KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Sakit parah


__ADS_3

...Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya. Itu sangat berarti bagi saya sebagai author. Terima...


...kasih....


...Happy reading...


Hanu duduk di sebuah kursi, sambil menunggu dokter yang menangani Zana keluar dari ruang UGD. Ia berharap istrinya tidak kenapa-kenapa, berharap semuanya akan baik-baik saja.


Beberapa menit duduk di kursi. Hanu memilih untuk melihat keadaan putranya yang ada di ruang NICU, merupakan ruangan yang memberikan perawatan secara antensif pada bayi yang baru lahir. Hanu melangkahkan kakinya ke ruangan yang tidak jauh dari tempat Zana yang sedang di tangani.


Kini, Hanu berdiri di depan ruang NICU. Melihat anaknya dari balik kaca besar yangΒ  memberikan sekat di antara keduanya. Bayi itu di pasangkan selang ventilator untuk membantu pernapasannya yang masih belum normal.


"Kamu tampan sekali, Nak. Ayah sangat bahagia kamu lahir ke dunia ini.Allah begitu baik pada Ayah, hingga memberikan kado terindah di tahun ini atas kehadiran mu... " lirih Hanu menempelkan telapak tangannya di kaca tipis tersebut. Tanpa sadar air mata menetes dari pelupuk mata Hanu.


Pria itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan haru yang kian memuncak kala melihat buah hatinya.


Bayi tersebut menggeliat sambil mengecap-ngecap,sepertinya kehausan.


"Haus ya, Nak?Tunggu sebentar Ayah panggil suster dulu. "


Hanu yang menyadari anaknya kehausan,segera mendatangi suster yang tengah berjaga.


"Suster di rumah sakit ini ada persediaan ASI? Anak saya kehausan di ruang NICU, " ujar Hanu.


"Ada, Pak.Kalau begitu anda tunggu dulu di sini. Saya akan mengambilkan persediaan ASI , " ujar suster yang berlalu pergi mengambilkan ASI donoran.


Tidak berapa lama, suster tersebut datang kembali.


"Ini, Pak ASI nya. Tolong pelan-pelan untuk memberikan ASI nya pada anak Bapak. Bapak boleh masuk ke ruangan tersebut tapi tidak boleh menggendong anak Bapak dan jangan lupa menggunakan masker dan baju ini, " suster itu memberikan masker dan baju khusus pada Hanu.


"Baik, suster. Terima kasih. "


Hanu masuk ke ruang NICU. Ia tersenyum melihat putranya masih mengecap-ngecap. Dengan pelan-pelan ia memberikan dodot pada bayi tersebut yang langsung mengisapnya dengan kuat, mungkin karna kelaparan atau kehausan.


"Kamu tampan sekali, Nak.Melihat mata kamu benar-benar membuat Ayah kembali teringat dengan kakek buyut, " gumam Hanu pelan, tangannya terulur mengusap pipi chubby anaknya yang begitu lembut ketika bergesekan dengan kulitnya.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? " tanya Hanu pada dokter yang menangani istrinya.


"Syukur, semuanya baik-baik saja. Istri Bapak hanya pendarahan ringan bukan pendarahan yang keluar lebih 500 ml, bila sampai keluar darah sampai mencapai angka itu mungkin istri Bapak tidak bisa di selamatkan. " papar dokter tersebut dengan rinci.


"Alhamdulillah bila keadaan istri saya baik-baik saja. Apa boleh saya masuk, melihat istri saya? " tanya Hanu.

__ADS_1


"Boleh, Pak. Tapi pasien masih dalam pengaruh obat bius, mungkin sebentar lagi siuman. "


"Saya ucapkan terima kasih sudah menangani istri saya dengan baik,Dok, " ucap Hanu yang di angguki dokter wanita tersebut.


"Tidak masalah, Pak. Ini memang kewajiban kami melayani pasien dengan baik dan melakukan yang terbaik... Kalau begitu saya permisi. " ujarnya undur diri.


"Iya ,silahkan Dok. "


Setelah dokter berlalu pergi, Hanu masuk ke ruang tersebut. Ia mendekati Zana yang terbaring lemah di brankar. Tangannya terulur mengusap kepala istrinya dengan lembut.


"Cepat sadar, sayang. Anak kita sangat tampan, bibirnya persis seperti mu dan wajahnya mirip dengan Mas.Terima kasih sudah melahirkan jagoan kecil untuk Mas, sayang. Mas merasa kebahagiaan kita sudah sempurna karna kehadiran makhluk kecil di tengah-tengah kita. "


Hanu begitu antusias dan terharu menceritakan tentang putranya yang belum di beri nama tersebut. Orang lain tidak akan tahu sebahagia apa dirinya saat ini.


"Kamu harus cepat siuman, sayang. Supaya bisa melihat wajah anak kita. "


Ceklek...


