
Zana berpegangan pada jaket Hanu yang melajukan sepeda motornya menuju ke kota. Ia menatap suaminya dari kaca spion dengan kening yang berkerut bingung. Sebenarnya pria ini mau membawa ia kemana, setahunya ini bukan jalan pulang ke rumah. Zana mengigil kedinginan dengan udara yang begitu dingin apalagi angin yang menerpanya. Hanu melirik Zana dari kaca spion yang terlihat kedinginan dengan bibir yang bergemetar. Ia menarik tangan kiri dan kanan sang istrinya dan memasukkan ke kantong jaketnya.Beruntung ia membawa dua jaket.
Memang udara di desa yang tidak jauh dari pegunungan cukup dingin apalagi sudah memasuki musim hujan .Zana merasakan kehangatan saat tangannya di masukan ke kantong jaket Hanu.
"Kita mau kemana? " tanya Zana yang sedikit meninggikan suaranya, agar terdengar oleh Hanu yang mengendarai motor.
"Kita ke penginapan, " jawab Hanu membuat wajah Zana langsung memucat.
"Bu-buat apa ke sana? " tanya Zana gugup, entah mengapa ia langsung memikirkan hal negatif pada Hanu, walau pun pria ini adalah suaminya.
"Supaya kita punya waktu untuk berduaan. Saat kita menikah kemarin, saya tidak mengajak kamu jalan-jalan . Anggap saja ini bulan madu kita." ujar Hanu terkekeh. Sebenarnya ia mengajak Zana jalan-jalan atas permintaan Aniya,untuk menginap agar menyembunyikan Zana, supaya tidak ketahuan oleh mertuanya bila ia telah menikah lagi.
Hanu menghentikan sepeda motornya di sebuah penginapan yang sering di jadikan tempat bermalam orang-orang kota yang akan menuju desa. Zana turun dari motor. Ia memperhatikan bangunan dua tingkat tersebut . Hanu memarkirkan motornya dan berjalan mendekati Zana setelah melepaskan helmnya. Gadis itu tampak kaget ketika Hanu meraih ,mengenggam dan menarik tangannya masuk ke dalam penginapan tersebut.
"Maaf, apakah masih ada satu kamar yang masih kosong? "tanya Hanu pada Repsepsonis wanita yang menatapnya dan beralih menatap ke arah Zana yang memperhatikan sekeliling ruangan loby penginapan.
"Ada, Pak.Tunggu sebentar, " Repsepsonis itu memberikan kunci kamar nomor 24 pada Hanu.
"Berapa hari Bapak ingin menginap disini? "tanyanya lagi.
Hanu diam sejenak, ia menatap Zana yang masih menatap sekitar mungkin ini pertama kalinya gadis ini ke penginapan.
"Dua hari, " jawab Hanu.
"Kalau begitu Bapak bisa langsung membayar di muka ya ,Pak." ujarnya lagi. Hanu mengeluarkan dompet di saku celananya dan memberikan kartu ATM pada Repsepsonis wanita itu.
__ADS_1
*****
Hanu.Pria itu berjalan menyusuri setiap kamar, mencari nomor kamar yang akan ia tempati. Zana pasrah saja saat tangannya terus di gandeng Hanu. Pria itu langsung menghentikan langkah kakinya saat menemukan kamarnya, ia langsung memutar ganggang pintu setelah membuka pintu kunci tersebut. Hanu masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Zana.
Hanu melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya dan sepatu yang ia pakai.Zana juga ikut melepaskan jaket ,ia berjalan mendekati ranjang dan mendudukkan dirinya di atas ranjang yang cukup kecil bila untuk dua orang.
"Kenapa kasurnya kecil sekali?Ini cukup untuk satu orang, " Zana membuka suara membuat Hanu yang tengah menyangkutkan jaketnya di belakang pintu menoleh menatap sang istri.
Hanu tersenyum, mendekati Zana dan duduk di sebelah gadis tersebut."Cuma kamar ini saja yang tersisa, kamar yang khusus dua orang sudah penuh, sayang." jawab Hanu dengan lembut.
"Berarti kita tidur berdua di kasur ini? "tanyanya lagi.
"Tapi bila kamu merasa sempit bila tidur berdua dengan saya, biar saya tidur di lantai, " jawab Hanu. Zana menatap sekitar ruangan yang rasanya tidak tega bila melihat Hanu tidur di atas keramik yang pastinya sangat dingin bila malam hari.
