
...Terima kasih sudah mampir ❤...
...~Happy reading~...
Sebelum Zana membuka pintu mobil bagian depan, Aniya lebih dulu membukanya dan menyenggol kasar tubuh Zana yang hampir jatuh tersungkur.
"Aku duduk di depan, kamu duduk di kursi penumpang," ujar Aniya menatap bengis pada Zana yang berusaha merendam emosi yang menyeruak di dadanya. Seharusnya Aniya satu mobil dengan Abah dan Umma bukan dengan mereka berdua.
Aniya langsung masuk ke dalam mobil tanpa merasa bersalah sedikit pun dengan apa yang telah dia lakukan pada Zana.Terkadang tidak semua orang bisa belajar dari kesalahannya, untuk bisa berubah jadi lebih baik lagi. Rasa egois, iri dan dendam adalah tiga hal yang sulit dihilangkan bagi seseorang yang selalu merasa paling benar dengan apa yang dia lakukan.
"Zana,kenapa belum masuk mobil? " tanya Hanu yang baru keluar dari rumah sakit, setelah membayar administrasi perawatan Aniya.
"Ini, aku mau masuk, Mas." jawab Zana dengan wajah lesu sembari membuka pintu mobil belakang.
"Kenapa duduknya di belakang?Kamu duduknya di depan,sayang." ujar Hanu. Zana menggelengkan kepalanya.
"Di kursi depan sudah ada mbak Aniya," setelah mengucapkan itu Zana langsung masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Hanu langsung membuka pintu mobil depan, dan sudah mendapati Aniya yang duduk manis, tersenyum lebar menatap ke arah suaminya.
"Kamu bukannya ikut mobil abah dan umma?"tanya Hanu.
"Aku maunya ikut sama kamu pulangnya. Lagi pula kita masih suami-istri...jadi tidak ada masalah bila pulang bersama.Aku juga bisa mual kalau duduk di belakang,"bohong Aniya.
Hanu hanya bisa menghela napas panjang. Ia melirik Zana yang menatap ke arah jendela mobil luar, seolah tidak ingin mendengarkan apa yang mereka berdua bicarakan.
Pria itu masuk ke dalam mobil.Aniya memasang sabuk pengamanannya dan Hanu melirik Zana dari kaca mobil yang menundukkan kepalanya sembari memainkan ujung bajunya.
"Zana, pasang dulu sabuk pengamanannya, " ujar Hanu dan Zana menganggukkan kepalanya sembari memasangnya.
Hanu mulai menjalankan mobilnya. Aniya menyenderkan kepalanya di bahu Hanu yang tengah fokus menyetir. Zana memilih memandang ke arah jendela luar mobil, merendam rasa cemburu melihat pemandangan yang membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Aniya jangan bersender seperti ini, aku sedang menyetir mobil." tegur Hanu yang dibalas gelengan oleh Aniya.
"Memangnya kenapa sih,Mas?Biasanya kamu tidak pernah protes bila aku bermanja seperti ini. Atau karna kita sebentar lagi akan bercerai makanya kamu mulai berubah. Aku bingung dengan kamu, Mas. Dengan mudahnya memutuskan pernikahan yang kita bangun selama delapan tahun," sungut Aniya , dengan rasa sakit di hatinya ketika membahas tentang perceraian yang beberapa minggu lagi akan dilaksanakan di persidangan.
Aniya melirik Zana sinis dan beralih melihat pada Hanu yang tidak menanggapi ucapannya. Pria itu memilih diam, bila dia menyahuti ucapan Aniya yang ada akan berakhir pertengkaran dan adu mulut di dalam mobil .
"Kamu kenapa diam, Mas? Seharusnya yang kamu ceraikan itu Zana, dia orang baru yang masuk ke dalam kehidupan kita berdua. Aku yang meminta kamu untuk menikah lagi , tapi kenapa malah aku yang harus tersingkir. Karna kesalahan yang aku lakukan kamu gelap mata dan langsung mengambil keputusan sepihak..." lirih Aniya dengan suara yang parau.Air mata perlahan kembali menetes.
"Sudah jangan membahas itu. Ini bukan waktu yang tepat kita membicarakan hal ini. Dan tolong jangan bawa-bawa nama Zana terus."ucap Hanu. Dia benar-benar muak dengan ucapan Aniya yang selalu membawa Zana dalam masalah ini.
"Itu salah Mbak Aniya sendiri. Seharusnya Mbak mengoreksi kesalahan yang telah Mbak perbuat. Bukannya menyeret aku dalam masalah ini." sahut Zana yang sudah tidak bisa merendam amarahnya.
