
Pak Kimura kebingungan melihat Hana yang histeris, ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Hana, ia berusaha menenangkan Hana, tapi alhasil sia sia belaka.
"Hana ... ada apa denganmu?"
Hana semakin terisak pilu, dadanya terasa begitu sesak, ia tetap menanti Defta menghubunginya, tapi ponselnya tak kunjung berdering juga.
Dewi datang, karena pak Kimura sengaja menyuruhnya untuk datang, sebab dirinya tidak mampu menenangkan Hana. Dewi langsung memeluk Hana, menenggelamkan kepala Hana dalam dekapannya, pelan dan lembut, di bisikkan nya sesuatu di telinga Hana, selang beberapa saat, Hana kelihatan lebih tenang, matanya menatap Dewi, Dewi tersenyum, mengelus sebelah pipinya.
"Ada apa?, kenapa sampai seperti ini?"
"Aku sedih, aku merasa orang yang paling aku sayangi telah pergi dariku, tepatnya dia meragukan diriku."
"Percayalah, telah terjadi kesalahpahaman antara kalian, karena cemburu mungkin."
"Cemburu?"
"Ya, dia seorang lelaki kan?"
Hana menganggukkan kepalanya.
"Yang kemarin menelpon mu saat pemakaman ayahmu?"
"Ya, mas Defta namanya."
"Tepat, kau harus bicara padanya, dia bersikap seperti itu karena dia cemburu pada pak Kimura, karena kemaren saat aku memperlihatkan dirimu yang sedang menangis, kau sedang berada di pelukan pak Kimura."
"Benarkah?" Dewi mengiyakan pertanyaan Hana.
Hana mencoba menghubungi Defta, tapi malang, ponselnya kehabisan baterai.
"Mbak ... ada bawa HP?"
"Tidak, ponselku sengaja aku tinggal tadi, kenapa?"
"Ponselku habis daya, padahal aku ingin menghubungi mas Defta."
"Kamu pinjam aja pada pak Kimura!"
"Yang bener aja, nggak, aku tidak bakalan pinjam dia, aneh-aneh aja."
"Sebentar lagi kita kan pulang, nanti di rumah aja kamu hubungi dia."
"Terpaksa begitu!"
Mereka bersiap siap untuk pulang, pak Kimura dengan setia mengantarkan mereka, menunjukkan seluruh perhatiannya pada Hana, seperti ingin menunjukkan jika dirinya memang jatuh cinta pada Hana.
***
Sedangkan Defta sejak tadi terus berusaha menghubungi Hana, tapi panggilan ponselnya tidak mendapatkan jawaban dari Hana, Defta geram, emosinya kembali naik, Rega yang memperhatikan sejak tadi, melihat Defta yang uring-uringan.
"Kenapa, tidak di angkat?"
Bukannya menjawab, Defta melempar ponselnya ke kursi di depannya, menggerutu, dan sedikit terdengar oleh Rega.
"Dasar, kalau memang mau memancing emosiku, kenapa harus seperti ini."
"Apa ... coba katakan sekali lagi!" tanya Rega.
"Apa ... kamu juga mau apa?" Jawab Defta sambil mendorong Rega.
"Sejak dulu, seharusnya aku tahu, kalau aku hanyalah sebatas pelengkap kekurangan kalian, kau dan kakakmu hanya memperalat diriku."
"Astaghfirullah, hei ...." Rega mendorong Defta dengan sebelah tangannya.
"Kenapa, kau memang tidak pernah menganggap ketulusan ku."
"Mas!"
__ADS_1
"Bukankah begini akan lebih baik, aku dan kau serta keluarga mu itu, tidak lagi berhubungan denganku?" Rega berusaha mengendalikan dirinya, tidak terpancing dengan kelakuan Defta.
"Aku tahu, cowok yang bersama dengan Kakakmu jauh lebih kaya dariku, makanya dia dengan cepat melupakan aku."
"Walaupun kau sedang dalam keadaan emosi, tapi kau sungguh menyakiti hati, kau ...." Kata Rega mengepalkan tangannya, siap meninju Defta.
"Ayo pukul, pukul aku!"
"Mas, ada apa denganmu?"