"Emm...tidak usah tidur di lantai kita tidur satu kasur saja, " jawab Zana membuat Hanu tersenyum mendengarnya, ia mengusap-ngusap kepala istrinya dengan lembut.
"Aku mau ikut kamu beli makanan di luar . Aku takut sendirian, " jawab Zana jujur. Ia memang takut bila di tinggal di ruangan yang asing dan baru ia tempati.
"Ya sudah, kamu sekarang pakai jaket,udara di luar sangat dingin." suruh Hanu. Pria itu menatap ke arah jendela kaca yang menampakkan hujan gerimis di luar.
•••••
Umma Sarah memperhatikan setiap sudut ruangan dalam rumah putrinya yang cukup berubah, mungkin karna ia sudah lama tidak berkunjung ke sini. Aniya tidak henti-hentinya memilin gamisnya,ia takut Ummanya menanyakan tentang Hanu. Sedangkan Abah Husein duduk di sofa memperhatikan gelagat putrinya yang begitu mencurigakan.
"Aniya mana Hanu? "tanya Abah,membuat Aniya terlonjak kaget dan Umma Sarah menatap heran pada tingkah putrinya yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"I-itu mas Hanu , apa ya... emm. mas Hanu sedang pergi ke kota ,Abah. Karna beberapa perusahaan yang yang ingin bekerja sama untuk minta di kirimkan daging sapi untuk di produksi perusahaan tersebut, " jawab Aniya dengan keringat dingin yang sudah membasahi dahinya.
Abah menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Aniya. Sedangkan Umma Sarah memperhatikan dari cara bicara Aniya yang seperti terkesan aneh dan gugup.
"Kenapa Hanu tidak mengajak kamu pergi ke kota . Seharusnya dia itu mikirin bila meninggalkan kamu sendirian di rumah, kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana ? Berapa hari Hanu di kota? " tanya Umma Sarah.
Aniya terdiam sejenak, ia harus memikirkan jawaban yang membuat Ummanya percaya.
"Sekitar satu minggu, Umma. Tapi Umma tenang saja, setiap malam Aisyah, teman aku sering menginap disini untuk menemani aku dan juga si Jaka selalu berjaga di depan rumah, atas perintah Hanu, Umma. Jadi aman " ujar Aniya.
"Baguslah kalau suami kamu itu mikirin hal seperti itu. Tapi Umma tetap tidak suka dengan cara dia yang meninggalkan kamu sendirian di rumah. Terkesan tidak bertanggung jawab sebagai suami, padahal kamu tinggal di ajak juga ikut ke kota, " gerutu Umma Sarah.
"Sudah, Umma. Jangan ngomel terus, " tegur Abah.
Aniya menghembuskan napas lega, setidaknya Ummanya percaya, walau harus mendapatkan gerutuan Ummanya tersebut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Zana terus menggeliat di pelukan Hanu yang sudah tertidur pulas. Ia benar-benar tidak bisa tidur dengan posisi di peluk seperti ini. Karna kasurnya cukup untuk satu orang terpaksa harus tidur dengan posisi seperti ini. Hanu perlahan membuka matanya saat merasakan pergerakan, ia menatap Zana yang terlihat tidak tidur.
"Zana, kenapa belum tidur? "tanya Hanu dengan suara yang terdengar serak dan berat, membuat Zana yang mendengarnya merinding.
"Aku tidak bisa tidur, " jawab Zana bohong. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya bila kasur ini begitu sempit bila tidur berdua.
"Sini, " Hanu menarik Zana dalam pelukan. Ia mengusap-ngusap kepala sang istri yang mendongak mengusap-ngusap atap dirinya.
__ADS_1
"Sekarang tidur, sudah larut malam, " ujar Hanu, seraya menaikkan selimut sebatas leher Zana, karna AC yang cukup dingin walau sudah 25 derajat.
Zana mulai menutup matanya, usapan Hanu begitu nyaman saat menyentuh kepalanya. Perlahan rasa kantuk itu mulai menyergab Zana yang mulai pulas dengan tidurnya. Sedangkan Hanu memperhatikan wajah istrinya. Ia menyingkirkan rambut yang menghalangi matanya untuk memandangi wajah cantik alami Zana yang begitu polos dan menggemaskan bagi Hanu. Ia mengecup kening istrinya setelah itu mulai menutup matanya.