"Heh, seharusnya kamu yang sadar diri.Kamu cuma istri kedua dan seharusnya lagi kamu yang di ceraikan,Mas Hanu.Kamu juga di nikahi karna aku mandul!" ketus Aniya.
Zana mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku kukunya memutih.
"Mbak juga mandul karna kesalahan Mbak sendiri!" balas Zana tak kalah ketus.
"Kau... "
Aniya yang sudah terpancing emosinya karna ucapan Zana.Segera melepaskan sabuk pengaman yang ada di tubuhnya.
__ADS_1
"Rasakan ini j*lang!"
Aniya menjambak Zana hingga hijab pasmina yang di pakai Zana terlepas. Hanu langsung menepikan mobilnya, melihat pertengkaran kedua istrinya.
"Sakit... " Zana meringis kesakitan merasakan tarikan kasar di rambutnya dan cakaran dari kuku panjang Aniya di wajahnya.
"Cukup,Aniya!"bentak Hanu dengan intonasi suara yang meninggi.
Hanu menarik Aniya menjauh dari Zana yang langsung memegangi pipinya yang terasa perih dan mengambil hijabnya yang ada di bawah.
"Kamu kenapa jadi kasar seperti ini, hah?! Sikap kamu benar-benar tidak mencerminkan seorang muslimah.Dan tindakan kamu tidak dewasa sama sekali, seperti anak remaja." Hanu menatap marah pada Aniya yang langsung terdiam dengan kepala tertunduk.
Tapi tidak ada rasa penyesalan di benak Aniya pada Zana. Bahkan ia belum puas.
Hanu turun dari mobil. Pria itu membuka pintu mobil bagian belakang.
"Mana yang sakit?" tanya Hanu yang masuk ke dalam.
Zana langsung memeluk tubuh besar Hanu.Gadis itu menangis merasakan sakit pada pipi dan kepalanya.Hanu menguraikan pelukannya, menangkup pipi Zana pelan.
"Kita balik ke rumah sakit ya.Takutnya infeksi luka di pipi kamu," ujar Hanu mengusap pipi Zana yang lecet sedikit mengeluarkan darah.
"Tidak usah, aku mau langsung pulang." jawab Zana kembali memeluk Hanu yang memasangkan hijab di kepala Zana sembarang.
Aniya menatap jengah pada keduanya terutama Zana.
"Aniya, kamu duduk di belakang. Biar Zana duduk di depan,"tegasnya.
"Aku tidak,mau!Kamu tidak adil, Mas. Kamu lebih sayang Zana di banding aku. Atau jangan-jangan kamu lebih mencintai Zana di banding aku, hah?!" ketus Aniya dengan mata melotot menatap Hanu.
Hanu memilih diam, tidak ada niat membalas ucapan Aniya.
" Kamu duduk di kursi paling belakang,"bisik Hanu di telinga Zana.
Untuk menghindari serangan Aniya kembali.
Hanu kembali turun dari mobil di oleh ikuti Zana.
Pria itu melipat kursi mobil agar Zana bisa masuk untuk duduk di kursi paling belakang.Deretan kursi nomor tiga.
Aniya mencibir dengan tatapan sinis menatap Zana yang terus menempel dengan Hanu.
"Sekarang, masuk." ucap Hanu tersenyum lembut pada Zana.
••••
Mobil Avanzha tersebut berhenti di depan rumah Aniya. Hanu lebih dulu turun setelah itu baru di susul oleh Aniya yang tak lepas memperhatikan suaminya yang membuka pintu mobil untuk Zana.Rasa cemburu dan marah bercampur menjadi satu di benaknya.
Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa pusing.Zana sudah beberapa kali muntah di kantong kresek yang sudah di sediakan oleh Hanu.
"Terlalu manja," celetuk Aniya yang melengos masuk ke dalam rumah.
"Hanu, Zana. Ayo masuk dulu," ujar Abah yang sudah berdiri di depan rumah,menunggu ke datangan keduanya. Abah Husein dan Umma Sarah lebih dulu sampai rumah.
__ADS_1
Hanu berjalan masuk kedalam rumah sembari memegangi tubuh Zana, takut bila istrinya tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Ayo duduk dulu," ujar Abah. Keduanya duduk di sofa ,ruang tamu.
"Mau minum apa? " tanya Abah.
"Tidak usah repot-repot, Abah. Sebentar lagi kami akan pulang, " tolak Hanu halus.
