KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Cerai?


__ADS_3

"Aku bukan pelacur!" Tangis Zana dalam dekapan Hanu yang terus mengucapkan kata itu berulang kali.


Hanu mendekap erat tubuh mungil Zana yang bergetar hebat dengan tangisan yang begitu menyakiti hati pria tersebut. Entah mengapa Hanu seolah bisa merasakan apa yang istrinya rasakan, bagaimana seorang wanita tidak sakit hatinya, bila di katakan sebagaiย  seorang pelacur. Hinaan yang begitu menyakitkan dan seolah merendahkan istrinya.


"Sudah, Zana. Kamu bukan pelacur, sayang. Kamu istri saya dan jangan masukan kata-kata Umma ke dalam hati ya. Umma mungkin terlalu emosi hingga tidak bisa mengontrol ucapannya, " tutur Hanu, mengusap pucuk kepala Zana lembut .


Gadis itu membalas pelukan Hanu.Zana merasa nyaman dan tenang saat dalam pelukan Hanu. Seakan suaminya adalah sumber kekuatanย  dan pelindung baginya.


"Sekarang di kompres dulu, pipinya, " bujuk Hanu pada Zana. Begitu jelas lebam di kedua pipi sang istri.Zana menggelengkan kepalanya, menolak.


"Aku tidak mau, biarkan saja seperti ini, " tolak Zana yang masih setia memeluk Hanu.


Pria itu menguraikan pelukannya dan menangkup pelan wajah Zana, membuat mereka berdua saling beradu pandang. Hanu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Zana dan menghapus air mata gadis tersebut dengan lembut.


"Kalau pipinya tidak di kompres nanti malah infeksi, sayang. Setidaknya lebam di pipi kamu tidak terlalu membengkak, " ujar Hanu, memeras handuk kecil yang di celupkan di air hangat dalam baskom.


Zana menjauhkan wajahnya saat Hanu akan mengompres pipinya. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum, ia merengkuh pinggang ramping sang istri, menariknya ,hingga merapat dengan tubuhnya.

__ADS_1


"Aku nggak mau, " tolak Zana, merintih kesakitan, Hanu menempelkan handuk kecil itu di pipinya, di tekan pelan-pelan, sambil di tiup-tiup oleh pria tersebut.


"Tahan, kamu cakar atau gigit tangan saya , " ujar Hanu, sambil mengompres pipi Zana. Gadis itu memegangi lengan Hanu, hingga membuat pria itu meringis , mengadu kesakitan, apalagi kuku sang istri juga panjang.


Hanu memberikan salep di pipi Zana, setelah di kompres tadi.


"Sekarang kamu istirahat ya. Pasti kamu lelah, karna seharian kita jalan-jalan tadi, " ujar Hanu membaringkan tubuh Zana di kasur.Seakan pasrah dengan apa yang suaminya suruh,gadis itu merebahkan tubuhnya.


Hanu mengecup kening Zana dengan mesra. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan benda yang kenyal dan lembab itu menempel di keningnya. Darahnya seolah berdesir mendapatkan kecupan dari suaminya. Hatinya tiba-tiba bergetar dan bergemuruh.


"Sekarang istirahat. Saya tinggal keluar dulu. Kalau kamu butuh apa-apa panggil saya, " ujar Hanu, tersenyum.


"Kenapa, hmm? " Tanya Hanu membalikkan tubuhnya, kearah Zana yang mengigit bibir bawahnya kelu.


"A-aku takut nanti, wanita itu datang ke kamar ini dan kembali menyerang aku, " ujar Zana mengatakan apa ia takutkan.Hanu tersenyum lebar, tangannya terulur mengusap kepala Zana lembut.


"Kamu tenang, sayang. Umma tidak akan mengganggu kamu ataupun menyakiti kamu. Ada aku di sini, jadi jangan takut. " Ujar Hanu dan Zana mengangguk kepalanya.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


"Aniya, pokoknya Umma tidak mau tahu. Hanu harus menceraikan Zana. Umma sebenarnya datang ke sini bukan tanpa alasan tapi Umma membawa kabar gembira, bila Diah sudah melahirkan anak kembar. Dia menawarkan satu anaknya untuk kamu, karna dia tahu kamu sangat menginginkan anak. Lagi pula Diah, juga tidak sanggup menanggung biaya untuk kehidupan dua anak kembarnya.Diah juga keluarga kita dan darah yang mengalir di dalam tubuh anak tersebut ada darah kita juga, " ujar Umma, mendesak.


Aniya diam ia tidak bisa berkata-kata lagi. Dalam fikirannya saat ini, apa ia sudah melakukan kesalahan besar karna telah menikahkan Hanu dengan Zana. Apalagi saat ia mengintip dari pintu luar suaminya begitu tulus merawat Zana dan mengobati luka di wajah gadis tersebut. Bahkan tatapan Hanu begitu berbeda saat menatap Zana, tatapan yang tidak pernah ia dapatkan dari suaminya.


"Aniya, kalau kamu setuju dengan ucapan Umma. Nanti Umma bantu urus surat perceraian Hanu dan Zana. Suami kamu juga belum menggauli Zana. Jadi kamu minta tanda tangan surat perceraian....... "


"Aku tidak akan menceraikan Zana!" Ujar Hanu, menyela ucapan Umma.


Pria itu berjalan mendekati keduanya yang diam membeku di ruang tamu. Aniya menatap suaminya dengan perasaan takut, sedangkan Umma kaget melihat kemunculan Hanu yang tiba-tiba.


"Umma, aku mohon. Jangan ikut campur dengan masalah rumah tangga aku dengan Aniya maupun Zana.Aku juga tidak akan menceraikan Zana, karna perceraian adalah perbuatan yang di benci Allah, walau halal untuk di lakukan. Umma paham agama'kan? Jadi gunakan ilmu agama yang Umma pahami untuk introspeksi kesalahan dan ucapan Umma. Aku tahu, Umma tidak rela Aniya di poligami, tapi ingat bila ini sudah Allah takdirkan, maka tidak ada yang bisa untuk menghalangi. " Ujar Hanu. Setelah menuturkan itu , pria tersebut langsung pergi dari sana, meninggalkan mereka berdua yang terdiam membisu.


Suasana di ruangan itu tiba-tiba langsung hening setelah kepergian Hanu.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya baru update ๐Ÿ™


__ADS_2