
Zana duduk di sisi ranjang. Tangannya terus mengusap bagian lututnya dan mengolesinya menggunakan minyak kayu putih. Begitu sangat nampak lutut gadis itu membiru. Karna terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan dan cucian baju kotor yang menumpuk. Ia terjatuh saat berlari untuk membangkiti jemuran di belakang rumah saat tiba-tiba hujan turun deras. Gadis itu terus memijiti kakinya sendiri dengan pelan karna begitu sakit bila terlalu kuat memijit lututnya yang lebam tersebut.
Hanu masuk ke dalam kamar.Pria itu baru saja pulang dari peternakannya dan menampilannya sudah berantakan.Ia langsung menatap kearah Zana yang tidak menyadari ke hadiran dirinya. Pria itu berjalan mendekati sang istri dengan langkah pelan, matanya menelisik ke lutut Zana yang begitu jelas membiru.
"Lutut kamu kenapa sampai seperti ini? " Hanu tiba-tiba saja berjongkok di depan Zana. Membuat gadis tersebut terperanjat kaget. Ia menatap Hanu yang memperhatikan lututnya.
"Zana, kenapa sampai membiru seperti ini lututnya? " Hanu kembali bertanya dan kini menatap Zana yang nampak bingung ingin mengatakan apa.
"Ta-tadi aku terjatuh saat akan membangkiti jemuran," jawab Zana apa adanya. Helaan napas panjang begitu jelas terdengar dari Hanu. Pria itu berjalan kearah laci, seperti mencari sesuatu.
Hanu kembali berjongkok di depan Zana. Ia mengolesi sebuah salep dan mengurutnya membuat Zana merintih kesakitan.
"Pelan-pelan, sakit.... " Lenguh Zana meremas sprei.
"Tahan sedikit lagi ya. Ini darahnya membeku di dalam. Kalau tidak di urut malah akan sakit, " Hanu meluruskan kaki Zana dan kembali mengurutkan.
"Sekarang kamu berbaring supaya saya mudah mengurutnya, " titah Hanu. Gadis itu mengikuti perintah suaminya. Ia membaringkan tubuhnya di kasur.
*****
Aniya berjalan melewati kamar Zana dengan membawa secangkir teh dan kue yang ia buat sendiri. Awalnya ia akan ke ruang tamu untuk menonton televisi tapi___Langkahnya terhenti ketika mendengar suara erangan Zana dari dalam kamar. Karna penasaran Aniya mendekatkan telinganya depan pintu kamar Zana.
"S-sakit pelan-pelan," ringis Zana.
"Iya, ini sudah pelan-pelan. Nanti kalau sudah tidak sakit lagi, malah enakan nantinya, "ujar Hanu menenangkan.
__ADS_1
" Akh... Sakit. Sudah aku tidak mau lagi. Sudah berhenti, "pinta Zana.
" Tanggung, sayang. Sebentar lagi selesai, "ujar Hanu.
Aniya langsung memundurkan tubuhnya dari depan pintu dengan jantung yang berdegub kencang.Cangkir dan kue yang di pegang wanita itu tiba-tiba langsung terhempas ke lantai,pecah dan berserakan di lantai.
" Apa mas Hanu tengah menggauli Zana, "Aniya tertunduk matanya menatap sekeliling arah dengan mata yang berkaca-kaca. Seolah tidak rela Hanu bersenggama dengan gadis yang telah berstatus istri kedua suaminya itu.
" Aniya, kamu kenapa? "Hanu tiba-tiba keluar dari kamar dan mendapati pecahan cangkir dan piring di lantai,berserakan. Aniya menatap Hanu dan hampir oleng bila suaminya tidak segap menahan tubuhnya.
" Ak-aku tidak pa-pa, "jawab Aniya menahan sesak di dada. Ia memperhatikan pakaian Hanu yang sedikit berantakan dan keringat yang membasahi badan suaminya hingga tembus ke kaos berwarna biru polos tersebut.
" Tapi wajah kamu terlihat pucat,sayang .Kita ke kamar ya mungkin kamu sedang tidak enak badan, "ujar Hanu menggiring Aniya ke kamar yang satunya. Sedangkan pecahan beling tersebut akan Hanu suruh bibi Ani untuk membersihkannya.
Sedangkan tanpa di sadari pria itu, Zana mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Dadanya bergemuruh di campur rasa sesak. Hatinya seolah begitu perih melihat Hanu yang nampak khawatir dengan Aniya. Tapi terbesit di dadanya, bahwa ia harus sadar dengan posisi dirinya hanya istri kedua. Bagaimana pun istri pertama tetap akan jadi nomor satu di hati Hanu, karena Aniya pasti cinta pertama suaminya dan tidak akan tergantikan. Sedangkan dia di nikahin karna ibunya menjualnya dengan Hanu dan di jadikan istri. Lalu, apa yang ia harapkan dari pria itu? Hanya gadis muda yang akan melahirkan anak keturunan pria tersebut.
