KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Kehancuran Umma sarah


__ADS_3

...Jangan lupa like, komen, vote sama hadiahnya. Terima kasih....


...Happy reading...


"Mas, aku mau pipis, " ujar Zana menatap Hanu yang tengah duduk di sofa sambil menggendong Aezar.


"Tunggu sebentar, " sahut Hanu yang meletakkan Aezar ke inkubator dengan hati-hati.


Pria itu mendekati Zana yang sudah merentangkan tangannya. Hanu langsung menggendong Zana seperti koala yang melingkarkan tangan di lehernya.Dia membawa masuk sang istri ke kamar dan mendudukkan, nya dengan pelan-pelan di closed.


"Bisa? " tanya Hanu memperhatikan Zana melepaskan celananya.


"Mas kenapa masih di sini? Aku mau pipis, " ujar Zana yang sadar Hanu masih di kamar mandi dengannya.


"Bila Mas meninggalkan kamu, nanti kalau kamu jatuh atau terpeleset, bagaimana? Sekarang cepat pipis, nanti Aezar bangun, " ujar Hanu.


"Mas balik ke belakang. Jangan ngintip. "


Hanu Membalikkan badannya ke arah pintu. Zana dengan hati-hati mendudukkan dirinya di closed. Apalagi dia baru saja di jahit bagian intimnya.


"Mas sudah, " ujar Zana yang tengah merapikan celananya.


"Sini Mas gendong lagi. Sakit tadi pipisnya? " tanya Hanu.


Zana menggelengkan kepalanya. "Tidak, mungkin kalau BAB pasti sakit. "


"Nanti Mas tanya dengan dokter tentang keadaan kamu sekarang. Mungkin sudah di perbolehkan pulang dan juga sekalian minta resep obat supaya BAB kamu lancar. Tidak baik BAB di tahan," ujar Hanu dan di angguki Zana.


"Iya, Mas. Aku juga sudah bosan di rumah sakit terus, apalagi mencium bau obat-obatan. "


Hanu mengambil sisir di dalam tas ransel. Dia menyisir rambut Zana yang terurai namun berantakan. Dengan rapi Hanu mengikat rambut sang istri.


"Semoga saja kamu segera di perbolehkan pulang. Kalau di rumah sakit terus ,kurang leluasa dan harus bolak-balik ke rumah mengambil pakaian ganti kamu dan melaudry nya.Mas juga tidak bisa terlalu lama mengambil cuti untuk tidak masuk kantor, " ujar Hanu dan Zana menganggukkan kepalanya.


"Mas,aku mau  jajanan," pinta Zana.


"Kamu baru melahirkan, sayang. Tidak boleh makan sembarangan, apalagi jajanan. "


"Tapi aku mau jajanan, " desaknya.


Hanu menghela napas berat. Dia mengeluarkan ponselnya dari sakit celana. Seperti mengetik sesuatu.


"Ya sudah, Mas belikan jajanan untuk kamu di kantin rumah sakit, " ujarnya. Membuat senyuman Zana mengembang.


"Iya.Yang banyak, Mas."


Hanu tersenyum tipis. Sebelum pergi pria itu mengambil hijab instan di sofa. Dia memasangkan di kepala Zana yang tampak kebingungan dengan apa yang dia lakukan.


"Mas takut bila ada perawat laki-laki masuk ke ruangan ini. Sedangkan kamu dalam keadaan kepala tidak tertutup hijab, " ujarnya membuat Zana tersenyum malu-malu. Seolah ucapan Hanu adalah sebuah kecemburuan.


🍄🍄🍄🍄🍄


Hanu yang baru dari kantin rumah sakit dengan meneteng kantong plastik berisi jajanan milik Zana, menoleh ke belakang kala seseorang memanggil namanya.

__ADS_1


Wajah pria itu terlihat kaget melihat Abah Husein berjalan ke arahnya.


"Akhirnya kita bisa bertemu Hanu. Awalnya Abah ragu untuk memanggil kamu. Takut salah orang... dan ternyata itu memang benar kamu," ujar Abah yang tampak senang bertemu dengan Hanu.


"Abah kenapa ada sini? " tanya Hanu.


Raut Abah yang terlihat senang, kini tiba-tiba meredup tergantikan oleh aura kesedihan yang terlihat kentara di wajahnya.


"Aniya sakit parah, Hanu. Dan di haruskan untuk di rujuk ke rumah sakit ini yang lebih memadai alat-alat medisnya. Aniya pengalami peradangan lambung, Hanu. Semenjak bercerai dengan kamu. Aniya tidak teratur makannya dan bahkan tidak makan sama sekali.


Abah Husein menyeka air matanya. Mengingat keadaan Aniya.Hanu diam bergeming. Tidak ada niat membalas ucapan Abah Husein. Tapi dia sadar Aniya bukan siapa-siapa lagi. Walaupun rasa kasihan itu ada.


"Ayo Hanu, ikut Abah. Aniya dari kemaren memanggil kamu. Dia ingin bertemu dengan kamu," ujar Abah.


"Maaf Abah. Tapi aku tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Aniya. Sebagai suami aku harus menjaga perasaan Zana. "


"Abah mohon Hanu. Setelah menemui Aniya kau boleh pergi. Setidaknya ada setitik semangat dalam diri Aniya untuk berjuang dalam kesembuhannya... " lirih Abah menyatukan kedua tangannya, memohon.


Hanu tidak bisa menepis rasa iba nya pada Abah Husein. Apalagi mengingat kebaikan beliau pada dirinya.


"Baik Abah. Tapi hanya sebentar. " ujar Hanu. Membuat segurat senyuman tercipta di bibir pria paruh baya itu.


