
Pagi ini, seluruh karyawan yang ada di ruangan kerja Hana dan teman-temannya, di kumpulkan, Vero berdiri di pojokan kelihatan kesal menatap Hana, ia seperti merasa telah terjadi sesuatu sesudah mereka pulang kemarin.
Pak Yamada masuk, di ikuti oleh pak Kimura, semua mata memandang dengan penuh rasa takut.
"Vero!, silahkan datang kemuka, SEKARANG!" Vero maju ke depan, menatap pak Kimura dan pak Yamada bergantian.
"Kamu tahu apa salah kamu, kenapa kamu di panggil kemuka?"
"Saya ...."
"Karena kamu mencintai saya, kan?" kata pak Kimura.
"Sekarang, aku mau dengar, kamu menyatakan cinta kamu pada saya!" sungguh, Vero sangat malu pada seluruh karyawan yang ada di situ.
"Para karyawan semua yang ada di sini, apa kalian mau dengar kalau vero akan mengungkapkan rasa sukanya sama saya?"
"Mau uuu!" sahut seluruh karyawan.
"sekarang, kamu katakan padaku, CEPAT!" pak Kimura membentak Vero lagi. Sementara Vero hanya diam, menunduk menyembunyikan mukanya karena rasa malunya.
"Kenapa kau malu, bukankah memfitnah itu lebih memalukan dari pada menyatakan cintamu padaku?" lagi lagi Vero hanya diam.
"Kau tega memasukkan pakaian yang akan dikirim, ke tas Hana, apa maksudmu?"
"Hu uuu." Seluruh karyawan kembali riuh mengejek Vero, Hana menunduk, entah mengapa ia merasa kasihan juga pada Vero, ia tak sampai hati melihat Vero, di olok olok oleh mereka semua.
"Mengapa kau tak berkutik seperti ini, mengapa kau tidak berteriak seperti kemaren memberi usulan?, ha!" pak Yamada hanya diam ikut menatap kearah Vero, iapun masih merasa bersalah karena telah menghukum Hana.
"Apa kamu tahu, sikap yang telah kau tunjukkan kemaren, bisa berakibat fatal pada perusahaan saya, kalau sampai terjadi sesuatu, apa kamu bisa bertanggung jawab?" karyawan yang berjumlah puluhan orang tersebut diam, semua menunduk.
"Semua kenyamanan disini adalah tanggung jawab kita semua, tapi hanya karena cemburu, seorang kalian rela menghancurkan seorang yang lain, Vero!, kamu sama sama karyawan di sini, dan aku selaku pimpinan berhak penuh dengan siapa ingin dekat, dengan karyawanku sendiri atau dengan gembel sekalipun. Kau tidak punya hak melakukan apapun!"
"Apa kau merasa aku suka sama kamu?, ha!" tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulut Vero, selain hanya diam dan menunduk. Pak Kimura maju, mendekati Vero, mengangkat dagu Vero, sehingga mau tidak mau Vero mendongak dan menatap pak Kimura.
"Kenapa kau tidak menjawab, kemana keberanian yang kau miliki, kemana rasa cemburu yang ada dalam hatimu, tak pernah sekalipun aku bayangkan, kau tega melakukan ini pada Hana, dia adalah saudara satu negara, sama berasal dari Indonesia, sama sama berjuang disini, lalu kenapa kau berpikir sampai sejauh ini, mari aku tunjukkan, nah hadap kesini." Tutur pak Kimura sambil menghadapkan tubuh Vero kesamping.
"Apa kamu tidak sadar, ruangan ini ada cctv nya?"
__ADS_1
"Maafkan aku, Pak!"
"Hei ...." Kata pak Kimura sambil mengguncang bahu Vero.
"Apa dengan minta maaf saya bersimpati kembali padamu, kamu tahu ini adalah negara jepang, disini disiplin sangat dijunjung tinggi, jadi mulai hari ini, kamu bersihkan seluruh ruangan ini, setiap jam kerja habis, selama satu minggu, plus gaji kamu di potong sepuluh persen, dan sekarang ... kamu minta maaf pada Hana!" Vero masih berdiri, tak percaya pada keputusan yang di berikan pada dirinya, "bagaimana mungkin aku akan membersihkan seluruh ruangan itu seorang diri, selama satu minggu lagi, bukankah setelah habis membersihkan seluruh ruangan itu, hari sudah hampir malam?, aku dengan siapa?" batin Vero ketakutan.
"CEPAT!" bentak pak Kimura, sontak membuat Vero terkejut, dan secara spontan berlari kearah Hana, jalan sudah tersedia sendiri, semua karyawan menghindar sendiri memberi jalan.
Sesampainya dihadapan Hana, Vero diam, tak mampu berbuat apa-apa, ia hanya menunduk, dalam.
"Kenapa kau hanya diam?" ucap pak Kimura yang sudah berada di belakangnya.
