
Seperti biasa, Hana dan Dewi pergi kerja dengan sedikit santai, Verona menatap dengan sinis kearah mereka, apalagi sekarang pak Kimura tak pernah lagi, datang mengecek keadaan asrama Verona, tepatnya setelah pak Kimura datang ke asrama Hana, saat Hana pingsan waktu itu.
Verona seperti sudah merencanakan sesuatu, yang tidak diduga oleh Hana dan Dewi.
Hari ini, mereka memasukkan pakaian yang sudah mereka masukkan kedalam plastik itu, kedalam kardus dan siap untuk dikirimkan.
Tiba-tiba kegaduhan terjadi, pak Yamada menghampiri mereka, Hana dan Dewi yang tidak tahu apa yang terjadi, mendekati keributan itu.
"Bagaimana mungkin, ada barang yang hilang?"
"Iya pak, kami sudah menghitung nya!"
"Ulangi lagi, hitung semua kembali, aku tidak mau hal ini akan berimbas pada kepercayaan pelanggan."
"Sebanyak ini, dihitung kembali ... pak?"
"Ya, harus di hitung kembali, sebab tadi pagi, saat pakaian yang akan dikirim ini datang ke bagian pengepakan ini, masih cukup."
Secara bersama-sama, mereka menghitung semua isi dalam kardus yang telah diberi perekat itu, namun masih tetap sama, kurang, satu lagi, entah terselip dimana.
Pak Yamada mengambil inisiatif, menyuruh semua karyawan untuk mencari ke seluruh ruangan. Usaha itupun tidak membuahkan hasil.
"Kumpulkan seluruh tas kalian, kesini!" suruh pak Yamada lagi, pada seluruh karyawan, tak terkecuali Hana dan Dewi, mereka membawa tas mereka berdua kehadapan pak Yamada.
Satu persatu tas diperiksa, dan tepat pada tas Hana, pak Kimura mengernyitkan dahinya, ia menatap Hana dengan tajam, kemudian melempar tas itu kemuka Hana, Hana yang mendapatkan perlakuan itu sangat terkejut sekali, ia mengambil tasnya itu, dan belum sempat membukanya, Hana di kejutkan lagi oleh pak Yamada.
"Apa kamu puas?" Hana mundur kebelakang, sebab pak Yamada mencoba mendorong tubuh Hana.
"Apa maksudmu, pak?"
"Dasar pencuri!" Hana tambah tak mengerti.
"Kamu anak baru disini, kamu mau menghancurkan citra baik perusahaan ini?" kata pak Yamada lagi sambil berkacak pinggang dan menatap Hana penuh kemarahan. Hana membuka tasnya, ia sangat terkejut melihat pakaian yang mereka cari ada dalam tasnya. Secara spontan ia melempar tas itu begitu saja.
"Aku tidak mengambilnya, pak ... aku tidak mencuri!"
"Lalu, itu apa?, hah!"
"Aku sungguh tidak memasukkan pakaian itu, pak!"
"Kamu di skors selama seminggu, dan gajimu akan di potong."
" Tidak bisa begitu pak, bapak tidak punya bukti kalau Hana yang telah memasukkan pakaian itu dalam tasnya." Bela Dewi.
"Lalu, apa pakaian itu bisa jalan sendiri?, begitu?"
"Maksudku, pasti ada orang lain yang telah melakukan itu!"
"Siapa, kau mau menuding siapa?"
"Aku akan cari bukti, aku akan menemukan pelakunya." Jawab Dewi lagi, sambil sengaja memandang Vero dengan tatapan tajam.
"Terserah!, saat ini yang di nyatakan bersalah adalah Hana, karena pakaian itu ada dalam tasnya." Jawab pak Yamada tak kalah tegasnya.
"Nanti setelah pulang, kau bersihkan ruangan ini, tak ada yang boleh membantu!" tekan pak Yamada, kali ini ia kembali menatap Hana.
__ADS_1
Hana tidak bisa menolak atau membantah, ia merasa sangat malu, dituding seperti itu, seumur hidupnya, tak ada niat di hatinya untuk mencuri, sungguh semua ini membuat Hana tak mampu berbuat apa-apa.
Setelah semua karyawan pulang, tinggal Hana dan Dewi yang ada di ruangan itu, Hana membersihkan seluruh ruangan itu, Dewi yang ingin membantunya, di larang keras oleh Hana, ia takut, pak Yamada akan menghukum Dewi juga.
"Tak usah, Mbak ... aku bisa sendiri."
"Kamu beneran?"
"Ya, aku serius, tapi Mbak ... siapa kira-kira yang melakukan semua ini ya?"
"Alaah ... siapa lagi, ya Vero lah!"
"Mbak Yakin?"
"Sangat yakin, malah!"
"Setelah selesai kita pulang ya Mbak, aku capek ... banget."