******


"Seharusnya pasien lebih awal di rujuk ke rumah sakit ini, Bu. Keadaannya makin parah karna peradangan pada lambung yang tidak bisa di anggap hal sepele, " ujar dokter wanita tersebut.


"Kalau saya tahu keadaannya akan seperti ini, pasti akan saya rujuk ke rumah sakit ini, Dok.Saya tidak tahu bahwa kondisinya akan separah ini," sahut Umma Sarah dengan mata berkaca-kaca.


Ceklek


Suara pintu yang terbuka,membuat atensi keduanya teralihkan termasuk Aniya.


Amarah Umma langsung memuncak melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan ini. Dengan langkah cepat dia mendekati Hanu dengan tatapan nyalangnya.


"Buat apa kau ke sini, hah?! Tidak cukup kau membuat Aniya menderita seperti ini?Iya.Gara-gara memikirkan kamu, Aniya jadi seperti ini! " sentak Umma Sarah.


Hanu diam...


"Sudah Umma. Jangan marah. Abah yang mengajak Hanu untuk menjenguk Aniya," ujar Abah Husein.


Umma Sarah menatap ke arah Abah Husein dengan tatapan marah.


"Buat apa mengajak dia ke sini? Apakah Abah lupa, Aniya seperti ini karna Hanu dan Zana! "


Pandangan Hanu tidak sengaja bertubrukan dengan Ayyara yang merupakan dokter yang menangani Aniya. Dia merasa familiar dengan wajah wanita berusia 37 tahunan itu.


Zana...


Sekilas Hanu teringat dengan Zana kala menatap wajah dokter wanita tersebut.


"Mas Hanu... " panggil Aniya dengan suara yang pelan.


Pria itu berjalan mendekati brankar. Dia memperhatikan alat medis yang menancap di bagian tubuh Aniya. Hanu tersentak ketika wanita itu mengenggam tangannya.

__ADS_1


"Apa kabar, Mas?" tanya Aniya terdengar parau.


"Baik, Aniya."


"Mas, aku ingin minta maaf,atas semua kesalahan yang telah aku perbuat. Aku sadar dengan semua yang telah aku lakukan. Aku terlalu mementingkan perasaan aku hingga rasa egois dan dendam yang menguasai ku hiks... Maafkan aku, Mas. "


Aniya menggenggam erat tangan Hanu. Rasa sakit tiba-tiba menjalar di perutnya. Menghatam dengan kuat pada bagian lambungnya.


"Akh...sakit."


"Aniya, kamu kenapa?" Hanu tidak bisa menyembunyikan kepanikannya melihat raut kesakitan di wajah Aniya yang mencengkram kuat bagian perutnya.


"Aniya kamu kenapa, Nak? " Umma Sarah meluruhkan air matanya.


"Minggir kamu. "


Wanita paruh baya itu mendorong Hanu agar menjauh dari brankar.


"Apa yang sakit, Nak?Dokter anak saya kenapa? " tanya Umma Sarah.


Ayyara menatap layar Elektrokardiogram yang memperlihatkan grafik denyut jantung Aniya menurun.Dokter wanita itu kembali mencek pergelangan tangan Aniya.


"Asy-hadu...al laa..... "ucapan terakhir Aniya bersamaan dengan hembusan napas untuk terakhir kalinya.


Bunyi layar monitor Elektrokardiogram yang menampilkan garis lurus membuat semua orang terpaku. Tatapan kosong dari Abah Husein dan ekpresi Hanu tampak syok melihat layar tersebut.


"AAA! ANAKKU TIDAK BOLEH MATI! ANIYA BANGUN, ANIYA BANGUN, NAK! JANGAN TINGGALKAN UMMA, ANIYA! " teriak Umma Sarah mengguncang badan Aniya yang sudah tidak bernyawa dengan kasar. Bahkan memukul bagian tubuh putrinya.


Dua suster masuk ke dalam ruangan setelah dokter Ayyara memencet bel di samping brankar.


"Anak ku tidak boleh mati hiks... Aniya tidak boleh meninggalkan aku hiks... bangun Aniya, bangun! Umma bersumpah akan membenci kamu bila tidak membuka mata, Aniya!" Umma menangis histeris. Abah memeluk tubuh Umma Sarah erat.


"Catat waktu, tempat dan tanggal wafatnya pasien ini," titah dokter Ayyara pada salah satu suster.


"Jangan lepaskan alat itu. Anakku tidak bisa bernapas! " sarkas Umma Sarah menepis kasar tangan suster yang hendak melepaskan selang di hidung Aniya.


"Maaf, Bu. Tapi anak Ibu sudah meninggal. Mohon kerja sama nya untuk tidak memperlambat pekerjaan kami, " ujar suster tersebut.


Hanu, pria itu menatap pedih pada jasad Aniya. Rasa bersalah menyeruak dalam hatinya.Tapi semua sudah di gariskan oleh takdir.


Umma Sarah tidak bisa mengontrol dirinya. Dia masih tidak bisa percaya putri kesayangannya meninggal dunia.


🍄🍄🍄🍄🍄


Zana hampir terjungkal kebelakang dan jantungnya yang berdegub kencang karna terkejut. Hanu masuk ke dalam ruangan dan langsung berhambur kepelukannya.


"Mas, kamu kenapa? "


Namun, tidak di respon Hanu. Pria itu menangis dalam dekapan Zana dan makin erat memeluk tubuh sang istri. Buliran air mata bisa Zana rasakan membasahi hijabnya hingga menebus ke permukaan kulitnya.


Usapan lembut Zana berikan pada Hanu. Memberikan pelukan yang tak kalah erat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2