
Di ruang makan, Hanu dan yang lain tengah menikmati sarapan pagi. Aniya mengambilkan lauk dan nasi untuk suaminya. Sejak pulang dari rumah Zana, Hanu lebih banyak diam. Terkadang pria itu termenung seorang diri.Entah apa yang Hanu pikirkan.
"Hanu, apa ada masalah? " Tanya Abah Husein yang melihat menantunya tidak seperti biasanya. Umma Sarah menatap sekilas pada Hanu dan kembali menyantap makanan nya. Aniya menghentikan gerakan tangannya yang akan menyuap makanan. Ia menoleh menatap Hanu.
Hanu tersenyum pada Abah,"Tidak ada masalah, Abah. "Jawab Hanu.
Hanu mulai menyantap makanan nya. Umma Sarah menatap menantunya tersebut dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Alhamdulillah, "Abah mengucap hamdalah setelah selesai dengan sarapan nya.
" Umma aku ingin bicara. "Ujar Hanu , membuat Umma Sarah yang hendak beranjak, kembali duduk di kursi.
" Kamu ingin membicarakan apa dengan Umma? "Tanya umma Sarah melirik ke arah Aniya yang tampak was-was. Apalagi melihat wajah Hanu yang begitu serius.
Abah Husein menatap Hanu dan beralih menatap Umma Sarah. Ada rasa penasaran dan ingin mengetahui apa yang ingin di bicarakan Hanu pada istrinya.
Hanu menarik napas panjang, " Kenapa Umma menampar Zana? "Lontaran pertanyaan Hanu, membuat pupil mata Umma membesar dan wajahnya sedikit terkejut. Tapi berusaha menutupi keterkejutan nya itu.
" Kamu kenapa tiba-tiba langsung menuduh Umma seperti itu? Ooh.... Umma tahu pasti Zana mengadu pada kamu, dan kamu langsung percaya begitu saja. Memang nya kamu atau pun Zana punya bukti bila Umma menampar istri kedua kamu itu?Sepertinya otak kamu sudah di racuni Zana hingga sangat mudah percaya dengan ucapan Zana. Bahkan Umma yang merupakan mertua kamu sendiri langsung kamu tuduh. Zana itu orang yang baru kamu kenal dan masuk ke hidupan kamu. "Umma Sarah langsung beranjak dari kursi, menatap sinis pada menantunya.
Hanu terdiam , tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mencerna ucapan mertuanya itu. Memang benar. Ia tidak punya bukti apapun tentang penamparan yang Umma lakukan pada Zana.
" Abah bukannya membela Umma. Tapi sebaiknya kamu cari dulu kebenaran nya sebelum menuduh seseorang. "Abah ikut beranjak meninggalkan meja makan.
Kini tinggal Hanu dan Aniya. Aniya menggengam tangan suaminya lembut.
" Apa yang di katakan Umma benar, Mas. Jangan sepenuhnya kamu percaya dengan Zana. Dia itu orang baru yang hadir dalam ke hidupan kita, "ujar Aniya. Hanu menatap sang istri tanpa mengatakan apa pun.
Aniya tersenyum tipis saking tipisnya Hanu tidak bisa melihat nya. Wanita itu harus membuat suaminya itu percaya sepenuhnya kepadanya . Bukan pada gadis sialan itu! Zana hanya alat untuk bisa memberikan anak untuk nya dan Hanu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Seperti biasa Zana membeli sayur di penjual sayuran yang sering lewat di depan rumahnya. Ia sibuk mencari sayur yang akan ia masak pagi ini. Bisa saja Hanu ke rumah dan minta di masakan sesuatu. Dua orang perempuan datang, mendekati menjual sayur tersebut.
" Sayur bayam gak ada, bang? "Tanya Murti.
__ADS_1
" Aduh, nggak ada neng. Sudah habis di borong sama ibu-ibu di kampung sebelah, "jawab penjual pria tersebut.Zana melirik Murti sekilas dan kembali memasukkan sayur dan bahan yang lainnya ke plastik.
"Lain kali ke sini dulu, bang. Supaya saya nggak ke habisan lagi. Sekarang cuma bisa beli sayuran sisa, " gerutu Murti.
"Bang ini cabe seplastik kecil ini berapa? " tanya Tati.
"Lima ribu, neng. " Jawabnya.
"Mahal banget. Isi nya cuma sedikit gini lima ribu, " gerutu Tati.
"Cabe lagi naik-naik nya, mbak. Jadi wajar kalau dapat nya cuma sedikit." Kini Zana mulai membuka suara. Murti dan Tati menatap Zana dengan bibir yang mencibir.
"Susah juga kalau bicara sama orang nggak tahu gimana susahnya cari uang dan harus berhemat. " Celetuk Murti.
"Kamu itu nggak usah ikut campur ya! Ooh..... Iya kamu itu kan enak tinggal minta uang berapa pun sama suami kamu itu. Namanya juga istri kedua di manjakan terus. Jadi tidak akan tahu bagaimana susahnya cari uang! " Sembur Murti.
