An, aku besok pulang, kamu jemput aku di bandara, ya?"


" Aku nggak janji, soalnya aku sangat sibuk besok."


" Tu kan ... masa nggak ada sih yang mau jemput!"


"Suruh saja si Tarno jemput, beres 'kan?"


" Ya udah, kalau tidak mau, aku pesan taksi aja."


" Ngambek ... cerita nya?"


"Memang kamu selalu seperti itu!" ponsel di tutup secara sepihak oleh Shela, karena kesal pada Andri. Entahlah, rasanya begitu berat mengiyakan permintaan Shela, padahal hanya sekedar menjemput di bandara, apa susah nya.


Dalam hati Andri bertanya-tanya, menjemput seseorang kan nggak harus pacar, sahabat kan boleh juga dan tidak ada salahnya, terus ngapain harus menolaknya, lagi pula, bukankah aku akan memberikan sebuah kesempatan pada Shela?


"Dasar plain plan!" gerutu Andri seorang diri.


Akhirnya, ia memutuskan untuk menjemput Shela, besok, untuk menyenangkan hati gadis yang sedang ngambek saat ini.


***


Teman-teman, author punya novel baru, judulnya, "Ayah Anakku Kakak Kekasihku"


baca, komentar, dan kasih masukan ya...,oke! 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2