
Pak Herman menatap Bu Fatmi dengan pandangan aneh, Bu Fatmi yang menyadari akan hal itu berhenti membersihkan badan suaminya.
"Ada apa Yah?" pak Herman menggeleng.
"Kok menatapku aneh kayak gitu ...."
"Ibu dan Hana bohong kan?"
"Bohong kenapa?"
"Aku bisa merasakan, ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku, katakan Bu ... katakan kalau Hana di sana tidak praktek, kan?" untuk kali ini Bu Fatmi hanya diam dan menunduk, ia tidak sanggup menatap wajah suaminya.
"Sebagai seorang Ayah, aku sangat mengenal Hana, dia tidak akan meninggalkan Ayahnya, dalam keadaan sakit seperti ini, kecuali dengan alasan tertentu, ini alasannya adalah untuk praktek, praktek adalah sesuatu hal bersifat kebutuhan pribadi, bukan keluarga, dan Hana tak akan mungkin melakukan sesuatu yang bersifat pribadi."
"Walaupun bersifat pribadi, tapi praktek adalah bagian pendidikan yang sangat penting, untuk mendapatkan nilai kuliah dan kwalitas pendidikan yang lebih baik."
" Sampai kapan Ibu akan menyembunyikannya kebenaran dariku?" Bu Fatmi mencari alasan lain, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nanti waktu kita periksa,Yah ... sekarang Ibu siapkan cuci piring dulu, Ayah sama Rega." Melihat Rega datang ke dekat mereka. Rega meraih kursi roda Ayahnya, membawanya keluar rumah, menuju taman belakang. Sesampainya mereka ke taman belakang, pak Herman menatap Rega lekat.
"Ada apa Ayah?"
"Apakah kau juga akan menyembunyikan kebenaran dariku?"
"Kebenaran apa Ayah, tak ada yang kami sembunyikan dari Ayah."
"Seberapa banyak kalian mengenal Hana, Ayah lebih tahu bagaimana Kakakmu itu, katakan Ga ... sebenarnya kakakmu tidak praktek kan?" Rega diam, tak tahu akan menjawab apa.
"Kalau kalian tidak mau memberikan jawaban, aku bisa mencari tahu sendiri, apa kamu tahu, betapa Ayahmu ini sangat merindukan Kakakmu."
"Kalau saja aku tidak sakit, pasti kakakmu tidak akan pergi, iyakan ...."
"Ayah ...."
"Apa, kau mau bilang tidak benar?" Rega yang duduk di sisi pak Herman menunduk, tak mampu lagi berkata-kata, ia benar-benar terpojok dengan kata-kata Ayahnya.
"Sejak kapan kakakmu tidak kuliah?" Rega masih diam.
"Ga ... kenapa diam saja?"
__ADS_1
"Ayah ... siapa bilang kalau kakak berhenti kuliah?"
"Tidak ada yang bilang sama Ayah, mungkin ini adalah insting seorang Ayah, aku tak yakin sama sekali, kalau dia pergi karena praktek."
"Ayah bisa tanya sama mas Defta, dia pasti akan memberikan jawaban yang sama."
"Tentu, karena Defta telah berkompromi dengan kalian."
Mereka memandang kearah datangnya Bu Fatmi, Rega merasa bingung dengan keadaan sekarang ini, ia sangat takut, kalau Ayahnya sampai tahu maka akan mempengaruhi kesehatannya.
Bu Fatmi membawa kembali suaminya, masuk kedalam rumah, mereka bersiap untuk pergi cek ap. Dalam perjalanan ke rumah sakit, mereka bertiga hanya saling membisu, pak Herman masih asyik dengan pikirannya. Bu Fatmi dan Rega sama merasa kwartir, mereka tidak tahu akan memberikan jawaban apa, apabila pertanyaan yang sama di tanyakan lagi.
Tak terasa mereka sudah sampai ke rumah sakit, mereka menemani pak Herman di periksa sampai selesai.
"Bagaimana keadaan Ayah saya Bu dokter?"
"Keadaannya sedikit menurun, apa ada yang sedang mengganggu pikirannya?"
"Iya Dok, apakah belum ada juga donor hati untuk Ayah saya, Dok?"
"Oh Ya, ada kabar baik, memang masih dalam penelitian, tapi kemungkinan akhir bulan ini, ada hati yang cocok untuk ayahmu."
"Benarkah?"
