
Pak Kimura
Hana duduk bersimpuh disamping ranjang tempat tidurnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil menangis tersedu-sedu, pilu, dan begitu menyayat hati. Mungkin inilah kemungkinan terburuk yang di maksud oleh Defta, Rega dan Ibunya. Di saat hati begitu merindukan sang ayah, tapi raga tak mampu untuk melakukan apapun, jarak yang begitu jauh, menghempaskan segala perasaan yang mendera.
Ya, saat ini baru Hana merasakan, betapa hatinya sangat sakit, ketika tahu kenyataan ayahnya sedang pingsan tak berdaya, ia hanya bisa menjerit, menangis dan meratap.
Saat seperti ini, apa guna uang, apa arti pengorbanan, Hana hanya ingin bersama ayahnya, tak ada yang lain.
Tapi dengan alasan apapun, dan dengan cara apapun, Hana harus bertanggung jawab atas keputusan yang diambil nya.
Dewi yang baru saja masuk, sangat terkejut melihat keadaan Hana yang saat ini begitu memprihatinkan. Dewi mendekati nya, meraih tubuh Hana dan langsung membawa dalam pelukannya, mengelus rambut nya kemudian menepuk nepuk pundak Hana. Mencoba menenangkan Hana.
"Ada apa, terjadi sesuatu dengan ayahmu?"
"Iya, Mbak ... saat aku bicara padanya, tiba-tiba nafasnya sesak dan akhirnya lemah, kemudian pingsan."
"Sudahlah, jangan menangis lagi, kau tidak sendirian disini, kamu punya aku Han, aku akan menjaga dan menemanimu."
"Terimakasih Mbak!"
Hana terlihat agak tenang, di bandingkan tadi.
" Agar kau lebih tenang, berwudlu lah, kemudian shalat, berdoalah semoga Ayahmu, baik baik saja." Hana menuruti saran yang di katakan oleh Dewi. Mengadukan segala masalah pada Sang Pemilik Hidup. Hana merasa jauh lebih baik, lebih ikhlas dan sabar.
Di raihnya ponselnya, kemudian menghubungi Rega lagi, yang tadi sempat terputus karena ayahnya yang tiba-tiba drop.
Rega yang mondar mandir, mendengar ponselnya berbagai, segera mengangkat ponselnya.
"Iya Kak, gimana kabar Kakak sekarang?"
"Sudah mendingan, bagaimana kabar ayah?"
"Ayah masuk ruang ICU, sampai sekarang belum sadar, aku bingung Kak ... harus ngapain." Rega menangis, tak mampu lagi menyimpan duka dalam hatinya.
"Ga ... kamu cowok kan ... jangan cengeng!"
Rega tahu, Kakaknya hanya menghiburnya.
"Kami semua lemah, tanpamu, kami bisa kuat, jika Kakak bersama kami."
Hana menahan air mata yang akan menetes di pipinya, tapi sungguh air mata itu tidak bisa di ajak kompromi, mengalir begitu saja, kian lama kian deras saja.
__ADS_1
"Kami tahu, Kakak sangat menderita di sana, aku pun sangat menderita, mari kita berdoa saja untuk kebaikan Ayah."
"Apakah belum ada hati yang cocok untuk donor Ayah?"
"Seharusnya ada Kak, tapi donor itu masih dalam proses pemeriksaan, kata dokter."
"Syukurlah, semoga Ayah selamat ya, Ga ...."
"Bagaimana keadaan ibu?"
"Ibu agak terguncang, sejak tadi ia hanya diam, tak sedikit pun bicara."
"Mana Ibu, aku mau bicara!" Rega menghampiri ibunya, menyerahkan ponselnya, tapi Bu Fatmi menggeleng.
"Ini Kak Hana, dia mau bicara."
"Aku nggak kuat, Ga ...." Hana memanggil manggil ibunya, mendengar suara ibunya. Akhirnya Bu Fatmi menerima ponsel dari Rega.
"Hana ... sayang ...." Tak mampu lagi Bu Fatmi berkata, ia justru menangis, sesenggukan. Sampai hidungnya keluar ingus. Hana tak berbeda dengan ibunya, kini justru badannya terasa mulai dingin, kepalanya terasa berat. Rega memeluk ibunya, mencoba untuk menenangkan, sementara Hana di peluk oleh Dewi, sungguh tanpa Dewi entah apa yang akan terjadi pada Hana.