Zana terdiam, menahan sesak di dada nya dengan ucapan mereka. Statusnya selalu di jadikan boomerang. Ia memang istri kedua tapi bukan berarti ia memanfaatkan segala yang mas Hanu berikan padanya. Orang-orang selalu menyalahkan dirinya. Menganggap ia melakukan kesalahan sangat besar karna menjadi istri kedua. Andai mereka tahu alasan kenapa ia menjadi istri kedua. Sedangkan mbak Aniya di puji-puji karna sabar untuk di madu .
"Bang, ini berapa totalnya?" Zana menyerah belanjaannya ke penjual tersebut. Murti menyebikan bibirnya memperhatikan Zana mengeluarkan uang seratus ribu dan memberikannya pada penjual sayur tersebut.
Zana langsung meninggalkan tempat tersebut. Ia berjalan cepat dengan kepala tertunduk.
Brak!
Gadis itu hampir jatuh karna jalan yang begitu licin akibat hujan tadi malam. Tapi, untung dengan sigap Gala menangkap tubuh mungil Zana. Pandangan mereka berdua terkunci beberapa detik.
"Maaf, " Zana langsung menjauhkan tubuhnya dari Gala yang menatap dirinya.
"Tidak pa-pa, lain kali hati-hati, " ucap Gala , tersenyum.Zana tersenyum kikuk dan kembali melangkahkan kakinya dengan perasaan tidak enak dan gugup.
"Sayang! " Hanu berjalan dengan cepat kearah Zana. Ia menatap tajam pada Gala .Hanu melihat dengan jelas pria itu memeluk istri nya walau ia tahu karna Zana hampir tergelincir.
"Mas, " Zana kaget melihat ke datang suaminya. Hanu langsung merengkuh pinggang Zana posesif. Mata nya terus menatap kearah Gala memperhatikan mereka berdua dan memilih pergi ke penjual sayur.
Niat Gala hanya ingin ke penjual sayur. Mencari buah-buahan. Dan refleks ia memeluk gadis itu yang hampir jatuh ke tanah.
__ADS_1
Hanu membawa Zana masuk ke dalam rumah dengan hati yang terbakar api cemburu. Ia benar-benar tidak suka dan benci pada laki-laki yang berani menyentuh istri nya walau sekedar menolong.
"Lain kali hati-hati bila jalan. " Tegur Hanu yang duduk di sofa dengan nafas yang memburu. Zana yang melihat itu langsung meletakkan belanjaan nya di meja dan duduk di sebelah Hanu .
"Iya, Mas. Lain kali aku bakal hati-hati lagi. Soalnya tadi terburu-buru, " jelas Zana, menggengam tangan besar Hanu.
Perlahan pria itu menatap istri nya dengan tatapan sendu.
"Saya tidak suka melihat kamu di sentuh pria lain, selain saya. Kalau boleh memilih, saya lebih rela kamu jatuh ke tanah dari pada tubuh kamu di pegang-pegang pria lain seperti itu! " lirih Hanu.
Zana malah tersenyum mendengarnya.Hanu mencebikan bibirnya melihat istrinya tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? " Tanya Hanu sewot.
"Mas, Cemburu ya? " Tebak Zana kekeh geli, menunjuk Hanu yang sudah memerah wajahnya. Entah mengapa Pria itu jadi malu dan salah tingkah.
"Iya saya cemburu. Suami mana yang rela istrinya di pegang-pegang seperti itu. Kalau bisa kamu tidak usah beli sayur lagi bila ada pria itu lagi atau pria yang lainnya, " ujar Hanu.
Zana tersenyum lebar, menatap lekat suaminya. Ia benar-benar bahagia, seolah kupu-kupu tengah beterbangan di atas kepalanya. Bila Hanu cemburu, itu pertanda bila suaminya ini memang benar-benar mencintainya.
"Mas, mau aku buatin kopi atau teh, " tawar Zana.
"Saya mau makan kamu saja," Hanu memeluk Zana, mendusel-dusel wajahnya di leher sang istri yang tertutup hijab.
"Iih,Mas geli, " Zana menjauhkan dirinya dari Hanu.
"Kita sudah lama tidak melakukannya," ujar Hanu tersenyum aneh, membuat Zana bergidik ngeri. Tentu ia paham maksud suaminya.
"Mas, aku mau masak dulu ya. Mas lapar'kan? " Zana hendak beranjak dan Hanu dengan cepat menarik tangan Zana, membuat gadis itu jatuh di pangkuan suaminya.
"Saya mau nya makan kamu. " Hanu memciumi wajah Zana dengan gemas.
"Ini masih siang, " celetuk Zana.
"Kalau siangnya memangnya kenapa? Tidak ada masalah. " Sahut Hanu. Zana memalingkan wajahnya dengan pipi yang memerah.
__ADS_1
Bersambung....