Zana menyandarkan kepalanya di dada Hanu. Kepalanya benar-benar pusing, sejenak menghirup dalam aroma tubuh suaminya yang seperti obat penawar, entah kenapa rasa mual dan pusing yang ia rasakan sedikit berkurang.
"Abang ,ingin minta maaf atas segala kesalahan yang telah Aniya lakukan. Abah tidak pernah mengira putri Abah akan melakukan hal yang tidak pernah sekali pun terbesit di pikiran Abah.Seberusaha apapun Abah mendidik Aniya bila dunia luarnya yang membuat ia rusak dan karna pergaulan yang bebas, membuat Aniya terjerumus dalam zina. " ujar Abah ,sarat akan kekecewaan yang dalam.
Bagaimana seorang Ayah tidak kecewa bila sudah gagal mendidik putrinya yang diibaratkan sebuah berlian yang harus benar-benar menjaganya.
"Aku sudah memaafkan kesalahan Aniya, Abah.Tapi untuk membatalkan gugatan perceraian, maaf aku tidak bisa. Keputusan ku sudah bulat," ujar Hanu tegas dengan pendiriannya saat ini.
"Abah tidak meminta kamu melakukan hal itu. Abah hargai keputusan kamu, bila itu yang terbaik dan semoga Aniya bisa belajar dari kesalahan yang telah dia perbuat untuk menjadi orang yang lebih baik lagi ," ujar Abah dan di amini oleh Hanu.
Zana hanya diam. Namun menyimak apa yang dibicarakan keduanya.
"Setelah aku resmi bercerai dengan Aniya. Aku dan Zana akan pindah ke kota," ujar Hanu, membuat Abah Husein sedikit terkejut.
"Kenapa harus pindah,Hanu?" tanya Abah.
Hanu menarik napas dalam-dalam.
"Aku ingin membuka lembaran baru dengan Zana di tempat tinggal kami yang baru," ujar Hanu yang tampak tidak enak dengan Abah.Tapi apa boleh buat, Hanu tidak bisa menjamin bila setelah bercerai Aniya tidak akan melakukan hal macam-macam pada Zana
Zana menatap heran pada suaminya. Kenapa harus pindah?Lalu, bagaimana dengan peternakan suaminya yang merupakan sumber penghasilan Hanu setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua.
"Iya,tidak apa-apa. Yang penting kamu sering-sering main kesini, " ujar Abah yang di angguki oleh Hanu.
"Wajah Zana kenapa?" tanya Abah memperhatikan wajah gadis tersebut.
"Ini... " Hanu diam sejenak, melirik Zana yang menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Abah," ucap Hanu.
Abah Husein hanya manggut-manggut.
••••
sedangkan Aniya memohon-mohon pada Umma Sarah yang berada di kamar untuk membujuk Hanu agar membatalkan perceraian tersebut. Bagaimana pun ia tidak akan rela harus berpisah dari Hanu dan melihat Zana tertawa di atas penderitaannya.
"Umma, aku mohon bujuk mas Hanu, agar tidak menceraikan aku. Apa Umma tega melihat aku menderita setelah di ceraikan mas Hanu. Aku mohon Umma..." lirih Aniya dengan wajah yang memelas. Bersimpuh di kaki umma Sarah yang masih duduk di kursi roda.
"Bagaimana bisa Umma membujuk Hanu, Aniya. Sedangkan kamu secara nyata dan bukti yang begitu jelas melakukan kesalahan yang tidak bisa dianggap sepele. Umma merasa malu bila harus berhadapan dengan Hanu, " ujar Umma Sarah.
"Dan Umma tega melihat aku menjadi janda, begitu.Coba Umma bujuk mas Hanu,siapa tahu dia akan berubah pikiran setelah mendengar permohonan Umma.Dalam hitungan hari persidangan gugatan cerai akan terlaksa,aku harus memanfaatkan waktu yang tersisa..." lirih Aniya menggenggam tangan Umma Sarah erat .
Umma Sarah menghela napas berat dan menganggukkan kepalanya."Umma akan coba, membujuk Hanu,"sahut umma Sarah dan senyuman Aniya mengembang.
" Terima kasih, Umma."
__ADS_1
Aniya memeluk, Umma Sarah erat. Dia yakin Hanu tidak mungkin membantah apa yang Ummanya katanya. Suaminya itu selalu patuh dan menurut bila Ummanya yang turun tangan. Dan bila dia berhasil membatalkan perceraian itu, maka ia hanya tinggal memikirkan untuk menyingkirkan Zana. Tidak peduli dengan anak yang dikandung gadis tersebut.
"Tunggu waktunya Zana.Kamu akan aku singkirkan."batin Aniya.