KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kedatangan


__ADS_3

Tok  tok   tok


Suara ketukan pintu , membuat aktivitas Zana yang sedang berkutat di dapur terhenti. Ia berjalan kearah pintu keluar dengan langkah kakinya yang tertatih-tatih saat berjalan. Zana memakai hijabnya sebelum membuka pintu, karena itu pesan Hanu bila ada tamu yang datang, pria mau pun wanita. Senyuman Zana langsung memudar seketika saat membuka pintu____Tapi kembali tersenyum ,melihat orang yang mengetuk pintu tersebut.


"Umma, Mbak Aniya. "


Umma Sarah menatap sinis pada Zana.Sedangkan Aniya menatap jengah pada gadis yang sayangnya madu suaminya.Zana tertunduk, bukan takut tapi tidak suka melihat tatapan mereka berdua pada dirinya seperti menyelidik.


"Mana mas Hanu?!" tanya Aniya ketus.


"Mas Hanu tidak ada di sini. Tadi sudah pulang ke rumah Mbak Aniya, " jawab Zana sopan. Walau ingin rasanya membalas dengan ucapan yang lebih ketus lagi. Tapi ia harus menghormati Aniya yang lebih tua darinya.


"Kamu jangan bohong, Zana! Mas Hanu tidak ada pulang ke rumah aku! Pasti Mas Hanu ada di sini, kamu pasti  sembunyikan mas Hanu! "tuding Aniya dengan mata yang melotot.


Zana menggelengkan kepalanya, membantah tuduhan Aniya pada dirinya.


"Aku tidak menyembunyikan mas Hanu? Dan buat apa aku melakukan itu. Mas Hanu pamit pulang pagi tadi ke rumah Mbak Aniya. Dan tidak ada untungnya aku menyembunyikan mas Hanu! "jawab Zana sedikit meninggalkan suaranya.


"Kamu...jangan bohong Zana!Kalau Hanu pulang ke rumah Aniya, tidak mungkin kami mencari ke sini!"ujar Umma Sarah sinis.


"Minggir aku ingin masuk!Dan memeriksa sendiri ke dalam rumah kamu . Bisa saja kan kamu berbohong, " ujar Aniya mendorong Zana untuk menjauh dari depan pintu.


"Jaga sikap Mbak! " bentak Zana mendorong balik Aniya yang hampir terjungkal.


"Ini rumah aku! Tidak boleh ada yang masuk ke rumah aku kecuali, aku sudah mengizinkannya. Bersikap sopan'lah saat ingin masuk ke rumah orang lain," lanjut Zana marah.


Plak!


Umma Sarah langsung menampar Zana kasar. Membuat pipi gadis itu terhempas ke samping.


"Jaga ucapan kamu, Zana!Terserah kami ingin masuk ke rumah ini,tanpa harus minta izin dengan kamu! Lagi pula rumah ini di beli dengan uang Hanu dan itu berarti ini juga milik Aniya!Dan kamu harus ingat, kamu hanya istri kedua yang kedudukannya yang lebih rendah di banding Aniya yang merupakan istri pertama!"ujar Umma penuh penekanan.


Sementara Zana masih memegang pipi kanannya dengan air mata yang perlahan menetes. Bukan tamparan ini yang membuat ia menangis tapi ucapan Umma Sarah yang begitu menyakiti hatinya. Apa salah dia menjadi istri kedua? Toh ini bukan keinginannya menjalin hubungan pernikahan dengan Hanu sebagai istri kedua.Kenapa harus di banding-bandingkan istri pertama dengan kedua. Apa serendah dan semenjijikan itu menjadi istri kedua. Kalau boleh meminta pada Tuhan, dia tidak mau menjadi istri kedua, hubungan yang selalu menorehkan luka di hati dan sesak di dada.

__ADS_1


" Ayo Aniya kita pergi dari sini. Tidak ada untungnya bertanya pada gadis ini, "Umma Sarah dan Aniya langsung beranjak pergi meninggalkan Zana yang berdiri, mematung.


Brak!


Zana langsung membanting pintu dengan kasar .Dia langsung melepaskan hijab yang membalut kepalanya dan melemparkannya kesembarang arah. Hatinya begitu hancur dan sakit. Mereka selalu menuduh dan mengatakan hal buruk pada dirinya. Seolah Aniya'lah yang paling menderita dalam hubungan poligami ini. Sedangkan mereka lupa pada dirinya yang berkali-kali lipat lebih menderita. Setiap harinya harus mendengar hinaan, cemoohan dan ucapan buruk yang di tujukan padanya oleh orang-orang desa.


" Kenapa hidup ku harus di selimuti oleh penderitaan? Aku juga ingin merasakan ke bahagiaan seperti orang lain!"Zana menangis terisak-isak. Hingga dadanya begitu sesak dan sulit bernapas.


