KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)

KHAZANA(Aku Bukan Pelakor)
Rahasia


__ADS_3

...Assalamu'alaikum, semuanya 😆...


...Maaf ya baru update. Dan aku mau mengucapkan kepada kalian semua,selamat hari raya idul fitri besok....


...Mohon maaf lahir dan bathin bila saya banyak melakukan kesalahan termasuk ada tulisan dari cerita saya yang menyinggung kalian....


...~Happy reading~...


Bibir umma Sarah bergetar dengan air mata yang terus merembes membasahi wajah keriputnya. Suara isak tangisan tidak terdengar dari bibir umma Sarah tapi percayalah hatinya hancur berkeping-keping dan sakit luar biasa.


Kaki umma begitu lemas hingga tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Wanita paruh baya itu terduduk di tanah. Jasad Aniya di masukkan ke dalam liang lahat.Para penggali mulai menimbun jasad putri ke sayangannya dengan tanah. Sungguh, umma Sarah masih tidak percaya Aniya meninggalkan dirinya, seakan ini semua hanya mimpi.


"A-aniya hiks..."Badan umma bergetar hebat dengan tangisan histeris yang menjadi-jadi.


Zana mengusap air matanya. Tidak sanggup melihat umma Sarah yang sangat terpukul atas kepergian Aniya.


Hanu mendekap tubuh mungil Zana dalam pelukannya.Dia tahu Zana juga bersedih atas meninggalnya mantan istri pertamanya itu.Tapi ini semua sudah takdir yang sudah di tetapkan. Sedangkan Ayu menatap iba pada Sarah yang pernah menjalin pernikahan dengan suaminya itu.


"Ikhlaskan Aniya, Umma." ujar Abah Husein,memeluk sang istri yang masih menangis histeris.


"Abah menyuruh Umma ikhlas?Abah mudah mengatakan itu! Abah tidak tahu sehancur dan sesakit apa Umma di tinggal Aniya hiks..." Umma Sarah menatap Abah dengan wajah yang terlihat marah dengan penampilan yang begitu kacau.


"Karna Aniya bukan anak kandung Abah, jadi sangat mudah mengatakan itu! Kalian semua tidak usah menyuruh ku ikhlas dan bersabar, karna kalian semua tidak merasakan apa yang aku rasakan! " teriak umma Sarah, melihat semua orang yang hadir di pemakaman Aniya.


Zana melepaskan tangan Hanu yang setia merengkuh pinggangnya. Dia berjalan mendekati umma Sarah. Ayu dan semua orang disana memperhatikan apa yang akan di lakukan Zana.


"Aku tahu sehancur dan sesakit apa yang Umma rasakan.Tapi, jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan ini. Mbak Aniya pasti juga tidak akan tenang di sana, bila Umma masih tidak mengikhlaskannya." tutur Zana lembut.


Umma menatap ke arah Zana, sedetik kemudian wanita paruh baya itu memeluk Zana. Menangis pilu,di sertai rasa sakit kehilangan yang teramat.


Hanu mendekati keduanya. Mengusap punggung umma Sarah lembut.


"Umma, Aniya memang sudah meninggal. Tapi itu hanya perpisahan sesaat. Suatu hari di akhirat kelak, semoga Allah mengumpulkan kita semua dengan Aniya." tutur Hanu.


Umma Sarah menganggukkan kepalanya. Dia menatap Zana yang menatap lembut pada dirinya.


"Um-umma minta maaf, Zana. Umma sudah jahat kepada  kamu. Kejahatan yang Umma lakukan itu semua karna Umma pernah di posisi, Aniya. Umma tidak ingin Aniya seperti Umma hiks...tapi  apa persangkaan Umma jadi nyata hiks... Umma minta tolong, maafkan kesalahan Aniya. Agar Aniya tenang di sana..."lirih umma Sarah dengan suara yang tersekat di tenggorokan.


Zana menganggukkan kepalanya." Aku sudah memaafkan Umma, sebelum Umma minta maaf dengan aku."

__ADS_1


Zana kembali memeluk umma Sarah yang membalas pelukannya. Ayu yang memperhatikan  itu ada rasa iri yang meliputi dirinya,melihat Zana memeluk Sarah.


"Ayyara, secepatnya kamu harus mendapatkan tes DNA  dari gadis itu. Mama sangat yakin dia Adira. Mama juga akan menyewa seseorang untuk mencari latar belakang kehidupannya," bisik Ayu pada Ayyara  yang menganggukkan kepalanya.


🍄🍄🍄🍄🍄


Zana yang tengah membuat teh di dapur, tersentak kaget melihat seorang wanita yang berdiri di sampingnya.Ayu tersenyum kala Zana menatap ke arahnya.