"Han ... betapa berat cobaan ini untukmu, aku merasakannya, tapi jangan kau siksa dirimu seperti ini, kalau kau sakit, mereka akan bertambah sedih." Tak ada jawaban dari Hana, badannya justru semakin lemah, semua itu mungkin karena Hana terlalu memikirkan keluarganya. Dengan sekuat tenaga, Dewi membopong tubuh Hana keatas tempat tidur, tapi alhasil sia sia belaka. Dewi mengambil bantal, mengganjal kepala Hana dengan bantal itu, kemudian berlari keluar mencari pertolongan. Celingukan mencari orang yang bisa membantunya. Tampak seorang laki-laki sedang berjalan santai di gang dekat asrama mereka, Dewi memanggilnya, tentunya dalam bahasa Jepang.
"Siapa di sana?" Dewi mengejar orang tersebut.
"Pak Kimura ...." Dewi terhenti seketika.
"Ada apa, Wi?"
"Hana Pak, tolong!" Laki-laki yang ternyata adalah bos mereka itu, mengikuti Dewi menuju kamar Hana dan Dewi. Sampai di sana, Hana sudah tak sadarkan diri, sehingga membuat Dewi dan pak Kimura kebingungan.
"Hana, bangun Han ...."Dewi menepuk nepuk pipi Hana, namun tak ada reaksi sama sekali. Pak Kimura hanya diam, bingung akan melakukan apa.
"Pak, tolong angkat Hana keatas!" Pak Kimura baru menyentuh Hana dan mengangkatnya keatas tempat tidur. Dewi mengambil minyak kayu putih, dan segera mendekat kan kehidung Hana. Dalam beberapa menit Hana tampak membuka matanya. Dewi menghela nafasnya, lega.
"Akhirnya, kau sadar juga, Han ...."
"Pak Kimura ...." Kata Hana, laki-laki itu tersenyum, penuh kehangatan, kemudian mengambil kursi dan duduk disisi ranjang tempat tidur Hana.
Hana merasa rikuh pada pak Kimura sehingga walaupun masih merasa lemas, iapun berusaha untuk duduk, tapi Dewi dan Pak Kimura menahannya secara bersamaan. Akhirnya Hana pun tetap berbaring.
"Ada apa dengan Hana?"tanya pak Kimura dengan sangat lembut.
"Hana lagi banyak pikiran, Pak!"
__ADS_1
"Sampai pingsan?" ia merasa heran.
"Ti_ tidak ada apa apa Pak!" jawab Hana grogi.
"Ayolah, katakan saja, mana tahu aku bisa bantu."
"Apakah Bapak bisa memulangkan Hana ke Indonesia Pak?" Ucap Dewi tanpa berpikir panjang.
"Pulang ... ke Indonesia?" ulangnya, Hana melongo, terkejut dengan pertanyaan Dewi pada bos mereka.
"Ada apakah gerangan, sampai minta pulang, terus terang, aku tidak bisa memulangkan Hana, karena terikat kontrak, takutnya akan berimbas pada karyawan lain yang mengganggap semua itu hanya persyaratan yang bisa untuk dilanggar."
"Walaupun dengan membayar denda?"
"Mbak ... sudahlah, aku tak apa apa!"
"Membayar denda?"
"Mbak ... aku tidak punya uang untuk membayar denda, aku kesini untuk mencari biaya pengobatan ayahku, jadi tidak mungkin aku akan pulang."
"Kalau bisa, biar aku yang membayar dendanya, Bapak bisa memotong gaji ku setiap bulan untuk mengangsurnya."
"Mbak Dewi ... sudahlah, aku akan tetap ada disini untuk Ayahku."
"Kau yakin ....?"
"Aku bisa saja membantu, tapi tolonglah kau memahami Wi, prosesnya tidak semudah yang kita bayangkan, sebab ini menyangkut kerjasama antara dua negara."
"Aku sangat berterimakasih atas idemu Mbak, tapi tidak mungkin aku akan kembali, dengan kembali berarti aku tidak mendapatkan biaya operasi cangkok Hati buat ayahku."
"Apa katanya?" tanya pak Kimura karena Hana bicara dalam bahasa Indonesia.
"Hana akan tetap di sini pak!"
"Aku tidak bermaksud menolak, Han ... tapi kau tahu, aku selaku pimpinan, harus bertindak bijaksana dalam mengambil keputusan."
"Aku paham dan aku mengerti sepenuhnya."
"Han ... semoga Tuhan senantiasa menjaga kalian semua."
"Wi, jangan lupa mengabari aku jika Ter sesuatu pada Hana, aku siap membantu!"
"Ya, aku pasti kabari Bapak."
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk membantu Hana, apabila terjadi yang tidak di inginkan oleh Hana. Kapan pun!