KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Permohonan Umma


__ADS_3

...Terima kasih yang sudah mampir🙏😊...


...~Happy reading~...


"Kalau begitu kami pamit pulang, Abah." ujar Hanu bangkit dari tempat duduknya di ikuti oleh Zana.


Pria tersebut meraih tangan Abah Husein bersalaman, sama halnya dengan Zana yang bersalaman dengan Abah..


"Kalian berdua hati-hati di jalan ya."pesan abah Husein.


" Iya, Abah."


Baru beberapa langkah Hanu berjalan ke pintu keluar, suara seseorang memanggil nama pria tersebut.Membuat Hanu berbalik badan, menatap ke arah Aniya yang berjalan mendekatinya.


"Mas, kamu mau ke mana?" tanya Aniya berdiri di depan Hanu.


"Aku ingin pulang ke rumah Zana," jawab Hanu datar.


Aniya sejenak menundukkan kepalanya dan kembali menatap Hanu, sekilas melirik Zana yang berdiri di samping suaminya.


"Mas, kitakan belum cerai. Jadi hari ini jatah kamu dengan aku." ujar Aniya.


Hanu menghela napas berat."Aku tahu. Tapi keadaan Zana tidak baik-baik saja. Dia sedang tidak enak badan.Jadi...malam ini aku bersama Zana."jawab Hanu.


Aniya memejamkan matanya sejenak, merendam gemuruh di benaknya. Zana dan Zana terus yang selalu di utamakan suaminya. Lebih baik Hanu kemaren menikah dengan wanita yang lebih tua darinya, kalau bisa tidak cantik sekalian agar tidak kepincut.


"Baiklah.Aku harap kamu akan membatalkan gugatan cerai kamu, Mas.Jangan sampai kamu menyesal menceraikan aku," ujar Aniya dengan guratan senyum di bibirnya. Hanu hanya menatap istri pertamanya tersebut.


"Kalau begitu kami berdua pamit."


Hanu menarik tangan Zana lembut dan itu tidak luput dari perhatian Aniya.


"Kalau kamu ingin Hanu membatalkan gugatan cerai tersebut. Kamu harus memperbaiki sikap dan kelakuan kamu, Aniya.Abah sebenarnya tidak setuju kalian bercerai tapi ini sudah keputusan mutlak dari Hanu," tutur abah Husein menatap kepergian mobil Hanu.


Aniya tersenyum, menoleh ke arah abah."Tentu aku akan memperbaiki diri aku, Abah. Abah do'a kan saja aku agar perceraian ini tidak terjadi."


Setelah mengucapkan itu, Aniya beranjak pergi masuk ke dalam rumah meninggalkan Abah yang masih berdiri di ambang pintu.


••••


Tangan mungil Zana melingkar di pinggang Hanu. Kepalanya menyusup dalam pelukan suaminya yang mengusap kepalanya yang begitu pusing .


"Masih pusing? "tanya Hanu yang masih mengusap-ngusap kepala Zana.


Gadis yang tengah berbaring di kasur tersebut, perlahan membuka matanya.Tatapannya langsung mengarah kepada Hanu yang berbaring menyamping menghadap ke arahnya.


"Iya,sama mual juga, " jawab Zana dengan suara yang parau. Hanu bangkit dari kasur membuat bibir Zana mengerucut.


"Mau ke mana,Mas? Jangan pergi." rengek Zana saat pelukannya pada Hanu terlepas.

__ADS_1


Hanu menyentil kening Zana , membuat gadis itu meringis kesakitan. Sedangkan pria itu melakukannya dengan pelan.


"Mas, mau buatin kamu susu dan mengambil makanan. Kamu belum makan dari tadi," ujar Hanu.


Zana menggelengkan kepalanya, "Aku tidak lapar, Mas. Sini rebahan lagi, aku mau peluk," ujarnya manja.


Zana merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang memelas, membuat Hanu jadi gemas sendiri melihat wajah lucu sang istri.


"Tidak, sayang. Makan dulu dan minum susu, baru boleh peluk, Mas. Dalam perut kamu ada malaikat kecil yang butuh asupan makanan. Kamu sudah beberapa kali muntah dan itu berarti makanan yang baru kamu makan kembali terbuang," tutur Hanu lembut. Pria itu pergi meninggalkan Zana yang mendengus kesal.


Bukan apa-apa. Tapi ia benar-benar tidak berselera makan walau sudah muntah beberapa kali bukan berarti dia akan lapar kembali . Hanu terlalu protektif pada dirinya.


Tidak berapa lama, Hanu datang membawa sebuah nampan yang berisi segelas susu ibu hamil dan sepiring nasi dengan lauk telur dadar yang dibuat oleh Hanu sendiri.


Pria itu meletakkan nampan tersebut di meja dekat ranjang.