"Oke, siap booos"
Sebelum Hana selesai membersihkan seluruh ruangan itu, tampak pak Kimura sedang berjalan, menyusuri pelataran kantornya itu, sambil menatap keatas dan kebawah, sesekali ia melirik kearah lainnya. Dewi sengaja keluar dari ruangan, agar pak Kimura bisa melihatnya, benar saja, baru saja, Dewi keluar beberapa langkah, pak Kimura sudah mengetahui keberadaannya. Bukan Dewi namanya, kalau ia tidak punya cara, untuk menyelesaikan masalah yang baru saja mereka dapatkan.
"Hai, kau belum pulang?"
"Hah, Ba_ Bapak ... be_ belum pak, lagi nunggu Hana!" kata Dewi mengatur strategi, pura-pura tidak mengetahui kehadiran pak Kimura.
"Mana Hana, juga belum pulang?"
"Han_ Hana lagi di hukum oleh pak Yamada, pak ...."
mencoba untuk memecahkan masalah yang tidak pernah terjadi itu.
"Apakah Bapak percaya, Hana melakukan semua ini?"
"Tidak, aku samasekali tidak percaya, aku akan mencari bukti, kalau Hana tidak melakukan semua itu."
"Terimakasih, Pak, aku sangat lega kalau Bapak tidak percaya, dengan ketidak percayaan Bapak, maka aku akan bertambah semangat mencari bukti, kalau semua ini adalah jebakan saja."
"Menurutmu, siapa pelaku semua ini?"
"Siapa lagi, kalau bukan Vero!"
"Kok kamu, sangat yakin kalau ia pelakunya?"
"Sebelumnya ia sudah mengancam, Pak!"
"Mengancam?, kenapa?"
"Karena ia cemburu pada Hana, Pak!"
"Cemburu, apa Hana punya pacar di sini?"
"Pu_ punya Pak!" jawab Dewi asal.
"Eh, anu Pak, maksudnya Vero cemburu karena dia suka sama Bapak!" pak Kimura terpingkal-pingkal mendengar keterangan Dewi.
__ADS_1
"Kamu jangan asal, Wi!"
"Aku tidak asal bicara, memang Vero suka sama Bapak, ia pernah mengatakan itu, ia cinta sama Bapak."
"Lalu, mengapa ia mengancam Hana, kenapa ia cemburu pada Hana?"
"Karena Bapak sering datang ke asrama kami, dan Bapak tidak lagi memberikan perhatian padanya."
pak Kimura terdiam sesaat, kemudian kembali bicara.
"Sekarang pulanglah, biar aku dengan Hana nanti, kamu duluan aja, aku akan mengantarkan nya."
"Benarkah?" pak Kimura mengangguk. Dengan kegirangan, Dewi mengiyakan permintaan pak Kimura, Dewi senang saja melihat mereka berdua dekat.
"Jangan bilang bilang kalau kau pulang, nanti aku yang akan memberitahu nya."
"Siap!" jawaban Dewi membuat pak Kimura tersenyum.
"Titip Hana Pak, aku permisi."
"Beres ... aku pastikan, Hana akan baik baik saja." Dewi pamitan pada pak Kimura, meninggalkan mereka berdua, seakan memberi waktu untuk bersama, menjadi Mak comblang yang tak diundang, duh ... ada ada aja Dewi!
Sepeninggal Dewi, pak Kimura memperhatikan Hana dengan seksama, pekerjaan Hana tinggal sedikit lagi, merapikan beberapa tempat lagi, baru kemudian selesai.
Hana sama sekali tidak menyadari kalau pak Kimura sudah ada di sana sejak tadi, iapun tidak sadar telah diperhatikan dengan begitu lama oleh bosnya itu.
"Ba_ bapak ...." pak Kimura mengangguk tersenyum.
"Sudah selesai?"
"Sudah Pak, saya sudah menyelesaikan semua, dan ... saya permisi, saya mau pulang!" ucap Hana, sambi memakai tasnya di lehernya. Hana begitu ketakutan, ia merasa sangat tidak nyaman. Lagi lagi pak Kimura hanya mengangguk dan tersenyum.
Betapa terkejutnya Hana, melihat kearah luar, ternyata hari sudah sangat sore, mau Maghrib bahkan.
"Apa Bapak, melihat Mbak Dewi!"
"Dari tadi, aku tidak melihatnya, kamu hanya sendiri di sini."
"Tidak, aku bersama kak Dewi."
" Lalu mengapa kalau kau bersama Dewi, dia tidak membantumu tadi?" Hana diam.
"Membersihkan seluruh ruangan ini sendiri, memangnya kamu cari uang tambahan?" Hana hanya diam.
"Jangan bilang, kamu telah melakukan sebuah kesalahan?" tiba-tiba Hana merasa sangat takut dan cemas.
"Atau kau mencuri?" Hana menunduk, tak sanggup menatap bos tampannya itu.
Hana bergerak mundur beberapa langkah, melihat pak Kimura mendekatinya.
"Apakah kau tidak melihat, kalau hari sudah mulai gelap, aku akan mengantarkan kamu pulang."
Hana merasa pak Kimura saat ini terasa sangat menakutkan, ia ingin lari, tapi itu tidak mungkin.
"
__ADS_1