"Kamu sedang apa?" tanya Ayu sekedar basa-basi.


"Aku sedang membuat teh untuk Umma, tante." jawab Zana tampak canggung dan kikuk.


Ayu menganggukkan kepalanya. Dia mengambil gelas dan menuangkan air di sana.


"Kamu dan Umma Sarah punya hubungan apa? Kalian terlihat sangat dekat dan saling mengenal?" tanya Ayu, mencoba mencari informasi.


Zana tersenyum canggung."A-aku istri kedua dari mantan suami mbak Aniya."jawabnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Tante."


Sebelum Zana beranjak pergi, Ayu dengan sengaja menyiram air di gelasnya, bagian hijab Zana hingga basah di bagian dadanya.


"Tidak apa-apa Tante, aku bisa ganti hijab yang baru," ujar Zana tersenyum.


"Ya sudah, lepas hijab kamu." ujar Ayu sedikit memaksa membuat Zana tampak risih.


" Aku gantinya di kamar," ujar Zana. Setelah mengucapkan itu gadis tersebut pergi dari hadapan Ayu.


******


"Astagfirullah, Tante!" Zana memegangi dadanya,kaget melihat Ayu yang tiba-tiba  masuk ke kamar.


"Tante, ke sini ingin memberikan hijab yang baru untuk kamu. Tante merasa bersalah karna kejadian di dapur tadi," ujar Ayu, menyerahkan hijab pasmina pada Zana.


"Terima kasih,Tante." ucap Zana mengambil hijab tersebut.Walau tampak ragu.


Zana melepaskan hijab yang melekat di kepalanya. Ayu yang masih berada di sana.


"Dahi kamu itu kenapa?" tanya Ayu yang memperhatikan ada bekas luka di dahi Zana.

__ADS_1


Zana memegangi dahinya dan tersenyum."Kata ibu aku, dulu waktu kecil aku pernah kecelakaan karna keserempet motor,"jawab Zana sembari memasang hijabnya.


Ayu jadi makin curiga,karna tidak mungkin sampai luka di dahi sebesar itu. Dia makin penasaran dengan latar kehidupan Zana. Ayu yang melihat Zana tengah memasang hijab, memanfaat kesempatan itu mengambil hijab yang tertumpah air tadi. Ia mengambil dua helai rambut Zana yang melekat di hijab tersebut.


Dengan cepat memasukkan ke dalam kantong plastik.


"Tante, sedang apa?" tanya Zana melihat Ayu yang tengah memegang hijabnya.


"Ini, mau Tante...... "


"Sayang."


Ucapan Ayu terpotong kala Hanu masuk ke dalam kamar. Pria itu tampak kaget melihat Ayu berada di dalam kamar dengan Zana.


"Ya sudah, Tante keluar dulu." ujar Ayu yang bergegas keluar kamar. Tersenyum sekilas pada Hanu.


Hanu menutup pintu kamar. Dia mendekati Zana yang menatap dirinya.


"Kenapa, Mas?" tanya Zana.


"Kita harus secepatnya pulang ke kota. Tidak enak dengan Mama Cio,terlalu lama menjaga anak kita,sayang." ujar Hanu dan Zana menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku siap-siap dulu, Mas. Terus pamitan dengan umma," ujar Zana.


🍄🍄🍄🍄🍄


Umma Sarah duduk bersandar di kepala ranjang. Dirinya memeluk erat bingkai foto Aniya dengan sangat erat, air mata tidak henti-hentinya keluar dari sudut matanya.


"Bagaimana cara Umma untuk bisa mengikhlaskan kamu, Aniya. Umma tidak bisa tanpa kamu, Aniya. Umma takut, Aniya... takut bila semua orang tahu bila Umma sudah membunuh Adira hiks...tapi Umma tidak ingin hidup dalam kesalahan besar yang sudah Umma sembunyikan bertahun-tahun... " lirih umma Sarah dengan suara serak.


"Sembunyikan apa?!"


Pintu terbuka dengan kasar, menampilkan Ayu yang berdiri di ambang pintu. Umma Sarah tidak bisa menyembunyikan ke kagetan dan rasa takut yang menjadi satu.


"Kau menguping? Sungguh tidak sopan," celetuk umma Sarah menatap Ayu sinis, namun dirinya sungguh gugup.


"Kau bilang menyembunyikan sesuatu selama bertahun-tahun?Apa ini berhubungan dengan Adira?" tanya Ayu.


"Jangan asal menuduh, aku tidak menyembunyikan apapun! " bantah umma Sarah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2