*****
"Tolong kamu bawakan bubur ini ke kamar Aniya. Dia sedang sakit. Kalau bisa nanti suapin ya," pinta Hanu. Zana terdiam sejenak, ia menatap mangkok bubur tersebut dan melihat pada Hanu.
"Saya harus bertemu dengan teman saya. Jadi tidak bisa mengantarkan bubur ini pada Aniya." ujar Hanu. Zana menganggukkan kepalanya. Berjalan mendekati suaminya dan mengambil alih mangkok bubur tersebut dari Hanu.
"Terima kasih, sayang. Akur-akur dengan Aniya, ya." ujar Hanu mengusap pucuk kepala Zana. Gadis itu tersenyum tipis.
☸☸☸☸☸
__ADS_1
Zana mengetuk pintu kamar Aniya, namun tidak ada jawaban. Ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar kakak madunya itu. Terlihat Aniya tengah tertidur. Dengan ragu-ragu Zana melangkahkan kakinya mendekati Aniya. Tapi sebelum mendekati wanita yang tengah tertidur itu kaki Zana tersandung pada kursi rias karena tidak terlalu fokus pada benda yang ada di sekelilingnya.
Mangkok bubur yang masih panas itu langsung menerpa bagian wajah dan leher Aniya, membuat wanita tersebut memekik kepanasan dan langsung terbangun dari tidurnya. Sedangkan Zana jatuh terjerembab.
"Akh... Panas-panas!! " Pekik Aniya mengusap bagian wajah dan lehernya. Zana menutup mulutnya, bergetar ketakutan dan kaget.
Bruk....
"Ada apa___" Ucapan Hanu langsung terjeda saat masuk ke dalam kamar ketika mendengar teriakan istri pertamanya. Ia membelalakan matanya menatap Aniya yang menangis merasakan tubuhnya yang seperti terbakar. Pria itu langsung berlari ke arah Aniya. Pikirin Hanu saat ini adalah membawa istrinya ke kamar mandi untuk membasuh wajah Aniya dengan air dingin agar tidak terlalu parah luka di wajah wanita tersebut.
Hanu langsung membasuh wajah Aniya dengan air sesampainya di kamar mandi. Wanita itu masih merintih kesakitan.
"Mas, sakit hiks.... Ini semua gara-gara Zana. Pasti dia sengaja, mas," Keluh Aniya pada Hanu yang hanya diam.Tapi mulai mencerna ucapan sang istri pertama.
Pria itu langsung membawa Aniya keluar dari kamar mandi. Zana berdiri menatap keduanya. Ia terus menatap kearah Aniya dengan rasa khawatir dan merasa bersalah.
"Mbak Aniya, aku minta maaf," ucap Zana.
Hanu menoleh menatap kearah Zana. "Seharusnya kamu berhati-hati, Zana. Jangan ceroboh! Lihat sekarang wajah Aniya memerah seperti ini. Bila kamu marah dengan Aniya atau pun cemburu dengan dia karna saya lebih memperhatikan dia.Bukan berarti kamu harus seperti ini melakukan pada, Aniya. Saya kecewa dengan kamu, Zana. Lebih baik saya saja yang mengantarkan bubur ini pada Aniya, bila pada akhirnya kamu akan mencelakainya! " Bentak Hanu dengan suara yang meninggi.
Rasanya begitu sakit di bentak Hanu untuk pertama kalinya bagi Zana. Ia langsung di tuduh tanpa mau mendengar kejadian yang sebenarnya. Terkadang manusia langsung mengambil kesimpulan sendiri ketika melihat apa yang dia liat. Tanpa mau mencari kebenaran yang sesungguhnya. Tidak ada di hati Zana terbesit untuk melukai atau mencelakai Aniya. Tapi apalah daya Hanu lebih percaya dengan apa yang dia lihat dengan pandangan buruk padanya.
"Kamu bersihkan kamar ini dan sekalian cuci sprei dan selimutnya yang terkena bubur tadi . Malam ini saya dan Aniya akan tidur di kamar kamu, " ujar Hanu langsung pergi meninggalkan Zana begitu saja dengan menggiring Aniya yang tersenyum tipis di balik wajahnya yang tertunduk.
Gadis itu langsung menghapus kasar air matanya yang langsung meluruh ketika Hanu dan Aniya sudah pergi.Dengan air mata yang terus berguguran Zana mengambil mangkok bekas bubur tersebut di lantai. Ia mencopot sarung bantal, guling dan sprei. Padahal kakinya masih sakit tapi harus kembali mencuci malam-malam seperti ini.
__ADS_1
Bersambung...