"Aku tahu apa yang aku katakan, aku cemburu Ga, aku tak mau sedikit pun Hana dekat dengan laki-laki lain."
"Hei, kan sudah aku bilang, mbak Hana hanya mencintai satu laki laki, sadar!"
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kalau dia sampai tidak menelpon aku dalam hitungan kesepuluh, maka, aku tidak akan pernah menganggap kenal dengan dia, sangat sakit aku rasakan perasaan ini, aku tak kuat."
Rega memundurkan kakinya, kalau sampai Defta serius dengan perkataannya, menganggap tidak pernah kenal dengan kakaknya, maka akan sangat rumit, kakaknya pasti akan terus menyalahkan dirinya sendiri.
Defta mulai menghitung, dan Rega merasa was-was.
Satu ... dua ... tiga ....
"Tolong Mas, berhentilah, Kak Hana pasti akan menghubungimu," cegah Rega.
Hingga pada hitungan kedelapan, ponsel Defta berbunyi, Rega sedikit lega, tapi karena ponsel itu bukan dari Hana, Defta melempar ponselnya kembali, untung tidak jatuh kelantai.
"Brengsek!" Defta sungguh kehilangan kendali, dalam kekalutan yang kian bertambah Defta melanjutkan hitungannya.
"Sembilan ... se ...pu ... luh, sudah ... berakhir sudah harapanku, aku tidak akan ...."
Tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi. Defta menyambar ponselnya. Ada seulas senyum tergores di sudut bibirnya.
"Hana ...."
Rega menghembuskan nafas panjang. merasa lega.
"Mas ... apakah kau marah padaku?"
"Kapan aku bisa marah padamu, yang aku tahu, aku hanya menyayangi dan merindukan dirimu."
"Maaf ...."
"Tidak usah minta maaf, aku sudah memaafkan mu.
"Kenapa kau marah padaku, Mas?"
"Aku ...."
"Apakah kau cemburu?"
"Yaaah, apalah dayaku, yang aku inginkan, hanya aku laki laki satu satunya yang mengenal dan mencintaimu, tapi itu hanya harapan ku, bukan?"
"Mas, dia hanya bosku, bukan kekasihku!"
"Mau bosmu, mau pacarmu, apa urusanku?" jawab Defta ketus.
"Mas ... sepertinya aku tidak sedang berbicara dengan Mas Defta, aku tidak mengenalmu, aku merasa asing dengan sikap mu."
"Apakah tidak lebih baik, kalau memang kau tidak mengenal aku?"
"Mas ...."
"Mengapa, aku sangat mencintaimu Hana, tapi aku hanya bisa bermimpi untuk memiliki dirimu."
"Mas ... tidakkah Mas seharusnya tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini?"
"Sampai kapan aku harus menunggu?"
__ADS_1
"Setidaknya kau mengerti, aku ...."
"Mengapa harus aku yang selalu mengerti, sedang dirimu ... kau tidak menjaga perasaan ku."
"Apa yang telah aku lakukan?"
"Seharusnya kau tahu!"
"Apakah semua ini ... karena pak Kimura?"
"Aku tak tahu, yang jelas hatiku sangat sakit, melihat dirimu dalam pelukan laki laki lain, maaf ... aku memang tidak punya hak untuk marah."
"Mas ... dia hanya bosku, yang kebetulan datang, karena aku tidak masuk kerja, kami tidak punya hubungan apa-apa."
"Tak perlu kau jelaskan, aku ...."
"Mas ... jangan kau tambahkan beban yang ada dalam hatiku, dengan sikapmu seperti ini."
"Kenapa sih, kau tak melupakan laki-laki itu?"
"Aku tidak punya hubungan apapun dengan nya, Mas," tekan Hana.
"Maksudku, Andri!"
Hening, tiada jawaban
"Kenapa kamu diam?, kau begitu mencintainya bukan?"
Terdengar suara Isak tangis di seberang sana.
"Kau menangis?"
"Kenapa kita harus membicarakan ini, aku tidak mau kita membicarakan masalah ini, biar aku saja yang merasakannya."