"Han ... maafkan aku ...." Ucap Vero sambil tersungkur di hadapan Hana, Hana pun jongkok, tidak Hana namanya kalau membiarkan seseorang menghiba padanya.
"Sudahlah Mbak, aku sudah memaafkan mu, aku sudah lupakan semua, yang penting, semua ini jangan kau ulangi lagi, cukup aku yang merasakan nya, bukankah sebuah persahabatan lebih indah dari pada kebencianmu?" Vero menunduk, airmata telah membanjiri pipinya. Hana tersenyum dan membawa Vero berdiri.
"Sedikitpun, tak ada dendam di hatiku, aku berharap, setelah kejadian ini, kita bisa menjadi teman yang baik, kita berasal dari negara yang sama, mari kita saling menjaga, saling menyayangi dan saling melindungi."
"Sekali lagi, maafkan aku!" Hana mengangguk, sementara pak Kimura hanya diam dan mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti apa yang telah di bicarakan Hana, sebab Hana bicara dengan bahasa Indonesia.
Semua telah kembali normal, pak Kimura kembali bicara.
"Pa haaam." Jawab seluruh karyawan. pak Kimura dan pak yamada kemudian keluar, sementara seluruh karyawan kembali pada aktivitas mereka masing-masing.
Tak terasa, jam pulang sudah masuk, seluruh karyawan pulang, Dewi, Hana dan Vero yang masih berada di ruangan itu, Dewi mengajak Hana untuk pulang, namun Hana masih diam.
"Han, ayo ...." kata Dewi lagi.
"Mbak Dewi duluan aja, aku mau menemani Mbak vero!"
"What's, apa apaan kamu, Han!"
"Kasihan dia Mbak!"
"Hei ... apa kemarin saat kamu di hukum, dia kasihan sama kamu?"
"Apa kita harus membalas semua dengan seperti itu, kalau begitu apa bedanya aku sama mbak Vero?"
__ADS_1
"Jadi orang kok baik banget, terbuat dari apa sih hati kamu itu?"
"Oke, aku pulang dulu, semoga kau bahagia dengan keputusan ini, aku berharap semoga Vero berubah setelah mengenal dirimu."
"Aamiin!" Dewi pulang duluan, sedang Hana masih tertegun menatap Vero, kemudian membersihkan ruangan itu, membantu Vero yang mulai tampak kecapekan.
Vero yang menyaksikan Hana membantunya, mendekat.
"Kamu mengapa membantuku?"
"Kalau aku tidak ada, tentu semua tidak akan terjadi bukan?"
"Maksudmu?"
"Ya, kalau aku tidak pingsan dan pak Kimura tidak menolong aku, tentu kesalahpahaman ini tidak akan terjadi, semoga dengan kejadian ini, kita menjadi sahabat yang baik."
"Mengapa kau tidak pulang saja, aku pantas mendapatkan hukuman ini, aku yang tak tahu malu ini."
"Bukankah pekerjaan yang dikerjakan dengan bersama sama akan cepat selesai, makanya aku membantu, aku merasa sangat takut kemaren, sesudah membersihkan semua ruangan ini, hari sudah lumayan gelap, untung saja ada pak Kimura, kalau tidak aku mungkin sudah mati ketakutan, dan aku tidak ingin itu terjadi padamu."
"Aku menyesal, ternyata kau begitu baik, maafkan aku!" sesal vero lagi.
"Sudahlah, mari kita kerjakan, cepat selesai itu lebih baik, dan kita bisa cepat pulang."
Mereka berdua membersihkan semua dengan penuh semangat, pak Kimura dari tadi memperhatikannya dengan tersenyum, jauh di lubuk hatinya, ia memang mengakui, hari bertambah hari ada semacam perasaan kagum pada Hana, gadis sederhana yang mampu menyita seluruh perhatiannya, apalagi setelah kejadian itu, Hana bukanya membiarkan Vero mengerjakan hukumannya sendiri, tapi selalu membantu Vero, setiap hari, sampai satu minggu berlalu.
Seperti hari ini, pak Kimura sengaja memanggil Hana, dan membiarkan Vero membersihkan ruangan itu sendirian, ini adalah hari yang ketujuh, jadi ini adalah hari terakhir.
"Aku akan mengajak mu pergi, sebentar, jadi biarkan Vero sendiri."
"Tapi Pak, kasihan Mbak Vero, aku...."
"Aku tidak apa-apa, Han ... aku sudah hampir siap." Jawab Vero yang mendengar bahwa pak Kimura akan mengajak Hana pergi.
"Beneran tidak apa-apa?"
"Ya, aku tidak apa-apa, aku hampir selesai!"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku pergi!" Vero mengangguk dan tersenyum, tak ada lagi rasa benci di hati gadis itu, walaupun ia tahu saat ini bosnya semakin dekat pada Hana, justru semakin ia mengenal Hana, ia semakin sadar mengapa bosnya itu tertarik pada Hana, selain cantik ia sangat baik hati.