Kesetiaan Yang Teruji

Kesetiaan Yang Teruji
Bab 37 Perasaan Defta.


__ADS_3

Dengan perasaan dag-dig-dug, Rega dan ibunya menanti hasil operasi, Defta menunduk, dalam harapan yang juga was was, ia teringat akan ayahnya, sudah lama ia tak mendengar kabar tentang ayahnya, tepatnya setelah ia pergi dari rumah. Walaupun ia selalu bermusuhan dengan ayahnya, yang namanya anak, maka ia tetaplah anak, karena tidak ada yang namanya mantan anak di dunia ini.


Perlahan di ambilnya ponselnya, di hubunginya ayahnya.


"Halo Bik ... mana Ayah?"


"Den ... mengapa Aden tidak pulang ... bagaimana kabar Aden?"


"Aku baik Bik, Ayah sehat kan?"


"Bapak ...." suara itu bergetar, seperti menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa dengan bapak?"


"Bapak ditahan, Den!"


"Ditahan?" ulang Defta.


"Ya, Bapak terbukti korupsi,Den."


"Ya, besok aku pulang Bik, sekarang aku masih ada urusan."


"Ya, Den ... jaga diri baik-baik, bibi tutup dulu, assalamu'alaikum." Defta menjawab salam itu sebelum menutup ponsel itu.


Defta menghela napas berat, kasihan juga ia pada ayahnya, sejak dulu, ia sudah sering mengingatkan ayahnya, tapi karena tergoda dengan uang banyak, maka segalanya menutupi akal dan pikirannya. Sekarang, ayahnya harus di penjara, demi mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.


"Ada apa, Mas?" tanya Rega, menatap wajah Defta yang berubah secara drastis itu.


"Ayahku masuk penjara!"


"Pak Kades, masuk penjara?" sahut Bu Fatmi terkejut.


Defta mengangguk, membenarkan.


"Kamu yang sabar ya, nak ...."


"Iya Bu, biarlah semua terjadi, semoga semua bisa menjadi pelajaran buat ayahku."


"Kenapa kau tidak pulang?"


"Besok aku pulang, Bu!"

__ADS_1


"Mengapa menanti besok?, dia ayahmu, dia butuh dukungan mu."


"Tidak Bu, aku akan pergi setelah melihat hasil operasi bapak, aku tidak akan tenang, pergi sebelum mengetahui hasil operasi itu."


"Terimakasih, nak ... aku sangat bahagia kau sangat perhatian pada keluargaku."


"Bagiku, kalianlah yang sebenarnya keluarga, saling menyayangi, melindungi, mengayomi satu sama lain."


"Sebuah keluarga yang di mulai dengan tidak adanya ketulusan, maka hubungan yang terjalin pun tidak akan tulus, nak ...."


"Pantaslah, Hana menjadi gadis yang begitu tulus dan penuh kasih sayang, seorang yang baik seperti mu, sangat wajar memiliki anak sebaik Hana."


"Saat ini, ayahmu sudah mendapatkan ganjaran, sebagai seorang anak, jangan engkau tinggalkan ayahmu, apalagi ibumu sudah lama, tidak mendampinginya, mungkin ... saat ini kau bisa mendamaikan mereka, mana tahu ibumu mau untuk kembali."


"Iya ibu, aku akan mencoba, tapi apakah ibu akan bersedia, sedang hatinya sudah benar benar tersakiti."


"Hati adalah sesuatu yang mudah untuk berubah, mintalah pada Sang pembolak- balik hati, Dialah yang akan menentukan segalanya."


"Melihat Ibu bicara, aku ingat akan Hana, aku begitu sangat mencintainya, dan aku ingin Ibu tahu, aku sangat ingin menjadikan Hana, sebagai istriku, aku tahu hanya Hana lah, yang mampu membuat hidupku tenang!"


"Nak Defta ... rezeki, jodoh dan maut itu sudah di atur oleh Tuhan, jadi, kamu maupun Hana, sebenarnya hanya menanti saja."


"Kau jangan terlalu berharap banyak padanya, kau dan dia saling berjauhan, kita tidak tahu bagaimana akhirnya."


"Ibu mengatakan itu, karena Hana jauh, atau karena Hana mencintai Andri?"


"Kau tahu tentang Andri?"


"Aku tahu, Bu ... tapi entah mengapa, semua itu tidak merubah perasaan ku padanya."


"Karena kamu tidak membuka hati, untuk wanita lain."


"Mungkin, menurutku seorang laki-laki yang telah mengenal Hana, pasti tidak akan mudah untuk mencintai gadis lain, selain cantik, Hana sangat baik."


"Karena kamu, tidak tahu sisi buruk Hana, kamu hanya melihat sisi baiknya."


"Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing, orang yang saling mencintai akan menjadikan kelebihan pasangannya, sebagai pelengkap, atau pengisi kekurangan pasangannya itu."


"Bagai sayur tanpa garam, maka rasanya tidak akan enak!" celetuk Rega.


"Nah ... benar itu Ga ...."