🕸🕸🕸🕸🕸


Aniya yang baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah langsung terhenti.Dia terkejut melihat Hanu duduk di sofa ruang tamu, sambil menyeruput kopi. Umma Sarah yang baru masuk ke rumah juga sama terkejutnya seperti Aniya.


"Kalian dari mana? "tanya Hanu dengan alis mengkerut melihat ekpresi ke terkejutan keduanya.


"Mas ,kamu tadi dari mana? " Aniya langsung mendekati Hanu dan duduk di sebelah suaminya. Umma Sarah memilih pergi ke dapur untuk menghilangkan dahaganya, setelah baru pulang dari rumah Zana , jalan kaki.


"Aku tadi baru pulang dari peternakan. Ada konsumen yang memesan sapi. Jadi setelah pulang dari rumah Zana langsung ke peternakan. Kamu sendiri dari mana? Aku cari-cari tidak ada di rumah hanya ada Abah di rumah. Dan Abah juga tidak tahu kalian pergi ke mana, " Hanu menatap Aniya , menunggu jawaban sang istri.


Aniya menatap ke arah lain dengan jantung yang berdegub kencang. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan  mas Hanu. Tidak mungkin dia jujur, yang ada mas Hanu akan marah padanya.


"I-iya, Mas. A-aku tidak apa-apa, " jawab Aniya gugup, tertunduk.


Wanita itu tersentak saat punggung tangan Hanu menempel di dahinya. Membuat dia menatap suaminya hingga bersitatap dengan netra coklat milik Hanu.


"Kamu sakit Aniya? Kenapa kamu berkeringat dingin...dan wajah kamu begitu terlihat pucat seperti ini, " ujar Hanu.


"Tidak, aku tidak sakit, Mas. Aku ke belakang dulu."Aniya langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat ke dapur. Beruntung Hanu tidak curiga.


Sedangkan Hanu tersenyum, mengingat pergulatannya dengan Zana tadi malam.Dia kembali menyeruput kopinya.


" Zana, "gumam Hanu. Di pikirannya saat ini adalah istri keduanya.Yang berhasil menyita hati mau pun pikirannya.


*******

__ADS_1


Aniya terkaget-kaget ketika tangannya di tarik oleh Umma Sarah yang langsung membawanya ke dapur, tempat memasak.


" Aniya kamu tidak mengatakan kita baru  dari rumah Zana'kan? "tanya Umma Sarah menatap sekitar takut bila ada orang yang mendengar pembicaraan mereka berdua terutama Hanu.


Aniya menggelengkan kepalanya, " Tidak Umma. Tadi mas Hanu sempat menanyakan kita baru dari mana. Tapi beruntung aku bisa menghindari pertanyaan mas Hanu. Aku takut mas Hanu marah, apalagi Umma berbuat kasar dengan Zana, "ujar Aniya yang tampak takut, takut bila mas Hanu tahu .


" Dan semoga Zana tidak mengadukan  perbuatan kita berdua . Bisa saja nanti gadis itu mengadu pada Hanu dan melebih-lebihkannya. Gadis seperti Zana sangat berbahaya, dia belum saja menampakan sifat aslinya,"ujar Umma Sarah dan Aniya mengangguk.


🕸🕸🕸🕸🕸


"Ternyata sakit, " desis Zana yang baru keluar dari kamar mandi. Dia baru buang air kecil dan rasanya perih.


Mata Zana menatap ke arah jam dinding yang menunjukan jam 5 sore.Dia merasakan kesepian, apalagi malam ini jatah Aniya bersama Hanu. Zana menghembuskan napas kasar.Dia memegangi pipi kanannya yang masih terasa nyeri.


"Sampai kapan aku harus di tampar dan di tuduh dengan kesalahan yang tidak pernah aku perbuat..." gumam Zana lirih.


Tok  tok  tok


Suara ketukan pintu membuat perhatian Zana teralihkan. Senyuman merekah di bibir gadis tersebut, pasti itu Hanu. Dengan langsung tergesa-gesa sampai tertatih-tatih,dia memasang hijahnya kembali dan membuka pintu.


Ujang berdiri di depan pintu. Menenteng plastik putih.Tatapan Zana meredup dia kira itu Hanu ternyata bukan. Gadis itu tersenyum miris.


"Ini Juragan Hanu menyuruh saya memberikan makanan untuk Neng Zana. Katanya tidak bisa mengantar langsung ke sini karna sedang pergi dengan neng Aniya, " Ujang memberikan pada Zana yang nampak tidak bersemangat.


Zana tersenyum tipis, lebih tepatnya tersenyum paksa.


"Terima kasih, " ucap Zana pelan.


"Itu pipinya kenapa, lebam? " tanya Ujang yang sedari tadi memperhatikan pipi kanan Zana.


"Tidak pa-pa, ini habis jatuh, " jawab asal Zana yang memilih masuk ke dalam rumah.


Ujang mengeluarkan ponsel merek Nokia di saku bajunya. Dan menuliskan pesan pada Hanu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2