Pintu terbuka, membuat atensi Hanu teralihkan. Senyuman di bibirnya tercetak jelas melihat dua suster memindahkan putranya satu ruangan dengan Zana. Bayi yang ada inkubator itu tertidur nyenyak setelah Kekenyangan meminum ASI yang di berikan Hanu.


"Suster, apa boleh saya menggendong anak saya? " tanya Hanu, melihat selang ventilator sudah di lepas.


"Tentu boleh, Pak, " ujarnya. Suster tersebut mengeluarkan bayi tersebut dari inkubator dan menyerahkannya pada Hanu.


"Bila perlu sesuatu silahkan pencet bel di sebelah kanan brankar ya, Pak. " ujarnya dan Hanu mengangguk.


Hanu mendekatkan pipi bayi tersebut ke bibir Zana. Seolah memberikan ciuman.


"Do'a'kan ya Nak, semoga Bunda cepat sadar. Nanti kita pergi jalan-jalan sama Bunda, "


"Mas..." Sebuah panggilan membuat Hanu langsung menoleh ke arah Zana yang sudah membuka matanya.


"Sayang, kamu sudah sadar, " Hanu langsung memencet bel di sisi brankar.


Dengan pandangan mata yang masih redup, Zana memperhatikan bayi yang di gendong suaminya.


"Mas, itu anak kita? " tanya Zana dan langsung di angguki Hanu.


"Aku mau gendong dia, " pinta Zana dengan suara yang masih lemas.


"Tentu.Kamu tetap tiduran jangan duduk. Pasti perut kamu masih sakit. Dia aku letakkan di samping kamu, " ujar Hanu. Dengan hati-hati pria tersebut meletakkan anaknya di samping Zana.


"Lucu, Mas. Namanya siapa? " tanya Zana sembari mencium pipi putranya.

__ADS_1


"Mas sudah memutuskan nama anak kita Aezar Affandra Hafiz yang artinya keindahan penguasa pelindung. Dia akan menjadi sosok laki-laki yang memiliki keindahan wajah yang tampan, seorang pemimpin dan penguasa yang melindungi orang lain. " papar Hanu.


"Namanya bagus, " puji Zana tersenyum kecil menghiasi wajah yang masih terlihat pucat.


Ceklek...


Dokter masuk ke ruangan tersebut. Ia tersenyum melihat Zana yang sudah siuman.


"Bagaimana keadaan Ibu Zana? " tanya nya.


"Alhamdulillah baik, Dok. Tapi perut saya terasa sakit dan bagian intim saya perih dan nyeri, " keluh Zana.


"Itu hal yang biasa. Nanti saya berikan obat pereda nyeri dan bagian intim anda sedikit mengalami kerobekan jadi saya jahit, " papar dokter tersebut.


Hanu menatap ponselnya yang dari tadi berbunyi dan menampilkan nama Abah Husein.


"Assalamu'alaikum, Bah. "


"Waalaikumsalam, Hanu. Abah boleh minta tolong sama kamu? " tanya Abah di sebrang sana.


Alis Hanu berkerut mendengar itu, ia keluar dari ruangan agar Zana tidak mendengar percakapannya.


"Abah minta bantuan apa? " tanya Hanu.


"... Hanu, Aniya sakit parah, dia sering menyebut nama kamu. Aniya juga selalu menolak untuk makan. Abah bingung harus minta tolong pada siapa lagi, Hanu. Hanya kamu harapan Abah untuk kesembuhan Aniya, " ujar Abah.


"Kenapa tidak di rujuk ke rumah sakit, Abah? " tanya Hanu.


Walau Aniya sudah menjadi mantan istrinya. Tapi ia masih peduli pada wanita tersebut. Bagaimana pun Aniya pernah menjadi bagian dari hidupnya.


"Abah tidak punya biaya Hanu. Kamu tahu kan. Biasanya kamu yang selalu memberikan nafkah dan memberikan uang pada Aniya dan Abah. " ujar Abah.


"Kalau begitu, nanti aku transfer uang untuk pengobatan Aniya. Abah jangan sungkan-sungkan meminta uang dengan ku, aku juga anak Abah. " papar Hanu.


"Tapi aku minta maaf, tidak bisa menjenguk Aniya, karna Zana baru saja melahirkan. "


"Alhamdulillah.Abah senang mendengarnya. Bagaimana keadaan Zana, lalu anak kamu sehat? " tanya Abah di sebrang sana yang terdengar senang.


"Alhamdulillah sehat. Semuanya baik-baik saja. Abah kalau begitu aku matikan sambungan telponnya. Dokter memanggil ku." ujar Hanu.


"Iya Hanu. Abah titip salam buat Zana. "


"Iya, Bah. "

__ADS_1


Setelah sambungan telpon di matikan. Hanu segera masuk kembali ke ruangan itu kembali.


Bersambung.


__ADS_2