"Ayo bangun dulu," ujar Hanu, sembari membantu Zana duduk bersandar di kepala ranjang. Pria itu juga meletakkan bantal di punggung Zana agar tidak pegal saat duduk lama dengan posisi bersandar.


"Sekarang makan dulu, Aaa. Buka mulutnya," Hanu memberikan suapan yang langsung di terima oleh Zana. Gadis itu mengunyah makanan sambil memainkan ujung baju Hanu.


"Zana, makanannya di kunyah jangan di diamin seperti itu," tegur Hanu melihat tingkah Zana.


"Aku sudah kenyang, Mas. Sudah tidak berselera makan lagi," balas Zana dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Hanu menghela napas pelan. "Sayang.Kamu itu sedang hamil dan wanita yang sedang hamil itu harus banyak-banyak makan supaya kamu dan anak kita sehat di dalam sana sana," ujar Hanu menunjuk perut rata Zana.


"Tapi tidak bagus juga Mas ,kalau aku terlalu banyak makan. Nanti bayi dalam perut aku jadi besar. Susah nanti ngeluarinnya," sahut Zana yang tidak mau kalah.


Gadis itu menutup mulutnya, "Aku tidak suka telur dadar itu. Rasanya manis," ujar Zana jujur. Masakkan yang di buat Hanu benar-benar tidak enak malah membuat ia ingin kembali muntah.


Hanu mengerutkan keningnya, "Masa manis. Tadi yang Mas masukin garam," ujar Hanu. Seingatnya yang dimasukkan itu garam bukan gula.


Pria itu menyuapkan telur dadar itu ke mulutnya dan benar saja rasanya manis.


"Benar manis.Mas, tidak bisa membedakan mana garam sama gula bentuknya mirip, " ujar Hanu.


Zana tertawa mendengarnya, membuat Hanu tersenyum melihat tawa sang istri.


"Iih, masa Mas tidak bisa membedakan garam sama gula. Kan bisa di cicipi dulu, " ujar Zana yang tidak bisa menghentikan tawanya.


"Sudah jangan ke tawa. Sekarang minum dulu susunya.Mau Mas belikan makanan dari luar,"tawar Hanu yang di balas gelengan oleh Zana yang tengah meminum susu.


"Tidak usah, aku sudah kenyang, Mas .Aku juga mau tidur sudah ngantuk," ujar Zana yang langsung membaringkan tubuhnya di kasur.


Hanu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Zana. Pria itu membawa bekas makanan Zana ke dapur.


••••


Hanu menyisir rambutnya di depan cermin. Pria tersebut tersenyum melihat pantulan bayangan Zana yang ada di cermin. Gadis itu merengut kesal padanya karna kejadian tadi malam.

__ADS_1


"Mau Mas bantuin mengeringkan rambutnya," tawar Hanu yang di balas gelengan oleh Zana.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri, " jawabnya ketus.


"Kamu masih marah?" tanya Hanu.


"Menurut, Mas? Aku awalnya minta di pijitin bukan malah_____"Zana menjeda ucapan membuat Hanu tersenyum menggoda.


" Malah apa, sayang? "tanya Hanu bermaksud menggoda, mengingat kejadian malam tadi yang dia lakukan dengan sang istri. Pipi Zana langsung memerah.


" Sudah tidak usah di bahas lagi.Oh iya Mas katanya mau ke rumah mbak Aniya?"


Hanu menganggukkan kepalanya."Iya.umma Sarah meminta Mas untuk ke rumah. Katanya ada hal yang ingin di bicarakan, "ujar Hanu menatap lurus dan kembali melihat ke arah Zana yang menatap dirinya dengan tatapan sendu.


" Kamu jaga diri baik-baik. Mungkin Mas agak sorean pulang ke rumah, karna sekalian ke peternakan,"ujar Hanu yang di balas anggukkan oleh Zana.


•••`


Kini, Hanu duduk berhadapan dengan umma Sarah yang menatap ke arahnya dengan tatapan yang begitu serius.


"Pertama Umma ingin minta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan, Aniya. Umma juga sangat marah terhadap Aniya yang melakukan hal bodoh yang menjadi aib buruk bagi Umma dan Abah.Hanu, putri Umma memang salah dan tidak pantas untuk di maafkan tapi...beri Aniya kesempatan satu kali saja untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Umma tidak bisa membayangkan akan sehancur apa Aniya bila kalian berdua benar-benar bercerai,"tutur Umma Sarah dengan raut wajah yang tampak sedih.


Hanu menghela napas panjang, " Maaf Umma. Aku benar-benar tidak bisa untuk mempertahankan rumah tangga ku dengan Aniya. Bukan hanya tentang kesalahan yang telah Aniya perbuat saja, tapi pernikahan tanpa di landasi cinta juga tidak akan pernah bisa bertahan lama,"ujar Hanu yang membuat kening Umma Sarah mengkerut.