"Nah, itu masalahnya, aku ... juga merasakan hal yang sama, aku tersiksa dengan harapan aku sendiri, bukankah kau juga mengharapkan Andri masih menjaga cinta kalian?, dan kau tersiksa dengan harapan yang tak pasti itu?"
"Sudahlah, aku tak mau membicarakan itu!"
"Kita harus bicara, Han, aku tidak bisa menahan perasaan ini, aku begitu mencintaimu, apakah memang benar, hatimu akan tertutup rapat untuk orang lain, seandainya Andri sudah menikah dengan orang lain."
"Cukup, cukup Mas!"
"Tidak, Han, aku tidak akan berhenti, aku tidak ingin kau terjebak dalam cinta yang tak pasti, tapi yang aku heran kan, kenapa kau tidak bisa mencintai orang lain, selain Andri."
"Apa perlu aku menjawab, ha!, sekarang aku tanya padamu, apakah kau bisa mencintai orang lain selain diriku?" tanya Hana diantara Isak tangisnya.
"Tidak ... aku akui aku tidak bisa berpaling dari cintaku padamu, aku mungkin tidak sekedar mencintaimu, bahkan mungkin aku sudah terobsesi padamu."
"Nah, sekarang aku berikan jawaban itu padamu, aku ... tidak bisa mencintai orang lain, selain Kak Andri!, apakah kau belum puas dengan jawabanku?"
"Walaupun dia telah menikah dengan orang lain?"
"Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu, aku akan melupakan janji kami, kalau aku tahu, dia telah memilih orang lain, dan aku menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri."
"Lalu, bagaimana seandainya kalian tidak pernah bertemu?, bayangkan, sudah berapa tahun kau menantinya, tak jua ada kabar berita darinya, apakah kau masih juga berharap, tiba-tiba dia datang membawa cintanya padamu?, mustahil!" kata Defta sambil tertawa mengejek.
"Mas ... manakah dirimu yang selalu menenangkan aku, mengapa saat ini, kau justru menambah penderitaanku, apakah sebuah cinta, telah mengubah mu menjadi sebuah kebencian padaku?"
"Karena cinta ini, aku bahagia, bahagia dengan seluruh pengharapan ku akan bersanding denganmu, tapi kadang aku menjadi manusia lemah, dengan pengharapan itu sendiri, kau bagaikan pondasi bagi kuat nya cintaku, yang hancur bila kau tak mengacuhkan diriku, bahkan aku turut hancur bersamanya. Kau sanggup hidup dalam penantian, tapi itulah bedanya, antara kau dengan diriku, aku tak sanggup menahan perasaan gundah ini, aku tersiksa melihat atau membayangkan kau dengan yang lain. Makanya aku jadi seperti ini, aku masih ingin menjadi seorang yang selalu memberikan perlindungan, kebahagiaan, tapi aku yang cemburuan, mengakibatkan rasa rinduku menuntut lebih darimu."
"Kalau begitu, mulailah untuk melupakan aku, mungkin aku memang tidak bisa untuk mengabulkan harapanmu, aku tidak bisa memenuhi harapanmu, aku tidak bisa mencintai dirimu, aku tidak sanggup menyaksikan kau menderita oleh karena diriku."
"Mas, maafkan aku jika aku menyakiti hatimu, tapi mungkin itu lebih baik, dari pada nanti, kau kian tersiksa dengan segala pengharapan yang kau miliki. Terus terang, aku tidak bisa menganggap mu sebagai kekasih, aku hanya bisa menerima mu sebagai teman, tak lebih!"
"Jadi itu kah keputusan terakhirmu?, tidak ada kah rasa sedikiiit saja, untukku?"
"Tidak Mas, sebagai teman, aku akan selalu ada, dan maaf aku telah menyakiti hatimu, setelah ini kau jangan menjauh dariku, tetap lah kita jalin persahabatan ini, ku mohon mengertilah akan diriku."
__ADS_1
Defta merasakan betapa hatinya hancur, tapi sebagai seorang lelaki, ia berusaha untuk menahan segala penderitaan nya, karena ia sadar, sejak dulu memang Hana, tidak pernah mencintai orang lain selain Andri yang entah di mana keberadaannya.
Dengan lemas tak berdaya, keduanya mengakhiri percakapan mereka.