"Ya Dok, saya permisi!" dokter itupun mengangguk sambil tersenyum.
Kembali sesampainya di rumah, pak Herman seakan kembali menagih jawaban, menatap penuh selidik, bergantian dari menatap Rega, kemudian menatap istrinya.
"Ada apa, Yah?" pak Herman menggeleng.
"Terus, kenapa memandangi kami seperti itu?"
"Bukankah ... kalian sudah sepakat untuk tidak memberi tahu padaku, lalu untuk apa aku bertanya lagi pada kalian."
"Ayah ... kata dokter, akan ada donor hati untuk Ayah akhir bulan ini, aku sangat berharap, Ayah akan segera sembuh." Bu Fatmi dan Pak Herman memandang Rega, tersenyum.
"Benarkah?" jawab Bu Fatmi. Rega mengiyakan. Sementara pak Herman mendesah lirih, lalu menghela nafas panjang.
"Mengapa Ayah ... apakah Ayah tidak suka mendengar berita ini?"
__ADS_1
"Aku sangat bahagia, tapi alangkah lebih bahagianya hatiku jika Hana ada bersamaku." Tampak air mata pak Herman menetes di pipinya yang kuyu.
"Apakah kalian tahu kapan dia akan kembali?"
"Belum Ayah, apakah Ayah ingin bicara pada Kak Hana?"
"Ya hubungi Kakakmu, mungkin sekarang Kakakmu bertambah kurus saja, termakan perasaan rindu pada kita."
"Apakah Ayah tahu ... bagi Kak Hana kesembuhan Ayah nomor satu."
"Ya, demi itu pula kalian tega membohongi aku."
"Ayah tahu sesuatu?"
"Cepatlah, hubungi Kakakmu!" selang waktu tak berapa lama, mereka akhirnya sudah berhasil terhubung dengan Hana.
"Hana ... sayang ...."
"Bagaimana kabar Ayah ... apakah Ayah baik baik saja?"
"Tidak, Ayah tidak baik-baik saja, Ayah sangat rindu padamu, mengapa kau harus pergi?"
"Bukankah Ayah telah memberikan izin padaku, tak akan pernah aku pergi tanpa izin dari Ayah ....'
"Kau bohong sayang ... mengapa kau bohongi Ayahmu ini?"
"Bohong kenapa Ayah ...."
"Kau ... kau tidak praktek, kau ... kau ...." Tiba-tiba pak Herman merasa sesak, badannya lemas, terkulai. Hana menjerit jerit melihat Ayahnya berhenti bicara, Rega dengan sigap membopong Ayah nya, membawanya keluar rumah, berteriak meminta tolong.Orang orang yang berada di kios mereka berlari menghampiri Rega yang panik. salah satu di antara mereka ada yang memanggil kan ambulans, Bu Fatmi hanya duduk bersimpuh tak berdaya di ruang tamu. Seseorang yang menyadari Bu Fatmi tidak ada bersama mereka, akhirnya mencari nya kedalam.
"Mari, saya bawa Ibu ke depan, sebentar lagi ambulans nya pasti datang, Ibu harus kuat, kasihan Rega!" tanpa sengaja ponsel Rega tersentuh kaki laki laki yang masuk kedalam rumah itu. Di ambilnya, masih aktif, masih tampak wajah Hana di sana, bersimbah air mata.
" Pak, mana Ayahku?" tanya Hana terisak pilu.
"Hana ... berdoalah semoga Ayahmu baik baik saja, sekarang akan di bawa ke rumah sakit, jangan khawatir, kami di sini selalu mengawasi keluarga mu."
"Pak, gara gara aku Ayah seperti ini, aku tidak mampu menjadi anak yang baik untuk Ayahku."
"Jangan bicara seperti itu, kau justru anak yang hebat, tak semua orang mampu melaksanakan apa yang kau lakukan, semoga Ayahmu segera mendapatkan obat, kau mau bicara pada Ibumu?" laki laki itu menyerahkan ponsel pada Bu Fatmi, tapi Bu Fatmi justru menolaknya. Ia tak kuasa menatap wajah anaknya, saat ini hatinya benar-benar menderita.
__ADS_1
Terdengar suara mobil ambulans telah datang, Bu Fatmi mengumpulkan seluruh tenaga untuk bisa berdiri, dengan di pegang oleh laki-laki yang masuk tadi iapun keluar dan pergi ke rumah sakit bersama dengan Rega mengikuti ambulans yang membawa suaminya.