" Maksud kamu, kamu tidak mencintai Aniya? Bagaimana bisa?Sedangkan kalian menikah bukan dua atau tiga bukan tapi sudah delapan tahun, mustahil bila tidak ada cinta, "ujar Umma Sarah.


Hanu tersenyum hambar,"Menurut Umma, mungkin sangat aneh. Tapi itu faktanya. Aku tidak benar-benar mencintai Aniya. Perhatian dan kasih sayang yang aku berikan pada Aniya tidak lebih dari seorang kakak pada adik perempuannya, meski umur kami sama. Aku menerima perjodohan ku dengan Aniya itu sebagai bentuk balas budi ku pada kalian yang telah merawat dan menampung ku di rumah kalian. Andai bukan permintaan kedua tua ku untuk tinggal bersama Umma dan abah,mungkin aku akan pergi jauh, "ujar Hanu dengan rinci.


"Meski begitu, Umma tetap memohon agar kamu kembali pada Aniya. Umma tidak peduli kamu mencintai Aniya atau tidak yang penting kamu jangan menceraikan Aniya. Dia anak Umma satu-satunya.Kebahagiaan Aniya sangat penting bagi Umma, Hanu. Apa perlu Umma berlutut di kaki kamu agar membatalkan gugatan perceraian ini? Umma janji tidak akan ikut campur lagi dengan rumah tangga kamu dengan Aniya dan Zana..." lirih umma Sarah menyatukan kedua tangannya, memohon.


"Maaf Umma aku tidak bisa. Aku mohon hargai keputusan ku.Jangan paksa aku melakukan sesuatu yang sudah aku putuskan.Aku tidak ingin terus menjalani pernikahan yang penuh kebohongan ini dan membohongi perasaan ku sendiri pada Aniya," ujar Hanu.


"Tolong pikirkan lagi,Hanu.Umma harus melakukan apa lagi ,Hanu supaya kamu tidak menceraikan,Aniya.Tolong beri kesempatan pada Aniya, bisa saja dari kejadian ini Aniya berubah jadi lebih baik lagi.Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua." tutur umma Sarah dan Hanu terdiam dengan pikiran berkecamuk.


••••


Di lain tempat. Aniya mengeluarkan amplop coklat yang cukup tebal dari dalam tasnya.Dia menarik tangan kanan Zana dan memberikan amplop berisi uang tersebut.


Aniya sengaja ke sini setelah melihat Hanu sudah pergi ke rumahnya untuk menemui umma Sarah.


"Kamu boleh ambil uang 50 juta ini, Zana.Tapi aku mohon tinggalkan Mas Hanu.Aku mohon, hidup ku sudah hancur dan akan semakin hancur bila harus berpisah dari Mas Hanu.Kamu bisa pakai uang ini untuk membiayai kehidupan kamu dan anak dalam kandungan kamu itu" Aniya bersimpuh di depan kaki Zana dengan wajah yang sangat memelas dan mata berkaca-kaca.


Wanita itu terus mengeluarkan air matanya, berharap Zana kasihan dan menuruti keinginannya.


"Mbak pikir, dengan membayar aku dengan uang 50 juta aku akan meninggalkan Mas Hanu begitu saja . Mau sebanyak apapun Mbak Aniya memberikan uang. Aku tidak akan pernah meninggalkan Mas Hanu dan membiarkan anakku harus hidup tanpa sosok seorang Ayah dan aku juga mencintaiku mas Hanu,tidak akan mudah bagiku melepaskannya. Mbak, kita sama-sama perempuan, bagaimana bila Mbak di posisi aku?" tanya Zana menatap geram pada Aniya.


Aniya diam membisu. Tidak dapat menjawab pertanyaan Zana.


"Mbak Aniya kenapa diam?Berarti Mbak Aniya juga tidak mau seperti itu,'kan. Seharusnya Mbak memperbaiki diri, bukan malah berusaha memisahkan aku dari Mas Hahu.Bila ingin kembali bersatu, Mbak bujuk dan yakinkan mas Hanu. Bukan dengan cara seperti ini."ujar Zana.

__ADS_1


Aniya menatap Zana dengan napas yang tidak beraturan.Tangannya terkepal kuat, entah apa yang di pikirkan Aniya.


Aniya terlalu berambisi untuk tetap mempertahankan rumah tangganya dengan Hanu.Apapun akan dia lakukan.Tapi rencananya menyogok Zana dengan uang gagal. Gadis itu menolak mentah-mentah.Lalu, harus dengan cara apa lagi. Apa perlu dia lenyapkan anak dalam kandungan Zana dengan seperti itu Hanu akan membenci Zana.


__ADS_2