KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kebahagiaan dan dendam


__ADS_3

...~Happy reading~...


Mobil Avanza yang di tumpangi Hanu dan Zana telah sampai di depan pekarangan rumah minimalis yang tampak sederhana, walaupun begitu Hanu membelinya dengan kontan. Ia sudah mempersiapkan semuanya sebelum pindah kota.


Hanu turun dari mobil dan dengan hati-hati mengeluarkan Zana yang masih betah dengan tidur nyenyaknya.


"Ujang tolong buka kan pintunya, " titah Hanu memelan suaranya.Sebelumnya Hanu sudah memberikan kunci rumah pada anak buahnya itu.


Ujang membuka pintu rumah dan Hanu masuk ke dalam. Pria itu membawa sang istri ke dalam kamar yang cukup luar yang di dominasi cat berwarna putih.


Hanu membaringkan Zana di kasur dengan hati-hati. Ia melepaskan hijab pasmina yang melekat di kepala Zana dan juga melepaskan sandal di kaki gadis tersebut yang masih terpasang.Tidak lupa Hanu menyalahkan AC di kamar itu.


"Sudah di angkat semua barang-barangnya? " tanya Hanu yang baru keluar dari kamar.


"Sudah Hanu. Tapi kalau mobil di bawa balik ke desa atau tetap di sini? " tanya Ujang.


Hanu terdiam sejenak,"Tinggal di sini saja mobilnya, "jawab Hanu dan Ujang menganggukkan kepalanya.


Hanu mengeluarkan uang dari saku celananya dan memberikannya pada Ujang .


" Ini ambil upah karna sudah mengantar Aku dan Zana ke kota sekalian ongkos untuk kamu pulang, "ujar Hanu menarik tangan Ujang dan meletakkan uang merah enam lembar itu.


" Ini terlalu banyak Hanu. Bagaimana dengan mu? "Ujang berusaha menolak uang dari Hanu, karna ia tahu keuangan pria itu mulai menipis setelah banyak pengeluaran antara membayar biasa perawatan rumah sakit Aniya dan membeli rumah yang cukup mahal ini.


" Tidak perlu khawatir. Aku masih punya banyak simpanan."Dengan tidak enah hati Ujang menerima uang pemberian Hanu yang tersenyum tulus padanya.


"Tolong, kamu kelola peternakan ku di desa. Setiap bulan aku akan ke sana untuk memeriksa, " ujar Hanu yang di angguki Ujang.


"Tenang, semuanya akan aman Hanu, aku akan menjalankan amanah mu dengan baik . Yang penting kamu fokus saja pada Zana, " pungkas  Ujang menepuk-nepuk bahu Hanu pelan.

__ADS_1


Mereka berdua sudah lama berteman. Jadi, tidak heran Hanu dan Ujang begitu dekat dan sangat akrab.


🍄🍄🍄🍄🍄


"Eugh.... "Suara lenguhan yang keluar dari bibir Zana dan geliatan kecil.Gadis itu membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar. Sesekali mengucek matanya dan menguap karna masih merasa mengantuk.


Zana bangun dari tiduran,'nya dan menyandarkan tubuhnya di bahu ranjang. Sebuah senyuman kecil tercipta di wajah cantiknya, melihat Hanu yang baru selesai melaksanakan sholat. Setelahnya ,mata Zana mengedar melihat setiap jengkal kamar yang tampak asing baginya.


Kakinya berpijak ke atas lantai keramik dan berjalan mendekati Hanu. Zana langsung duduk di pangkuan Hanu yang duduk bersila.Ia menyembunyikan wajahnya di dada kokoh sang suami. Menghirup dalam aroma wangi kasturi yang menguar dari baju yang di pakai Hanu.


"Sayang, sholat dulu yuk. Kamu belum sholat ashar. Apa mau Mas gendong ke kamar mandi? " Hanu mengusap rambut Zana yang tampak berantakan. Pria itu memberikan kecupan di kening dan pelipis Zana dengan penuh cinta.


"Tunggu sebentar, Mas. Biarkan aku memeluk Mas seperti ini, " ujar Zana menatap Hanu yang juga membalas tatapannya. Pria itu mengecup bibir ranum Zana yang sedikit terbuka. Membuat sang empu  langsung mengantupkan bibirnya dengan wajah yang sudah memerah.