__ADS_1


"Kamipun merasa ada sesuatu yang hilang, tanpa adanya Kak Hana, dia adalah pelengkap kebahagiaan kami, dia sosok yang sangat aku rindukan, ia mampu membuat orang tenang walaupun ia sendiri merasa hancur didalamnya."


"Itulah yang baru aku katakan pada ibu, tapi seakan ibu tidak suka aku mencintai kakakmu itu!"


"Bukan nak Defta ... maksud Ibu bukan seperti itu."


"Aku jadi berpikir, ibu tidak merestui aku ... mungkin aku karena anak kepala desa yang korup."


"Astaghfirullah, mengapa kau berpikir seperti itu, nak Defta." "Jangan menilai ibuku seperti itu, kalau Kak Hana tahu, ia tak akan memaafkan mu!"


"Maaf Ibu, aku tak bermaksud membuat hati mu terluka."


"Tidak apa-apa, dalam kondisi seperti ini, jiwa seseorang sangat labil, sehingga mudah untuk tersinggung, kalau kau mencintai Hana, dan Hana pun mencintaimu, maka seandainya aku tidak merestui kalian, sedang Hana adalah jodoh yang di takdirkan untukmu, maka kalian pasti akan bersatu."


"Mungkin, aku memang belum pantas mendapatkan cinta Hana, dia begitu sempurna."


"Bukan sempurna, tapi dewasa, ya, ia selalu bersikap dewasa menghadapi segala masalah yang di hadapkan padanya."


Dokter yang mengoperasi pak Herman sudah keluar dari ruang operasi, Rega dengan segera menghampirinya, begitu juga dengan Bu Fatmi dan Defta, dengan langkah yang cepat, mereka mendekati dokter itu.


"Bagaimana dok, keadaan Ayah saya sekarang?"


"Maaf nak, Bu ... pasien saat ini masih belum sadar, masih kritis, kalian tunggu aja di sini, nanti kalau ada kemajuan, kami akan kabari, sekarang pasien akan dimasukkan keruang ICU lagi."


Segala harapan kian pupus, tiba-tiba ponsel Rega berbunyi, benar saja, seperti dugaan Rega, Hana menghubungi nya.


"Halo dek ... bagaimana kabar ayah?"


"Setelah selesai operasi, ayah masih kritis kak, belum ada kemajuan, maaf kak, aku tidak bisa melakukan apapun!"


"Apa yang bisa kita lakukan, kita hanya bisa pasrah pada kehendak Tuhan, saat ini Ia bagaikan hakim yang akan menjatuhkan vonis untuk kita, dan kita harus pasrah menerima vonis itu, semoga saja, Ayah akan baik baik saja." Semua mendengar perkataan Hana, karena Rega mengaktifkan speaker ponsel itu. Lagi lagi, Defta tersenyum mendengar jawaban Hana, ia kembali mendengar kata-kata yang mampu meredam kecemasannya, memang tidak begitu terdengar luar biasa, tapi ... cara Hana bertutur dalam mengucapkan kalimat itulah yang mampu membuat Defta terkesima.


Mungkin, saat orang merasa cinta dan menyayangi sesuatu, apapun akan terlihat indah dan menarik dari orang yang kita kagumi itu, seperti itu lah halnya dengan Defta, apapun itu, asalkan itu tentang Hana, ia akan dengan antusias, melihat atau mendengarkan nya.


Wajahnya yang selalu merona, dengan bibir yang murah senyum, sering kali hadir dalam lamunan Defta, menimbulkan secercah harapan dan kerinduan, membawa angan angan melambung jauh nun dalam pengharapan, Hana, satu satunya gadis yang telah berhasil merampas hatinya, sama seperti Andri yang juga telah mematri hatinya, hanya untuk Hana, keduanya sama-sama tidak tahu, bagaimana cara melepas rasa cinta yang telah mengakar di hati mereka, apakah kiranya benar, apa yang di katakan oleh Defta, "siapapun laki-laki yang mengenal Hana, pasti akan jatuh cinta pada Hana, dan tak akan mudah untuk melupakan gadis cantik itu."


Apakah begitu juga kiranya nanti dengan pak Kimura?, sang bos itu?, Yang harus kita garis bawahi adalah "KITA MANUSIA PUNYA CINTA, dan BAGAIMANA CARA KITA MEMPERTAHANKANNYA."


Dengan kejujuran dan keikhlasan Defta, Andri dan Hana, menjaga cinta mereka, merasa takut untuk menyakiti, sehingga selalu menjaga perasaan, menahan kerinduan, walaupun hati sudah tidak kuat menahan luapan rindu yang membuncah, membentuk samudera cinta yang teramat membara, sehingga menimbulkan rasa yang begitu menyiksa, menagih waktu, kapankah akan membawa mereka kembali bertemu.


🌹salam dari author, terimakasih telah mendukung karya ini, yang begitu banyak kekurangannya, maklum author lagi belajar, thanks.🌹

__ADS_1


__ADS_2