"Sekarang cepat sholat, sayang. Nanti waktunya habis lho, " ujar Hanu.


******


Zana memperhatikan bayangan dirinya dari pantulan cermin. Gadis itu memakai tank top dan celana hot pants yang begitu kentara memperlihatkan paha putihnya yang mulus, ini pakaian yang dulu sering dia pakai sebelum menikah dengan Hanu.



Terkadang Allah mengutus seseorang, membantu kita untuk bisa berubah jauh lebih baik lagi dan semakin mendekatkan diri pada-Nya.Entah orang itu adalah suami, teman maupun orang lain yang baru kita kenal. Nyatanya,hidayah Allah datang melalui perantara orang lain tapi kita jarang menyadari hal itu.


"Zana, ayo makan dulu ,sayang! " teriakan menggelegar dari ruang makan membuat Zana tersentak. Ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar .


Sepasang tangan mungil melingkar di pinggang Hanu, terasa mengganjal di belakangnya yang langsung membalikkan tubuhnya.


Pria itu tertegun melihat penampilan Zana. Bukan apa-apa, hanya saja dia sudah lama tidak melihat Zana berpakaian tersebut seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa dilihatin seperti itu. Apa aku tidak cocok pakai baju ini, " ujar Zana merentangkan kedua tangannya melihat menampilkannya sendiri.


Hanu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Tangannya terus mengusap kepala Zana lembut.


"Bukan.Tapi kamu kan sedang hamil kenapa malah pakai baju seperti itu sayang, nanti anak kita sesak di dalam sana .Ibu hamil tidak boleh berpakaian ketat,sayang," papar Hanu seraya menarik kursi untuk Zana duduki.


"Tapi ini bajunya tidak ketat ataupun sesak. Jadi anak kita aman, " cengir Zana sambil mendudukkan diri di kursi.


"Bukan hanya tentang anak kita. Tapi Mas takut kamu berpakaian terbuka seperti ini saat Mas tidak ada di rumah. Takutnya, ada tamu yang datang sedangkan kamu tidak sadar berpakaian seperti itu saat membuka pintu, " nasehat Hanu sembari mengambilkan makanan untuk Zana di piring.


"Mas tidak melarang kamu untuk melakukan hal yang kamu sukai tapi sedikit di batasi. Lain kali pakai baju itu saat Mas ada di rumah, " ujar Hanu mencubit pipi Zana gemas dengan pipi yang mengembung karena pengunyah makanan.


"Oh ya. Nanti Mas mau kerja di perusahaan teman Mas, sayang. Anggap saja menambah uang untuk membiaya lahiran anak kita. Jadi...Kamu jangan keluar dari rumah kecuali sama Mas, dan jangan membuka pintu untuk orang yang tidak kamu kenal. Kita masih orang baru di tempat ini jadi harus berhati-hati, " tutur Hanu yang di angguki Zana.


******


Aniya duduk meringkuk di ranjang. Tatapan mata yang tampak kosong. Air mata mengering , entah berapa banyak air mata yang tumpah. Semalaman Aniya tidak tidur pikirannya selalu tertuju pada Hanu. Berandai-andai kala itu ia tidak memaksa mantan suaminya menikah dengan Zana. Ia tidak tahu bila kehadiran gadis itu akan membawa masalah dan semua masa lalu buruknya terbongkar.


Kini, istri yang kedua yang selalu di jelakkan dan di pandang sebelah mata sekarang di puji orang-orang setelah semua aib buruknya terbongkar.


Kenapa hidupnya jadi berantakan seperti ini?Bagaimana bisa ia menjalani kehidupan ini tanpa Hanu orang yang paling ia cintai.Kepada siapa ia mengadu, sedangkan Abah begitu marah padanya, Umma tidak bisa berbuat apa-apa. Keluar rumah pun sangat malu karna jadi buah bibir semua orang. Sampai kapan ia berdiam diri di dalam kamar, menyesali semua kebodohannya.


Pasti Zana sangat bahagia melihat dirinya hancur seperti ini. Gadis itu begitu licik.


"Lihat saja kamu Zana. Ada saatnya aku merebut segalanya termasuk anak kamu dan Mas Hanu. Ini cuma soal waktu, " desis Aniya penuh dendam dengan nada suara yang bergetar.


Bersambung...


Tandai bila typo:)

__ADS_1


__ADS_2